Love Of Bad Boy

Love Of Bad Boy
Bab 17 Harapan baru


__ADS_3

Setelah semalaman tak nyenyak sebab merasa tersindir dengan kalimat Farhan, Zen termenung saat matanya baru saja terbuka. Dia bangkit, duduk di atas tempat tidur masih menekuri diri.


Setelah mengenal sosok Farhan beberapa jam kemarin, Zen menilai bahwa lelaki itu memang menunjukkan ketertarikan pada Oliv. Pun demikian dengan bahasa tubuh sang kawan baru, Zen merasakan bahwa Farhan juga tengah mencari tahu tentang status kedekatan dirinya dan sang gadis.


Senyum Omar Zen muncul, dia merasa sedang bertarung dengan lawan yang penuh dengan kesempurnaan akan tetapi menggunakan cara manis, tak seperti modus kebanyakan para pria jika ingin menggaet seorang wanita. Zen merasa, dirinya menunjukkan sikap gentleman.


"Oke, Zen, pantaskan diri. Belajar sambil bekerja, ikhtiar saja, urusan hasil gimana Tuhan," gumam Zen, kala membuka pintu kos guna menuju bengkelnya. Pagi ini dia akan ke kampus setelah pulang dari bengkel milik kawan pak Leo. Montir senior di sana berjanji akan mengajarinya tentang cara membersihkan karburator motor matic jika tersumbat.


Kemarin, Zen juga baru mengetahui jika busi bisa meledak di dalam sehingga mengakibatkan motor kehilangan tenaga dan montir harus membongkar bagian kap depan mesin. Setelah tiba di bengkel, dia sudah dipanggil oleh montir untuk membantunya.


"Mas Zen, kalau bongkar kap bagian depan kudu hati-hati. Semua skrup di letakkan yang rapi. Sebelum kerja, komponennya disemprot pakai kompresor dulu biar gak debu dan mudah untuk memutar kenop atau lainnya."


"Oke," jawab Zen, mulai membuka banyak baut saat membongkar kap mesin.


Omar Zen melihat bagian kepala busi itu melekat di selongsong tempatnya sehingga semua yang terkoneksi harus dibongkar sampai shockbreaker ban belakang. Dia ditugaskan menyelesaikan hal tersebut sekaligus mengenali bunyi suara kerusakan motor sebelum membongkarnya.


Satu jam kemudian, Zen berhasil memasang kembali semua sekrup dan komponen lain. Kini motor pelanggan pak Syam telah selesai di perbaiki.


"Nah, cek suaranya, apakah stabil, atau masih ada kerusakan. Kalau tarikan gasnya lancar hingga hampir poll berarti kerusakannya sudah beres," ucap sang senior.


"Oh, iya ya, Bang. Halus dan gak ndut-ndutan macam tadi pas narik gas," sahut Zen, ikut mencoba tarikan tuas gas.


Zen manggut-manggut. Dia banyak dapat pelajaran hari ini meski baju seragamnya penuh noda oli dan lainnya. Semua yang Zen lakukan selama magang di tempat ini, tak luput dari perhatian Syam. Betul kata pak Leo, Zen anak yang gigih meski kadang selengean dan terkesan cuek tapi dia justru memperhatikan dengan caranya.

__ADS_1


Syam merasa simpati. Dia bagai melihat gambaran dirinya saat seumuran Zen. Lapas adalah tempat terkejam jika tidak dapat menjaga diri. Jangan mencari masalah dengan napi lain kalau ingin hidup menjalani sisa hukuman dalam damai.


Mempelajari sesuatu skill yang di gelar di dalam sana rasanya wajib ditekuni bilamana ingin merubah citra diri ketika kembali ke masyarakat. Pemilik bengkel lalu mengulas senyum. Dia memanggil Zen agar masuk ke dalam sekejap.


"Zen, tolong angkat ban yang batal di beli tadi ke tempatnya. Selain kerapian, kamu juga harus jeli terhadap barang yang keluar. Mintalah membayar dahulu semua sparepart sebelum pelanggan membongkar motornya," ucap Syam, mengingatkan Zen tentang ketelitian.


"Baik, Pak Syam," jawab Zen, melakukan apa yang bosnya minta.


Saat Zen sudah di dalam, Syam mengajaknya duduk sejenak merapikan baut yang belum terhitung untuk masuk stock bengkel.


"Zen, kata pak Leo, kamu buka bengkel dan mulai nabung ke yayasan buat beli alat bengkel ya? ... mau gak, aku bagi info toko sparepart yang murah dan kumplit. Jadi kamu pelan-pelan bisa melengkapi semua isi bengkel. Gak perlu beli banyak stock, asal ada aja. Sediakan komponen yang paling banyak ditemui macam busi, ******, lampu, ban dalam, gel tubeles, alat tambal tubeles, dan lainnya," ucap Syam, menyarankan pada Zen tempat kulakan.


