LOVE IN MINE

LOVE IN MINE
MENCARI PERHATIAN


__ADS_3

          Kakek pulang dari luar negeri membawa segudang oleh-oleh dan hadiah untuk Balqis dan Azlan. Ia sangat merindukan sang cicit yang tumbuh sehat dan senang bermain di pangkuannya.


“Azlan…, apa kau senang nak..bertemu dengan buyutmu ini??” kata Kakek menimang cicitnya.


Tentu saja Azlan menjawabnya dengan bahasa bayi meracau gak jelas. Namun ia tertawa ceria saat kakek bermain dengannya.


“dimana Abrar?? Ini kan hari libur??” tanya kakek pada Balqis.


“mungkin dia sedang bertemu dengan temannya, semenjak ada Azlan mereka jarang bertemu.” Jawab Balqis.


“apa sikap Abrar masih sering memaksamu??” tanya kakek lagi.


“tidak kek…, dia selalu baik padaku.” Sahut Balqis dusta.


Tak lama kemudian, Abrar pulang dengan membawa satu truk bunga mawar merah untuk Balqis. Balqis dan kakek melihatnya dengan bingung, apa yang sedang dilakukan Abrar dengan bunga sebanyak itu.


"apa-apaan dia??? bunga??????" ucap Balqis dalam hatinya syok.


“apa maksudmu ini??” tanya kakek pada Abrar. Tanpa menghiraukan kakeknya Abrar langsung berkata pada Balqis.


“Balqis, semua bunga ini untukmu…!! Nanti malam bersiaplah makan malam denganku di luar.” Ucapnya dengan pipi yang merona kemerahan.


“hahaha….ternyata dia ingin menyatakan perasaannya.” Ucap kakek dalam hati.


“sebaiknya aku gak mengganggu mereka.” Ucap kakek lagi dalam hati.


Lalu kakek menyuruh Wirna si pengasuh untuk membawa Azlan ke kamarnya dan kakek beranjak pulang. kakek belum pun melewati pintu utama rumah, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Balqis.


"hhhaaaaacccciiiuuuu......hhaaaccciiiuu.......hhhaaaccciiuuuu........" suara Balqis bersin-bersin.


“Balqis, kau kenapa???” tanya Abrar bingung.


“aku alergi bunga….” Sahut Balqis yang langsung bersin-bersin tanpa henti.


“haaahh…, yang benar saja??” kata Abrar sedikit kesal dengan aksi romantisnya yang gagal.


Balqis langsung berlari masuk ke kamarnya menghindari bunga-bunga yang diberikan oleh Abrar untuknya.


Abrar sangat kesal dengan ide Luky yang menyuruhnya untuk memberikan segudang mawar.


Lalu Abrar menyuruh orang untuk mengirim bunga itu kepada Luky sang pemilik ide konyol.


Diapartemen Luky.


“kenapa begitu banyak mawar disini?????” teriak Luky kesal melihat selururh ruangan apartemennya di penuhi bunga mawar yang di kirim oleh Abrar.


"ehh..., ada suratnya juga...." kata Luky yang kemudian membaca surat dari Abrar.


"ide konyolmu membuat aksi romantisku gagal total..dan Balqis jadi sakit gara-gara alergi bunga. bersiaplah untuk mati, Luky......!!!!!" tulis Abrar yang membuat tubuh Luky seketika bergetar ketakutan.


Di rumah Abrar.


          Balqis terus saja bersin-bersin hingga hidungnya memerah. Alerginya sangat parah saat itu hingga dia tak dapat mendekati Azlan. Abrar memanggil Devan untuk memberikan obat alergi pada Balqis yang sedang duduk di ranjang kamarnya.


“jauhkan ia dari serbuk bunga yang bersifat alergi untuknya, aku sudah menuliskan resep obat.” Kata Devan yang beranjak keluar pada Abrar.


“hahaha….., aksi romantismu gagal???” ujar Devan meledek Abrar.


