
Lagi dan lagi, Balqis kembali ke rumah Abrar. Ia berkali-kali harus sabar menghadapi sikap Abrar yang seenaknya terhadap dirinya karena telah terjebak oleh perjanjian. Abrar terus-terusan saja mengancamnya agar dia tak melarikan diri dari rumah, dan menyuruhnya untuk menjadi wanita yang penurut. Di dalam ruang kerjanya, Abrar mengusap-usap jidadnya seakan ia telah terjebak oleh seorang wanita yang membangkang. Ia bingung, karena selama ini tak pernah ada seorang wanita pun yang menolak dirinya dan pasti akan menuruti dia walaupun tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun. Semua wanita seakan tergila-gila olehnya yang memiliki paras tampan dan kaya raya.
“sialan!” Kenapa aku harus frustasi dengan wanita ini?” umpat Abrar kesal.
Wajah Balqis terus saja bermain di dalam pikirannya. Tak lama kemudian, para sahabatnya datang dan mengajaknya keluar untuk bersenang senang. Namun Abrar menolaknya, jadi mereka memutuskan untuk ngobrol di ruang tamu.
“kau lagi ada masalah kah?” tanya Devan pada Abrar yang terlihat galau.
“gak, aku cuma sedikit capek aja.” Jawab Abrar.
“kapan acara pernikahan mu?” tanya Romi si pemalu.
“kakek ku bilang 1 bulan lagi, tapi aku maunya dalam minggu ini, biar dia gak bisa lari kemana-mana lagi.” Jawab Abrar dengan wajah yang licik.
“kau sungguh tergila-gila dengannya?” tanya Aska.
“hehehhe” sahut Abrar tersenyum licik.
“penasaran banget aku sama tuh cewek!” ujar Luky.
“secantik apa sih, sampai-sampai dia membuatmu tergila-gila padanya?” sambung Luky lagi.
“dia seorang wanita biasa, namun menarik.” Ucap Abrar.
Saat mereka sedang berbincang-bincang, seketika Luky menoleh kearah Balqis yang keluar dari kamarnya.
“siapa dia? Apa di teman kencan mu yang baru?” tanya Luky pada Abrar.
Alhasil, semua mata sahabat Abrar memandang Balqis.
“itu dia calon istriku.” Jawab Abrar yang membuat sahabtnya terkejut.
“pppffftt, wanita itu biasa saja, tapi asetnya yang luar biasa, hehehe.” sahut Luky melihat dada Balqis yang montok.
“aku hajar kau!” beraninya kau melihat dadanya. apa kau mau mati, hah? teriak Abrar kesal.
“bro, itu kan cewek yang kau bilang pernah nyelamatin nyawa mu?” ucap Devan.
“pelankan suaramu, ****!” sahut Abrar takut ketauan Balqis.
“kenapa?” tanya Devan heran dengan sikap Abrar.
“dia lupa padaku, padahal dia pernah menyelamatkan aku waktu itu. tapi saat ketemu lagi dia malah gak ingat sedikitpun padaku.” Jawab Abrar frustasi.
“hahaha, dia melupakanmu? Padahal dia menciummu kan waktu itu?” kata Devan lagi.
“ck, dia itu memang wanita yang menyebalkan!” umpat Abrar.
“kenapa kua mau menikahinya? apa kau udah gila?” tanya Aska.
“walaupun dia hanya wanita biasa, tapi dia cukup menarik.” Sahut Abrar.
“aku cuma mau balas budi karena dia nyelamatin nyawa ku waktu itu.” Sambung Abrar lagi.
Kemudian, Balqis turun dan pergi menuju ke dapur untuk mencari makanan. Luky tak tinggal diam, ia mencoba mengambil kesempatan untuk berkenalan dengan Balqis. Karena sifat playboynya kambuh saat melihat Balqis yang tak memperdulikan mereka cowok-cowok tampan dan kaya raya. Luky sangat lah penasaran. Ia pergi menuju dapur tanpa sepengetahuan Abrar dan yang lainnya.
“eeeheemm…” suara Luky yang mendekati Balqis.
“hai, gadis biasa! Perkenalkan, aku Luky sahabatnya Abrar.” sapa Luky sok ganteng.
“pergilah, aku gak tertarik padamu!” sahut Balqis ketus.
