
Dua minggu Balqis di tinggal Abrar untuk pergi perjalanan bisnisnya.
Kali ini Abrar pergi tak hanya bersama Rudi sang asisten namun dia juga memboyong Aska.
Devan yang jenuh dengan rumah sakit, akhirnya minta cuti untuk pergi liburan ke itali.
Disana ia memiliki sepupu laki-laki yang sama playboynya seperti dirinya.
Abrar dan Aska menuju itali setelah perjalanan bisnisnya selesai, mereka ingin bersenang-senang dengan Devan yang sudah berada disana duluan.
Mereka tinggal di rumah sepupu Devan yaitu Varrel.
“hei…, malam ini ikutlah denganku…!! Aku ada pertemuan dengan tuan Zidan.., aku akan perkenalkan kalian padanya, siapa tau dia mau berbisnis dengan kalian..” kata Varrel pada Abrar dan Aska.
“aku malas pergi…” sahut Abrar.
“hei…, kenapa..?? kalau kau berteman dengannya, dia pasti akan membantumu dalam bisnis besar….!!” Kata Varrel lagi.
“sudah…., ikut saja….” Sahut Devan.
“iya…, baiklah…!! Terserah kalian….” Sahut Abrar.
“kalau tau gini, mendingan aku pulang…bisa peluk Balqis sepuas yang aku mau..” gumam Abrar.
“ck…, kau ini….!! di otakmu hanya ada Balqis saja…” ujar Devan.
“tentu saja…..!! dia istriku….” Sahut Abrar.
Malam harinya, Abrar menelpon Balqis yang sedang kesal karena Abrar pergi ke itali.
“ada apa telepon aku…, bukan kah kau lagi bersenang-senang di itali..???” tanya Balqis.
“hehehe…., apa kau cemburu…??? Kau takut ya aku dekat dengan wanita lain..???” tanya Abrar menggoda Balqis.
“awas saja…!! Kalau kau sampai dekat dengan wanita lain…, akan aku bunuh burungmu itu….” Ancam Balqis.
“aawww…., jadi ngilu dengarnya….., hehehehe…” sahut Abrar.
“dalam dua hari ini jika kau masih berada di itali…., jangan harap kau akan bertemu denganku dan Azlan lagi….” Ancam Balqis yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
“eeehhh…., bussseeettt………!!!! Gak bisa di biarin…, aku akan pulang besok..” ucap Abrar yang takut oleh ancaman Balqis.
Di sisi Balqis.
“ck…, gak tau apa…, aku rindu banget sama dia…?? dia malah enak-enakkan ke itali…, dasar kurang ajar…..!!!” umpat Balqis kesal.
“mami…, kau kenapa..???” tanya Azlan dengan tingkah Balqis yang sedang kesal karena Abrar.
“aku sedang kesal dengan buaya darat….” Ucap Balqis yang membuat Azlan semakin kesal.
“mana buayanya…, mamii..???” tanya Azlan.
“di itali….” Sahut Balqis semakin kesal.
“aku bingung…., kenapa mami kesal dengan buaya di itali…??? Itukan jauh sekali, memangnya mami bisa lihat dari sini…????” tanya Azlan.
“hhuuuhhh……., aku lupa kalau dia masih berusia 3 tahun…” ucap Balqis menghela nafas.
Disisi Abrar.
Mereka akhirnya pergi menemui Zidan di salah satu resto yang sangat mewah di itali.
Varrel yang tak mengetahui bahwa Abrar dan Zidan sudah saling mengenal pun mencoba untuk memperkenalkan Abrar pada Zidan.
“tuan…, ini temanku dari Indonesia…namanya Abrar…” kata Varrel.
“hhhaaiiihh…., apa dia tidak mengatakan apapun padamu…, tentangku…??” kata Zidan.
“maksudnya…???” tanya Varrel bingung.
“aku kakak iparnya…..” sahut Zidan.
