LOVE IN MINE

LOVE IN MINE
BERTEMU IBU


__ADS_3

Sudah berbulan-bulan Zidan menunggu kabar dari Clara yang sedang terus berusaha untuk membujuk Balqis.


“hei…., kau sudah hampir berbulan-bulan disana…, bagaimana usahamu..?? jangan bilang kau selalu menghabiskan waktumu untuk dokter konyol itu..” ujar Zidan pada Clara melalui Hp nya.


“kak…, membujuk Balqis itu gak mudah…., lagian aku juga sedang fokus pada cintaku…hehehehe…!! Kak…, aku dan Devan berencana akan menikah…” kata Clara.


“segeralah kau menikah dengannya…, jika tidak ibu pasti akan segera mengetahui hubunganmu dengan Devan…kalau itu sampai terjadi.., aku pasti akan di gantung oleh ibu..” sahut Zidan.


“baiklah…., aku akan kerumah Balqis nanti…dan membujuknya lagi…” kata Clara.


Masih dalam dekapan Devan, Clara mematikan sambungan teleponnya dengan Zidan yang masih sibuk di itali.


“sayang…., aku merasa tubuhmu sedikit melar akhir-akhir ini..!! apa haidmu teratur..???” tanya Devan sambil *** dada Clara.


“ck…, sangking sibuknya membujuk Balqis…, aku sampai lupa kapan terakhir aku haid…” sahut Clara.


“jangan-jangan kau....” ucap Devan yang terus di potong Clara.


“apa maksudmu aku hamil….??????????????????????????” Teriak Clara terkejut.


“biar aku mengeceknya dulu….” Kata Devan.


“dadamu keras…, matamu sedikit pucat…apa kau merasa mual atau pusing..???” tanya Devan lagi fokus sebagai dokter.


Bukannya menjawab semua pertanyaan Devan, Clara malah terpesona melihat Devan yang sedang memeriksa dirinya sebagai dokter.


“hei…, apa yang kau pikirkan…???” ujar Devan menyentil jidad Clara.


“aaaww….., sakit….!!! aku kan hanya terpesona melihat mu memeriksa kesehatanku…” gumam Clara sambil menggosok-gosok jidadnya.


“ayo ikut aku bertemu dengan temanku…” kata Devan.


“siapa..???” tanya Clara bingung.


“ya dokter kandungan lah…..!!! kau ini wanita apa bukan sih…???” teriak Devan.


“ck…., iya baiklah….” Sahut Clara.


Devan pun melajukan mobilnya dengan kencang, ia sangat ingin cepat-cepat sampai di kediaman temannya sesama dokter.


Sesampainya di sana, Devan langsung mengatakan apa yang terjadi pada Clara.


Dengan cepat dokter kandungan tersebut memeriksa kesehatan Clara.


“bagaimana…apa dia hamil..???” tanya Devan seakan tak sabaran.


“iya…, usia kandungannya sudah 3 minggu…!!” sahut dokter kendungan itu.


“yyeessss…………!!!!!!!!!!! Akhirnya aku berhasil…….” Teriak Devan kegirangan.


“hei…, kau belum menikah…., tapi kau sangat senang menghamili anak gadis orang…” kata Dokter kandungan itu.


“wajar aku sangat senang…, aku akan menjadi seorang ayah…!! Lagian aku akan menikah dengannya.” Kata Devan.


Devan yang sangat senang langsung membawa Clara kembali keapartemennya.


Dengan sangat perhatian, Devan memperlakukan Clara bagaikan seorang ratu.


“kau harus banyak istirahat…, jangan berpergian dulu…kau harus menjaga bayi kita,,,” kata Devan namun Clara hanya diam saja.


“kau kenapa diam saja..??? apa kau tidak senang mengandung anakku..???” tanya Devan yang membuat Clara kesal.


“bukan begitu, bodoh….!!!” Teriak Clara memukul kepala Devan.


“lantas kenapa kau murung..??” tanya Devan.


“aku bisa mati jika ibu tau aku hamil…., aku belum menikah….” Kata Clara.


“iya…, kau benar juga..!! kalau begitu hari ini kita menikah saja..” sahut Devan.


“dasar kau bodoh……!!!” teriak Clara lagi menghajar Devan.


“apa sih..?? aku salah bicara..???” tanya Devan.


“kalau kita menikah diam-diam.., ibu akan semakin murka padaku…” jawab Clara.


