LOVE IN MINE

LOVE IN MINE
PENANTIAN KAKEK


__ADS_3

          Sudah tiga hari Abrar dan Balqis menjalani masa Honeymoon yang di paksakan oleh Abrar tentunya. Tanpa absen satu malampun, Balqis terpaksa melayani keinginan sang suami yang tergila-gila akan tubuhnya.


"Abrar...., aku tidak bisa bernafas karena kau mendekapku dengan erat.." kata Balqis saat terbangun dari tidurnya di pagi hari.


"tapi aku suka mendekapmu begini agar kau tak turun dari ranjang ini. hehehe...." sahut Abrar dengan senyuman mesumnya.


"berhentilah, seakan kau tak pernah puas melahap tubuhku..." teriak Balqis kesal.


"aku sudah katakan padamu berulang kali..., kalau aku sangat menginginkan bayi...!! jadi kita harus melakukannya sesering mungkin....agar kau cepat hamil.." kata Abrar seraya meraba dada Balqis.


"ayo lakukan lagi pagi ini...." bisik Abrar di telinga Balqis.


"aku gak mau...., lepaskan aku Abrar....." teriak Balqis teus berupaya terlepas dari dekapan Abrar.


namun tak ada gunanya, Abrar yang mempunyai sifat pemaksa terus saja menjadi pemenang dalam pertempurannya bersama Balqis.


Balqis akhirnya hanya pasrah di tindas di bawah Abrar yang terus menggenjotnya dengan desahan hebat yang keluar dari mulut Abrar saat mencapai puncaknya.


          Setelah puas menikmati tubuh istrinya, Abrar mengajak Balqis untuk jalan-jalan selama mereka berada di jepang. Abrar mengajak Balqis untuk minum di kedai teh sambil menikmati pelayanan dari para Geisha yang cantik. Abrar dan Balqis lelah dalam perjalanan mereka hari itu di jepang. tak lupa Rudi yang selalu setia menjadi fotografer mereka di saat mereka sedang berkunjung ke wisata di jepang.


"aku lelah sekali..." ucap Balqis yang berbaring di ranjang.


"apa kau senang???" tanya Abrar yang ikut berbaring di samping Balqis.


"tentu saja.....!! aku bisa melihat kota di jepang yang di penuhi oleh bunga sakura yang bermekaran." sahut Balqis.


"biasanya aku hanya melihat kota jepang dari film kartun doraemon saja....." sambung Balqis.


"ck..., kau suka nonton kartun???" tanya Abrar.


"ya...itu dulu saat aku kecil...aku sering nonton dengan anak-anak panti lainnya saat aku masih kecil.." sahut Balqis.


"sekarang kau kan sudah dewasa..., kau pasti tidak nonton kartun lagi.." kata Abrar.


"tentu saja...itu kan tontonan untuk anak-anak..." ujar Balqis.


"tentu saja..., sekarang kau sudah dewasa..., tontonanmu pasti film porno kan???? secara kau itu kan cewek mesum.." tanya Abrar tersenyum mesum pda Balqis.


"ckk....., itu mah film kegemaranmu.....!! kau yang mesum...." ujar Balqis kesal.


"aku tau kau sangat gemar nonton film porno makanya kau sangat lihai bercinta dengan wanita.." sambung Balqis.


"hehehe......., tapi kau menyukai kelihaianku dalam bercinta kan, Balqis.....?????" ujar Abrar kembali dengan senyuman mesumnya.


"hhmmmppp.....!! kau terlalu percaya diri..." sahut Balqis dusta.


"ck..., kau lupa kemarin malam kau mendesah hebat di bawahku..., hah???" ucap Abrar yang terus menggoda Balqis.


"awas....aku mau mandi...." kata Balqis yang berlari turun dari ranjang menuju kamar mandi.


Balqis merasa malu mendengar ucapan Abrar. tak di pungkiri Balqis memang menikmatinya saat bercinta dengan Abrar. Suatu malam Balqis membongkar semua isi tasnya dan setiap lemari serta laci yang ada di kamar villa.


