
Setelah kematian Mona, kehidupan Balqis dan Abrar semakin harmonis.
Mereka menuggu harap-harap cemas menantikan kelahiran anak keduanya yang usia kandungannya sudah 9 bulan.
Begitu juga dengan Devan dan Clara yang menantikan anak pertamanya.
Ibu dan Zidan sudah tiba di Indonesia untuk menantikan kelahiran anak-anak dari Balqis dan Clara.
Ibu terus menjaga kedua anaknya tersebut saat menantikan kelahirannya.
Di apartemennya Clara menyiapkan makan siang untuk Devan yang sedang sibuk di rumah sakit.
Clara berniat untuk membawakan bekal makan siang untuk sang suami tercinta di rumah sakit. dengan diantarkan oleh supir pribadinya, Clara pun tiba dirumah sakit tempat Devan sedang bertugas.
Berniat ingin membuat kejutan untuk Devan, Clara langsung melangkah menuju ruangan Devan.
Namun langkahnya terhenti saat melihat Devan menerima surat dari seorang wanita cantik.
Clara pun melihat Devan sangat bahagia dan senyum-senyum saat membaca surat itu.
Dengan sangat penasaran Clara langsung merampas surat itu dan membacanya.
“su…surat cinta….????” Ucap Clara sangat terkejut membaca surat itu.
“Devan…….!!! Apa kau mencoba untuk mengkhianati aku dengan wanita yang mengantar surat ini padamu.., hah…????” teriak Clara sangat emosi menatap Devan.
“sayang…, aku mohon jangan marah dulu…!! Kau salah paham….” Ucap Devan mencoba menenangkan Clara yang sedang terbakar api cemburu.
Clara tak memperdulikan perkataan Devan, ia langsung pergi meninggalkan Devan.
“sayang…, kau mau kemana..???” tanya Devan menarik tangan Clara.
“aku akan menghajar wanita yang memberimu surat cinta ini….” ujar Clara dengan kesal.
“sayang…., jangan lakukan itu…, kau pasti akan malu jika menghajarnya nanti…” kata Devan terus menarik Clara.
“lepaskan aku, dasar kau dokter mesum…..!!!!!” teriak Clara yang membuat semua orang melihat mereka.
“astaga….., Clara kau membuat kita menjadi tontonan orang banyak…” kata Devan lagi.
“aku tak perduli….” Teriak Clara lagi.
“aaaaakkkkkhhhhh…………………….!!!! Perutku sakit…..” teriak Clara sambil memegang perutnya.
“Clara…, ada apa denganmu…???” tanya Devan sangat panik.
“aku mau melahirkan dasar kau dokter bodoh……” sahut Clara.
“aaaaakkkkkkhhhhh………..!! bayiku akan lahir….” Teriak Devan langsung membawa Clara keruang bersalin.
Devan sangat panik saat mendengar teriakan dari Clara yang kesakitan saat kontraksi.
Dengan gugup Devan keluar ruangan berniat untuk menghubungi keluarganya dan keluarga Clara.
Namun saat menghubungi keluarganya, ia melihat Abrar yang membawa Balqis untuk melahirkan juga.
Disana dia juga melihat Ibu dan juga Zidan mengantar Balqis.
“apa Balqis akan melahirkan juga..???” tanya Devan pada Ibu.
“apa maksudmu juga…????” tanya Ibu bingung.
“ibu…., Clara sedang berada di ruang bersalin…., dia juga akan melahirkan…” kata Devan.
“apa…???????” teriak Ibu kebingungan menghadapi anak kembarnya akan melahirkan.
“aku sangat lemas…” ucap Ibu hendak pingsan dan di tangkap oleh Zidan dengan cepat.
“ibu sadarlah…..!!! cucu-cucumu akan segera lahir…” teriak Zidan ikut panik.
Devan kembali melihat Clara yang sedang berjuang untuk melahirkan buah cintanya tersebut.
