LOVE IN MINE

LOVE IN MINE
MINTA JATAH


__ADS_3

          Hari terus berganti, Balqis menikmati hari-harinya sebagai ibu muda yang merawat Azlan dengan tangannya sendiri. Sementara Abrar sibuk mencari pengasuh bayi yang handal dalam mengasuh bayinya Azlan. Sampai akhirnya ia menemukan pengasuh bayi yang sudah sangat professional dalam mengasuh anak. Malam hari, saat Balqis tertidur lelap Abrar melancarkan aksinya. Balqis yang punya kebiasaan tidur seperti kerbau tak menyadari malam itu Abrar melancarkan aksinya di bantu oleh para pelayan lainnya. Abrar menyuruh pelayan untuk merapikan ruangan yang besar untuk dijadikan kamar Azlan dan membawa Azlan pindah dengan cara mengendap-endap agar Balqis tidak terbangun. Kini Azlan sudah memiliki kamarnya sendiri dan di temani oleh pengasuh yang bernama Wirna.


“nak, papi tau kau membutuhkan mamimu, tapi mengalah lah sedikit dengan papi.” Ujar Abrar saat melihat Azlan tidur.


“papi juga membutuhkan mamimu, apa kau setuju dengan ide papi ini??” ucap Abrar konyol.


seakan menjawab perkataan Abrar yang konyol, lalu Azlan tertawa dalam tidurnya, karena ia sedang bermimpi indah.


"hehehehe...., kau anak yang sangat pengertian...." ucap Abrar mengelus pipi Azlan yang tertidur nyenyak.


Lalu Abrar masuk ke kamanya dan melihat Balqis masih tertidur pulas.


“Balqis…, kau menjadi milikku lagi sekarang...hehehe…” ucap Abrar sambil memeluk Balqis.


Keesokan paginya, Balqis terbangun dan melihat Abrar masih tertidur di sampingnya. Ia beranjak bangun hendak melihat Azlan.


“aaaaaaaaaakkkkkkkkkkkhhhhhhhhhh……!!!!!!” teriak Balqis memekakkan telinga.


Abrar langsung terbangun kaget melihat Balqis yang kebingungan.


“kenapa kau berteriak pagi-pagi???” ucap Abrar kesal.


“Abrar, Azlan hilang….!! Azlan gak ada di sini.” Teriak Balqis panik.


“iya lah…kan Azlan sudah aku pindahkan ke kamar yang lain.” Ucap Abrar.


“appaaa????” kata Balqis kaget.


“aku sudah mendapatkan pengasuh yang handal untuk Azlan, dan kamar yang lebih luas dari ini.” Sahut Abrar.


“kenapa kau jauhkan dia dariku??” teriak Balqis geram dan menjambak rambut Abrar dengan kesal.


“aadduuhh…, berengsek…!! Kenapa kau menarik rambutku, hah??” teriak Abrar kesal.


“kembalikan anakku, atau ku bunuh kau…” teriak Balqis yang terus menarik rambut Abrar dengan kesal.


“gak akan….” Balas Abrar tak mau kalah.


"aadduuuhhh............., sialan...!! kepalaku sakit...." teriak Abrar.


"kembalikan Azlan ke kamar ini...!! atau akan ku buat botak kepalamu ini..." ancam Balqis terus menarik rambut Abrar.


"gak akan......!!! aaakkkkkhhh...........!!!" teriak Abrar.


          Kemudian Balqis keluar kamar dan mencari-cari kamar Azlan. Abrar pun mengikuti langkah Balqis dari belakang. Menemukan Azlan dalam gendongan Wirna sang pengasuh, Balqis langsung murka dan merebut Azlan.


“jangan sentuh anakku…” teriak Balqis dengan wajah berapi-api pada Wirna.


Wirna kaget dan langsung memberikan Azlan pada Balqis.


“Balqis.., dia itu pengasuh Azlan. Biarkan dia membantumu merawat Azlan.” Ucap Abrar.


“gak, aku gak mau pisah dari Azlan.” Ujar Balqis.


“Azlan hanya pisah kamar doang, kalian masih satu rumah....dan kau tetap maminya.” Kata Abrar seraya menahan amarahnya.


Tanpa menggubris perkataan Abrar, Balqis langsung membawa Azlan ke kamarnya dan menyusui Azlan.


“Balqis.., dengarkan aku. Azlan akan tidur di kamarnya bersama pengasuhnya.” Kata Abrar masih menahan amarahnya.