“bangsat si Luky…idenya konyol..! ternyata Balqis elergi serbuk bunga.” Sahut Abrar kesal.


“berusahalah lebih keras lagi….” Kata Devan.


"aku bahkan gak memiliki muka lagi di hadapan Balqis..., baru mulai udah gagal..." sahut Abrar.


"pppfffttt....., sebegitunya kah jatuh cinta???" tanya Devan sembari meledek Abrar.


"kau meledekku..., kalau suatu saat kau merasakannya kau pasti akan bernasib sama sepertiku.." ujar Abrar.


Setelah mengantar Devan keluar, Abrar masuk ke kamar melihat kondisi Balqis karena ulahnya.


“apa kau sudah merasa baikan??” tanya Abrar cemas.


“hidungku merah seperti tomat.” Kata Balqis.


“mana aku tau kalau kau alergi bunga mawar…” balas Abrar.


“seharusnya kau tanya dulu padaku.” Ucap Balqis.


“kalau aku bertanya dulu, bukan kejutan namanya.” Gumam Abrar dengan suara pelan.


“apa kau bilang?? Suaramu pelan sekali..., aku gak dengar.” Tanya Balqis.


“sudahlah, kau istirahat saja..!! aku mau mandi dulu.” Sahut Abrar dengan pipi yang merona karena malu.


setelah Abrar masuk ke dalam kamar mandi, Balqis memikirkan apa alasan Abrar yang memberikan bunga sebegitu banyak kepadanya.


"mawar itu setauku untuk menyatakan perasaan cinta...!! apa iya dia jatuh cinta padaku..???" ujar Balqis dalam hatinya.


"eeehh..., nanti dulu...!! jangan-jangan dia mencoba untuk merayuku agar aku mau melahirkan anak kedua dan ketiga dan seterusnya....!!! aaaakkkkhhhh...............bisa mampus aku...." ucapnya lagi salah paham pada perhatian Abrar.


Setelah selesai mandi, Balqis melihat Abrar yang keluar hanya menggunakan handuk pendek yang melingkar di pinggangnya.


“apa kau tidak bisa berpakaian di kamar mandi??” ujar Balqis dengan pipi merona melihat tubuh Abrar yang tegap.


“apa yang salah?? Kau lupa kalau kita sering telanjang saat kita sedang ena ena???” sahut Abrar dengan pandangan mesumnya.


Warna merah merona semakin tampak jelas di wajah Balqis yang mendengar ucapan mesum Abrar.


“pppfftt, dia malu-malu melihatku begini, aku akan mengganggunya.” Kata Abrar dalam hati.


Lalu dengan tatapan mesum Abrar berjalan mendekati Balqis yang sedang duduk di ranjang.


“kau......kau.........mau apa kau??” tanya Balqis panik saat Abrar berjalan mendekatinya.


“ini…, cobalah lihat sepuasnya.!!!” Kata Abrar yang menjatuhkan handuknya dengan sengaja.


Balqis menjerit melihat burung Abrar yang sudah berdiri tegak.


“apa-apan kau Abrar??” teriak Balqis menutup matanya.


“hei…, kau lupa aku ini suamimu..!! kita bahkan sudah punya Azlan..” ujar Abrar dalam keadaan telanjang yang kemudian memeluk Balqis.


Kemudian Abrar langsung melumat bibir Balqis dengan paksa.


“itu adalah hukuman untukmu karena berani membangkitkan gairah ku.” Ucap Abrar yang terus saja melumat tubuh Balqis di ranjang.

__ADS_1


“oh.., astaga, aku sangat menyesali perkataanku saat melihatnya tadi.” Ucap Balqis dalam hati.


Balqis menyesali dirinya yang mengatakan tentang handuk Abrar, sehingga Abrar memaksanya ena ena di ranjang.


“kenapa aku selalu bergairah padanya??” gumam Abrar dalam hati saat melumat tubuh Balqis.


“aku pasti jatuh cinta padanya..aku yakin itu.” Gumamnya lagi dalam hati saat menatap Balqis yang mendesah di bawahnya.


