
"Boleh aku minta air putihnya?" Tanya Oliv pada Zen.
Lelaki itu menoleh ke arah Oliv. Gadis itu pun membuang pandangnya karena di tatap putra bungsu Ahmed begitu lama.
"Silahkan... Ambil saja." Ucap Zen seraya menoleh ke arah sebuah dispenser yang berada di sudut ruangan bengkel.
Oliv berjalan ke arah dispenser tersebut. Zen pun mengubah posis duduknya. Anak matanya masih mencuri pandang pada gadis yang mengganggu pikiran serta suasana hatinya. Bibirnya bahkan menyunggingkan senyum menatap Oliv. Ia lihat gadis berkerudung itu tampak menuangkan air kedalam cangkir plastik yang berada di sisi kanan dispenser.
Sadar jika Oliv sedang puasa. Zen pun bergegas pergi ke arah depan ruko, ia melihat dari kejauhan ada gerobak siomay yang berteduh di seberang.
"Bang! Siomay nya dua!" Teriak Zen.
Kode jari Zen yang menunjukkan angka dua, membuat lelaki yang berkalung handuk putih pun bergegas membuat menu yang di pesan. Tak lama pesanan nya pun datang. Abang siomay pun berpayung mantel dengan menyeberangi jalan untuk mengantar pesanan Zen. Zen pun berbisik, pada si Abang siomay.
"Hutang dulu ya bang, besok gue bayar." Ucapnya setengah berbisik.
Namun penjual siomay itu melirik ke arah Oliv. Ia yang sering jadi langganan Zen, maka ia hanya berbisik menenangkan hati pelanggan nya tersebut.
"Beres... Semoga hujan tambah deres biar tambah lama pedekate nye." Goda si penjual siomay.
Zen pun memukul pelan lengan si abang siomay. Ia menyerahkan plastik ke arah Oliv.
"Silahkan makan, aku selesain motornya dulu ya." Ucap Zen.
Ia kembali memperbaiki kendaraan Olivia. Tiba-tiba salah seorang teman yang juga bersama-sama di bengkel itu keluar dari ruangan kecil. Olivia kaget dan berteriak.
"Astaghfirullah...." Uca Olivia.
Zen pun menoleh cepat ke arah Olivia. Reyhan, teman satu bengkel yang juga anak didik Pak Leo baru saja bangun tidur dari ruangan yang biasa digunakan untuk istirahat.
Olivia yang baru saja membuka siomaynya, harus terkejut dan menjatuhkan piring yang berisi siomay.
"Eh... maaf... saya tidak tahu ada orang...." Ucap Reyhan.
__ADS_1
Teman satu bengkel Zen itu salah tingkah. Ia bahkan seperti melihat setan. Ia pun mendekati Zen.
"Pacar Lo?" Tanya Reyhan pada Zen.
Zen mendekatkan wajahnya ke arah Reyhan.
"Gebetan... napa kaget begitu? kayak abis ketemu setan aja Lo." Ucap Zen kesal. Ia bisa melihat Reyhan begitu kaget bertemu Olivia.
"Ya kaget lah tiba-tiba ada cewek udah gelap gini." Ucap Reyhan kesal karena Zen tak memperdulikan dirinya.
Olivia tampak membereskan apa yang baru saja ia tumpahkan. Ia meletakkan tasnya di sebuah bangku panjang. Setelah itu ia pun membagi dua bungkus siomay ke dalam tiga piring. Ia membawa piring itu ke arah Zen dan Reyhan.
"Ini bang, silahkan makan." Setelah meletakkan siomay milik Zen dan Reyhan, Olivia berjalan ke ara rolling door. Ia duduk di sebuah bangku kayu seraya menatap hujan. Ia menikmati siomay nya tanpa menghadap dua lelaki tampan yang mengamati dirinya dari arah belakang.
"Yakin Lo kalau dia mau sama Lo?" Bisik Reyhan.
"Maksud Lo?" Tatap Zen sinis pada Reyhan.
