
Hari berganti dengan sangat cepat, tak terasa usian kandungan Balqis sudah mencapai 8 bulan. Kakinya mulai membengkak. Balqis sering berjalan santai di halaman rumah setiap pagi untuk memperlancar persalinannya nanti. Abrar dan Kakek menanti harap-harap cemas untuk kelahiran sang buah hati. Abrar semakin protecktif yang kadang-kadang membuat Balqis jengkel menghadapainya.
Sore hari Abrar pulang lebih awal drai biasanya. Ia langsung masuk ke kamar dan ingin menemui calon bayinya itu. Namun ia tidak menemukannya. Ia mencari ke seluruh ruangan rumah, namun tetap tidak melihat Balqis disana. Ia kesal dan panik.
“dimana Balqis??” tanya Abrar pada pelayan.
“tadi nona Balqis keluar katanya Cuma sebentar saja.” Jawab pelayan itu.
“kemana dia???” bentak Abrar kesal.
“maaf tuan, kami tidak tau.”jawab pelayan itu ketakutan.
Kemudian Abrar mencoba menghubungi Balqis melalui HP nya namun tidak Aktif. Abrar semakin kesal dibuatnya.
Tak lama kemudian, Balqis pulang dan langsung di tarik Abrar masuk ke kamarnya.
“apaan sih??? kasar banget....” ucap Balqis sewot.
“darimana saja kau?? Kenapa kau tidak izin dulu denganku kalau mau pergi??” teriak Abrar kesal.
“aku hanya pergi ke panti asuhan, aku sudah lama tidak kesana.” Ujar Balqis juga kesal.
“kenapa kau selalu memikirkan dirimu saja, hah??” uajr Abrar kesal.
“kau tau, kau sedang hamil besar kalau terjadi apa-apa denganmu gimana dengan bayiku??” teriak Abrar semakin kesal.
“kau juga selalu mementingkan keinginanmu saja, aku hanya keluar sebentar..!! aku bosan berada di rumah terus-terusan...” balas Balqis.
“lagian sekarang aku juga sehat-sehat aja kan…!!” sambung Balqis lagi.
"Balqis...., usia kandunganmu itu sudah 8 bulan, dan sebentar lagi kau akan melahirkan....!! kau harus menjaga kesehatanmu itu....!! kalau saat kau di luar tanpa ku dan terjadi apa-apa padamu bagaimana, hah????" teriak Abrar yang penuh amarahnya.
"kau pikir aku tidak memikirkan kandunganku, hah??? aku pergi keluar di antarkan sopir...dan aku hanya berkunjung ke panti asuha..., sekarang aku baik-baik saja...kenapa kau berterika marah gak jelas padaku..." kata Balqis yang marah karena sikap Abrar yang kasar padanya.
“jangan membantahku, aku tidak suka di bantah…!!” bentak Abrar sambil mencengkram lengan Balqis dengan kasar.
“lepaskan aku… Abrar, kau menyakitiku…” ucap Balqis berusaha melepaskan lengannya.
“kau selalu saja menyakitiku dan bersikap kasar padaku.” Teriak Balqis.
kemudian Balqis berlari keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan cepat. Tiba-tiba tanpa memperhatikan langkahnya ia tergelincir dan jatuh terguling-guling sampai kebawah dengan darah yang mengucur dari sela-sela kakinya. ia menjerit kesakitan. Mendengar teriakan Balqis, Abrar berlari keluar kamar dan melihat Balqis yang sudah tergeletak bersimbah darah.
Abrar langsung membawa Balqis kerumah sakit dan menghubungi kakek dan juga Devan. Kakek dan sahabat-sahabatnya datang kerumah sakit menemani Abrar yang sedang panik. Devan datang dan langsung masuk kedalam ruangan tempat Balqis dirawat. Tak lama, ia keluar dan berbicara dengan Abrar dan kakek.
“Balqis harus segera di operasi, ia pendarahan akibat benturan di perutnya.” Kata Devan pada Abrar.
“baiklah, lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan mereka.” Ucap Abrar dengan rasa khawatirnya.
Devan kembali kedalam ruangan dan mengurus semuanya. Balqis kini berada diruangan operasi.
Abrar, kakek dan yang lainnya menanti dengan cemas. setelah berjam-jam di ruang operasi kemudian, Devan keluar dan mengatakan bahwa Abrar harus memilih satu di antara mereka yang akan di selamatkan. Antara bayi yang sangat di inginkannya atau Balqis.
"Abrar.., kondisi Balqis sangat kritis...kau harus memilih di antara mereka untuk di selamatkan..!! Balqis atau bayimu...???" tanya Devan.
