
Hampir seminggu Balqis dan Abrar berada di di itali dan hubungan antara Balqis dan saudara kandungnya semakin akrab karena usaha Zidan dan Clara yang sangat getol mendekati Balqis.
Balqis mulai menerima saudara kandungnya tersebut namun tidak pada sang ibu, ia masih terluka saat mengingat dirinya di buang saat masih bayi.
Padahal itu jelas bukan kesalahan sang ibu melainkan orang yang menculik dirinya dahulu.
Zidan dan Clara mengajak Balqis serta Abra untuk pergi ke sebuah tempat wisata yaitu menara miring atau yang di kenal dengan menara pisa.
Clara dan Balqis sangat bahagia jalan bersama menikmati suasana di tempat itu yang selalu ramai oleh pengunjung.
Saat mereka sedang istirahat di sekitar menara pisa, Devan menghubungi Abrar.
“hei…, kalian dimana..??? aku datang ke vila tapi kalian tidak ada..” kata Devan pada Abrar.
“aku sedang bersama keluarga mi instant…di menara pisa…” sahut Abrar menjuluki keluarga Balqis.
“apa maksudmu keluarga mi instant..????” tanya Devan bingung.
“Balqis…, Zidan dan Clara….” Jawab Abrar.
Mendengar nama Clara, pipi Devan langsung merah merona.
“apa Clara juga disitu..???” tanya Devan.
“ck…, aku sudah mengatakannya tadi…kenapa kau malah tanya lagi…?? Sejak kappa kau bodoh…????” tanya Abrar mulai kesal.
“oke…., aku akan kesana mengejar wanitaku…..hehehehe…..” sahut Devan bersemangat.
“ck…, dasar bodoh…!!!” gumam Abrar sambil menutup teleponnya.
“siapa yang meneleponmu, sayang..???” tanya Balqis.
“si dokter konyol….!! Sebentar lagi dia akan menuju kesini..” sahut Abrar memeluk Balqis.
“si Devan masih ada di sini…?? Kan dia cuti hanya seminggu…apa dia tidak di pecat karena terlalu lama tidak bekerja..???” tanya Balqis.
“dokter yang paling berkuasa disana adalah Devan…, keluarganya yang memiliki rumah sakit itu…, mana mungkin dia di pecat…” sahut Abrar.
“apa kau tau.., kenapa Devan masih betah di sini..??” bisik Abrar pada Balqis.
“apa.???” Tanya Balqis.
“karena Clara….!!!” Jawab Abrar.
“maksudmu Devan suka dengan Clara…???” tanya Balqis berbisik pada Abrar.
“iya…., si Clara juga suka pada Devan..” kata Abrar yang membuat Balqis semakin terkejut.
“tau dari mana kau..??” tanya Balqis.
“dia sendiri yang mengatakannya padaku…!! Saudara kembarmu itu jenis wanita yang tak pandai menyimpan perasaannya…, tidak seperti kau…., aku sangat kesulitan saat mengejarmu dulu…” kata Abrar.
“apa kau kesulitan saat mengejarku…??? Yang benar saja….!! Hampir setiap malam kau selalu memaksaku melayanimu…., itu yang kau bilang kesulitan..??” ujar Balqis.
“aku bukan memaksamu.., itu kan sudah kewajibanmu sebagai seorang istri…!! Apa aku salah memintanya setiap malam…???” kata Abrar tak mau di salahkan.
“tetap saja kau memaksaku…, dasar kau tukang pemaksa…” umpat Balqis kesal.
“kalau aku bilang kewajiban ya kewajiban…., kenapa kau selalu saja membangkang…???” teriak Abrar memulai perang dunia.
“kau saja yang tak pernah mau disalahkan…, memang kau suka memaksaku kan..???” teriak Balqis.
“hhhmmmpppp………………” Balqis dan Abrar saling memalingkan wajahnya dengan kesal.
“mereka sudah gila ya, kak..???” tanya Clara pada Zidan yang memang tak mengetahui kalau Abrar dan Balqis pasutri yang aneh.
“mana aku tau…., tadi saling berbisik mesra sekarang bertengkar…!! Hhaahh…, dasar aneh..” sahut Zidan.
Tak lama kemudian mata Clara tertuju pada sosok pria yang di sukai nya, yaitu Devan yang sedang ngos-ngosan berlari mencari mereka di sekitar menara.
“kenapa kau ngos-ngosan begitu..??” tanya Zidan.
“aku lelah mencari kalian di tempat keramain seperti ini…” sahut Devan.
“duduklah…., ini air minum untukmu…” ucap Clara sambil menyodorkan air pada Devan.