Zen merasa tersindir oleh ucapan Reyhan. Ia mengakui jika ia dari segi penampilan pun tak ada alim alimnya. Apalagi dari sisi akhlak.
'B r e n g s e k, bener juga ya apa kata Reyhan. Kalau pun gue pedekate, gue tembak ni cewek. Apa iya gue diterima?' Ucap Zen dalam hatinya seraya mengunyah siomay yang tak terlalu pedas.
Namun Zen justru muncul ide brilian, ia pun tersenyum saat menghabiskan satu porsi siomay miliknya.
'Gue bakal ulur waktu biar bisa deket dulu ma Oliv.' Batin Zen.
Ia pun sengaja menutup kran karburator motor milik Olivia.
'Maaf ya Olivia... Gue cuma pengen kenalan... tapi gue bingung caranya.' kembali putra bungsu ibu Nuril itu bermonolog. Kini ia tersenyum bahagia. Ia punya cara untuk mengenal Olivia.
"Mbak, sepertinya ini motornya belum bisa diperbaiki. Di tinggal dulu ya. Besok baru bisa diambil." Ucap Zen seraya mengelap tangannya dengan lap yang berwarna hitam.
"Wah... parah ya rusaknya?" Tanya Olivia.
__ADS_1
Zen pun memutar kunci ke arah kanan. Ia starter dan ia engkol motor milik Olivia. Namun motor itu tak kunjung menyala.
"Malam ini gue cari dulu apa yang rusak Mbak." Ucap Zen.
"Ya udah, saya tinggal dulu aja." Ucap Olivia. Ia pun sibuk menyentuh ponselnya.
"Kalau mau pulang biar Gue antar, kebetulan gue juga mau pulang?" Tawar Zen pada Olivia.
"Tidak.Tidak. tidak perlu... saya pesan ojol aja." Tolak Olivia sopan.
"Ga takut mbak? Malem-malem naik ojol?" Tanya Zen.
Gelengan kecil dari Olivia menandakan ia lebih memilih naik ojol daripada diantar Zen. Namun kembali di tolak oleh Olivia membuat jiwa muda Zen semakin penasaran pada sosok gadis yang bermata bundar itu.
"Ya sudah, Gue minta nomor ponsel Mbak nya. Ntar kalau besok udah hidup motornya. Gue telpon." Ucap Zen.
Olivia justru khawatir Zen punya niat buruk karena terus saja mendekati dirinya. Ia bukan gadis bodoh. Selama ini banyak teman kampusnya yang pedekate dengan banyak modus. Dan modus yang Zen gunakan sudah sangat Olivia hafal.
"Tidak terimakasih..." ucap Olivia seraya mengangguk dan berjalan ke arah Ojol yang ia pesan.
"Jinak-jinak merpati.... Ah... semakin penasaran..." Gumam Zen.
"Cie... yang lagi pedekate.... Cewek kayak dia tuh ga pakek cara Lo barusan kalau mau pedekate... " Goda Reyhan.
Zen pun masuk ke dalam bengkel. Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Satu buku yang terjatuh di bawah kursi kayu tepat di sisi dispenser membuat kedua bola mata Zen berbinar.
"Olivia's Book" Gumam Zen membaca tulisan yang tertera pada sebuah buku yang berjudul 'Ciri-ciri Perempuan Sholehah'.
Tiba-tiba satu tepukan di pundak Zen membuat Zen termenung.
"Kalau bukunya aja gitu, dia belajar buat Sholehah.... lah sudah pasti dia ngarep jodohnya juga Sholeh. Ibarat kata Zen, Orang kalau pengen mancing ikan tuna, ga mungkin mancing di empang... Tetep di laut lepas.... Gitu juga jodoh.... Sorry, daripada Lo berharap lebih. Mending lo jangan kibarin layar, ombak nya bakal besar Bro.... kalau bahasanya ni, kagak sekufu." Nasihat Reyhan pada Zen.
Ia pernah merasakan cinta bertepuk sebelah tangan, maka itu ia pun memberikan nasihat pada Zen.
__ADS_1