“apa…??????????????????” seru Varrel terkejut.
“tadi aku sudah bilang…, tidak mau pergi tapi kau memaksaku…” ucap Abrar pada Varrel yang masih bingung.
Aska dan Devan yang memang sudah mengetahui status dari Abrar dan Zidan hanya tertawa melihat raut wajah Varrel yang bengong seakan tak percaya kalau Zidan dan Abrar adalah saudara ipar.
“kalau kau disini…, bagaimana dengan adikku…??? Siapa yang jagain dia disana..???” tanya Zidan pada Abrar.
“kau tenang saja…., besok aku akan pulang ke Indonesia….!!” Sahut Abrar.
“kenapa kau pulang secepat itu..??? kita baru saja tiba di itali…” sahut Aska.
“Balqis…., mengancamku….” Kata Abrar dengan wajah yang malu.
“apa..??? kau takut pada Balqis…????” tanya Devan.
“ck…., aku mencintainya….!! Aku gak akan membuatnya kecewa…” sahut Abrar kesal.
“hahahahaha…” sahut Aska tertawa.
Tak lama kemudian, terdengar suara wanita yang memanggil Zidan dan berlari memeluknya.
Askan dan Devan sangat terkejut melihat wanita itu.
Namun tak sama dengan mereka berdua, Abrar diam saja, bahkan tak perduli.
“Balqis……??????” seru Aska dan Devan serentak saat melihat Clara.
“wwaahh…., aku tak menyangka Balqis akan seglamor ini kalau di itali…” ucap Aska lagi.
“dia bukan Balqis…..!!!” kata Abrar.
“maksudnya…” tanya Devan.
“kalian lupa kalau Balqis punya kembaran…????” tanya Abrar.
“oohh iya…., ini dia kembaran Balqis….!!!” Kata Aska.
“kakak….., siapa mereka…???” tanya Clara pada Zidan.
“mereka temanku…, dan ini Abrar…, suaminya Cleo…” sahut Zidan.
“namanya Balqis bukan Cleo….” Ujar Abrar kesal pada Zidan.
“diamlah……….” Balas Zidan.
“ooohh…., jadi kau adik iparku…..!!! dimana Cleo..??? aku ingin betemu denganya…” kata Clara.
“sudah aku bilang namanya Balqis…, bukan Cleo…” teriak Abrar kesal.
“ck…, dasar….!! Iya…..kau menang…., namanya Balqis…!!! Dimana dia..??” tanya Clara.
“dia tidak ikut…, aku sedang perjalanan bisnis….” Sahut Abrar.
“aahh…, dasar kau payah…” sahut Clara.
Lalu mata Clara tertuju pada Devan yang berparas sangat tampan dengan memakai kacamata dan sedikit agak kalem (itu di penglihatan Clara).
“siapa pria tampan itu….??? Dia itu tipe ku banget….!!! Aku sangat suka pria berkaca mata….” Ucap Clara dalam hatinya.
“hehehehe……, dia menatapku…..!!!” ucap Devan dalam hatinya melirik Clara.
“eemmm…., kakak….!!! Apa kau tidak mengenalkan teman-temanmu padaku…???” tanya Clara yang terus menatap Devan.
“apa kau sedang sawan…???? Biasanya kau paling benci dengan teman-temanku…” kata Zidan.
__ADS_1
“ck…, kakak ini…” gumam Clara.
“iya…., baiklah…!! Ini Aska dan ini Devan….” Sahut Zidan.
“jadi namanya Devan…..!!! wwaaahhh….., namanya aja keren banget…” ucap Clara dalam hatinya.
“hhhuufff…., jangan sampai terlihat kalau aku menyukai Devan…” ucapnya lagi.
“kenapa kau terus menatap si dokter ini..??? apa dia tipemu..???” tanya Abrar pada Clara.
“diamlah…., mau tau saja…” sahut Clara kesal.