Devan langsung duduk di sebelah Clara dan meminum air yang di berikan padanya.
Dengan rasa sedikit kikuk dan wajah yang merah merona, Devan dan Clara saling curi-curi pandang.
Tentu saja sang kakak yaitu Zidan memperhatikan Clara dan Devan.
“sudah lah…., untuk apa curi-curi pandang…, hah..??? kalau suka ya akui saja…” sindir Zidan untuk Devan dan Clara.
Mendengar ucapan Zidan, Devan dan Clara menjadi semakin canggung.
Lalu Zidan melihat Balqis dan Abrar yang masih saling kesal dan memalingkan wajahnya.
“hei…, kalian sedang apa..??? masih bertengkar..??? katanya sedang buat anak kedua…, malah bertengkar..” kata Zidan.
“oohh…., iya…!! Aku jadi lupa…” ucap Abrar dalam hatinya.
“ck…, abaikan saja harga diri.., yang penting Balqis harus segera hamil anak yang kedua..” ucap Abrar lagi dalam hati.
“Balqis…..” panggil Abrar mulai membujuk Balqis.
“hhhmmm…” sahut Balqis ketus.
“apa kau ingin makan mi instant..??” kata Abrar.
“tentu saja aku mau…..!! tapi apa disini ada yang menjualnya…???” sahut Balqis.
“kau tenang saja…, aku akan suruh anak buah Zidan mencarinya…” ujar Abrar yang membuat Zidan ternganga.
“hei…., aku bos nya…, kenapa anak buahku harus menurutimu, Abrar…????” teriak Zidan kesal.
“hei…hei…., yang makan mi intant itu adikmu loh….., masa gitu aja kau perhitungan…hehehehe….” Ucap Abrar dengan liciknya.
“iya…, kenapa kau perhitungan denganku kak…, aku akan adikmu..” sambung Balqis.
“dasar adik kandung dan ipar kurang ajar….!!! Beraninya mereka mengelabui aku…” ucap Zidan yang terpaksa mengalah demi permintaan sang adik.
“baiklah….., anak buahku juga anak buahmu sekarang..” kata Zidan pada Abrar.
“hehehehe….., kau memang ipar yang baik..” sahut Abrar menang.
Kemudian Abrar dan Balqis saling berbaikan dan berpelukan lagi dengan mesra sambil menikmati suasana menara pisa tersebut.
Sedangkan Devan dan Clara sudah berpegangan tangan dengan mesra layaknya orang yang sedang berpacaran.
Zidan memperhatikan Clara yang sudah termakan rayuan dan gombalan Devan.
“ck….., adikku yang satu ini memang sangat murahan…..!! baru saja di gombal seperti itu sudah mau berpegangan tangan…” ucap Zidan dalam hatinya.
“hei….., lepaskan tangan adikku…..!! apa kalian mau menyebrang…hah..????” teriak Zidan seraya melepaskan paksa tangan Devan dan Clara.
“kakak…., pergilah cari wanita yang baik untukmu….!! Kau ini mengganggu saja…” balas Clara kesal.
“itu benar…, kak…!! Kalau lama-lama menjomblo…, entar jiwa sirik melihat keromantisan orang lain akan muncul loh….” Sambung Balqis.
“hhhhuuuwwwwaaaaaaa………., dasar adik tidak tau diri……!!!!” teriak Zidan nangis Bombay.
__ADS_1
“kenapa dia..??? sampai menangis histeris begitu…” ujar Abrar.
“akibat terlalu lama menjomblo….., ya gitu deh…..” sahut Clara.
Sore harinya saat mereka hendak pulang dan makan malam bersama di kediaman Zidan, Balqis dan Clara pamit sebentar ke toilet.
Mereka pun pergi bersamaan ke toilet umum yang ada di sekitar menara pisa.
Tak lama kemudian, Balqis kembali sendirian tanpa Clara.
“dimana Clara..??” tanya Zidan pada Balqis.
“loh….., aku kira dia sudah duluan kesini…!! Karena aku tungguin dari tadi dia tidak ke luar dari toilet…” sahut Balqis.
Saat mereka semua sedang panik, anak buah Zidan menghampiri mereka.
“tuan…, nona Clara di bawa oleh orang suruhan Johan…” kata anak buah Zidan.
“apa…???” ucap Zidan terkejut.
“mereka pasti salah tangkap……!!! Johan menginginkan Balqis…” kata Abrar.
“dasar Brengsek……!!!” umpat Zidan.
“kerahkan semuanya…, kita menuju ke tempat Johan…., cepat…..!!!!” perintah Zidan pada anak buahnya.