"aku sangat meninginkan bayiku..., tapi aku juga gak bisa kehilangan Balqis..." ucap Abrar dalam hatinya sambil berpikir.
lama ia berpikir dan akhirnya ia memutuskan untuk menyelamatkan Balqis dan terpaksa untuk membuang jauh-jauh impiannya memiliki seorang bayi yang di harapkannya dan kakek.
“selamatkan ibunya….aku ingin Balqis selamat…!!!” perintah Abrar untuk menyelamatkan Balqis.
"baiklah..." sahut Devan yang masuk kembali kedalam ruang operasi.
"aaakkkhhh...., aku yang bodoh...!! kenapa aku harus bertengkar dengannya tadi..." kata Abrar menyesali perbuatannya.
"Abrar..., sudah lah...!! keputusanmu sudah benar..." ucap kakek dengan raut wajah yang sedih.
Tak lama berselang, terdengar suara bayi menagis dari dalam ruangan. Seorang perawat menggendong seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki. Bayi itu tampak sehat. Bayi itu langsung diberikan pada Abrar.
Abrar menggendongnya secara hati-hati. Ia sangat terharu melihat yang ada dalam dekapannya kini adalah darah dagingnya. lalu ia teringat oleh Balqis yang masih di dalam ruang operasi.
“bagaimana dengan ibunya, suster???” tanya Abrar cemas akan Balqis.
“dokter sedang menanganinya.” Jawab perawat itu.
Kemudian, Devan keluar dan Abrar langsung menghampirinya.
“bagaimana dengan Balqis?? Tadi aku menyuruhmu untuk menyelamatkan Balqis kan..” tanya Abrar sangat cemas.
“tenanglah, sobat..!! Balqis wanita yang kuat, dia baik-baik saja, keduanya selamat.” Ujar Devan tersenyum bahagia.
Abrar sangat lega mendengarnya, semuanya mengucapkan selamat kepada Abrar yang kini sudah menjadi seorang ayah. Kakek teriak kesenangan bahkan ia terus menggendong cicitnya itu tanpa mau melepaskannya.
“tuan, bayinya harus di letakkan di ruang bayi.” Kata perawat pada kakek.
“ini cicitku, dia harus berada di sampingku.” Ujar kakek kesal.
“kakek, apa yang kau lakukan, bayinya juga harus istirahat.” Ucap Devan membujuk kakek.
“baiklah, jaga cicitku, kalau terjadi apa-apa, aku bakar kalian semua.” Ancam kakek.
Kemudian Abrar masuk ke ruangan dimana Balqis dirawat. Ia belum sadarkan diri dari operasi tadi.
Abrar dengan setia menunggu Balqis di samping ranjang rumah sakit. sangking lelahnya ia sampai tertidur.
__ADS_1
Tak lama Balqis pun sadar dan melihat Abrar menggenggam tangannya saat tidur. Ia mencoba mengelus rambut Abrar yang acak-acakkan karena kelalahan menunggunya sadar.
“dia menjagaku disini...!! Abrar.., sebenarnya kau memiliki hati yang sangat lembut.” Ucap Balqis dalam hatinya sambil menatap Abrar.
Lalu Abrar pun terbangun dari tidurnya dan melihat Balqis sudah duduk di ranjang.
“kau sudah sadar?? Apa perutmu masih sakit??” tanya Abrar cemas.
“iya.” jawab Balqis.
“mana dia??” tanya Balqis.
"siapa??" tanya Abrar yang masih setengah sadar dari tidurnya.
"bayiku lah...." ujar Balqis.
“dia juga bayiku.” Kata Abrar tak mau kalah.
(perang dunia lagi deh…)
“dia ada di ruangan bayi.” Ucap Abrar menahan emosianya.
“apa sudah di beri nama??” tanya Balqis lagi.
“belum, kata kakek tunggu kau sadar baru memberinya nama.” Kata Abrar.
“kakek saja yang memberinya nama.” Ujar Balqis.
“kenapa harus kakek, kan aku papinya…!!” kata Abrar mulai dongkol.
“kalau kau yang memberinya nama, dia akan jadi manusia kasar sepertimu.” Balas Balqis sewot.
“ck…, kau ini..!! dalam keadaan seperti ini pun kau masih saja mengumpatku dan membuatku kesal...!!!!" teriak Abrar.
"ya sudah baiklah..., biar kakek saja yang memberi nama untuknya.…” ucap Abrar lagi yang tak ingin bertengkar di hari yang bahagia.
Abrar pun meminta kakek untuk memberikan nama pada bayinya itu.
“aku akan berikan dia nama, Azlan yang artinya singa.” Ucap kakek.