“dari mana saja kau bodoh…???? Aku kesakitan melahirkan anakmu…” teriak Clara sambil merasakan kontraksinya.
“aku menghubungi keluarga kita, sayang…” jawab Devan.
“mana dokter kandungannya…?????” teriak Devan pada perawat di dalam ruangan itu.
“sedang menuju kesini tuan…” jawab perawat itu.
“bukankah kau seorang dokter…?? Kenapa bukan kau saja yang membantuku melahirkan anakmu…???” teriak Clara kesal menarik rambut Devan.
“aku memang seorang dokter…, tapi aku dokter bedah bukan dokter kandungan, sayang….” Sahut Devan pasrah di tindas Clara.
“cepat bedah perutku….!! Aku tidak kuat menahan sakitnya….” Ujar Clara lagi.
Tanpa memperdulikan amukan Clara, Devan menghubungi dokter kandungan yang akan menangani Clara.
“cepat lah kau datang…, atau aku akan membuatmu karirmu berhenti sekarang juga…” teriak Devan mengancam dokter kandungan tersebut.
“baik tuan….” Sahut dokter tersebut ketakutan dengan ancaman Devan sebagai pemiliki rumah sakit.
Tak lama kemudian dokter kandungan tersebut datang dan menangani Clara melahirkan.
“tarik nafas….., buang nafas…..!!” ucap sang dokter kandungan memberikan arahan kepada Clara.
“aaakkkkhhh……., aku akan membunuhmu Devan….!!!” Teriak Clara yang tak menghiraukan arahan dokter.
__ADS_1
“apa salahku, sayang…???” tanya Devan.
“beraninya kau selingkuh di belakangku….” Ujar Clara.
“aku tidak pernah mengkhianatimu…” ucap Devan.
“surat cinta itu adalah buktinya…..aaakkkkhhhh……..” teriak Clara lagi.
“setelah aku melahirkan, aku pasti akan membunuhmu dan wanita itu….” Teriak Clara lagi sambil menggigit tangan Devan dengan kuat.
“aaakkkkhhhh………., tanganku yang malang…” teriak Devan.
Setelah beberapa menit mengedan, akhirnya lahirlah buah cinta mereka berjenis kelamin laki-laki.
Devan sangat terharu melihat bayi mungil yang menangis memenuhi ruangan tersebut.
“bayiku…..” ucap Devan terharu nangis Bombay.
“Clara…, lihatlah anak kita….sangat tampan…” kata Devan.
“aku sangat lelah…., aku mau istirahat dulu…!! Setelah itu aku akan buat perhitungan denganmu…” sahut Clara kelelahan setelah melahirkan.
Semua keluarga menyambut gembira melihat anak pertama dari Devan dan Clara yang di beri nama Kenzo. Sementara Balqis juga masih berjuang di ruang operasi untuk melahirkan anaknya.
Tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang operasi.
Abrar sangat senang begitu juga dengan kakek dan yang lainnya.
Salah seorang perawat membawa bayi perempuan yang masih merah tersebut untuk di berikan pada Abrar.
“bagaimana dengan istriku…???” tanya Abrar sangat cemas.
“dokter sedang menanganinya…” sahut perawat itu.
“dia sangat cantik….” Ucap Zidan menggendong bayi perempuan itu.
Abrar masih sangat khawatir dengan keadaan Balqis yang berada di ruang operasi.
Selang beberapa menit, perawat kembali keluar membawa bayi perempuan satunya lagi.
“tuan…., ini bayimu yang satunya lagi…” ucap perawat itu memberikan bayi perempuan satunya lagi pada Abrar.
“berikan padaku…, aku akan menggendongnya…” ucap kakek pada perawat itu.
“aku adalah buyut yang paling bahagia mendapatkan cicit perempuan yang kembar…” sambung kakek dengan suka cita.
Abrar tetap terlihat semakin cemas dengan keadaan Balqis. Hanya ada Balqis di dalam pikirannya.
Tak lama kemudian, Balqis di pindahkan keruang rawat setelah selesai di operasi dengan lancar namun ia belum sadarkan diri akibat dari bius pasca operasi.