“aku harus cari cara agar ibu tak tau…!!” kata Clara lagi.


“jangan bilang kau akan menggugurkannya…..!!! aku akan membunuhmu…” teriak Devan.


“apa kau idiot…hah…??? Mana mungkin aku menggugurkan buah cinta kita….!! Aku sangat menginginkannya…, tapi bagaimana dengan ibu..??” tanya Clara yang kehabisan akal.


“ibu kemarin menghubungiku dan menyuruhku pulang ke korea untuk menemaninya berkunjung kerumah keluarga mendiang ayahku…” kata Clara lagi.


“aku ada ide…” kata Devan.


Dengan segera Clara meminta Balqis untuk datang ketempatnya dengan alibi dia sedang sakit.


Balqis pun datang dengan perasaan yang sangat cemas mendengar saudara kandungnya itu sakit. ia pun diantar oleh Abrar ke apartemen Devan.


“Clara…., apa yang terjadi denganmu..??” tanya Balqis sangat khawatir.


“aku tidak sakit…., tapi aku sedang hamil…” gumam Clara.


“apa..?????? kau hamil…??????????” teriak Balqis.


“wah…., beruntung sekali kau Clara mau mengandung anakmu…” ujar Abrar pada Devan.


“hei…apa maksudmu hah..??? kau pikir aku ini apa..???” teriak Devan kesal pada Abrar.


“kau ini dokter mesum…., kau lupa kau sangat playboy…???” ujar Abrar.


“hati-hati dengan mulutmu, Abrar…!!! Devan itu cinta sejatiku….” Teriak Clara membela Devan.


“kau benar sayang….!!!” Sahut Devan.


“ckk…, yang benar saja…!! Clara sangat tergila-gila pada Devan…” ucap Abrar tercengang.


“diamlah….” Sambung Balqis.


“apa kakak tau kau hamil..???” tanya Balqis.


“tidak…, aku takut bilang padanya..” sahut Clara.


“kau takut mengatakan yang sebenarnya pada kakak…, tapi saat kau menikmati di bawah tubuh Devan kenapa kau tidak takut hal ini akan terjadi, hah..????” teriak Balqis sambil mendorong-dorong jidad Clara.


“Balqis…, jangan kasar pada Clara…, dia sedang mengandung buah cinta kami…” kata Devan nangis Bombay memeluk Clara yang sedang di tindas Balqis.


“Balqis…, tolong lah aku..” Clara memohon.


“apa yang bisa aku tolong…????” kata Balqis.


“ibu menyuruhku pulang ke korea…, tolong gantikanlah posisiku…” kata Clara.


“haaahhh….., apa kau sudah gila..??? aku gak mau…bertemu dia…” ujar Balqis dengan nada dingin.


“aku mohon…., tolonglah aku…!! Hanya seminggu….” Ucap Clara terus memohon dengan linangan air matanya yang membuat Balqis tak tega.


“nanti….aku pikir-pikir dulu…” sahut Balqis sambil beranjak pergil keluar kamar.


“Abrar…, tolonglah bujuk Balqis, agar mau menolongku…” kata Clara memohon pada Abrar.


“ck…., lagi-lagi aku terjebak di antara kalian…!! Baiklah…aku akan membujuknya..” sahut Abrar.


Abrar pun mengejar Balqis yang ternyata menunggunya di tempat parkir mobil.


Abrar pun membawa Balqis pulang.


Setibanya dirumah Balqis menghempaskan tubuhnya di atas ranjang sambil menghela nafas panjang.


“sayang….., kenapa kau terlihat sangat frustasi…??” tanya Abrar sambil mendekap tubuh istrinya itu.


“aku bingung…., aku tak ingin melihat ibuku yang telah membuangku, tapi disisi lain aku tak tega melihat Clara memohon padaku tadi..” sahut Balqis.


“sayang…ayolah….!! Ibumu bukan orang yang jahat….dia tidak membuangmu…” kata Abrar.


“apa kau begitu mudah mempercayai cerita tentang kematian ayahku…???” kata Balqis.


“tentu saja…aku sangat yakin..!! aku tau Zidan sangat berusaha untuk mencari bukti agar pembunuh ayahmu tertangkap..” kata Abrar.


“dan aku sangat mengenal siapa ayahnya Mona….!!! Aku sangat mengenal keluarga Mona yang memiliki sifat dengki kepada kebahagiaan orang lain.” Sambung Abrar lagi.