“kalian pulang lah duluan dan tunggu aku di rumahku…!!! Jaga Balqis…” kata Zidan pada Abrar dan Devan.
“tidak…., aku akan ikut denganmu, Zidan…” kata Devan.
“aku juga…” sahut Abrar.
“Balqis kau pulanglah dengan sopir pribadi Zidan…, dan tunggulah kami di rumah Zidan…, kau mengerti…???” ucap Abrar.
“iya…., hati-hati….!!! Segera hubungi aku jika ada apa-apa…” kata Balqis sambil berlinang air mata.
Mereka semua pun pergi menuju di kediaman Johan dengan membawa banyak anak buah untuk menghabisi Johan dan menyelamatkan Clara.
Sementara Balqis di bawa ke rumah Zidan dan menunggu di sana dengan penuh rasa kekhawatiran.
Di kediaman Johan.
“sayang…., akhirnya aku mendapatkan dirimu lagi….” Kata Johan senang melihat Clara yang dia pikir itu Balqis.
“siapa kau…??? Beraninya menculik anak gadis orang….” Sahut Clara geram.
“kau tidak mengenalku lagi..???? aku Johan…., aku adalah pangeranmu, sayang…” ujar Johan mendekati Clara dan hendak menciumnya.
“mati saja kau sana…” teriak Clara sembari menendang benda pusaka Johan.
“aaakkkkhhhh……, kenapa kau menendangku di bagian itu…., Balqis….” Teriak Johan kesakitan.
“haaahh…., Balqis…??? Lah….ternyata dia salah orang…..” ucap Clara dalam hatinya.
“itu hadiah untukmu….!!!” Ucap Clara dengan santainya.
“Balqis….., kau harus menjadi wanitaku…., aku akan membawamu pergi jauh dari Abrar…” kata Johan.
“coba saja kalau kau bisa…., sebentar lagi kau pasti akan mati…” ujar Clara duduk di atas ranjang sambil membersihkan kukunya dengan tenang.
“apa maksudmu…??? Tidak ada yang bisa membunuhku…hahahahaha………..” kata Johan tertawa lepas.
“ck…., dasar psikopat….!! Gak ada yang lucu malah tertawa…” gumam Clara.
“Balqis…., hari ini kita akan menikah….!! Aku telah menyiapkan segalanya untuk pernikahan kita..” kata Johan semakin menggilai Balqis.
“hei…hei…., jauh sedikit kalau berbicara denganku…., nafasmu bau…!!!” ujar Clara mendorong tubuh Johan.
“tentu saja ada…!! Aku menyediakan apa saja untukmu, sayang…!!” kata Johan.
“iya…, pergilah ambilkan aku makanan yang banyak….!!” Kata Clara.
“oke…” sahut Johan pergi keluar kamar dan memerintahkan pelayannya untuk menyiapkan makanan yang enak dan istimewa.
“hhhaaahhh……, ranjang ini sangat nyaman…!! Aku sedang di culik namun rasanya aku seperti sedang menginap di hotel yang sangat mewah…” tutur Clara merebahkan tubuhnya di ranjang itu.
Tak lama kemudian, makanan telah siap dan di hidangkan untuknya.
Clara makan dengan lahap sementara Johan memandanginya sambil memegang segelas anggur di tanganya. Johan semakin terobsesi melihat wanita yang ada di hadapannya itu makan dengan lahap.
Lalu terdengar suara tembakan secara beruntun dari arah luar rumah.
Johan merasa panik karena ada musuh yang menerobos masuk ke kediamannya.
Sementara Clara masih makan dengan tenang, karena dia tau itu pasti Zidan yang sedang menyelamatkannya.
Suara baku tembak pun semakin nyaring terdengar, namun Clara masih santai dengan makanan yang ada di mejanya.
Johan yang panik melihat anak buahnya banyak yang mati terbunuh, menarik tangan Clara untuk membawanya kabur dari rumah itu.
“ayo Balqis…., kita harus cepat pergi dari sini…” kata Johan menarik tangan Clara.
“hei…., aku sedang makan…!! Lagian kenapa kau takut….??? Katanya kau cinta padaku…., hadapi dong sebagai pria sejati….!! Gitu aja takut….” Ujar Clara yang tetap melanjutkan makannya.
“aku hanya tak ingin kau terluka, sayang…” kata Johan.
“ck…, banyak alasan…!! Pergi sana…., hadapi musuhmu…” teriak Clara pada Johan.
Lalu dengan tiba-tiba sekawanan anakk buah Zidan mengepung Johan dan beberapa anak buahnya yang tersisa. Johan yang sangat terkejut melihat Zidan dan Abrar serta Devan datang menghampirinya dengan membawa senjata yang siap untuk menghabisinya.