“aku gak mau.” Sahut Balqis.


“itu sudah keputusanku, kau jangan membantahnya.” Bentak Abrar.


“aku tau maksudmu memindahkan Azlan ke kamar lain.” Ucap Balqis marah.


“baguslah kalau kau tau…, jadi aku tidak akan repot lagi menjelaskannya padamu.” Sahut Abrar.


“tunggu aku malam ini.., layani aku.” Sambung Abrar yang memancing amarah Balqis.


Azlan yang melihat Balqis berteriak malah tertawa geli dengan wajah yang menggemaskan.


“apa kau setuju dengan rencana papimu ini, nak??” ucap Abrar pada Azlan.


Lalu seakan menjawab perkataan Abrar, Azlan kembali tertawa riang.


“hahahahaha…., kau sungguh anak yang pengertian..” Sambung Abrar menang dan melangkah ke kamar mandi.


“dasar kau bocah tengik, kau bahkan berpihak padanya.” Gumam Balqis kepada Azlan yang masih tertawa dengan gemasnya.


          Lagi…lagi dan lagi, Balqis hanya mampu menerima kekalahan dari Abrar yang senang menindasnya. Balqis terpaksa memberikan izin kepada Wirna si pengasuh untuk membantunya merawat Azlan. Saat bermain dengan Azlan, sesekali Balqis menatap jam dinding yang menandakan sudah pukul empat sore.


“kenapa waktupun seakan berpihak pada Abrar…?? Cepat sekali dia berputar.” Gumam Balqis.


Tidak terasa, Abrar pulang sebelum makan malam tiba. Ia langsung mandi dan bermain sebentar dengan Azlan yang berada dalam pelukan Balqis.


“Azlan, anak papi yang pintar…sekarang bobok dulu ya.” Ucap Abrar memberikan kode pada Wirna.


“tunggu….!! Sebentar lagi…aku masing ingin bermain dengan Azlan.” Kata Balqis memeluk Azlan dengan erat.

__ADS_1


“Balqis………!!!” panggil Abrar menahan kesalnya.


“Wirna, bawa Azlan tidur.” perintahAbrar.


“baik tuan.” Sahut Wirna.


Terjadilah tarik menarik antara Abrar yang menarik tubuh Balqis, dan Balqis yang menarik Azlan, juga Wirna yang menarik Azlan. Azlan yang di tarik-tarik bukannya menangis, malah tertawa girang. Azlan mengira dirinya sedang di ajak bermain. Akhirnya Balqis mengalah demi anaknya dan Abrar langsung menyeretnya ke dalam kamar mereka.


“ya Tuhan…., kenapa aku terjebak dengan pasutri yang gila ini…!! aku sangat tidak beruntung menjadi pengasuh Azlan…” ucap Wirna dalam hatinya melihat tingkah Abrar dan Balqis yang konyol.


Setelah berada di dalam kamarnya, Abrar langsung menindih tubuh Balqis di atas ranjang.


“berhentilah memaksaku, Abrar.” kata Balqis kesal.


“hei, kau lupa tugasmu padaku, hah??” ucap Abrar pada Balqis.


“aku suamimu, layani aku..kau sudah berjanji padaku saat kita baru menikah dulu.” Sambungnya.


Balqis hanya diam seribu bahasa.


“hehehe……., malam ini kau akan jadi santapanku kelinci kecil…” sahut Abrar dengan tatapan mesumnya.


Abrar langsung menerkam dan melumat habis tubuh Balqis tanpa tersisa. Terjadilah ena-ena yang dirindukan Abrar selama ini. Sangking rindunya, Abrar melahap tubuh Balqis berkali-kali dalam semalam. Saat Balqis berada di bawah Abrar yang terus mendesah karena menikmati miliknya, wajah Balqis merah merona menahan rasa malunya menatap Abrar.


“Balqis….., milikmu seakan membuatku ketagihan…., aaahh…..” ucap Abrar dalam desahannya.


Mendengar ucapan Abrar, wajah Balqis semakin memerah. Tak lama kemudian, Abrar mendesah panjang menandakan bahwa ia telah mencapai puncak kenikmatannya. Setelah selesai menikmati tubuh istrinya, Abrar masih santai berbaring di samping Balqis. Sewaktu Balqis menutupi dadanya yang semakin montok karena sedang menyusui, Abrar pun kembali kesal.