“Balqis…, apa kau hanya akan seperti ini tanpa mau membalas apa yang telah mereka lakukan pada keluargamu sehingga kau terpisah selama bertahun-tahun dari keluargamu..???” tanya Abrar mempengaruhi pikiran Balqis.


“apa maksudmu..???” tanya Balqis.


“kalau aku jadi kau…, aku akan membalas semua kejahatan yang di lakukan oleh keluarga Mona…!! Aku akan menghabisi semua keluarganya.” Jawab Abrar.


“kau benar…..!! aku tidak harus diam saja melihat pembunuh ayahku berkeliaran di luar sana…” sahut Balqis.


“pergilah temui ibumu…” kata Abrar.


“tidak semudah itu….!! Aku pasti akan sangat canggung padanya….” Kata Balqis.


“kalau begitu kau bisa menggantikan posisi Clara di sana….!! Pergilah temui ibumu…, dia sangat merindukanmu…” kata Abrar lagi.


“apa aku bisa menerimanya setelah bertahun-tahun aku membencinya…” ujar Balqis.


“lupakanlah masa lalu…., dia tidak bersalah…!! Dia ibumu…” sahut Abrar.


“baiklah aku akan pergi menemuinya…” ucap Balqis.


Setelah berhasil membujuk Balqis, Abrar menghubungi Devan dan Clara.


“wah…, kau sangat hebat…” kata Clara pada Abrar.


“tentu saja…, aku memang yang terhebat…” sahut Abrar dengan sombongnya.

__ADS_1


“siapkan perjalanan untuk Balqis..” kata Abrar.


“iya…, aku akan menghubungi kak Zidan nanti…” sahut Clara.


Setelah menutup teleponnya, Clara langsung menghubungi Zidan.


“kak…., Balqis sudah setuju untuk bertemu dengan ibu….” Kata Clara.


“benarkah…., ibu pasti akan sangat bahagia mendengar Balqis akan bertemu dengannya.” Kata Zidan.


“kak.., tapi Balqis bertemu ibu untuk menggantikan posisiku…!! Jangan beritahu ibu kalau kami bertukar posisi..” ucap Clara.


“kenapa…??? Apa tujuan kalian seperti ini.??” tanya Zidan.


“aaduuhh.., aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya padamu kak…!! Kalau aku sedang hamil…makanya bertukar posisi dengan Balqis…” ucap Clara dalam hatinya.


“kak…, Balqis kan masih kesal dengan ibu.., pasti akan sangat canggung…!! Jadi biarkan saja begini…, yang penting Balqis sudah mau setuju bertemu dengan ibu..” kata Clara mencari alasan.


“baiklah…, yang penting Balqis sudah setuju..” sahut Zidan.


Mendengar Zidan yang tak ingin banyak bertanya lagi, Clara menghela nafas dengan lega.


“sayang…., akhirnya kita bisa merencanakan pernikahan kita tanpa khawatir mendapat amukan dari ibumu dan Zidan.” Kata Devan.


“iya kau benar…” sahut Clara.


Hari keberangkatan Balqis pun tiba. Zidan menjemputnya dengan menggunakan pesawat pribadi.


“Balqis…., ingat Cuma seminggu….!! Lebih dari itu…, aku akan datang menjemputmu kesana..” kata Abrar.


“hei…., kau ini…!! dia ingin bertemu dengan ibunya…, kenapa kau meberinya waktu yang sangat sedikit..???” teriak Zidan pada Abrar.


“apa kau lupa…, aku sedang program memiliki anak kedua dengan Balqis…” balas Abrar.


“sudahlah…, kenapa kalian selalu saja bertengkar..??? kalian tau aku sangat tegang saat ini..” sahut Balqis.


“tenang lah Balqis…., ibu sangat baik…” ucap Zidan memeluk Balqis.


“aku pasti akan sangat merindukanmu…sayang…!!!!” ucap Abrar menarik Balqis dan memeluknya.


“aku juga…, Abrar…..” sahut Balqis.


“aku pasti akan sangat merindukan mata genitmu saat menatapku ketika kita sedang melakukannya setiap malam…” bisik Abrar di telinga Balqis.


“dasar kau mesum……” teriak Balqis menjambak rambut Abrar.


“aduh…., rambutku yang keren…..!!!” teriak Abrar kesakitan.