“hehehehe……!!! Jika kau perlu bantuan…, katakan saja padaku…!! Aku sangat dekat dengannya…” ujar Abrar.
“be..benar kah…???” tanya Clara tersipu malu.
“tentu saja….!! Kau menyukainya Devan ya..???” tanya Abrar lagi.
“hhhmmppp…., yang benar saja….” Sahut Clara memalingkan wajahnya.
Abrar menendang kaki Devan sebagai kode untuk melihat reaksi Clara yang diam-diam curi-curi pandang kepada Devan.
“dia tertarik padamu…..” bisik Abrar pada Devan.
“hehehehe………….” Sahut Devan.
Devan yang mengetahui Clara yang curi-curi pandang padanya, memainkan aksinya terus menatap Clara yang membuat Clara semakin salah tingkah.
Setelah pertemuan itu, di kamarnya Clara tak bisa tidur ia terus mengingat senyuman dan tatapan mata sang dokter tampan, yaitu Devan.
“aaakkkhhhh……., dokter adalah profesi yang sangat keren…..!! wajahnya sangat tampan….” Teriak Clara yang bosan melihat pria dengan profesi pebisnis.
“gimana caranya, supaya aku bisa terus bertemu dengannya..??? apa aku minta pada kakak untuk tinggal di Indonesia saja….” Ucap Clara.
“tapi itu sepertinya tidak mungkin…, aku tidak punya urusan apapun disana…, bahkan Cleo juga tidak mengenalku…” katanya lagi.
Beberapa jam kemudian, Clara juga tak mampu menutup matanya setelah lama berkali-kali berguling di ranjang tidurnya.
“sialan…., wajah dokter itu memenuhi ruang otakku……..” umpat Clara kesal.
Di rumah Varrel, Devan juga enggan menutup matanya.
Ia berjalan menuju balkon kamar dengan sepuntung rokok yang ada di jarinya.
“hhaahh….., aku tidak bisa tidur…!!” ucap Devan menghela nafas.
“Clara……, cantik…., tapi agak bodoh….!!! Kenapa dia sangat ceroboh memperlihatkan wajah malunya ketika melirikku…., hehehehe…..!! menarik juga dia….” kata Devan mengingat wajah Clara.
Keesokan paginya, Abrar bergegas pulang. Ia sedang mengemasi pakainnya di masukkan ke dalam koper. Tak lama kemudian, nomor tak di kenal menghubunginya.
“halo…” sapa Abrar.
“ini aku, Clara…!! Apa kau masih di itali..??” tanya Clara.
“masih…, aku akan berangkat sebentar lagi kembali ke Indonesia..” sahut Abrar.
“ck…, kenapa kau cepat sekali kembali…??” tanya Clara.
“hei…., apa masalahmu…??? Aku rindu pada Balqis…” sahut Abrar.
“aku ingin bertemu dengan Balqis…!! Bantu lah aku…” kata Clara.
“gak akan…” sahut Abrar.
“yang benar saja….!! Aku saudara kembarnya…” kata Clara.
“ck…, aku tau maksudmu….!!! Kau bukan hanya ingin bertemu Balqis…, tapi kau ingin berlama-lama dekat dengan Devan kan…?????? Akui saja lah…” kata Abrar.
“dasar brengsek….!! Pintar sekali dia menebakku…???” ucap Clara dalam hatinya.
“bantuin aku bertemu Balqis…..!! kau kan bisa saja honeymoon lagi di itali…” kata Clara.
“kecuali kalau kau mengakui perasaanmu terhadap Devan padaku…., maka aku akan membantumu bertemu dengan Balqis….” Ucap Abrar lagi.
“iya…., *******..!!! kau menang lagi…..!!!!!!!!” teriak Clara kesal.
“aku memang menyukai si dokter tampan itu…., puas…????” teriak Clara lagi.
“hahahahahaha…….., baiklah…!! Aku akan membantumu tanpa harus membawa Balqis ke sini…” kata Abrar.