Balqispun tersadar dan melihat Abrar yang menatapnya dengan cemas di sisi ranjang.
“Balqis…., apa kau baik-baik saja…??” tanya Abrar.
“aku tidak apa-apa…, dimana bayi kita..???” kata Balqis.
“bayi kembar kita masih di ruangan bayi…!! Sesuai keinginanmu.., bayi kita perempuan…!! Mereka sangat cantik sepertimu…” kata Abrar.
“benarkah..?? aku tidak sabar ingin memeluk mereka…” ucap Balqis.
“siapa nama mereka..???” tanya Balqis.
“entahlah…., aku rasa lebih baik Ibu yang memberikan nama untuk cucu-cucunya..” kata Abrar.
“iya…, baiklah…” sahut Balqis.
“oohh…iya.., Clara juga melahirkan loh…” kata Abrar.
“benarkah..??” seru Balqis.
“iya…, Devan sangat terharu melihat putra pertamanya itu…” kata Abrar.
“siapa namanya..???” tanya Balqis.
“Kenzo…!!” jawab Abrar.
“eehh…., bagaimana dengan ibu..??? apa ibu tidak curiga dengan kelahiran Clara..???” tanya Balqis yang teringat kalau Clara hamil sebelum menikah.
“entahlah…., paling juga si Devan di hajar Ibu…hehehehe…” sahut Abrar terkekeh jahat.
Balqis ikut tertawa jahat membayangkan Devan akan di hajar Ibu.
Di ruanganya Clara terbangun dan langsung menatap tajam pada Devan yang setia menunggunya di samping ranjang.
“sayang…., apa kau sudah bangun…??” ucap Devan dengan bahagia.
“jangan panggil aku sayang…!!!” sahut Clara dingin.
“sayang…., kau salah paham padaku…” kata Devan berusaha menjelaskan yang sebenarnya.
“salah paham apanya..??? kau sangat bahagia saat membaca surat cinta dari wanita itu…” kata Clara.
“bukan begitu…., wanita yang tadi itu hanyalah…….”
“hhhuuuuwwwaaaaaaaa……………” tangisan Clara pecah karena merasa di khianati Devan.
“sayang…., jangan menangis…..!!!” ucap Devan panik mendengar tangisan Clara.
__ADS_1
Tak lama kemudian masuklah wanita yang mengantar surat cinta tadi sambil mendorong gadis kecil yang duduk di kursi roda.
“maaf….., aku kesini untuk mengucapkan selamat atas kelahiran putra kalian dan sekaligus untuk meluruskan masalah surat cinta itu…” kata wanita cantik itu.
“om dokter…., apa kau sudah baca surat cinta dariku..????” tanya gadis kecil itu yang membuat Clara kaget yang ternyata adalah pasien dirumah sakit itu.
“sudah…., apa kau sangat mencintaiku…???” tanya Devan menggoda gadis kecil itu.
“hihihihihi…….., om dokter sangat lucu…” sahutnya.
“lah….., surat cinta tadi dari gadis kecil ini..???” ucap Clara dalam hatinya.
“nyonya…, maafkan lah anakku karena telah menuliskan surat cinta untuk suamimu…!! Anakku memang sangat dekat dengan dokter Devan..!!” kata wanita cantik itu pada Clara.
“ternyata wanita cnatik ini, ibu dari gadis kecil itu…” ucap Clara dalam hatinya lagi.
“hehehehehe….., tidak apa-apa…!! Aku memakluminya…” sahut Clara tersenyum canggung.
Setelah meluruskan semua permasalahan tentang surat cinta itu, Clara tak berani menatap mata Devan yang sedang menggendong putranya tersebut.
“Clara…, apa kau ingin mengatakan sesuatu..???” tanya Devan yang mengetahui kalau Clara sedang merasa bersalah.
“hehehehe……, dokterku yang tampan….!!! Maafkan istrimu yang gila ini…ya..???” ucap Clara pada Devan.