Balqis dan Zidan pun berangkat menuju korea untuk bertemu dengan ibu.


Setelah melalui perjalanan yang hanya beberapa jam saja, mereka pun tiba di korea dan langsung menuju kerumah ibu.


“apa kau sangat tegang..???” tanya Zidan menggenggam tangan Balqis.


“tentu saja…., aku seakan mau mati rasanya…” sahut Balqis.


“tenanglah…., ibu tidak tau kau adalah Balqis…, dia tau kau adalah Clara…” kata Zidan.


“ayo kita masuk…, ibu pasti sudah masak makanan yang banyak untuk kita.” Sambung Zidan lagi.


Balqis pun melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah yang sangat megah itu.


Tak lama kemudian, wanita paruh baya menyambut kedatangan mereka dengan senyuman yang sangat hangat.


“anak-anakku…, akhirnya kalian kembali kerumah ini…” kata Ibu memeluk Zidan dan Balqis.


“ibu.., aku sangat lapar…!!” kata Zidan langsung menuju ke ruang makan agar Balqis bisa berdua saja dengan ibu.


“pergilah makan…., ibu sudah masak makanan yang banyak untuk kalian..” sahut ibu.


Balqis masih mematung sambil menatap ibunya.


“Clara…, kau kenapa, nak..???” tanya Ibu heran.


“i…ii…ibu….” Ucap Balqis sambil berlinangan air mata.


“astaga…., kau menangis.,.??? kenapa..???” tanya Ibu semakin bingung melihat anaknya yang biasanya sangat ceria.


“aku….sangat merindukan ibu…” ucap Balqis yang tak mampu menahan air matanya.


“ibu juga sangat merindukanmu dan kembaranmu Cleo…!! Ibu sangat merindukan anak-anak ibu…” sahut Ibu terus memeluk erat tubuh Balqis.


Disisi lain, secara diam-diam Zidan merekam pertemuan ibu dan Balqis untuk di kirim kepada Clara.


Clara melihat rekaman tersebut dan ikut terharu karena akhirnya ibu bisa memeluk tubuh anaknya yang hilang puluhan tahun yang lalu.


“aku sangat terharu melihat ibu memeluk Balqis….” Ucap Clara yang bersandar pada Devan.


“akhirnya usahamu tidak sia-sia, sayang…” kata Devan.


“ini semua karena kau menghamili aku…, makanya aku tidak bisa bertemu dengan ibu…” sambung Clara menarik rambut Devan dengan kesal.


“aaadduuhhh…….., saat itu kau juga menikmatinya…kenapa sekarang kau menyalahkan aku,,..” teriak Devan kesakitan.


“bahkan kau yang sering menggodaku agar kita melakukan itu setiap hari…” sambung Devan lagi.


“ck…., diamlah…” ujar Clara menahan rasa malunya.


“bersabarlah…., setelah kepulangan Balqis…, kita akan menemui ibumu untuk meminta restu agar kita segera menikah…” kata Devan memeluk Clara.


“iya….” Sahut Clara.


Malam hari saat di korea, Balqis tidur di kamar Clara.


Seketika ia terbangun karena merasa haus di tenggorokannya.


Ia pun melangkah keluar kamar menuju dapu untuk mengambil air minum.


Saat ia melintas di sebuah ruang yang tepat di samping kamar Clara, Balqis melihat Ibu sedang menangis sambil memeluk sebuah baju bayi perempuan.


Balqis yang sangat penasaran masuk dan menghampiri ibu.


“ibu…., kau sedang apa..??? kenapa menangis..???” tanya Balqis.


“aku sangat merindukan Cleo….!! Aku selalu merindukan dia…” ucap Ibu terus menangis tersedu-sedu.


“ibu….” Kata Balqis memeluk ibunya.


“dia sangat membenciku…..!! dia berpikir aku membuangnya….!! Ahtiku sangat sakit saat aku tau kalau dia sangat membenciku…” kata ibu lagi.


“ibu….maafkan aku ibu…” ucap Balqis.


“kenapa kau minta maaf…, semua ini bukan kesalahanmu, Clara…!! Tapi Jordan lah yang seharusnya bertanggung jawab untuk ini semua…” sahut Ibu penuh amarah.


“ibu…ini aku Cleo….” Ucap Balqis dalam hatinya.


setelah menenangkan ibunya, Balqis melihat sekeliling kamar tersebut.


Begitu indah kamar tersebut, semua benda tertata dengan rapi.