“hei…, bawa Balqis juga….!! Aku juga ingin bertemu dengan kembaranku…” kata Clara.
“ck…., kau banyak maunya ya….” Sahut Abrar kesal.
“ayolah…, Abrar…..!!” kata Clara memohon.
“iya…, tapi aku gak janji kalau Balqis akan mau bertemu dengan mu dan Zidan…” kata Abrar.
“itu urusan mudah bagiku…., hehehehe….” Ucap Clara yang mempunyai rencana agar bertemu dengan Balqis.
Setelah menutup teleponnya, Abrar langsung menemui Rudi.
“Rudi……, utus orang untuk membawa Balqis ke itali….” Perintah Abrar.
“baik tuan…” sahut Rudi.
“eeemmm…, tanpa Azlan….!! Aku akan berbulan madu lagi denganya di sini…hehehe..” ucap Abrar.
“baik tuan.” Sahut Rudi lagi.
Seakan kejadian waktu itu terulang lagi, Balqis di hampiri oleh anak buah Abrar untuk membawanya pergi ke itali tanpa membawa Azlan.
Dengan perasaan kesal Balqis menghubungi Abrar.
“Abrar…., kau mau aku pergi ke itali dan meninggalkan Azlan…???” tanya Balqis.
“aku sudah bicara pada kakek…, kakek akan mengurus Azlan…” sahut Abrar.
“aku gak mau…, Azlan pasti membutuhkan aku…” ucap Balqis menolak.
“kalau kau menolak…, maka aku akan membuatmu jauh dari Azlan selamanya…” ancam Abrar.
“dasar pemaksa!!!!!!!!!!!!!” teriak Balqis.
Di dalam kamarnya, Balqis mengumpat Abra habis-habisan saat sedang mengemasi pakaiannya ke dalam koper.
“bisa-bisanya dia mengancamku…!! Bukannya pulang…., malah membuatku repot pergi ke itali dan harus meninggalkan Azlan…..” gumam Balqis kesal.
“hhhuuuwwwaaa…….., aku pasti akan sangat merindukan anakku….” Ucap Balqis lagi nangis Bombay.
Di itali Abrar menyewa vila yang mewah untuk menunggu kedatangan Balqis.
Dengan banyak pelayan yang siap di perintah jika mereka membutuhkan sesuatu di sana.
Kabar akan kedatangan Balqis sampai di telinga Zidan yang sangat antusias ingin bertemu langsung dengan sang adik yang sangat ia rindukan.
Balqis pun sampai di itali dengan perjalan yang banyak memakan waktu.
Ia sangat kelelahan saat tiba di vila yang di sewa oleh Abrar.
Setelah mandi, Balqis merebahkan tubuhnya di ranjang untuk menghilangkan rasa lelahnya.
Abrar yang sudah sangat merindukannya, datang menghampiri Balqis yang baru saja akan memejamkan matanya.
“sayang…..!! apa kau sangat lelah sampai kau mengacuhkan aku…??” ucap Abrar memeluk tubuh istrinya itu.
“jangan mulai Abrar…, aku sangat lelah….” Kata Balqis.
__ADS_1
“tapi ini honeymoon kita yang kedua…” bisik Abrar di telinga Balqis untuk memancing hasrat Balqis.
Namun bukannya hasrat Balqis yang muncul, melainkan sebuah tendangan dari kaki Balqis yang bersarang di pantat Abrar, membuat Abrar jatuh dari atas ranjang.
“aadduuuhh……, kenapa kau menendang pantatku…, hah????” teriak Abrar kesal.
“kau pantas mendapatkannya….!!! Kau membuatku lelah dengan perjalanan berjam-jam untuk ke itali…, setelah aku disini bukannya kau membiarkan aku beristirahat tapi kau malah mau melahap tubuhku….!! Apa kau mau menindasku, hah????” balas Balqis berteriak kesal pada Abrar.