Malam harinya, Abrar mengajak Balqis makan malam bersama di luar. Tentu saja dengan cara memaksanya, Abrar kan memang mempunyai sifat seenaknya kepada Balqis.


“hei, Abrar..!! kenapa kau berbuat ini padaku??” tanya Balqis yang membuat Abrar tersipu malu.


“apa kau berniat menyuruhku hamil lagi, hah?? Dasar modus…!!” ujar Balqis lagi.


“bisakah kau sedikit romantis, hah???” kata Abrar yang mulai terpancing emosi.


“romantis apanya…, aku sedang keadaan sakit seperti ini kau tetap saja memaksaku melayani di ranjang dan sekarang kau bahkan memaksaku juga makan malam disini..., mana tidak ada sajian mie instan lagi....” Ujar Balqis menatap Abrar dengan kesal.


“ck…, kau ini…” sahut Abrar mulai emosi.


"di otakmu itu hanya mie instan saja..." sambung Abrar lagi.


“nikmati saja, setelah ini kita dansa bersama..” ajak Abrar memaksa Balqis.


“aku gak bisa berdansa…!! Kau lupa aku wanita kelas rendah…” sahut Balqis.


“aku bilang dansa, ya dansa…!! jangan membantahku…” teriak Abrar yang menakuti pemain biola yang sedang menghibur mereka.


“ayo dansa sekarang saja..” kata Abrar menarik tangan Balqis yang sedang menyantap hidangan.


          Dengan terpaksa Balqis menerima tawaran berdansa dengan Abrar. Sebenarnya Balqis sangatlah gugup, karena ia tak pernah makan malam romantis dan berdansa dengan pria manapun. Sangking gugupnya, ia menginjak kaki Abrar berulang kali, sehingga Abrar kehabisan kesabaranya.


“apa kau terlalu bodoh, hingga kau berulang kali menginjak kakiku??” teriak Abrar pada Balqis.


“kan aku sudah bilang, aku gak bisa dansa…” balas Balqis tak mau kalah sewotnya.


“lepas sepatumu itu…” perintah Abrar pada Balqis.


“kenapa??” tanya Balqis.


“cepat lepaskan saja…” teriak Abrar tak sabaran.


Kemudian Balqis melepaskan sepatunya dengan kesal. Lalu Abrar menyuruh Balqis berpijak di atas kakinya dan Balqis mulai menari mengikuti langkah kaki Abrar. Awalnya Balqis tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya, namun dengan pelukan yang erat dari tangan Abrar, Balqis dapat menyeimbangkan dirinya menari dengan Abrar.


          Tubuh Abrar dan Balqis sangat lengket, mata mereka saling menatap kala itu. Rona merah terpancar jelas di wajah mereka berdua. Jantung mereka berdebar kencang. Tanpa sadar Abrar mencium bibir Balqis dengan lembut dan di balas oleh Balqis. Pemain biola memainkan musik dengan mengalun sendu. Akhirnya malam yang romantis terjadi pada mereka, walaupun tetap saja atas paksaan Abrar di awal.


Setelah puas saling mengecap bibir masing-masing, mereka masih bertatapan. Lalu Balqis merebahkan kepala di dada bidang Abrar dan mereka terus berdansa hingga permainan biola selesai.


“aku mencintaimu, Balqis..” ucapnya dalam hati sambil memeluk Balqis.


“aku jatuh cinta padamu, Abrar…” ucap Balqis dalam hatinya.


Mereka belum berani untuk mengungkapkan isi hati mereka. Abrar masih takut Balqis akan menolaknya, begitu pula dengan Balqis, ia takut hatinya akan hancur jika Abrar tidak mencintainya.


          Setelah malam itu, Abrar dan Balqis jadi canggung. Setiap hari saat bermain dengan Azlan, mereka hanya curi-curi pandang saja. Bahkan Abrar sudah kurang mengganggu Balqis dan perang dunia di antara mereka seakan terhenti. Tapi Abrar tiada hentinya untuk mendapatkan perhatian dari Balqis. Dari ide-ide konyol Luky, Abrar menjalankan misinya untuk mendapatkan cinta Balqis yang telah memberikan seorang anak untuknya.