“jangan di tutup, aku suka melihatnya.” Teriak Abrar.


“astaga, dia tetap saja tidak pernah puas." gumam Balqis.


Lalu Abrar menyerang Balqis lagi dan Balqis pun berteriak sambil mengumpatnya. Ia berusaha melawan serangan Abrar, namun apalah daya, tenaganya tak mampu melawan Abrar yang dengan kuat mencengkramnya.


Ena-ena lagi deh.


          Pagi harinya, Balqis terbangun dan melihat Abrar masih tertidur dengan pulasnya. Ia turun dari ranjang dan jalan berjengkat agar tak membangunkan Abrar. Balqis takut jika Abrar terbangun, maka akan terjadi ena-ena lagi.


Ia langsung berlari ke kamar mandi dan membersihkan dirinya lalu menuju ke kamar Azlan untuk menyusui Azlan yang baru saja terbangun saat Balqis menggendongnya.


“Wirna, apa Azlan tidur nyenyak semalam??” tanya Balqis.


“iya nyonya, Azlan sangat lelap tertidur.” Jawab Wirna.


“apa tidurmu nyenyak nyonya?? Aku melihat kantung matamu sedikit hitam.” Ucap Wirna lagi.


“bagaimana aku bisa tidur, Abrar selalu memakanku semalam bahkan berkali-kali.” Ucapnya dalam hati.


Sementara Abrar yang terbangun tanpa mendapati Balqis di samping, langsung pergi mandi.


“hehehe…..semalam aku puas melahap kelinci kecil itu lagi.” Gumamnya dalam hati mengingat kejadian ena ena semalam dengan Balqis.


“kepala ku sakit banget, gara-gara gak nyenyak tidur semalam.” Gumam Balqis dalam hatinya.


Disisi lain, Abrar sedang berkumpul dengan sahabatnya di sebuah resto sekedar makan siang bersama.


Abrar jarang berkumpul lagi karena ia lebih memilih bermain dengan Azlan di sela-sela waktu libur dan istirahatnya.


“gimana kabar Azlan dan Balqis??” tanya Devan pada Abrar.


“Azlan tumbuh dengan sehat.., Balqis pintar mengurusnya.” Jawab Abrar.


“eemm, dimana Luky??” sambung Abrar.


“Luky sedang mengejar wanita pujaannya.” Sahut Aska.


“sejak kapan ia mengejar wanita?? Biasanya wanita yang mengejarnya.” Kata Abrar heran.


“hehehe…, Luky udah tobat..!! dia pengen menikah dan memiliki kerluarga seperti mu.” Ucap Romi.


“siapa wanita yang sedang di kejarnya???” tanya Abrar penasaran.


“seorang wanita yang melayani tamu minum, dia bekerja di bar tempat biasa kita kumpul.” Ucap Devan menjelaskan.


“Luky pernah tidur dengannya sekali, tapi entah kenapa tiba-tiba Luky malah mengejarnya.” Sambung Devan lagi.


“entah apa yang dilakukan wanita itu hingga membuat seorang playboy tobat..!!” ucap Aska.


“hei Romi, bagaimana dengan mu?? Kapan kau akan menikmati keindahan tubuh wanita??” kata Abrar meleldek si anti cewek.


“diamlah……” sahut Romi kesal.


Melihat Romi kesal mereka semua tertawa, dan saat itu terjadi tanpa sengaja Aska melihat Luky yang sedang mengejar wanita di pinggir jalan.


“hei…, lihatlah…itu kan Luky…!!” tunjuknya pada Luky.


Seketika mata mereka melihat Luky yang terus berusaha mengejar wanita itu.


“itukan…temannya Balqis yang di toko kue.” Ucap Abrar dalam hatinya melihat Lita yang hampir mati kesal di kejar-kejar oleh Luky.

__ADS_1


Dalam posisi Lita dan Luky.


“tuan, berhentilah mengejarku…!!” teriak Lita kesal dengan Luky.


“Lita aku hanya ingin minta maaf padamu untuk kejadian malam itu.” Ucap Luky memohon hingga berlutut di depannya.


Semua sahabat Luky kaget melihat aksi Luky yang berlutut di hadapan seorang wanita biasa.


“malam itu aku sangat mabuk, dan aku gak tau kalau kau masih perawan.” Katanya lagi.


“aku bersedia bertanggung jawab untuk itu.” Sambung Luky meyakinkan Lita.


“ck…, pergilah jangan ganggu aku lagi.” Kata Lita yang beranjak pergi.