Sekilas sangat mirip dengan kamar Clara.


“kamar ini…., apakah ibu tidur di kamar ini..??” tanya Balqis.


“dasar bodoh…, apa kau sudah lupa..kalau kamar ini adalah kamar Cleo yang ibu siapkan dari dulu…” kata Ibu.


“hehehehe…., iya….!! Aku lupa…” sahut Balqis.


“apa yang kau inginkan…, ibu selalu membelinya 2 buah…dengan maksud 1 untukmu dan satunya lagi untuk saudara kembarmu.., Cleo..” ucap Ibu.


“ibu…, apa kau sangat menyayangi Cleo…??” tanya Balqis.


“aku sangat menyayangi semua anak-anakku…., aku selalu merindukan semua anak-anakku…, apalagi dia yang telah terpisah dariku selama puluhan tahun, aku sangat merindukannya…” jawab Ibu yang membuat hati Balqis merasa bersalah karena telah membenci ibunya.


Melihat kenyataan bahwa ibu sangat merindukan dirinya, Balqis semakin galau.


Ingin rasanya ia mengakui bahwa dirinya bukanlah Clara melainkan Cleo yang sangat dirindui ibunya itu.


Karena perasaannya yang sangat kacau, Balqis memutuskan untuk pergi menemui Zidan yang sedang duduk di ruang kerjanya.


“kakak….., apa kau sibuk..??” tanya Balqis pada Zidan.


“masuklah…., aku tidak sibuk…” sahut Zidan.


Balqis pun melangkah masuk dan mengatakan semua yang ada di hatinya itu.


“kak…, aku merasa sangat bersalah karena telah membenci ibu selama ini..” ucap Balqis sambil menangis dalam dekapan sang kakak.


“itu bukan kesalahanmu, Balqis…!! Tapi kesalahan orang-orang yang dengki pada kesuksesan ayah…” sahut Zidan.


“aku berjanji…akan segera menjebloskan mereka ke dalam penjara dan juga akan menghancurkan keluarganya.” Sambung Zidan lagi.


“sekarang katakana padaku…, kenapa kau bertukar peran dengan Clara..??? apa ada yang kalian sembunyikan dariku…???” tanya Zidan.


“eemm…, tidak ada apa-apa…!! Aku hanya ingin bertemu dengan ibu saja.” Sahut Balqis menutupi kehamilan Clara.


“hei…, aku ini kakak kalian…, aku tau kalian sedang menyembunyikan sesuatu padaku…” kata Zidan.


“tapi memang tidak ada yang kami rahasiakan dari kakak…” ujar Balqis.


“kalau kau tidak mau katakan, biar aku yang cari tau tentang rahasia Clara…” kata Zidan.


“ckk…., kakak ini…!! kapan kau akan percaya padaku..???” tanya Balqis.


“aku percaya padamu…kau bukan tipe orang yang mudah berbohong…, tapi aku tidak percaya pada Clara…., dia selalu saja membohongi aku…” ucap Zidan.


Balqis masih diam dan tak mau memberitahukan kehamilan Clara.

__ADS_1


“aku tau dia tinggal bersama dengan Devan..!! apa dia sedang hamil…????” tanya Zidan yang membuat Balqis kaget.


“aku tidak mau bicara…” sahut Balqis.


“berarti benar dugaanku…!!! Si dokter konyol itu berhasil menghamili Clara….!! Kalau sampai ibu tau…, aku pasti akan mati di bunuh ibu…” kata Zidan.


“jadi kita harus bagaimana, kak…???” tanya Balqis.


“Clara harus segera menikah dengan Devan sebelum perutnya membesar…” jawab Zidan.


“hhhaaaahh……, sebagai kakak aku telah gagal mendidiknya…” sambung Zidan lagi.


“itu bukan kesalahanmu kak…, memang si Clara aja tuh yang keganjenan…” kata Balqis.


“pergilah tidur…, aku akan memikirkan jalan keluarnya agar ibu tidak membunuhku…” kata Zidan.


Balqis pun kembali masuk kedalam kamar yang telah lama di siapkan oleh ibu untuknya.


Ia melihat segala pernak-pernik yang tertulis nama dirinya yaitu Cleo.


“ayah……, aku akan membalas semua kejahatan yang mereka lakukan karena telah membunuh ayah dan memisahkan aku pada ibu..” ucap Balqis dalam hatinya sambil meneteskan air matanya.