Balqis sama sekali tidak tertarik dengan dunianya Abrar. Dan ia menganggap sahabatnya Abrar mempunyai sifat yang sama dengan Abrar, sok ganteng dan sombong.
“kenapa kau segitu juteknya padaku? aku kan ingin berteman dengan mu.” Kata Luky pasang wajah sedih.
“ck!” Balqis berdecak kesal.
“jangan jutek dong!” ujar Luky sok akrab.
“apa kau akan memasak? Disini kan banyak pelayan, kau tinggal perintah aja.” Sambung Lucky yang terus berusaha mendekati Balqis.
“bukan urusan mu.” Sahut Balqis yang merasa terganggu dengan Luky.
“baiklah, aku hanya penasaran, kenapa kau mau nikah dengan Abrar?” tanya Luky kepo.
“mau tau, kenapa?” ujar Balqis.
“iya iya, hehehehe” ucap Luky penuh harap.
“jawabanya, RAHASIA! Hahahahaha.” Kata Balqis tertawa puas mengerjai Luky.
“ck, dasar kau!” umpat Lucky kesal.
“apa kau gak takut punya suami seperti Abrar? Dia itu psikopat loh…” ujar Luky berusaha menakuti Balqis.
“bodo!” tukas Balqis tak perduli.
Seketika ada hawa panas yang dirasakan Luky.
__ADS_1
“Luky, setan! Ngapain kau disini, hah?” teriak Abrar yang memperlihatkan wajahnya seperti akan melahap Luky.
“Abb….Abrar!” sahut Luky gemetar.
“apa kau mencoba ngegodain calon ibu dari anak-anak ku kah?” ujar Abrar berapi-api.
“hehehe, aku hanya mau kenalan doang.” Kata Luky yang nyawanya serasa di ujung tanduk.
Kemudian mata Abrar tertuju pada Balqis yang sedang memegang sayuran untuk di masak.
“kau sedang apa?” bentak Abrar kesal.
“aku lapar, ya mau masak lah! Gak liat apa yang aku pegang.” Teriak Balqis membalas kekesalan Abrar.
“apa kau itu terlalu bodoh, hah? Kau kan bisa suruh pelayan.” Ujar Abrar semakin kesal.
“mereka bukan pelayanku.” Gumam Balqis cemberut.
Semua sahabat Abrar melihat pertunjukan yang tak pernah mereka lihat selama mereka bersahabat dengan Abrar. Mereka tau beleum pernah ada yang berani melawan ucapan Abrar, namun Balqis mampu membuat Abrar kewalahan.
“kenapa kau selalu aja menyebalkan, hah?” teriak Abrar kesal pada Balqis.
“kau yang menyebalkan!” umpat Balqis berlari menuju kamarnya.
“dasar kau!” Ucap Abrar menahan geramnya.
Semua sahabatnya tertawa mendengar umpatan Balqis terhadapnya. Abrar semakin kesal karena ulah Balqis ia jadi di tertawakan oleh sahabat-sahabatnya.
“ternyata dia bukan wanita biasa, ya?” kata Romi yang tak henti-hentinya tertawa.
“pantas aja Abrar menyukainya, hehehe.” sahut Aska ngeledek.
"ternyata wanita itu cukup menghibur Abrar dengan umpatan-umpatanya kepada Abrar." sambung Aska lagi.
“tentu saja, bahkan Abrar sangat menyukai manisnya ciuman wanita itu.” Ujar Devan.
“apakah semanis permen loli?” tanya Luky yang tak henti-hentinya mengejek Abrar.
“bangsat kalian semua!” Umpat Abrar kesal kepada sahabat-sahabatnya itu.
Mendengar kemarahan Abrar, sahabat-sahabatnya itu lari berhamburan keluar rumah dan pergi meninggalkan Abrar yang sedang emosi. Kemudian Abrar mendatangi Balqis yang juga sedang kesal sekaligus kelaparan di kamarnya.
“mau apa lagi, kau?” tanya Balqis sewot.
“kau bilang kau lapar kan? Ayo turun, temani aku makan, aku juga lapar.” Jawab Abrar.
“gak sudi.” Ujar Balqis yang menyulut emosi Abrar.
“jadilah wanita yang nurut, kalau tidak akan ku perkosa kau disini.” Ancam Abrar setelah puas mencium paksa Balqis.
