
Hari-hari dilalui seperti biasanya, tak terasa tinggal seminggu lagi waktu yang tersisa bagi Balqis menunaikan janjinya kepada Abrar. Dengan perasaan yang tidak sabar, Abrar terus mencoreng tanda silang di kalendernya.
“sialan, kenapa semakin ku tunggu semakin lama waktu berjalan?” ujar Abrar menatap kalender dengan kesal di ruang kantornya.
“semenjak aku bertemu dengan Balqis, aku gak pernah lagi berkencan dengan wanita manapun.” Kata Abrar lagi.
"hei, kau sabar lah! setelah seminggu ini berlalu kau akan menikmatinya lagi." ujar Abrar pada bagian bawah tubuhnya.
“kenapa wajahnya selalu ada di ingatanku? Mengganggu saja.” Ucap Abrar.
Tak lama masuk sekretaris Abrar yang akan mengatakan jadwal perjalanan bisnisnya ke luar negeri selama seminggu. Abrar langsung berdecak kesal, karena waktu seminggu itu lah yang dinantikannya untuk bercinta dengan Balqis. Mau tak mau, Abrar harus pergi. Sebelum pergi, ia mengatakannya pada Balqis saat ia pulang dari kantor.
“aku akan pergi ke luar negeri untuk perjalanan bisnis ku.” Ucap Abrar.
“benarkah? Berapa lama? Apakah akan lama?” tanya Balqis dengar wajah sumringah.
"pergilah, kalau bisa jangan kembali lagi." kata Balqis yang membuat Abrar kesal.
“apa kau begitu senang jika aku pergi?” ujar Abrar kesal.
“tentu saja.” gumam Balqis yang kedengaran oleh Abrar.
“sialan, dia malah senang.” Ucap Abrar dalam hati.
“berapa lama kau akan pergi? Apakah setahun? atau mungkin selamanya?” tanya Balqis lagi.
"kurang ajar, wanita ini selalu membuatku kesal!" umpat Abrar dalam hatinya.
“tenang lah sayang, aku pergi hanya seminggu.” Jawab Abrar.
“setelah itu aku akan pulang untuk memakanmu, hehehe..” sambung Abrar dengan senyuman jahatnya.
Disisi lain, dalam sebuah bar, Gladis tidak sengaja berkenalan dengan Fadel yaitu musuh bebuyutan Abrar. Fadel dan Abrar bermusuhan hanya karena perebutan lahan bisnis yang akan mendapatkan keuntungan yang sangatlah besar. Fadel yang licik juga kejam sering dikalahkan oleh Abrar yang memiliki kecerdasan dalam berbisnis. Dari sebab kekalahannya itu lah, Fadel berniat untuk mengahabisi nyawa Abrar dan keluarganya.
Fadel tau bahwa Abrar telah memiliki seorang istri. Ia berniat untuk menculik istri Abrar dan akan meminta tebusan, yaitu semua lahan bisnis yang Abrar dapatkan.
Gladis mencoba mendapatkan mangsa baru setelah di tinggalkan oleh Abrar. Ia mencoba merayu Fadel saat di bar. Fadel tau bahwa Gladis adalah wanita kencan Abrar yang paling dekat dengan Abrar. Fadel menjebak Gladis untuk mendapatkan informasi tentang Abrar.
“kau wanita yang sangat menggairahkan!” ucap Fadel kepada Gladis.
“kenapa Abrar begitu bodoh meninggalkanmu?” tanya Fadel lagi.
“mungkin Abrar takut dengan istrinya, hingga ia mencampakkanku.” Jawab Gladis kesal.
“apa istrinya cantik?” tanya Fadel.
“ck, istrinya hanya wanita biasa, gak menarik sedikitpun.” Jawab Gladis.
“apa kau mengenal istrinya?” tanya Fadel lagi.
“tentu saja aku tau dia, aku pernah melihatnya naik ke mobil Abrar.” Jawab Gladis.
“kau kelihatanya sangat marah..apa kau kesal karena dia merebut Abrar darimu??” tanya Fadel memancing emosi Gladis.
“tentu saja, rasanya aku ingin sekali mencekik lehernya.” Ujar Gladis dengan amarah.
“apa kau suka uang?” tanya Fadel licik.
“tentu saja, apa kau mau bermalam denganku? Aku akan memuaskanmu.” Bisik Gladis menggoda Fadel.