Ia kebingungan mencari kesana kesini.


“dimana pil itu?? Kemarin malam aku simpan disini.” Ucapnya merogoh tas-tasnya.


Tiba-tiba suasana kamar menjadi kelam dan menyeramkan.


“apa ini yang kau cari, hah???” ucap Abrar dengan mata yang berapi-api.


“Aaabbb….aa..abrar, dari mana kau dapatkan itu??” sahut Balqis ketakutan.


“beraninya kau..???” teriak Abrar yang semakin membara.


“itu….., aku….Cuma…….”


“ternyata selama ini kau minum pil kontrasepsi ini????” bentak Abrar yang membuat Balqis semakin ketakutan.


“pantas aja kau gak hamil-hamil, walaupun aku memakanmu setiap malam.” Bentaknya lagi.


“jangan main-main dengan ku lagi, atau aku akan benar-benar menghabisimu.” Ancam Abrar penuh luapan emosi.


Balqis benar-benar sangat ketakutan, ia melihat mata Abrar penuh dengan amarah. Wajahnya yang bengis seakan menalan dirinya. Lalu Balqis menangis ketakutan melihat amarah Abrar, sementara Abrar keluar dari kamar dengan rasa kesal.


          Malam itu, Abrar penuh dengan kekesalannya masuk ke kamar. Ia melihat Balqis di dalam selimut sedang menangis. Awalnya ia menyesal telah bersikap kasar pada Balqis. Namun saat ia mengingat bahwa Balqis meminum pil itu ia menjadi gelap mata. Segera ia Tarik selimut yang membalut tubuh Balqis, dan kemudian ia menarik tubuh Balqis dengan kasar.


“kau harus segera hamil…!!” ucapnya dengan nada penuh amarah.


Balqis hanya menangis sambil menatap mata Abrar yang tajam.


“malam ini aku yang akan menghajarmu.” Ucapnya lagi sambil mencengkram wajah Balqis dengan kasar.


Terjadilah ena ena di antara Abrar dan Balqis yang menyakitkan bagi Balqis. Abrar melakukannya dengan kasar sehingga membuat Balqis tak nyaman. setelah melakukannya, Abrar meninggalkan Balqis yang masih menangis akibat perlakuan kasar darinya. Abrar pergi tidur di kamar lainnya di vila itu. Setelah malam itu, Abrar berubah sikap kepada Balqis. Ia bukan hanya memaksakan kehendaknya saja, namun ia juga sering bersikap kasar kepada Balqis.


“menurutlah dengan ku, kalau kau ingin hidup tenang.” Kata itu selalu saja terngiang di telinga Balqis.


Abrar selalu mengancam apabila Balqis tak mau menuruti kata-katanya. Balqis hanya bisa pasrah apabila di ancam olehnya.


          Kepulangan Abrar dan Balqis di sambut oleh kakek di bandara. Kakek mengajak mereka makan siang dirumah dan juga menginap beberapa hari di rumahnya. Mereka hanya menuruti keinginan kakek. Setelah selesai makan, Balqis minta izin kepada kakek untuk pergi ke panti asuhan. Ia merindukan Revan, anak panti yang sangat ia sayangi itu. Ia pun di antarkan oleh supir kesana. Sementara Abrar pergi menemui sahabat-sahabatnya di tempat yang mereka janjikan.


“ada kabar tentang Fadel??” tanya Devan pada Abrar.


“aku udah menghabisinya..!!” jawab Abrar.


“baiklah, satu persatu musuhmu mati di tanganmu..!!” ujar Devan.


“ayolah, ikut kami bersenang-senang malam ini.” Ajar Luky pada Abrar.


“setelah menikah, kau jarang banget ngumpul bareng kita.” Ucapnya lagi.


“hehehe…, kasihan para wanita kencanmu yang lain, selalu bertanya tentangmu.” Kata Deva.


“baiklah…., malam ini kita bersenang-senang.” Ucap Abrar setuju.