“Balqis, malam ini ikutlah denganku ke pesta ultahnya rekan bisnisku.” Perintah Abrar pada Balqis.


“tapi aku tidak suka pesta orang-orang kaya, pasti banyak wanita sombong disana.” Kata Balqis menolak.


“aku sudah membeli gaun pesta untukmu…!!” sambungnya laagi.


“ck, menyebalkan…!! Dia tetap saja mau menang sendiri.” Gumam Balqis.


          Malam harinya, Balqis telah siap dan menuruni anak tangga untuk ikut bersama Abrar. Abrar yang sudah menunggunya dari tadi dengan kesal karena Balqis dandan terlalu lama. Tak lama kemudian, ia melihat Balqis dengan gaun bermerk nan indah dan dengan riasan tipis di wajahnya membuat Balqis tampak sangat cantik, sanggun dan mempesona. Mata Abrar seakan tak ingin lepas dari Balqis yang turun dengan rambut yang terurai panjang.


“cantik sekali dia…!!” ucap Abrar dari hatinya.


“hei.., hidung mu berdarah…!! Apa kau sakit??” tanya Balqis yang membuyarkan pikiran Abrar.


Abrar langsung tersadar bahwa ia sedang terbius oleh kecantikan Balqis.


“ayo kita berangkat..” ajak Abrar menarik tangan Balqis.


Saat di perjalanan, mata Abrar curi-curi pandang melihat Balqis yang duduk di sampingnya. Balqis pun sebenarnya terpesona melihat tampilan Abrar saat itu. Namun ia bisa mengendalikan dirinya, tidak seperti Abrar yang terus saja menatap Balqis.


"hei...., matamu bisa jereng kalau terlalu lama menatapku yang cantik ini...." ucap Balqis yang membuat Abrar tersentak.


"ck...., dasar...kau...terlalu narsis...!!" sahut Abrar memalingkan wajahnya menahan malu.


"akui saja..., aku ini memang cantik kan????" kata Balqis dengan mengedipkan matanya genit hanya untuk meledek Abrar.


"ooohh...., kau memancingku lagi ternyata......" seru Abrar yang langsung melahap bibir Balqis di dalam mobil.


"lepaskan Abrar...., aku gak bisa bernafas...." teriak Balqis terbata-taba.


"rasakan hasil kegenitanmu..., cewek mesum...." sahut Abrar tersenyum puas.


"aku menyesal mengajaknya berbicara....." ucap Balqis dalam hatinya menyesal.


sang sopir yang melirik dari kaca spion hanya bisa meratapi nasibnya begitu juga dengan Rudi yang sejatinya memang masih jomblo.


"aku baru sadar kalau sampai saat ini aku belum menyentuh wanita manapun...." ucap Rudi dalam hatinya sambil nangis bombay.


          Sampai di tempat pesta, semua mata tertuju pada Blaqis yang sangat cantik dan anggun sambil bergandengan tangan dengan Abrar. Abrar tau semua memperhatikan Balqis, sehingga Abrar merasa cemburu.


“hhaahh.., aku sangat lelah berbincang dengan yang lain.” Kata Balqis menghela nafas sambil duduk di kursi tamu.


“istirahatlah.., aku akan mengambilkan kue strawberry kesukaanmu sebentar.” Sahut Abrar beranjak pergi.


Balqis hanya mengangguk dan menatap sekelilingnya saja. Tak lama Abrar datang dengan potongan kue untuk Balqis. Setelah itu ia beranjak pergi untuk berbincang-bincang dengan yang lainnya. Disana juga ada sahabat Abrar yang sedang berbincang dengannya.


“hei, bro…!! cantik banget si Balqis…” ucap Luky pada Abrar.


“hehehe...tambah cinta nih si Abrar…” ledek Devan.