“dasar pria playboy…, beraninya dia mau menipuku.” Gumam Lita sambil terus berjalan meninggalkan Luky.


Namun Luky tetap saja mengejarnya, Lita kemudian masuk kedalam taksi dan pergi dari kejaran Luky.


“kenapa wanita itu menolakku????” ucap Luky nangis Bombay.


“hei…Luky…” teriak Devan memanggilnya. Luky datang menghampiri sahabatnya.


“coba lihat, pria playboy kita ini berlutut di hadapan wanita.hahaha” ledek Aska pada Luky.


“diamlah, aku bukan playboy lagi..” ujar Luky kesal.


“kenapa kau mengejar wanita itu??” tanya Abrar yang sebenarnya tau Lita adalah sahabat Balqis.


“aku jatuh cinta padanya, puas kalian…!!” Jawab Luky dengan gamblang.


“hahahahahahaha……si playboy jatuh cinta..!!” seru sahabatnya meledek Luky.


“kau jatuh cinta padanya hanya karena kau pernah tidur dengannya??? dan kau kan bilang kau hanya sekali bercinta dengannya??” kata Romi.


“itu terjadi bukan karena di sengaja, aku dan dia mabuk saat itu.” Sahut Luky.


“aku gak tau kalau dia masih perawan.., waktu aku bangun aku lihat ada bercak darah di ranjang.” Sambung Luky menyesal.


“waahh…., Luky berarti kau beruntung malam itu.kau akhirnya merasakan gadis perawan...hehehe…” ujar Devan.


“ck, beruntung apanya..aku jadi gak bisa ngelupain dia.” Kata Luky yang jatuh cinta pada Lita karena kejadian itu.


“daripada kalian semua meledekku, mendingan kalian bantuin aku dapatin tuh si Lita.” Sambung Luky.


“aku bisa membantumu, tapi kau juga harus bantuin aku, gimana???” ujar Abrar pada Luky.


“maksud mu?” tanya Luky.


“bantuin aku taklukin hati si Balqis, entar aku bantu kau dapatin si Lita.” Jawab Abrar yang membuat Luky semakin bingung.


“aku masih bingung sama tawaranmu, bukannya kau udah dapatin si Blaqis??” kata Luky.


“bahkan kalian sudah punya anak.” Sambungnya.


“kau kayak gak tau Abrar aja, Abrar bisa punya anak dari Balqis ya akibat pemerkosaan lah.” Ujar Devan sambil tertawa lepas.


"Abrar kan sangat suka memaksa pada Balqis......hahahahahaha....." sahut Aska.


“diamlah  bangsat….” Umpat Abrar pada Devan yang tau persis hubungan Abrar dan Balqis.


“jadi selama ini, kau maksa Balqis untuk melayanimu di ranjang..??” ucap Romi terkejut.


“Balqis itu bukan wanita murahan, perlu di jebak dulu baru nurut.” Sahut Abrar.


“wwahh, ternyata mereka berdua frustasi gara-gara wanita…” ujar Romi lagi.


“hubungannya dengan Lita apa??” tanya Luky masih begok.


“Lita itu sahabatnya Balqis….!! Mereka sama-sama bekerja di toko kue.” Jawab Abrar.


“kalau kau bantuin aku menaklukan hati Balqis, urusan Lita jadi lebih mudah.” Sambungnya lagi.


“baiklah, aku setuju.” Seru Luky.


“langkah pertama aku harus apa pada Balqis??” tanya Abrar pada Luky si playboy.


“kau paksa aja terus sampai kalian punya anak kedua dan ketiga dan seterusnya.” Sahut Devan meledek.


“diam kau….Devan…!!” teriak Abrar kesal.


“aku mau si Balqis jatuh cinta padaku, gimana caranya??” tanya Abrar lagi.


“entar malam kau ajak dia candle light dinner yang romantis, terus sering-sering kau kasih dia bunga mawar.” Kata Luky.


“kenapa bunga mawar???” tanya Abrar.


“bunga mawar itu lambang cinta, dia pasti klepek-klepek padamu.” Ujar Aska si puitis.


“ya.., baiklah..!! aku akan memberikan dia mawar merah.” Kata Abrar.

__ADS_1


dengan percaya dirinya, Abrar merencanakan sesuatu terhadap Balqis melalui ide-ide konyol yang keluar dari mulut Luky si playboy tobat.


__ADS_2