Malam harinya, Balqis tak melihat batang hidungnya Abrar. Ia menyangka akan di makan setiap malam oleh Abrar. Balqis menghela nafas panjang bersyukur bisa tidur nyenyak malam ini.


          Didalam bar, Abrar dan sahabatnya bersenang-senang dengan minuman dan para wanita cantik mendampingi mereka. Abrar kembali bermain-main dengan wanita kencannya yang biasa ia gunakan sebelum ia menikah dengan Balqis. Abrar sudah banyak minum, namun ia masih tetap tersadar. Sedangkan sahabat-sahabat sudah teler. Abrar memboyong wanita kencannya ke sebuah hotel. Ia berniat untuk menikmati nafsunya dengan wanita itu.


“tuan, aku akan memuaskanmu malam ini.” Rayu wanita itu.


“lakukan segera, puaskan aku..!!” sahut Abrar kasar mencengkram tubuh wanita itu.


Abrar menikmati sentuhan yang diberikan wanita kencannya itu, namun saat wanita itu mencium bibirnya dan akan membalas ciuman itu, wajah Balqis seolah bermain di pikirannya. Segera Abrar tersadar dan mencampakkan wanita kencannya. Lalu ia pergi meninggal wanita itu di hotel sendirian.


“sial…!! Kenapa aku tidak bisa melakukannya lagi dengan wanita lain..??” umpat Abrar kesal saat perjalanan pulang.


“wajahnya selalu ada di otakku..!!” sambungnya lagi.

__ADS_1


Saat tiba dirumah kakek, ia langsung menuju kamar Balqis. Ia melihat Balqis sudah tidur lelap. Kemudian ia membangunkan Balqis dengan pelukan disertai remasan pada dada Balqis. Sontak Balqis membelalakkan matanya dengan terkejut. Ia berbalik dan melihat Abrar dengan tubuh yang bau minuman.


“wajahmu selalu ada di otakku, layani aku..!!” perintah Abrar sambil mencengkram tubuh Balqis.


Seakan menerima takdirnya, Balqis pun melayani Abrar bercinta. Kali ini ia lah yang aktif untuk memuaskan Abrar.


Walaupun ia masih dalam keadaan terpaksa. Tubuh Abrar mengejang saat pinggul Balqis menari di atas tubuhnya.


Suara erangan Abrar pecah di sertai desahan Balqsi yang juga mendapatkan puncaknya. Tubuh Balqis terkulai lemas dalam pelukan Abrar yang tersenyum puas dengan cara Balqis melayaninya.


“kali ini kau sangat pintar melayaniku, kau lebih aktif dari pada sebelumnya.” Bisik Abrar.


“aku hanya mencoba menerima takdir menjadi istrimu.” Sahut Balqis ketus yang membuat Abrar kesal.


“bisakah kau sekali saja bermanis mulut kepadaku??” teriak Abrar marah.


“aku gak sudi…!!” balas Balqis balik marah pada Abrar.


“kenapa kau selalu menentangku, hah??” ujar Abrar menarik tangan Balqis dengan kasar.


“karena kau selalu kasar padaku…!!!” teriak Balqis.


“ceraikan aku…!!” teriak Balqis lagi.


“sampai mati kau tetap milikku…!! Jangan pernah ucapkan kata itu lagi dihadapanku.” Ancam Abrar dengan menggenggam pipi Baqlis dengan kasar.


Abrar kemudian pergi meninggalkan Balqis yang menangis kesal akan sikap kasar darinya. Malam itu Abrar mengurungkan niatnya untuk menginap dirumah kakek. Ia pulang kerumahnya dalam keadaan yang marah.


Tiba dirumah, semua pelayan mendapatkan amukan oleh Abrar yang kesal karena Balqis.


Di ruang kerjanya, ia menendang dan membalikkan meja kerjanya dengan penuh amarah.


“brengsek…..!!” teriak Abrar menghancurkan barang-barang dirumahnya.