“cepat turun, temani aku makan.” Kata Abrar.
“mati aja kau sana!” teriak Balqis kesal sambil melemparkan bantal ke Abrar.
Awalnya, Balqis enggan turun karena kesal dengan sikap Abrar, namun ia sangat kelaparan. Mau tak mau ia turun dan duduk satu meja dengan Abrar.
“makanlah yang banyak, kau kelaparan, bukan?” ucap Abrar menatap Balqis yang makan dengan lahap.
Balqis tak mengubris omongan Abrar, bahkan menatap pun ia tak mau.
“apa aku terlihat menjijikkan hingga kau gak mau menatapku?” ucap Abrar mulai kesal.
“ya tuhan!” ucap Balqis menghela nafas.
“bisakah aku makan dengan tenang? Kenapa kau selalu aja menggangguku?” ujar Balqis yang juga ikut kesal.
“kau duluan yang mengganggu pikiranku, kenapa sekarang malah menyalahkanku?” Gumam Abrar dalam hati.
“BTW, kenapa sih kau milih aku jadi wanitamu?” tanya Balqis yang membuat Abrar tersedak.
“uhuk..uhukk..uhhukk…” Abrar tersedak makanan.
“ya..eelah, makan pelan-pelan kale!” ledek Balqis.
“jawab dong!” kata Balqis lagi dengan sewot.
“secara kau kan dari keluarga kaya, kau juga sedikit tampan, banyak wanita yang mengejarmu, kenapa harus aku sih?” tanya Balqis lagi.
“aku ini tampan, Kenapa kau bilang sedikit? Teriak Abrar dongkol.
“dasar kekanak-kanakan.” Ucap Balqis berdecak sinis.
“apa kau tidak suka denganku?” tanya Abrar sinis.
“tentu saja, astaga! kau itu sangatlah menyebalkan dan kau juga manusia yang suka memaksa orang lain!” Jawab Balqis dengan gamblang.
“kau kasar, sombong, dan kau juga mau dengan seenakmu sendiri.” Ucapnya lagi.
Semua perkataan Balqis tentang Abrar seakan menusuk keseluruh tubuh Abrar.
__ADS_1
“udah puas mengumpatnya?” tanya Abrar menahan kesalnya.
“aku mau pulang.” Kata Balqis.
“ini akan menjadi rumahmu setelah kita menikah, tinggalah disini mulai dari sekarang.” Sahut Abrar pusing menghadapi Balqis.
“pernikahannya masih lama.” Ujar Balqis.
"kata siapa pernikahan kita masih lama? kita akan menikah minggu depan." ucap Abrar.
"aku gak mau menikah denganmu secepat itu, berikan aku waktu..." sahut Balqis menolak.
“aku bilang minggu depan kita harus udah menikah.” Ucap Abrar.
“perjanjianku dengan kakek, bukan denganmu.” Sahut Balqis.
“aku bilang minggu depan ya minggu depan!” Teriak Abrar sambil menggebrak meja.
“dasar psikopat!” Lagi-lagi umpatan Balqis padanya.
“jangan membantahku, atau aku akan menyengsarakan hidupmu.” Ancam Abrar yang kehabisan akal menghadapi Balqis.
“ck, apa kau hanya bisa mengancamku saja?aku sangat menyesal pernah bertemu denganmu.” Ujar Balqis pada Abrar.
"oohh, kau menyesal telah beretemu denganku! kalau begitu kau akan sangat menyesal jika aku akan memperkosamu di ruang makan ini." teriak Abrar kesal pada Balqis.
"coba saja kalau kau berani, akan aku tusuk kau dengan garpu ini." teriak Balqis.
Tanpa memperdulikan Balqis yang mengancamnya dengan garpu, Abrar terus melangkah mendekati Balqis. namun Balqis berusaha menghindar dari kejaran Abrar. akhirnya mereka berkeliling meja makan hanya untuk kejar-kejaran saja. pelayan yang berada di sana, tertawa geli melihat aksi Abrar dan Balqis yang bagaikan anak-anak sedang bertengkar.
"lihatlah mereka berdua, sangat serasi ya? aksi mereka sangat beda dengan pasangan yang lainnya." kata seorang pelayan kepada pelayan lainnya.