“dia kan jarang dandan…, jadi sekali dandan dia cantik banget.” Sahut Abrar dengan rona pipi merah.


“gimana usaha mu mendapakan cinta si Balqis??” tanya Aska.


“malah jadi canggung setelah candle light dinner waktu itu.” Ujar Abrar frustasi.


“hhahahaha……, Abrar galau..” tukas Luky meledek.


“hei…, kau meledek aku..!! kau lebih parah dariku.., ngejar si Lita gak dapat-dapat.” Balas Abrar yang membuat Luky langsung nangis Bombay.

__ADS_1


"aku sangat frustasi mengejar Lita...., dia selalu memaki ku setiap aku menyatakan perasaanku.." sahut Luky yang terus meratapi nasibnya sebagai playboy tobat.


"hahahaha........, penyakit playboy mu itu terlalu parah..., jadi susah untuk di sembuhkan...apalagi di mata Lita..." ujar Romi.


Saat Abrar sedang berbincang dengan sahabatnya, tiba-tiba ada sekelompok wanita yang menghampiri Balqis yang tengah asik menyantap kue nya.


“siapa wanita ini?? Aku belum pernah melihatnya di acara berkelas apapun.” Kata para wanita itu berbisik- bisik.


“lihat pakaiannya.., merk limited edition..!!” bisik mereka lagi. Awalnya Balqis diam saja, namun lama kelamaan ia gerah juga.


“ apakah kalian terganggu wanita-wanita kaya??” ujar Balqis menahan amarahnya.


“ck.., siapa kau?? Apa kau wanita simpanan bos-bos kaya yang ada disini??” tanya wanita yang bernama Riri.


Dia adalah putri dari salah satu rekan bisnis Abrar.


“iya.., aku simpanan bos..!! pergilah…” usir Balqis yang enggan menangapi mereka.


“ck.., sudah ku duga..!! ternyata kau wanita jalang yang murahan, hahaha.” Ujar Riri merendahkan Balqis.


“udah ketawanya?? Pergilah…” sahut Balqis terus menyantap kuenya.


“berani sekali kau mengusirku…!! Aku akan memberimu pelajaran, dasar jalang.” Teriak Riri kesal.


Lalu Riri berusaha menyiramkan minuman yang ada di tangannya ke wajah Balqis.


Ternyata Balqis dapat menghindarinya dan Air itu tumpah mengenai tamu yang lain.


Tak sampai disitu Riri mencoba memfitnah Balqis bahwa Balqis lah yang menyiramkan air itu kepada tamu tersebut.


"hei...apa yang kalian lakukan dengan gaunku???" teriak nyonya itu marah menatap Riri dan Balqis.


“nyonya.., wanita ini yang menyiramkan air kepadamu.” Kata Riri menunjuk Balqis.


“benarkah??? Kalau aku yang menyiramnya, kenapa gelasnya ada padamu??” ujar Balqis menyudutkan Riri yang berkeringat dingin.


Lalu Balqis mendekatinya dan berbisik di telinga Riri.


“wanita kaya yang tolol…!! ternyata kau hanya bisa mengandalkan uang dari orang tuamu saja, dan kau tak berotak....!! wanita pintar lebih di senangi pria daripada wanita kaya tapi begok...hehehe....” ucap Balqis seraya menumpahkan sisa kuenya di kepala Riri.


Riri berteriak kesal karena rambutnya menjadi kotor karena sisa kue Balqis.


“beraninya kau wanita jalang….!!” Teriak Riri.


“siapa yang kau panggil jalang itu, hah?? Bentak Abrar kepada Riri.


“wanita itu tuan.., lihat lah bahkan dia sengaja menumpahkan kuenya padaku.” Sahut Riri sok imut dihadapan Abrar.


Riri tau Abrar adalah pria terkaya di kota itu.


“kau pantas mendapatkannya.” Ujar Abrar menatapnya penuh amarah.