Didalam kamarnya, Abrar sangat gelisah.


Ia berbaring dan berguling kesana kemari karena tidak bisa tidur tanpa Balqis disisinya.


“hhhaiiihhh…., aku tidak bisa tidur tanpa memeluk Balqis…!! Balqis apa kau tau aku sangat tersiksa tanpa kau di sampingku…??????” teriak Abrar hingga terdengar oleh Azlan.


“apakah papi sudah gila…????? Lebih baik aku mengeceknya…” ujar Azlan menuju kamar orang tuanya.


Azlan pun mengetuk pintu kamar dan masuk langsung berbaring di samping Abrar.


“papi…., apa kau merindukan mami..???” tanya Azlan.


“aku sangat merindukannya..” sahut Abrar.


“hei….., mami baru sehari di korea…., kenapa papi sangat lebay sebagai pria dewasa..??” ujar Azlan.


“apa yang kau tau tentang perasaan yang di rasakan oleh pria dewasa, hah…???” teriak Abrar kesal.


“aku tau rasanya seperti apa…!!! Aku juga pernah merasakannya saat gadis yang aku sukai di sekolah meninggalkan aku..” jawab Azlan yang membuat Abrar terkejut.


“appaaa???? Kau menyukai seorang gadis di sekolahmu..???” tanya Abrar.


“tentu saja…., aku ini laki-laki yang normal…!! Tentu saja aku menyukai seorang gadis…” sahut Azlan.


“sialan……, umurnya baru 4 tahun tapi dia sudah suka pada anak seusianya…!!” ucap Abrar dalam hatinya.


“kenapa dia bisa meninggalkanmu..???” tanya Abrar.


“cintaku bertepuk sebelah tangan…., ternyata dia menyukai anak laki-laki lain...” sahut Azlan dengan raut wajah kecewa.


“apa aku tidak salah dengar..?? dia mengerti cinta bertepuk sebelah tangan,…????” ucap Abrar dalam hatinya.


“kenapa kau sangat bodoh….?? Kau itu anak laki-lakinya Abrar….., kenapa begitu saja kau tidak bisa mendapatkan cinta gadis itu…., hah..?????” teriak Abrar kesal pada Azlan.


“cckk…., apa papi lupa…., kalau bukan karena bantuan dari kakek dan sahabat papi…, papi juga tidak bisa mendapatkan cinta mami…” sahut Azlan yang membuat Abrar bagaikan tertimpa batu besar.


“darimana kau tau tentang itu..??” tanya Abrar.


“kakek buyut…” sahut Azlan.


“cckk….., baiklah kalau begitu nasib kita memang sama….!!” Ujar Abrar.


“sama apanya..???” tanya Azlan.


“sama bodohnya karena tidak bisa menaklukkan hati para wanita…” sahut Abrar.


“hhhhhhaaaaaahhhhh……………….!!!!!!!!!!!” Abrar dan Azlan serentak menghela nafas panjang.


Keesokan harinya, Balqis dan ibu pergi berbelanja di temani oleh Zidan.


Setelah lelah seharian berbelanja, mereka singgah di restoran mi yang ada di korea.


“aku sangat lelah…..” ucap Balqis.


“Clara…., ibu lihat wajahmu sedikit pucat..apa kau sedang tidak enak badan..??” tanya Ibu.


“mungkin aku hanya sedikit lelah saja…” jawab Balqis.


“kau harus makan yang banyak…., agar kau bertenaga…” kata Zidan.


Makanan yang mereka pesanpun tiba, sebagai keluarga pecinta mi, Zidan dan ibu sangat antusias melihat makanan yang ada di atas meja.


Namun hal itu tak berlaku pada Balqis, sebagai orang yang sangat menyukai mi, dia malah merasa sangat mual saat mencium bau makanan itu.


“apa kau baik-baik saja..???” tanya Zidan pada Balqis.


“aku akan ke toilet dulu…” sahut Balqis langsung berlari menuju toilet.


Didalam toilet itu perut Balqis seakan sangat penuh dan ia pun muntah-muntah di dalam sana.


Ibu yang sangat khawatir padanya mengikuti sampai ke toilet dan mendengar Balqis yang muntah-muntah.


“apa yang terjadi pada Clara…??? Kenapa dia muntah-muntah seperti itu..??” ucap Ibu dalam hatinya.