“baiklah, nama yang bagus.” Ujar Abrar menyetujuinya.
Lalu sahabat-sahabat Abrar masuk keruangan Balqis untuk memberikan ucapan selamat dan hadiah.
“pasti kalian bahagia banget sekarang menjadi orang tua.” Ucap Aska.
“tentu saja…!! Apa lagi kakek…” sahut Romi.
“melihat kebahagiaan mereka, aku jadi ingin berkeluarga secepatnya.” Ujar si playboy Luky.
“kau gak sadar ngatain aku?? kau bahkan labih playboy dariku….!!!” Teriak Luky serang balik.
“cepatlah kalian menikah?? Usia kalian sudah 30 tahunan. Mau jadi bujangan sampai tua??” ujar kakek menasehati.
“baiklah kek, sepulang dari sini aku akan tobat dan menikahi gadis yang baik.” Ucap Luky bersungguh-sungguh.
"haaaiihh...., kalimat itu sangat sering kau ucapkan saat kau menghadiri pesta pernikahan..." sahut Romi pada Luky.
"kali ini aku serius..." kata Luky dengan pede nya.
"kau juga sering bilang begitu...." ujar Aska.
"sudahlah jangan dengarkan omongan plin plan dari mulut Luky..., itu pasti hanya bualan saja..." kata Devan menimpali.
"awas...kalian...!! beraninya kroyokan saja padaku..." umpat Luky kesal.
Kemudian masuk perawat membawa bayi Balqis dan Abrar untuk di susui. Perawat mengusir semua orang kecuali Abrar sang ayah. Abrar melihat Balqis menyusui Azlan yang mungil.
“lihatlah, wajahnya tampan sekali mirip denganku.” Ucap Abrar dengan sangat percaya dirinya.
“percaya diri sekali kau.., kau tidak lihat apa, hidungnya bahkan mirip dengan hidungku yang mancung ini.” Balas Balqis tak mau kalah.
“kau yang terlalu percaya diri, dia mirip denganku.” Ujar Abrar kesal.
"hhhheeehh....., kau sangat narsis..." gumam Balqis.
“hei...., dia itu hasil dari kecebongku, jadi mirip aku dong..” kata Abrar lagi.
“tapi kecebongmu itu masuk ke indung telurku, ya mirip aku lah.” Balas Balqis tak mau kalah.
Tak ada yang mau mengalah. Sampai akhirnya mereka terdiam saat Azlan berteriak menangis kesal karena mendengar orang tuanya yang terus bertengkar. kakek yang mendengar tangisan cicitnya langsung masuk ke dalam ruangan.
“ada apa dengan cicitku??” jiwa sang kakek buyut memanas mendengar cicitnya menangis.
“eeemm…, dia mungkin kesal karena kau memarahi aku” ujar Balqis sewot pada Abrar.
“dia menangis karena kau selalu saja membantah omonganku.” Balas Abrar kesal.
Amarah kakek memuncak melihat pasutri ini selalu saja tak ada yang mau mengalah. Ia langsung merebut Azlan dari gendongan Balqis dan membawanya keluar.
“kek, mau di bawa kemana?? Azlan masih nyusu…” tanya Balqis pada kakek.
“aku akan membawanya menjauh dari orang tua yang gila seperti kalian berdua.” Ujar kakek.
__ADS_1
“ini semua gara-gara kau..” tuduh Balqis pada Abrar.
“kau yang salah, malah nyalahin aku.” Balas Abrar gak terima.
Hampir seminggu Balqis dirawat di rumah sakit. kini dia bisa pulang dan membawa bayinya Azlan pulang kerumah. Sampai dirumah bayi Azlan di sambut gembira oleh semua pelayan yang sudah membersihkan kamar untuk Azlan. Namun Balqis ingin menempatkan bayinya di dalam kamarnya saja, karena masih terlalu kecil.
“Balqis, apa kita perlu pengasuh bayi??” tanya Abrar.
“gak, aku sendiri yang akan merawatnya.” Jawab Balqis sambil menyusui Azlan.
“apa kau nanti tidak kelelahan..??” tanya Abrar lagi.
“kan Azlan juga punya kau sebagai papinya.” Jawab Balqis yang membuat rona merah dipipi Abrar.
“baiklah, sini biar aku mengendong singa kecilku.” Pinta Abrar pada Balqis.
Abrar pun mengendong Azlan dengan hati-hati.
“baiklah Azlan, cepatlah besar…dan satukan papi dan mamimu ini.” bisik Abrar di telinga Azlan.