“haii….., kak…!! Apa kalian lapar…???” tanya Clara dengan entengnya.
“cepat habiskan makananmu, Clara…” kata Zidan yang membuat Johan terkejut.
“apa…??? Clara..???” kata Johan.
“kenapa..??? kau terkejut karena anak buahmu yang bodoh salah menculik orang…!!” kata Abrar.
“aku sudah selesai makan……!!! Wwwaaahhhh……, kenyang sekali…, makanannya enak…” seru Clara sambil mengacungkan kedua jempolnya kepada Johan.
“Devan…, tolong bawa pulang adikku…” kata Zidan.
“baiklah…, ayo Clara…” ajak Devan.
Setelah Devan dan Clara keluar dari kediaman Johan, Zidan melancarkan aksinya.
Ia tau apa yang akan di perbuat untuk menghadapi orang seperti Johan.
“habisi semua anak buahnya, tanpa sisa….” Teriak Zidan pada anak buahnya.
Anak buah Zidan pun menghabisi mereka semua dengan menembakkan senjatanya pada tubuh mereka.
“sekarang tinggal kau yang tersisa….!!” Kata Zidan menodongkan senjatanya di kepala Johan.
“tuan Zidan…., ampuni aku….!!! Aku tidak tau kalau wanita itu adalah adikmu…” kata Johan berbohong.
“benarkah…??? Kau pikir aku bodoh…., hah..???” teriak Zidan dengan penuh amarah.
“orang sepertimu adalah ancaman bagi Balqis….!!! Aku tidak akan membiarkan orang jahat mendekati adikku….” Kata Zidan.
“tuan…., aku mencintai Balqis…” kata Johan.
__ADS_1
“kau mencintainya…., tapi Balqis tidak…….!!!!!!!!” Sahut Zidan.
Dooooooorrrrrrrrr…………….
Suara ledakan pada senjata Zidan yang mengeluarkan peluru dan kini bersarang di kepala Johan yang sudah tergeletak mati di lantai.
“bereskan semuanya….” Perintah Zidan pada anak buahnya.
“baik tuan…” sahut anak buahnya itu.
Abrar masih terpaku melihat sisi lain Zidan yang sangat kejam.
“aku tak menyangka, di balik sikapnya yang konyol…terdapat sisi yang sangat kejam…” ucap Abrar dalam hatinya saat menatap Zidan yang telah menghabisi Johan.
Devan dan Clara tiba dirumah dengan di sambut oleh Balqis yang sangat cemas dengan mereka.
“Clara……, syukurlah kau tidak apa-apa…!!! Ini semua karena aku…, Johan inginkan diriku…” kata Balqis sambil menangis.
“hei…anak bodoh…!! Kenapa kau menangis…?? Aku sudah kembali…” sahut Clara memeluk Balqis.
Kkkrrrriiiiuuuukkkkkkkkkkkk……
Terdengar suara yang berasal dari perut Devan yang kelaparan.
“hhhaahh…., cacing di perutmu sangat jujur…..!!! ayo…, kita masuk dan makan…” kata Clara menarik tangan Devan.
“bagaimana dengan kakak dan Abrar…???” tanya Balqis.
“kau hubungi saja suamimu…, mereka pasti dalam perjalana kesini..” sahut Clara yang sedang menyuapi Devan makan dengan sangat romantis.
Dengan perasaan yang tak tenang, Balqis pun menghubungi Abrar.
“sayang…, kau ada dimana..?? apa kau baik-baik saja..????” tanya Balqis.
“aaakkkkkkkhhhh…….., aku terluka, sayang….!!!” Sahut Abrar mengelabui Balqis.
“apa kau terluka…???? Aku…aku akan segera kesana ya….!! Sekarang kau ada dimana..???” kata Balqis semakin panik.
“tidak perlu…., aku akan segera sampai…, tunggu aku…” kata Abrar.
Kemudian sambil tertawa Abrar mematikan teleponnya.
“hei…., kau membuat adikku takut….!!” Ujar Zidan sambil memukul kepala Abrar.
“sialan…., kenapa kau memukulku…????” teriak Abrar kesal.
“kau menakuti Balqis……!!!” teriak Zidan.
“aku kan hanya bercanda saja….., dasar keluarga mi instant…” umpat Abrar kesal sambil mengelus kepalanya yang benjol.
“ck…., dasar aneh…” umpat Zidan.
Tak lama kemudian Zidan dan Abrar pun tiba. Balqis menyambut kedatangan mereka dengan perasaan yang masih kacau.