“kenapa aku selalu menginginkannya…sedangkan dia tidak pernah menginginkanku…” ujarnya lagi dengan luapan emosi.


Disisi lain, Balqis menangis sejadi-jadinya karena sikap Abrar terhadapnya. Ia merasa sakit hati apa bila Abrar bersikap kasar padanya.


          Berhari-hari Balqis menginap dirumah kakek, selama itu lah ia tidak bertemu Abrar. Abrar tak pernah datang mengunjunginya setelah pertengkaran malam itu. Saat sedang menunggu makan siang, kakek dan Balqis berbincang di ruang keluarga.


“nak, apa kau dan Abrar sedang bertengkar???” tanya Kakek pada Balqis.


“tidak kek, kami baik-baik saja.” Jawabnya getir.


“apa Abrar sering bersikap kasar dan menyakitimu???” tanya kakek.


“aku mohon, kau jangan menutupi kesalahannya.” Kata kakek lagi.


“tidak kek, Abrar baik padaku. Dia tidak pernah bersikap kasar padaku.” Jawab Balqis dusta.


Kakek dan Balqis tak menyadari bahwa Abrar mendengar perbincangan mereka dari balik pintu. Mendengar ucapan Balqis yang menutupi kesalahannya, jantungnya berdetak kencang. Abrar merasa bersalah dan menyesal karena berlaku kasar pada Balqis. Perasaannya sakit melihat raut wajah Balqis yang sedih kala menatapnya. Tak lama ia masuk dan mengajak Balqis untuk pulang kerumah.


Dalam perjalanan mereka hanya terdiam seribu bahasa. Balqis memalingkan wajahnya kearah kaca jendela mobil. Abrar beberapa kali hanya meliriknya.


“balqis, apa kau lapar??” tanya Abrar membuka obrolan.


“tidak.” Jawabnya yang masih tak mau menatap.


“kata kakek kau belum makan, pasti kau lapar sekarang.” Ujar Abrar mencoba menahan kesalnya.


“baik tuan.” Sahut sang supir.


“aku mau pulang saja, aku mau istirahat.” Ucap Balqis menolak.


“Balqis, jangan mulai lagi..!!” ujar Abrar mulai kesal.


“bisakah kau menurutiku sekali saja????” teriak Balqis dengan mata berkaca-kaca.


“baiklah, terserah kau kalau kau mau mati kelaparan..!!” balas Abrar ikut emosi.


          Mereka pun pulang kerumah. Setibanya dirumah, Balqis langsung berlari naik ke atas dan masuk ke kamarnya. Ia masih kesal karena kejadian malam itu saat dirumah kakek. Abrar kemudian pergi untuk kembali ke kantornya yang akan diadakan meeting penting setelah makan siang.


          Malam hampir larut, perut Balqis keroncongan. Abrar baru saja tiba dirumah. Ia mendengar dari pelayan bahwa Balqis belum makan sejak pulang tadi. Abrar semakin kesal. Ia naik ke atas berniat untuk memarahi Balqis yang tak mau makan. Saat ia di depan pintu, ia mendengar Balqis yang sedang berdoa minta di berikan mie instant.


“ya tuhan, berikan aku mie instant yang banyak..!! aku lapar.” Ucapnya.


“dirumah yang semewah ini, tidak memiliki mie instant.” Ucapnya lagi.


Abrar tersenyum mendengar doa Balqis yang kekanak-kanakan.


“ppfftt…, dasar pecinta mie.” Gumamnya sambil menurungi anak tangga.


Abrar mengurungkan niatnya. Kemudian ia memerintahkan orang suruhannya untuk membeli ramen khas jepan di sebuah restoran jepang yang ada di kotanya. Tak lama kemudian, makanan pun tersaji di atas meja makan. Sangking laparnya, Balqis bisa mencium aroma dari ramen itu.


“duh.., sangking laparnya aku malah tercium bau ramen khas jepang itu disini.” Gumamnya.


Ia berpikir itu hanyalah khayalannya saja.