“dasar…..kau wanita kejam…, Balqis….” Umpat Abrar kesal.
“bodo…………..!!! aku sangat lelah……, aku mau tidur….!! Jangan ganggu aku…., atau aku akan menggantung lehermu itu…” ancam Balqis.
“ck….., menyebalkan….” Sahut Abrar bangkit dari lantai dan naik kembali ke atas ranjang.
Baru sekitar dua menit, Abrar langsung mendengar suara dengkuran Balqis yang sudah tertidur pulas.
“hehehehe…., sampai mendengkur begitu….!!! Dia sangat lelah….!! Selamat tidur cintaku…” ucap Abrar mencium kening Balqis dengan mesra.
Namun Abrar sangat terkejut melihat reaksi wajah Balqis yang sepertinya sedang bermimpi.
Plak…….
Telapak tangan Balqis mendarat di pipi Abrar.
“dasar…., brengsek…..!!! beraninya kau mencium keningku….” Racau Balqis dalam igaunya.
“mimpi apa sih…??? Sampai-sampai dia menamparku…..” kata Abrar.
“awas kau.., Balqis…..!!! besok kau tidak akan bisa lolos dariku….” Kata Abrar lagi.
Di posisi Lita dan Luky yang masih betah di rumah sakit.
“apa kau sudah mengabari orang tuamu, kalau kau masuk rumah sakit..??” tanya Lita dengan wajah polosnya.
“sudah….., tapi mereka tidak memperdulikan aku….!! Aku sangat sedih karena kurang perhatian dari orang tuaku….” Jawab Luky dusta.
Padahal orang tua dan adik perempuannya sangat mencemaskan keadaan Luky yang sudah dua minggu tidak pernah datang berkunjung kerumah.
“oohh…., kau jangan sedih….!! Kau beruntung memiliki keluarga…, aku bahkan tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini..” ucap Lita yang juga sedih.
“dimana orang tuamu..???” tanya Luky.
“orang tuaku sudah meninggal saat aku masih SMA…, setelah itu aku bekerja untuk menyambung hidupku…” sahut Lita.
“apa kau tidak memiliki saudara…???” tanya Luky lagi.
“aku punya adik perempuan dan kakak laki-laki.., tapi mereka juga meninggal…!! Orang tuaku dan kedua saudaraku kecelakaan mobil saat berkunjung kerumah teman ayahku…, dan mereka meninggal dunia..” jawab Lita.
“saat itu kau berada dimana..??” tanya Luky lagi penasaran.
“aku sedang ada kegiatan sekolah…., jadi Cuma kau yang gak ikut pergi dengan keluargaku…” kata Lita.
“aku sangat merindukan keluargaku….” Ucap Lita dengan mata yang berkaca-kaca.
“sudahlah…., aku akan selalu berada di sampingmu….” Ucap Luky memeluk Lita.
“hei…., kenapa kau memelukku…???” tanya Lita pada Luky.
“karena aku mencintaimu…, Lita….!!! Gak peka banget sih jadi wanita…..” teriak Luky kesal.
“ck……, kau kan playboy…..!!! mana aku tau kau menipuku atau tidak….” Sahut Lita.
“astaga……, aku bahkan sudah rela di hajar habis-habisan oleh sahabat-sahabatku…., namun dia tetap saja tidak percaya akan cintaku padanya….!!! Lebih baik aku mati saja…., lompat dari gedung ini…” kata Luky dalam hatinya.
Kemudian Luky turun dari tempat tidur rumah sakit dan berjalan kearah pintu lalu mengunci pintu tersebut.
“hei…., kenapa kau mengunci pintunya…??” tanya Lita bingung melihat Luky yang sedang berjalan kearahnya.
“apa yang akan kau lakukan….?????” Teriak Lita saat Luky mengangkat tubuh Lita dan meletakkannya di atas ranjang rumah sakit.