“sayang, bukan itu yang aku mau.” Sahut Fadel membalas godaan Gladis.
“aku akan memberikanmu uang 2 milyar, asalkan kau mau membantuku menculik istri Abrar.” Ucap Fadel.
“apa kau sudah gila?” ujar Gladis terkejut.
“itu akan menjadi keuntungan yang besar untukmu.” Sahut Fadel.
“jika istri Abrar mati, kau akan kembali dalam pelukan Abrar, dank au akan menerima bayaran dariku sebanyak 2 Milyar.” Tawar Fadel.
“kau benar juga.” Ujar Gladis dengan mata jahatnya.
“deal?” tanya Fadel.
“deal!” jawab Gladis.
Abrar pun berangkat menuju perjalanan bisnisnya selama seminggu keluar negeri. Balqis sangat senang karena orang yang sering membuatnya kesal telah pergi. Ia berpikir akan merasakan ketenangan walaupun hanya seminggu. Selama Abrar diluar negeri, Balqis banyak menghabiskan waktunya di panti asuhan. Bahkan ia sering menginap dan tidur di kamar anak-anak panti asuhan tempat ia dibesarkan. Ia juga tak melupakan hitungan sisa waktu janji yang harus di tepatinya dengan Abrar.
“mampuslah aku! Dua hari lagi pria bedebah itu akan pulang dan memakanku.” Ucap Balqis takut.
Disisi lain, Abrar menatap kalender yang ada di HP nya dengan senyuman yang licik.
“dua hari lagi, hehehe.” ucap Abrar tersenyum licik.
“bersiaplah kelinci kecil, aku pasti akan melahapmu.” Sambungnya lagi.
Kemudian ia mengirimkan pesan lewat HP nya untuk Balqis.
“tunggu aku dirumah saat aku pulang nanti.”
“bersiaplah kelinci kecil, aku siap menerkammu.” Kata Abrar dalam pesannya.
"aku sangat kesal padanya!!aarrgghh!" teriak Balqis membaca pesan dari Abrar.
Hari kepulangan Abrar pun tiba, Balqis berdebar-debar menunggunya dirumah. Ia mendapat kabar bahwa Abrar akan smapai sore nanti.
“masih ada waktu beberapa jam lagi, aku akan keluar sebentar.” Kata Balqis para pelayan rumah.
“saya akan panggilkan sopir untuk menyiapkan mobil.” Sahut pelayan itu.
“tidak perlu, aku akan naik taksi saja. Aku hanya pergi menemui temanku, Lita.” Sambung Balqis.
“baiklah, nona! Hati-hati.” Ucap pelayan itu.
Balqis pun pergi naik taksi menemui teman lamanya yaitu Lita yang masih bekerja di toko kue milik Hendri.
Setelah lama mereka bertemu kangen, Balqis hendak pulang dan menunggu taksi di pinggir jalan.
Tak lama kemudian, sebuah mobil tak di kenal berhenti di depannya, dan keluar seorang wanita cantik dengan beberapa orang pria yang menarik tubuhnya untuk masuk kedalam mobil. Balqis sempat meronta, namun ia pingsan karena di bius oleh Gladis. Mereka pun membawa Balqis ke kediaman Fadel yang telah menunggu kedatanga Balqis.
“siapa kalian?” tanya Balqis ketakutan.
“kau tidak perlu tau nona manis.” Jawab Fadel.
“aku hanya meminjam tubuhmu sebentar.” Sambunya lagi.
“tuan, bunuh dia sekarang juga dan berikan aku uang 2 Milyarnya.” Kata Gladis.
__ADS_1
“sabar sayang, aku akan bermain-main dulu dengan Abrar.” Kata Fadel.
Mendengar nama Abrar, Balqis langsung memutar otaknya agar dapat lepas dari orang-orang yang akan berbuat jahat terhadap dirinya dan Abrar.
“hubungi Abrar, beritahukan bahwa istri kesayanganya berada di tangan kita.” Perintah Fadel.
“baik bos.” Seru anak buahnya.
Disisi lain, Abrar sudah tiba dirumah. Ia ngamuk tak karuan karena Balqis tak menyambutnya ketika ia sampai.
Semua pelayan yang ada dirumah menjadi sasaran kekesalannya. Abrar pun mencoba menghubungi Balqis melalui Hpnya, namun Hp Balqis tidak dapat dihubungi.