“Balqis, cepat turun..!! temani aku makan.” Ucap Abrar menariknya paksa tangan Balqis keluar dari kamar.


“lepaskan aku…, Abrar..!! kau selalu saja memaksaku.” Ujarnya kesal.


“diamlah…,!!” serunya malas bertengkar.


Saat sampai di meja makan, Balqis melihat ramen yang banyak untuknya. Matanya langsung berbinar binar tak sabar ingin melahap ramen itu.


“duduk disini.” Kata Abrar meletakkan tubuh Balqis di atas meja yang berhadapan dengannya.


Lalu Abrar duduk di tepat di depan Balqis seraya menyuapi ramen itu.


“buka mulutmu…!!” perintah Abrar padanya.


“aku bisa makan sendiri…!!” gumam Balqis sewot.


“buka aku bilang….!!” Ujar Abrar mulai emosi.


Lalu Balqis pun menerima suapan ramen dari tangan Abrar. Saat ramen itu masuk ke dalam mulutnya, seketika wajah Balqis berubah bahagia. Abrar sangat mengetahui hal itu, ia terus menyuapi ramen itu kepada Balqis hingga habis tak tersisa.


“wwwaahh….., enaknya…!!” ucap Balqis kekenyangan bahagia.


“apa sekarang kau bahagia??” tanya Abrar menatap Balqis.


“tentu saja..!! perutku sangat bahagia..,hahaha…” jawab Balqis.


“apa kau tidak makan???” tanya Balqis baru sadar bahwa semua ramen habis.


“aku tidak suka makan mie…!!” ujar Abrar.

__ADS_1


“kenapa?? Mie itu enak tau…” kata Balqis.


“sudahlah, ayo kita ke kamar, aku mau tidur.” Tukasnya menggendong Balqis.


“Abrar, apa malam ini kau akan memakanku??” gumam Balqis.


“apa kau suka kalau aku melahapmu, hah??” ucap Abrar dengan pandangan mesum.


“bukan itu maksudku…, hanya saja aku….”


“sudah lah tidur begini saja.” Potong Abrar memeluk Balqis di ranjang.


Lalu mata mereka pun terpejam dan merka tertidur dengan lelapnya.


          Hari berganti dengan cepatnya. Hubungan antara Balqis dan Abrar masih tetap sama. Sering bersitegang hanya dengan masalah yang sepele. Sang suami ingin di patuhi, sementara sang istri terus membangkang. Hingga suatu hari terjadilah pertengkaran sengit di antara keduanya.


“jangan pakai parfum itu di kamar ini, aku gak suka baunya.” Ujar Balqis sewot.


“tapi ini parfum yang aku pakai setiap harinya, kenapa sih??” teriak Abrar membalas.


“biasanya, kau juga diam saja kalau aku memakainya di kamar ini.” Sambung Abrar.


“itu dulu…!! Sekarang aku gak suka baunya.” Sahut Balqis semakin sewot.


Tak ada yang mau mengalah di antara mereka. Bahkan para pelayan dirumah itu sudah terbiasa mendengar teriakan-terikan dan ujaran kebencian yang saling mereka lontarkan. Saat sedang sarapan mereka kembali bersitegang di meja makan.


“kenapa kau hanya makan buah saja?? Apa kau ini burung??” tanya Abrar pada Balqis.


“bukan urusanmu.” Sahut Balqis ketus.


“itu buahnya asam, tidak baik makan saat pagi-pagi seperti ini..!!” terika Abrar.


“tapi dilidahku buah ini tidak asam” sahut Balqis lagil.


“sekalian aja kau makan buah lemon.” Ujar Abrar dengan bawelnya.


“lemon habis di kulkas, udah aku makan semuanya semalam.” Kata Balqis.


“ck, dasar kau…!!” ucap Abrar sambil menyantap makananya.


Selesai sarapan, Abrar langsung bergegas ke kantor. Sedangkan Balqis hanya ingin bermalas-malasan saja di kamar. Ia beguiling kesana kemari di ranjangnya sambil menonton tv dan makan buah-buahan segar.