Tak lama kemudian Balqis pun keluar dari toilet dengan lemas dan wajah yang semakin pucat.


“Clara…., kau kenapa..???” tanya Ibu.


“ibu mungkin aku masuk angin…., udara di korea sangat dingin…” kata Balqis.


“bukankah kau sudah terbiasa di korea…??? Kenapa sekarang kau masuk angin???” tanya Ibu heran.


“sudah lah., kita pulang saja..” kata Ibu lagi.


Mereka pun kembali kerumah dan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Balqis.


“bagaimana dokter…??? Ada apa dengan anakku.??” Tanya ibu pada dokter.


“selamat nyonya…, dia sedang hamil dan usia kandungannya sudah 4 minggu..” jawab dokter yang membuat ibu sangat terkejut. Karena yang ibu tau itu adalah Clara.


“Zidan…, antarkan dokter ke depan…, ibu akan berbicara pada Clara…” kata Ibu.


Zidan pun menuruti perkataan ibu dengan rasa cemas kalau ibu akan memukul Balqis, karena tak tau kalau itu bukanlah Clara.


“Clara….., siapa ayah dari bayimu…??? Apa kau ingin aku membunuh pria itu…???” teriak ibu yang membuat Balqis ketakutan.


“i…ibu…., itu….aku….” ucap Balqis gugup.


“katakan padaku….!!!!!! Siapa pria yang berani menghamilimu itu hah…?????” teriak Ibu sangat murka.


Zidan tau apa yang akan terjadi langsung berlari menolong Balqis yang sedang di jambak oleh ibu.


“ibu……, sakit……” teriak Balqis.


“apa kau tidak tau rasa sakitnya aku melihat anakku hamil di luar nikah..???” teriak Ibu.


“ibu….., lepaskan dia….!!! dia bukan Clara…” kata Zidan.


“apa mkasudmu…???” tanya Ibu.


“ibu…, itu adalah Cleo….!! Dia bertukar posisi untuk bertemu dengan ibu…” ucap Zidan menjelaskan yang sebenarnya.


“apa kau pikir aku bodoh, hah..??? kau jangan berusaha untuk melindungi anak kurang ajar ini…., dia membuatku malu….” Teriak Ibu.


“ibu…., tapi aku berkata yang sebenarnya…!! Dia itu Cleo….” Kata Zidan lagi.


Zidan telah berusaha menjelaskan semuanya pada ibu, namun ibu tetap saja tidak mempercayai Zidan.


Dengan kesal sambil menangis ibu meninggalkan kamar Balqis.


“kakak…., bagaimana ini..??” tanya Balqis.


“ck…, ini semua gara-gara Clara…” kata Zidan.


“tidak ada cara lain…, kita harus membawa Clara kembali ke sini bertemu dengan ibu…” sambung Zidan.


Dengan segera agar semuanya tidak semakin runyam, Zidan menyuruh Clara untuk kembali ke korea dan datang bersama dengan Devan sekalian untuk meminta restu dari ibu agar secepatnya menikah sebelum ibu tau yang sebenarnya.


Balqis pun menghubungi Abrar untuk memberi kabar tentang kehamilannya.


“sayang……, aku hamil…” kata Balqis.


“benarkah…??????????????????” teriak Abrar.


“iya…., aku hamil sudah 4 minggu….” Kata Balqis.


“yyyeeesss….yyeess….yyyessss………!!! akhirnya aku akan punya anak lagi….” Teriak Abrar kegirangan.


“besok aku akan langsung berangkat untuk menemuimu di korea…” kata Abrar lagi.


Abrar sangat senang mendapat kabar bahagia dari Balqis.


Tak lupa ia juga mengabarkan berita bahagia itu kepada kakek yang juga menginginkan cicit lagi.


Semua orang sangat bahagia kecuali Clara yang selalu ketakutan saat ingin menemui ibu.


Ia takut ibu akan mengetahui bahwa dirinya telah hamil di luar nikah.


Apalagi saat Clara tau kemarahan Ibu pada Balqis yang juga sedang hamil dan menyangka Balqis adalah dirinya.


“matilah aku…., seandainya ibu tau….” Ucap Clara dalam hatinya.


Amarah dan amukan ibu selalu terbayang di pikiran Clara yang membuatnya semakin ketakukan.


Disisi lain ibu yang sangat lembut terdapat amukan yang sangat menyeramkan apabila dia sedang marah.

__ADS_1


__ADS_2