“dasar wanita sialan!” teriak Abrar kesal.
“beraninya dia menipuku dan melarikan diri dari sini.” Kata Abrar menumpahkan amarahnya.
Semua pelayan gemetar ketakutan mendengar teriakan Abrar yang sedang kesal. Tak lama, sahabatnya datang untuk menemuinya yang baru pulang dari luar negeri. Mereka melihat Abrar yang sedang teriak-teriak gak jelas di ruang kerjanya.
“kau kenapa ? udah gila?” tanya Devan.
“wanita sialan itu membohongi melarikan diri.” Jawab Abrar marah.
“siapa? Istri mu?” tanya Luky.
“berengsek!” Umpat Abrar kesal.
“udah lah, mari kita pergi besenang senang aja, udah lama gak ngumpul.” Ajak Luky.
“kau udah hubungi dia??” tanya Romi.
“HPnya malah gak aktif.” Jawab Abrar.
“kau udah hubungi ke panti asuhan?? Mungkin dia diasana.” Kata Aska.
“udah, katanya dia hari ini gak datang kesana.” Sahut Abrar.
“entah lari kemana dia, berengsek.” Ujar Abrar lagi kesal.
Tak lama kemudian, HP abrar berdering dari nomor yang tak dikenal.
“halo?” kata Abrar.
“Abrar, jika kau mau istrimu hidup, maka serahkan semua lahan bisnis yang ada di tanganmu padaku.” Ucap Fadel yang terus menutup teleponnya.
“sial! Balqis diculik Fadel.” Teriak Abrar yang langsung begegas.
Abrar dan para sahabat yang disertai orang-orangnya, pergi akan menyelamatkan Balqis.
Di kediaman Fadel, Balqis terus memutar otaknya untuk mengelabui Fadel dan Gladis.
“aku heran, kenapa Abrar menikahimu?” ucap Gladis dengan mata jahatnya.
“siapa Abrar? Aku gak mengenalnya.” Ujar Balqis berpura-pura bingung.
“jangan coba-coba membohongiku, dasar wanita murahan!" Bentak Gladis.
“tuan, aku bukan lah istri, siapa tadi namanya?” ucap Balqis terus berakting.
“tuan kumohon lepaskan aku, kalian pasti salah orang.” Sambung Balqis lagi.
“kau salah orang, aku bukan istrinya Abrar, bahkan aku aja belum menikah.” Sahut Balqis.
“tuan, dia pasti berbohong, aku jelas melihatnya masuk ke mobil Abrar.” Kata Gladis.
“Gladis, apa kau mencoba membohongi aku?” tanya Fadel geram.
“tuan, dia yang bohong. Dia ini istrinya Abrar.” Jawab Gladis ketakutan.
“jika di antara kalian berdua ada yang berbohong, maka akan ku bunuh kalian.” Ancam Fadel geram.
“nona, bagaimana cara kau akan membuktikannya, jika kau memang benar bukan istri Abrar.” tanya Fadel pada Balqis.
Balqis ketakutan saat ditanya oleh Fadel tentang bukti bahwa dia bukan istri Abrar.
Ia hanya diam dan tertunduk ketakutan karena sudah kehabisan akal.
"hei, wanita jalang! apa kau sudah kehilangan akal sekarang?" ujar Gladis pada Balqis.
"kita akan membuktikannya, kalau dia adalah istrinya Abrar." sambung Fadel.
Kemudian Fadel berteriak kepada orang suruhannya untuk memanggil dokter dan memeriksa apakah Balqis masih perawan atau tidak agar dapat membuktikan bahwa Balqis adalah istri Abrar atau bukan. karena Balqis mengaku belum menikah.Balqis di bawa ke kamar untuk di periksa oleh dokter.
“aku tau Abrar banyak memiliki wanita hanya untuk berkencan dengannya, mana mungkin ia menyia-nyiakan wanita ini kalau memang dia adalah istrinya itu.” Kata Fadel.
“kau benar, tuan! aku yakin dia lah istri Abrar.” Sahut Gladis.
“jika aku salah, maka kau boleh membunuhku.” Sambung Gladis percaya diri.
Tak lama kemudian, dokter keluar dan mengatakan hasil pemeriksaannya terhadap balqis.
“tuan, wanita ini masih perawan.” Ucap Dokter.