          Sekitar jam 11.00 siang, Abrar pulang sebentar untuk mengambil berkas yang tertinggal diruang kerjanya. Ia melintasi kamar, ia mendengar suara tv menyala. Ia segera membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Ia melihat Balqis yang tak biasanya sedang bermalas-malasan dirumah apalagi di kamar.


“sedang apa kau???” tanya Abrar.


“sedang menanti makan siang, aku lapar sekali.” jawabnya menoleh pada Abrar.


“padahal semua buah di kulkas sudah aku makan habis, tapi aku masih lapar.” Sambungnya.


“pergilah ke supermarket dan belanjalah makanan yang banyak.” Kata Abrar.


“aku sedang malas, aku hanya ingin makan dan tidur saja.” Ucapnya lagi tak mau bergerak.


“apa kau ingin menjadi ****, pemalas???” umpat Abrar.


“ck,…kau ini..pergilah ke kantormu sana..!!” usir Balqis kesal.


“dasar kau…” balas Abrar yang pergi ke kantornya.


Sebelum menuju ke kantornya, ia singgah kerumah kakek untuk menandatangi surat penting tentang bisnisnya.


“kau sendirian saja??” tanya kakek pada Abrar.


“iya.” Jawab Abrar.


“kenapa kau tidak membawa cucu menantuku kesini??” ujar kakek kesal.


“dia bilang dia gak mau keluar rumah…!!” sahut Abrar balik kesal.


“dia hanya mau makan tidur saja dirumah, bahkan semua buah habis dimakannya.” Sambung Abrar lagi.


“apa kau bilang, tidak biasanya dia begitu.” Kata kakek heran.


“mana aku tau, entah apa yang terjadi tiba-tiba jadi aneh seperti itu.” Ucap Abrar.


“maksudmu…??” tanya kakek.


“sudah beberapa hari ini dia gak selera makan kecuali makan buah-buahan saja.” Ujar Abrar.


“bahkan buah asam seperti lemon pun dia makan sampai habis.” Sambungnya lagi.


Kemudian kakek menelpon Devan.


“Devan, cepat kau temui cucu menantuku.” Perintah kakek pada Devan.


“periksa kesehatannya.” Pinta kakek yang langsung di kerjakan oleh Devan.


“untuk apa periksa kesehatanya?? Dia tidak sakit....dia hanya sedang malas saja.” Kata Abrar heran.


“dasar kau bodoh…!! Cepat kita kerumahmu.” Ajak kakek pada Abrar.


Tak lama kemudian, semuanya sudah berkumpul dirumah. Deva langsung memeriksa kesehatan Balqis.


“matamu sedikit pucat, apa kau selalu lapar??” tanya Devan pada Balqis yang duduk di ranjang.


“iya..,mungkin karena aku hanya makan buah saja, gak makan nasi.” Jawab Balqis.


"belakangan ini aku tidak suka mencium bau nasi..." sambung Balqis lagi.


“apa aku boleh bertanya, kapan terakhir kali kau datang bulan??” tanya Devan dengan ramah.


“ooohh,,aku lupa..!! mungkin 2 bulan atau 3 bulan yang la…” seketika Balqis berhenti berkata.


"astaga...apa maksud pertanyaan Devan???" ucap Balqis salam hatinya.


“apa aku boleh minta air seni mu sedikit??” kata Devan menyodorkan wadah kecil.


Lalu Balqis pun memberikannya.


Devan mulai memeriksanya dengan menggunakan alat tes kehamilan.


Dan menyembulah dua garis merah yang menandakan bahwa Balqis sedang hamil yang di perkirakan sekitar 3 bulan.


“hhooorrreeee……!!! Aku akan punya cicit….” Sorak kakek gembira ria mendengar berita gembira itu.


“selamat sobat, kau akan jadi ayah..!” ucap Devan pada Abrar yang juga sangat gembira mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2