“kau mau apa, hah..???” teriak Lita lagi.
“diam………..!!!!!!!!” bentak Luky.
Dengan sekuat tenaganya Luky mencengkram tubuh Lita dan menidihnya.
Tanpa persetujuan Lita, Luky langsung melumat bibirnya dan juga melahap tubuh Lita.
Lita meronta saat Luky melakukan hal itu padanya, namun tenaganya seakan habis saat Luky mencium area sensitivenya.
“Luky……, jangan lakukan ini…” ucap Lita yang tak kuat menahan desahanya.
“kau milikku…., sekarang….!!! Kau wanitaku….., menurutlah padaku…, Lita…” sahut Luky yang terus melumat semua bagian tubuh Lita.
Akhirnya Lita pun pasrah dalam dekapan Luky yang terus membuatnya tak berhenti mendesah.
Sesekali ia memelankan suaranya agar tak terdengar orang lain.
Karena posisi mereka berdua yang sedang berada di rumah sakit.
Setelah puas menikmati ena-ena mereka di ranjang rumah sakit, Luky dan Lita tertidur pulas.
Namun siapa yang dapat menyangkan orang tua Luky yang tau kabar anaknya masuk rumah sakit akhirnya datang dengan perasaan yang sangat khawatir terhadap Luky.
Mereka sudah berada di depan pintu.
Saat ibunya Luky ingin membuka pintunya ternyata masih terkunci dari dalam oleh Luky.
Dengan meminta kunci cadangan dari petugas rumah sakit, ibunya pun membuat pintunya perlahan.
“astaga…………!!!! Anak nakal itu…..” ucap Ibu Luky melihat Luky dan Lita tertidur di ranjang rumah sakit hanya dengan balutan selimut.
Ibu Luky yang kaget langsung keluar dengan wajah memerah.
“kenapa kau keluar lagi…., mana Luky…??? Bagaimana keadaannya…????” tanya ayah Luky yang sangat khawatir.
“sepertinya…., sebentar lagi kita akan punya cucu…..” teriak Ibu Luky kegirangan.
“apaan sih…??? Anaknya lagi sakit…kok malah bilang cucu….” Sahut Ayah Luky yang bingung melihat reaksi istrinya yang melompat-lompat kegirangan.
Akhirnya ia memutuskan untuk masuk dan melihat Luky sendiri.
Saat masuk ia melihat apa yang di lihat istrinya.
Ayah Luky langsung keluar dan menarik tangan Ibu Luky yang masih kegirangan.
“ayo……………, sebaiknya…..kita jangan mengganggu mereka………!!!!!!!!” kata Ayah Luky.
“kenapa…???” tanya Ibu Luky.
“kita pulang saja…..!!! kau bilang kau sangat menginginkan cucu bukan…????” ucap Ayah Luky sambil menaik turunkan kedua alisnya.
“iya…..” sahut Ibu Luky.
“ayo kita pulang……, dan menanti kelahiran cucu kita…” ujar Ayah Luky yang tak kalah girangnya.
Tak lama kemudian, Luky terbangun dari tidurnya.
“sepertinya aku mendengar suara ayah dan ibu…, tadi..” gumam Luky.
“bodo amat…..!! yang penting aku akan punya anak dari Lita…., hehehe…..” ucap Luky sambil memandangi wajah Lita yang sedang tertidur pulas.
“kau harus segera hamil, Lita….!!! Agar kau tak dapat lari lagi dariku….., hehehehe…” ucapnya lagi.
Di itali, Abrar mengajak Balqis makan di sebuah restoran yang sudah di pesankan oleh Clara dan Zidan.
Abrar berencana untuk membuat Balqis bertemu dengan saudara kandungnya itu tanpa Balqis sadari.
__ADS_1
Dan Clara yang memili otak cerdas, sudah mempunyai banyak rencana agar dirinya dapat bertemu dengan Balqis di restoran tersebut.