Zidan yang berjalan di depan Abrar, merentangkan kedua tangannya untuk segera memeluk Balqis, namun Balqis malah mengacuhkannya dan berlari menuju Abrar dan memeluk suaminya itu.
“hei…., aku kakakmu….!! Kenapa kau selalu saja memeluk suamimu yang payah itu, hah…?????” teriak Zidan pada Balqis yang masih tak perduli padanya.
“percuma saja…., aku memiliki dua adik…., semuanya tak perduli denganku…” kata Zidan nangis Bombay.
“Abrar….., kau bilang kau terluka..?? mana yang terluka..???” tanya Balqis pada Abrar.
“ini….” kata Abrar menunjuk kepalanya yang benjol akibat pukulan Zidan.
“astaga….., sampai benjol begini…” ucap Balqis.
“hei…., Balqis…!! Itu benjol karena aku memukulnya tadi…” kata Zidan.
“kenapa kakak memukulnya..???” tanya Balqis.
“karena saat di telepon dia membohongimu, bilang dirinya terluka padahal dia sehat-sehat saja…” kata Zidan.
“hehehehehe…….., aku bercanda sayang….” Ucap Abrar pada Balqis.
Dengan kesal Balqis menambahkan benjolan di kepala Abrar dengan memukulnya.
“aaduuuhh……., kenapa kau malah menambahkan benjolan di kepalaku, Balqis…?” teriak Abrar kesakitan.
“itu hadiah…, karena kau berhasil membohongi aku….” Ujar Balqis berlari masuk ke kamar yang di siapkan untuknya.
Dengan segera Abrar mengejar Balqis yang ngambek karena kesal padanya. Zidan, Clara dan Devan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu Balqis dan Abrar.
Setelah makan malam, mereka semua beristirahat di kamarnya masing-masing.
Zidan tertidur sangat nyenyak di kamarnya karena kelelahan seharian.
Balqis dan Abrar sedang indehoi di kamar mereka, sedangkan Devan menunggu semua orang terlelap untuk melancarkan aksinya.
Devan keluar dari kamarnya sambil berjalan secara perlahan menuju kamar Clara.
Rumah yang sangat luas itu seharusnya Devan tidak mengetahui kamar Clara, karena begitu banyak kamar dirumah itu.
Namun karena peta yang di gambar Clara sebagai petunjuk untuk Devan, membuat Devan semakin bersemangat untuk menyelinap masuk ke kamar Clara.
Tok….tok…tok….
Suara ketukan pintu kamar Clara.
“Clara….., ini aku Devan…” bisik Devan dari balik pintu.
Dengan cepat Clara membukanya dan menarik Devan masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
“akhirnya kau datang juga….!! Aku pikir kau tersesat….” Kata Clara yang bergelayut manja dalam pelukan Devan.
“aku menunggu semua orang tertidur dulu…., baru aku bisa menemuimu disini…” sahut Devan.
“aku hampir tersesat tadi…, aku salah melihat peta, hampir saja aku masuk ke kamar Balqis dan Abrar….!! Tapi saat aku mendengar suara desahan Balqis…, aku langsung menyadari kalau aku tersesat…” kata Devan lagi.
“hehehehe……, ternyata Abrar selalu bersemangat ya kalau menginginkan sesuatu…” kata Clara.
“maksudmu..???” tanya Devan.
“Abrar menginginkan Balqis hamil lagi…, makanya dia selalu melahap Balqis..” sahut Clara.
“aku juga ingin kau segera hamil….!!!” Ucap Devan yang membuat mata Clara terbelalak karena kaget mendengar ucapan Devan.
“apa…??? Kau ini sudah gila ya…” kata Clara dengan pipi yang memerah.
“aku memang gila…., gila padamu Clara…” ucap Devan sembari mendorong tubuh Clara jatuh ke atas ranjang dan segera melahap tubuhnya.
Di sela ena-enanya, Clara mendesah nikmat karena sentuhan Devan yang sangat liar di tubuhnya.
“hei….., pelan sedikit….!! Aku masih perawan….woi…..!!!!!” ujar Clara yang merasakan perih saat Devan menenggelamkan batang pusakanya.
Devan yang sudah di puncak hasratnya tak memperdulikan apa yang di katakan Clara padanya.
Ia terus saja menikmasti tubuh wanita yang di cintainya itu.
Di kamarnya Zidan mendengkur dengan keras.
Kedua adikknya sedang menggila dengan pasangannya, si Zidan malah pulas dengan tidurnya.
__ADS_1
Malangnya nasib si jomblo yang tidur sendirian.