“makanya lain kali kau harus menahan amarahmu yang meledak-ledak itu…” ujar Devan.
“iya…., aku salah…” gumam Clara.
“maaf….” Ucap Clara.
“sudahlah…., sekarang bukan waktunya untuk bertengkar…!! Ini hari yang sangat bahagia untuk kita…!! Aku sudah menjadi ayah dan kau sudah menjadi ibu sekarang…., kita harus fokus pada putra kita…” kata Devan mendekap Clara yang menggendong Kenzo.
“iya…., dia sangat tampan sepertimu….” Ucap Clara.
“tentu saja…” sahut Devan dengan bangganya.
“oh..iya…, Balqis juga melahirkan loh…anaknya kembar perempuan..” kata Devan lagi.
“aku sudah tau…” sahut Clara.
“tau darimana..???” tanya Devan.
“dari hasil USG lah….!! Aku dan Balqis sering menunjukkan hasil USG kami berdua.” Jawab Clara.
Dengan sangat bahagia Balqis memeluk kedua putrinya yang kembar itu.
“Ibu…, berikanlah nama pada bayi-bayiku…” kata Abrar.
“aku akan beri nama mereka Melia dan Melani…” kata Ibu.
“nama yang bagus…..” ucap Abrar.
“iya….benar…!!” sahut Balqis.
“aku berharap semoga kalian selalu bahagia….” Ucap Ibu pada Abrar dan Balqis.
“semoga saja, Ibu…” sahut keduanya.
“tinggal si Zidan yang masih betah menjomblo…..” kata Ibu.
“hehehe….., tenanglah Ibu…, suatu saat pasti kak Zidan akan bertemu dengan jodohnya…” sambung Balqis.
Di lorong rumah sakit Zidan yang sedang terburu-buru untuk menemui Clara, tak memperhatikan langkahnya sehingga ia menabrak seseorang yang berdiri didepannya.
“aaww……, siap sih jalan gak pakek mata..???” teriak orang tersebut kesal pada Zidan.
“maaf…, maaf….” Ucap Zidan.
Kemudian mata mereka saling bertemu pandang dan saling terkejut.
“kau………” ucap mereka berdua secara serentak.
“ternyata kau….., bocah ingusan yang dulu pernah merusak mobilku…” kata Zidan.
“hei…, om….!! Apa kau jalan tidak pakai mata..???” tanya gadis itu.
“jalan itu pakai kaki, bukan pakai mata gadis SMA yang bodoh….” Sahut Zidan.
“kau yang bodoh…, om-om gak waras…!!! Jalan memang menggunakan kaki, tapi mata juga…!! Pantas saja kau selalu menabrak saat berjalan…., ternyata matamu itu buta…” ujar gadis itu kesal.
“hei…bocah….!! Jaga bicaramu…dasar gak sopan…” bentak Zidan.
“aku bukan bocah….., aku ini sudah dewasa…., berhenti memanggilku bocah….” Teriak gadis itu.
“diam atau kucium kau…..!! dasar bocah ingusan….., beraninya melawanku….” Ancan Zidan.
“jangan panggil aku bocah……!!!!!!” teriak gadis itu semakin kencang.
Untuk menghentikan teriakan gadis itu, Zidan langsung membungkamnya dengan mencium bibir gadis tersebut. Gadis sontak kaget dengan apa yang dilakukan Zidan terhadapnya.
“dasar kau om-om mesum….!!! Beraninya kau mencuri ciuman pertamaku….” Teriak gadis setelah di cium oleh Zidan.
“itu hukuman buatmu karena telah berprilaku tak sopan padaku…” sahut Zidan seraya meninggalkan gadis itu.
“dasar om-om gila…………!!!!!!” umpat gadis itu kesal kepada Zidan.
Zidan tak memperdulikan gadis itu, dia terus berjalan menuju ruang rawat Clara untuk melihat keponakannya yang baru saja lahir.
__ADS_1