“apa?” ujar Fadel dan Gladis terkejut.
“kau pasti salah dokter, coba cek sekali lagi.” Kata Gladis tak percaya.
“tidak tuan, aku berani jamin wanita ini memang masih perawan.” Tukas sang dokter.
“pergilah!” seru Fade dengan kesall kepada sang dokter.
“tuan, dari awal aku udah katakan padamu, wanita ini salah orang.” Kata Balqis yang memojokkan Gladis.
"aku hanya gadis biasa, aku belum pernah menikahi siapapun.." ucap Balqis lagi mengelabui Fadel.
“dasar kau wanita licik!” teriak Gladis kesal menampar Balqis.
“aku dengan jelas melihatmu masuk ke mobil Abrar, waktu itu.” Teriak Gladis lagi.
“hentikan, Gladis! Dasar wanita jalang bodoh.” Bentak Fadel geram.
“beraninya kau menipuku, hah?” teriak Fadel meluapkan amarahnya.
“lepaskan wanita ini, dia gak berguna untuk ku.” Perintah Fadel untuk melepaskan Balqis.
Kemudian Balqis pun di lempar ke jalan dan di tinggalkan di jalan yang sepi. Ia berulang kali berucap syukur karena bisa terbebas dari penjahat itu. Galdis yang masih di rumah Fadel, ketakutan saat kepalanya di todong oleh senjata api milik Fadel.
__ADS_1
"dasar jalang..., beraninya kau mengelabui aku, hah? apa kau tau siapa aku sebenarnya?" teriak Fadel marah kepada Gladis seraya menodongkan pistolnya ke kepala Gladis.
Gladis gemetar ketakutan melihat reaksi Fadel yang sedang mengancam nyawanya.
Saat rombongan Abrar tiba di kediaman Fadel dan hendak masuk, terdengar suara ledakan senjata api. Abrar menghentikan dirinya, dan seakan lemas menyangka ia terlambat menyelamatkan Balqis. Namun ia tetap masuk dan menghabisi orang-orang Fadel dengan cara membabi buta. Serangan demi serangan di lancarkan dengan sangat mengerikan, suara tembakan dimana-mana. Orang-orang Fadel banyak yang mati di bunuh oleh serangan orang-orangnya Abrar. Merasa akan kalah, Fadel dengan orang yang tersisa melarikan diri dan bersembunyi ke tempat yang lebih aman. Abrar, mencari jejak Balqis. Ia berkeliling melihat sosok Balqis. Namun ia tak menemuinya.
“Abrar, lihatlah! ini Gladis, ia tewas.” Ujar Luky kepada Abrar.
“mungkin dia besekongkol dengan Fadel untuk mengahabisi Balqis.” Ucap Romi.
“gue gak lihat si Balqis disini. Dimana dia?” kata Abrar panik.
“apa jangan-jangan dia di bawa kabur oleh Fadel?” ucap Devan.
“untuk memastikannya, kita lihat dari kamera CCTV dirumah ini.” Kata Aska si pintar.
Mereka pun mencari ruangan monitor kamera CCTV di kediaman rumah Fadel. Mereka melihat semua kejadian di rumah itu. Mereka akhirnya tau bahwa Balqis telah di lepaskan oleh Fadel sebelum mereka datang. Mereka memutuskan untuk mencari Balqis dimana-mana. Namun mereka tak menemuinya. Lalu HP Abrar berdering yaitu panggilan dari telepon rumah.
“tuan, nona sudah kembali.” Kata pelayan.
“baiklah aku akan segera pulang.” Jawab Abrar.
Mereka pun menuju kembali kerumah dan sesampainya di rumah, mereka melihat Balqis yang sedang duduk manis dan melahap mie instant buatannya di ruang makan. Mereka semua bengong melihat Balqis yang pulang dengan sehat walafiat.
“ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Balqis bingung.
“apa kau masih bernafsu makan makanan sampahmu itu?” teriak Abrar kesal.
“ck, apaan sih? Aku lapar, ya makan lah..” jawab Balqis sewot.
“bukannya kau tadi di culik ya?” tanya Devan melompong.
“iya!” jawabnya sambil terus melahap mie.
“apa kau tau betapa khawatirnya aku saat tau kau di culik Fadel?” teriak Abrar lagi.
“mana aku tau, aku tidak melihat wajah panikmu itu, kan aku lagi di culik.” Gumam Balqis.