“apa maksudmu tuan?? Dia hanya wanita simpanan bos-bos kaya.” Kata Riri yang membuat Abrar hilang kendali.


“beraninya kau menghina istriku….???” Ujar Abrar mendorong Riri hingga terpental ke lantai.


Mendengar perkataan Abrar, Riri langsung gemetar.


Ia tidak menyadari bahwa Abrar sudah menikah dan Balqis adalah istrinya.


“setelah ini, ku pastikan perusahaan keluargamu bangkrut seketika.” Ancam Abrar dengan bengisnya.


“tuan…, maafkan aku..huhuhuhuhuhu….” teriak Riri menyesal. Namun Abrar dan Balqis tak memperdulikannya dan mereka bergegas pulang kerumah sebelum pesta selesai.


Saat di perjalanan pulang Balqis dan Abrar awalnya hanya diam saja, namun tak lama terjadilah perang dunia lagi di antara mereka.


“baru saja ku tinggal, kau malah bertengkar dengan orang lain disana.” Kata Abrar pada Balqis.


“wanita kaya itu yang mulai duluan, enak saja bilang aku wanita simpanan.” Sahut Balqis.


“menyebalkan….!!’ Gumam Balqis lagi.


“jadi karena itu kau menumpahkan kue di kepalanya??” tanya Abrar.


“iya lah…, biar mampus…!! Sebel banget aku..” ucap Balqis sewot.


"wanita ini kalau marah, amarahnya meledak-ledak...!!" kata Abrar dalam hatinya sambil memandangi wajah Balqis yang kesal.


“pppfftt, tapi aku sangat suka wanita pintar yang seperti ini....hehehehe...” Kata Abrar lagi dalam hatinya.


Saat Balqis sedang ngomel-ngomel habis dari pesta tadi, Abrar langsung menciumnya sangat rakus, hingga Balqis tidak dapat bernafas.


“kenapa kau tiba-tiba menciumku,?” tanya Balqis.


“terserah aku lah…, aku kan suamimu…” balas Abrar yang puas mencium paksa Balqis.


“itu hukuman karena kau mengacaukan pesta tadi.” Kata Abrar lagi menatap mesum pada dada Balqis.


“jangan lihat dadaku.” ucap Balqis malu sambil menutupinya dengan kedua tanganya.


“hahaha….itu milikku.., jadi terserah aku.” Ucap Abrar yang berusaha menarik tangan Balqis.


“awas….jangan halangi dengan tanganmu…” teriak Abrar mencoba menarik.


Disisi lain, sang supir dan Rudi hanya bisa menghela nafas melihat kedua majikannya yang sedang berperang.


"ya tuhan..., mereka mulai lagi..." ucap Rudi dalam hatinya.


“hhaahh…, kenapa aku terjebak oleh pasutri yang gila ini…” ucapnya dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


Setibanya dirumah, Balqis langsung menuju ke kamar Azlan, untuk melihat sang buah hati. Sedangkan Abrar pergi ke ruang kerja untuk melanjutkan beberapa pekerjaan yang tertunda.


“apa Azlan sudah tidur??” tanya Balqis pada Wirna.


“sudah nyonya, baru saja ia terlelap.” Jawab Wirna.


“baiklah, aku hanya ingin menciumnya saja, setelah itu tolong jaga anakku ya.” Ucap Balqis pada Wirna.


“baik nyonya.” Sahut Wirna.


Setelah puas mencium anaknya, Balqis masuk ke kamarnya dan hendak beristirahat. Saat melintas di ruang kerja Abrar, ia melihat Abrar sedang sibuk menatap layar laptopnya.


“apakah dia harus bekerja tengah malam begini, yang benar saja..!!” ucap Balqis seraya melangkahkan kakinya.


Abrar melirik Balqis yang lewat di depan ruangan kerjanya, ia sengaja tak menutup pintu agar bisa melihat Balqis menuju kamar. Dan di saat itulah dia akan beraksi lagi mencari perhatian Balqis untuk mendapatkan cinta tulus dari istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2