Binar mata Omar Zen seketika cerah, dia mengangguk antusias. Dalam hatinya berdoa, apakah ini kemudahan yang Allah tunjukkan padanya atau justru ujian.


"Ini jawaban atas kegigihan dan doamu sekaligus ujian kesabaran, apakah tetap ada di jalan lurus tapi kondisi pas-pasan, capek, kotor, menahan lapar, ngirit atau goyah kembali saat semua tak kunjung terang," ucap Syam dengan senyum mengembang. Zen tak dapat menyembunyikan rasa malu sekaligus bahagia. Dia tak perlu susah payah menjelaskan perasaan juga keinginannya, sebab pak Syam mengerti isi hati dan otak antar sesama mantan napi.


Secarik kertas bertuliskan alamat toko juga nomer ponsel admin telah masuk ke kantong baju Zen. Untuk pelanggan baru, wajib mendaftarkan diri ke nomer admin agar dimasukkan dalam grup, tempat admin menshare pesan siaran atau info stock mereka.


Tanpa sadar, waktu bergulir cepat. Menjelang ashar, Zen pamit pulang sebab akan menuju kampus dahulu. Syam mengizinkan anak buah titipan Leo itu pergi.


Tepat pukul empat, Zen telah rapi dan kini sedang menunggu dosen pembimbing tiba. Tak lama, wanita paruh baya itu masuk ke ruangan dan langsung meminta berkas revisi yang harus Zen serahkan hari ini.


Netra dibalik kacamata itu memindai semua tulisan beberapa bab milik Zen. Bola matanya bergerak cepat, sesekali dahinya mengernyit dan tak jarang melirik ke arah Zen.

__ADS_1


"Ini lebih rapi, Zen. Kamu juga sudah melengkapi narasi dengan referensi juga pengembangan lainnya. Pertahankan seperti ini, jadi kamu akan lebih bisa menggiring panelis nanti saat sidang uji," ujar sang dosen pembimbing.


Zen hanya diam mengangguk, sejatinya dia belum sepenuhnya mempelajari. Itu hasil pemeriksaan yang Farhan lakukan, Zen hanya mengetik ulang.


Tak lama, Zen keluar dari ruang dosen dengan membawa bab lain yang harus di revisi sedikit. Setelah ini selesai semua, dia akan menghadapi sidang yudisium sebelum wisuda.


Saat mencapai parkiran, Zen menghela nafas, dia menengadahkan kepalanya ke atas memandang langit.


"Ya Allah, mudahkan jalanku agar papa bisa melihat usahaku selama ini. Papa, maafkan aku yang selalu menentang. Maksud hati tak melawan tapi entah mengapa bawaannya pengen nyembur aja kalau berhadapan dengan papa. Sungguh, godaan syaitan yang terkutuk," gumam Zen.


Setitik air matanya menetes, dia melow, semua ucapan Ahmed berdengung di telinga. Zen tahu, ayahnya terlampau sayang meski caranya terkesan kasar dan menyakitkan hati. Omar Zen, menghapus cepat butir bening yang hampir luruh ke pipi. Dia masih tidak mengira jika jalan hidupnya perlahan berubah dan kini sedikit demi sedikit mampu menopang kebutuhan di atas kaki sendiri.


"Papa!" lirih Zen, menghembuskan nafas berat nan panjang.


Perlahan, kaki jenjang itu melangkah keluar gerbang kampus yang akan tertutup. Dia berjalan tegap menuju bengkel miliknya, tak jauh dari sana. Di kejauhan, Zen melihat Reyhan kedatangan beberapa motor di teras bengkelnya. Zen pun mempercepat langkah bahkan setengah berlari, khawatir Reyhan keteteran menangani pelanggan. Dia tak mau lebih lama menghambat waktu para pemotor yang singgah di bengkel guna memperbaiki kendaraan mereka.


Ada keluarga, kawan atau bahkan hal penting lainnya yang menunggu dan di tuju, ketika kita melakukan sebuah perjalanan. Namun, jika di tengah jalan seperti ini, otomatis semua akan terhambat dan ada hati yang akan kecewa. Zen banyak belajar tentang ini dari ekspresi wajah para pelanggannya. Dia banyak mendengar ucapan maaf, tangis, marah bahkan rasa syukur akibat peristiwa di luar rencana.


"Tukang bengkel juga pahlawan waktu, membantu merajut jeda masa yang terhenti saat semua di luar kendali manusia," batin Zen.


.


.

__ADS_1


_____________________


__ADS_2