"hahahaha, iya! semenjak kedatangan nona Balqis, tuan Abrar lebih sering berada dirumah dan selalu bersitegang denganya, sampai-sampai tuan Abrar kewalahan menghadapi nona Balqis yang sering membangkang padanya." sahut pelayan itu.
Dua hari Abrar menahan Balqis dirumahnya. Selama itu pula mereka selalu bersitegang. Apalagi kalau membahas tentang pernikahan. Abrar maunya di adakan secara mewah tapi tertutup, namun Balqis hanya mau sekedar pernikahan di catatan sipil saja. Lagi dan lagi memancing kesabaran Abrar dan mengundang kekesalan Balqis yang terus saja di paksa oleh Abrar. disisi ruang keluarga, Balqis duduk membolak balikkan majalah yang ada di tangannya.
"hhhaaiiihh, aku sangat bosan disini." ucap Balqis menghela nafas panjang.
Abrar hanya menatap Balqis yang duduk di sofa.
"Abrar, kau sudah mengurungku selama dua hari disini. aku bisa mati kebosanan jika terus disini." kata Balqis.
"baiklah, kalau begitu ikut aku jalan-jalan ke mall saja." kata Abrar.
"aku gak mau, aku mau kembali ke panti asuhan.." sahut Balqis menolak ajakan Abrar.
"sudah aku bilang rumahmu disini sekarang jangan membantahku lagi" ucap Abrar sambil memijat kepalanya karena frustasi.
"setelah menikah nanti, aku akan terus berada disini! jadi sekarang biarkan aku tinggal di panti asuhan saja, aku sangat merindukan anak-anak di panti." kata Balqis.
"baiklah, kalau begitu kita buat perjanjian saja..." kata Abrar.
"perjanjian apa lagi sih?" tanya Balqis sewot.
"aku akan mengizinkanmu kembali ke panti asuhan sampai hari pernikahan kita, tapi kau harus setuju dengan keinginanku untuk menikahimu minggu depan." kata Abrar.
"mau minggu depan, mau bulan depan, atau mau tahun depan, tetap saja aku akan menikah dengan pria ini..." ucap Balqis dalam hatinya.
"terserah kau saja!" kata Balqis kepada Abrar.
"hehehe, aku menang lagi!" gumam Abrar dalam hatinya senang.
Akhirnya Balqis di bolehkan kembali ke panti asuhan dengan perjanjian dia harus menyetujui pernikahan mereka akan diadakan minggu depan. Balqis hanya pasrah menyetujuinya agar bu Arsih tidak khawatir dengan dirinya yang tak pulang hingga dua hari. Sesampainya di panti asuhan dengan di antarkan oleh Abrar, Balqis langsung menemui bu Arsih dan meminta maaf karena dirinya tidak pulang selama dua hari.
“bu, maafkan aku..” ucap Balqis.
“sudahlah, yang penting kamu sekarang sudah kembali kesini.” Kata bu Arsih.
“Balqis, maafkan kami, nak.! Karena panti ini kamu jadi berkorban untuk menikah dengan pria yang gak kamu cintai.” Sambung bu Arsih lagi sambil menangis.
“ibu, ku mohon, jangan menangis! aku bahagia bisa membantu panti ini.” Kata Balqis.
“terima kasih, nak, Semoga pernikahanmu bahagia.” Ucap bu Arsih memeluk Balqis.
Disisi lain, Abrar pergi mengunjungi rumah kakeknya. Ia ingin mengatakan bahwa dia akan menikah minggu depan dengan Balqis.
“kek, aku akan menikahi Balqis minggu depan.” Ucapnya.
“apa?” sahut kakek terkejut.
“aku akan menikahi Balqis minggu depan!” sambung Abrar mengeraskan suaranya.
“ck, dasar bocah tengik kau!” umpat kakek kepada Abrar.
“mengapa mendiang ibumu bisa melahirkan anak yang gak sabaran sepertimu ini?” ujar kakek lagi.
“apa salahnya sih, kan kakek sendiri yang pengen cepat punya cicit.?” Kata Abrar.
"oohh iya ya...kau benar juga..semakin cepat kalian menikah maka semakin cepat aku akan memiliki cicit." sahut Kakek senang.
__ADS_1
“ya sudah, demi keinginanku punya cicit, akan aku persiapkan semuanya.” Kata kakek.