Amarah Abrar semakin membara mendengar jawaban santai dari Balqis, sedangkan dia khawatirnya tingkat dewa.
“bagaimana caranya kau bisa meloloskan diri?” tanya Luky kepo.
“mau tau?” ucap Balqis.
“iya…iya…iya...!! ujar Devan, Romi, Aska dan Luky penuh harap.
“jawabannya, RAHASIA!” bisik Balqis yang kemudian tertawa lepas.
“bisakah kau serius sedikit, hah?” ujar Luky yang kesal dua kali di kerjai oleh Balqis.
“baiklah, berikan aku mie instant lagi, aku masih lapar.” Kata Balqis kepada mereka.
“setelah aku kenyang, aku janji akan menceritakannya pada kalian.” Sambungnya lagi.
“berhentilah makan makanan sampah itu.” Teriak Abrar dongkol melihat Balqis makan mie.
“ya udah, kalau kalian mau mati penasaran.” Ucap Balqis mengancam.
“wanita sialan!” Umpat Abrar dalam hatinya.
“baiklah, kami akan membuatmu kenyang makan mie instant.” Kata Luky menyerah.
Setelah Balqis makan dan perutnya kekenyangan, ia pun tak mengingkari janjinya.
Dia menceritakan semua kejadian saat dia di culik Fadel dan bisa lolos secara detil kepada mereka.
“wah, ternyata kau wanita yang pintar!” seru Romi kepada Balqis.
“tentu saja.” Sahut Balqis mengembangkan hidungnya dengan sombong.
“lalu setelah kalian datang apa yang terjadi?” tanya Balqis penasaran.
“kami baku tembak dengan orang-orang Fadel.” Jawab Luky menceritakan kejadian itu.
“wwooww…!! Keren…!!” ujar Balqis kagum mendengar cerita Luky.
“ah…, sayang banget, aku gak lihat tadi.” Ucap Balqis lagi.
sejatinya Balqis memang menyukai film-film perang, mafia dan juga horror.
Bahkan dia sangat ngefans dengan “JAMES BOND”.
Abrar hanya bisa menatapnya saat Balqis bercengkrama dengan sahabat-sahabatnya itu.
Mereka asik ngobrol tentang kejadian-kejadian yang mengerikan yang pernah mereka alami.
“aku ingat, aku dulu pernah menolong seorang pria dari kejaran musuhnya.” Ujar Balqis yang membuat jantung Abrar berdebar.
“oh ya? Kapan?” tanya Devan pada Balqis sambil menatap Abrar.
“udah lama banget lah pokoknya.” Jawab Balqis.
“apa kau ingat wajah pria itu?” tanya Devan lagi sambil tersenyum.
“aku lupa.!! Ngapain juga di inget, pria itu sungguh menyebalkan.” Jawab Balqis yang tak menyadari.
“kenapa?” tanya Luky.
“bukannya berterima kasih, dia malah mengatakan aku cewek mesum, menyebalkan.” Jawab Balqis.
Mendengar jawaban Balqis, mereka semua tertawa lepas kecuali Abrar.
Balqis hanya menatap mereka yang tertawa dengan bingung dan wajah begok.
"apanya yang lucu?" tanya Balqis kebingungan melihat semuanya tertawa kecuali Abrar.
Abrar menahan amarahnya saat di tertawakan oleh sahabatnya.
Balqis tak menyadari bahwa Abrar lah pria yang ia tolong waktu itu.
“Balqis, apa kau sudah kenyang?” tanya Abrar yang menatapnya.
“tentu saja. Perutku seakan mau meledak.” Jawab Balqis memegang perutnya.
“kau ingat perjanjian kita, hah?” bisik Abrar di telinga Balqis yang langsung membuatnya gemetar.
“aku baru saja di culik, apa kau tega melakukannya padaku?” ucap Balqis dengan tampang imutnya.
__ADS_1
“aku gak perduli!” seru Abrar.
Kemudian dengan tiba-tiba, Abrar memanggul tubuh Balqis di pundaknya dan membawanya masuk ke kamar mereka. Sahabat Abrar kemudian beranjak pergi meninggalkan rumah Abrar sambil terus tertawa geli. Jantung Balqis seakan mau copot saat tau apa yang akan dilakukan oleh Abrar yang sedang membawanya masuk ke kamar.