Selama Abrar memiliki Balqis dan Azlan, ia jarang sekali berkumpul dan bersenang-senang dengan sahabatnya itu. Banyak wanita kencannya yang dahulu sering menanyakan Abrar yang tak pernah lagi Nampak batang hidung di bar tersebut. Abrar lebih banyak menghabiskan waktu bersama Balqis dan Azlan, walaupun perang dunia belum bisa dihapuskan dari biduk rumah tangganya.
Azlan si singa kecil telah tumbuh sehat dalam asuhan Balqis dan Abrar. Kini usianya sudah hampir setahun.
Azlan tumbuh dengan sangat lincah dan terus saja merangkak kesana kemari yang membuat Balqis kewalahan.
Bahkan jika dalam gendongan Abrar, Azlan sangat lasak seakan tak mau berhenti bergerak. barang-barang di rumah banyak yang hancur di tersenggol dengan tubuh Azlan yang merangkak kesana kemari.
Azlan hanya meracau saat di marahi Balqis setelah menghancurkan perabot kristal di rumah itu.
Sepulang dari kantornya, Abrar langsung bermain dengan Azlan di kamar mereka. Azlan masih tidur di kamar mereka.
“Azlan….cii..lluukk…baaa????” teriak Abrar mengekspresikan wajah aneh yang membuat Azlan tertawa ceria.
Balqis hanya diam menonton tv yang sesekali dilirik oleh Abrar.
“kenapa dia diam aja sih??” ucap Abrar bertanya dalam hati melihat Balqis.
“Balqis…..” panggil Abrar.
“hhhmm….” Sahutnya tak mau menoleh.
“ck, kau ini…” ujar Abrar merebut remot tv.
“apaan sih, aku lagi nonton Drakor, lagi adegan mesra-mesranya, ganggu aja sih.” Sahut Balqis sewot.
“kau ini hanya nonton saja, ayo main dengan Azlan.” Kata Abrar modus.
Padahal mah si Abrar yang pengen dekat-dekat Balqis. Azlan Cuma jadi tameng doang.
“Azlan kan lagi main denganmu tadi…” ucap Balqis.
Tiba-tiba HP Abrar berdering. Telepon dari kakek yang kangen cicit, tapi kakek sedang berada di luar negeri.
“halo…” sapa Abrar.
“berikan Hp nya pada Azlan, aku ingin dengar suara cicitku..., aku sangat rindu padanya.” Ujar kakek.
Azlan yang awalnya banyak berkicau dan tertawa, jadi diam saja saa telinganya di tempelkan Hp.
"Azlan....., cicitku yang tampan.....ayo bicaralah..." kata kakek memanggil Azlan dari sambungan teleponnya.
“Azlan…., kenapa kau diam saja, nak??” kata kakek lagi dengan perasaan kecewa.
“apa kau tau, di dunia ini aku lah yang sangat menginginkanmu lahir.” Ucap kakek lagi nangis Bombay.
"dasar kau cicit yang tak tau berterima kasuh padaku...hhhuuuhhhuuhhhuuu......" kakek terus menangis lebay akibat Azlan.
Azlan tetap saja diam tidak bersuara. Abrar dan Balqis menertawai kakek yang galau karena cicitnya.
setelah menutup teleponnya, Azlan kembali riang dalam dekapan Abrar. Azlan terus mengoceh gak jelas dengan bahasa bayinya itu. saat bermain dengan Azlan, Abrar melirik Balqis lagi yang duduk di sisi ranjang sambil memainkan HPnya.
“eeemmm, Balqis..” panggil Abrar.
“hhhmm…??” sahut Balqis.
“apa tidak sebaiknya, Azlan memiliki pengasuh dan kamarnya sendiri??” tanya Abrar modus pada Balqis.
“ck, dia pasti lagi modusin aku…!!! aku tau niat jelekmu itu Abrar....” gumam Balqis dalam hati.
“gak perlu, aku bisa ngerawat dia sendiri, tanpa pengasuh..” jawab Balqis.
“sialan.., dia sadar kalau aku mau modusin dia..!!” gumam Abrar dalam hati.
“aku mau Azlan tidur di kamarnya…!!” ucap Abrar kesal.
“ya sudah, kalau gitu aku akan temani Azlan tidur di kamarnya.” Sahut Balqis.
"kalau kau tidur dengannya di kamar lain, bagaimana denganku, Balqis...???? teriak Abrar kesal.
"kau tidur disini sendirian....." sahut Balqis.
“ck, aku harus cari cara supaya bisa berduaan dengannya..” kata Abrar lagi dalam hati.
__ADS_1
Abrar berniat untuk mencarikan pengasuh untuk merawat dan menjaga Azlan di kamarnya sendiri. Jadi Abrar punya kesempatan untuk menindas Balqis seperti dulu lagi.