
Sepeninggal suaminya, Nuril meladeni semua kebutuhan Zen. Mulai makan hingga mengganti baju. Meski putranya menolak tapi Nuril tetap bersikukuh. Dia rindu, sangat rindu bercengkrama dengan si bungsu.
Awalnya Zen merasa bagai anak abege yang manja, tapi lambat laun, dia menikmati perlakuan manis sang ibu. Zen merasa terbantu karena Nuril menemani sepanjang hari, luka di kepala masih kerap berdenyut jika dia banyak melakukan gerakan tiba-tiba.
Nuril semata hanya ingin Zen ada saat syukuran pernikahan perak mereka, lusa nanti. Dan dengan cara inilah, dia berusaha meluluhkan hati Zen. Nuril tahu, anggukan Zen bersedia pulang saat pertengkaran dengan Ahmed, masih setengah hati.
Upayanya berhasil, hari ini Zen di perbolehkan pulang ke rumah sebab luka jahitan sudah mulai mengering. Nuril pun bersukacita.
Menjelang siang, saat keduanya baru tiba di kediaman Ahmed.
"Hoy, Zen. Demen amat adu nyawa, jadi anak baik buat nyenengin Mama, kenapa susah, sih?" tegur Zain, dengan berdiri bersedekap, bersandar pada tiang anak tangga, saat melihat adiknya pulang.
"Zain! harusnya kamu happy dan sambut adikmu pulang, bukan mencemooh begitu," sergah Nuril, mendelik sinis ke arah putra sulungnya.
Zen hanya cengengesan seperti biasa. Dia sudah menebalkan telinga dengan semua kalimat sindiran yang kerap berseliweran di rumah ini dan di tujukan padanya. Tiada guna melawan reputasi istimewa Zain di mata Ahmed, malah makin memperburuk citranya saja sehingga Zen lebih memilih bersikap santai.
"Hehe ... bukan susah, Kak, tapi anu, darah muda kalau kata Bang Haji," jawab Zen sembari menyunggingkan senyum ke arah Zain, sementara sang kakak hanya menanggapi dengan gelengan kepala.
Saat akan menuju kamarnya di lantai dua, Zen mendapati Ahmed sedang duduk di sofa ruang keluarga sembari membaca majalah bisnis. Bagaimanapun perlakuan Ahmed padanya, beliau tetaplah orang tuanya. Zen memilih menyambangi Ahmed lebih dulu sebelum naik.
"Pa!" sapa Zen, menjulurkan tangan untuk salim pada Ahmed.
Lelaki paruh baya itu bergeming, tak memedulikan uluran tangan putranya. Zen tak surut langkah, dia meraih telapak tangan Ahmed secara cepat lalu berlari menaiki tangga.
Ahmed melihat sikap urakan Zen tak jua memudar, dia menggelengkan kepala. "Bukannya sabar, nunggu, malah maksa main serobot. Gak ada sopan santunnya sama sekali," gerutu Ahmed, meneruskan bacaannya.
"Jangan salahin Zen melulu, dia sudah nunggu tadi tapi kamu yang nyuekin dia," ujar Nuril, mendekat ke tempat dimana Ahmed duduk sambil membawa baki berisi kopi dan cemilan ringan.
__ADS_1
"Terus aja terus, bela terus," sindir Ahmed melirik ke arah Nuril.
Nuril menghela nafas, dia sejenak menatap suaminya.
"Jaga sikap ya, Pa, nanti malam. Jangan sampai membuat kolega kamu curiga dengan konflik keluarga kita," pesan Nuril, sambil lalu kembali sibuk memantau perkembangan dekorasi pesta untuk syukuran malam ini.
Setelah Maghrib, satu per satu tamu mulai berdatangan. Zain telah rapi bersama kedua orangtuanya berdiri menyambut para kolega di ujung hamparan karpet merah, di depan sana. Zen, lebih memilih berkeliling melihat semua tatanan meja prasmanan yang menyajikan berbagai menu kesukaan sang mama.
Konsep garden party yang di usung keluarga Ahmed, terkesan hangat dan romantis berhias untaian bunga menjuntai di sana sini. Zen melukiskan senyum, tiba-tiba pikirannya tertuju pada sosok Olivia. Dekorasi pernikahannya nanti akan di gelar seperti ini, hanya untuk kerabat dekat saja.
Tak lama, suara MC terdengar. Acara dibuka dengan pembacaan doa juga harapan keluarga sekaligus memperkenalkan kedua putra mereka.
Nuril mencari sosok Zen di antara kerumunan, dia mulai gelisah kala Ahmed meminta Zain memberikan sambutan dan doa untuk mereka.
Zen tahu bahwa Nuril mencarinya, dia tak ingin mengecewakan sang Mama. Diam-diam, Zen merangkai banyak kalimat indah untuk ibu perinya itu dan memberikannya pada pembawa acara.
"Anakmu yang membuat malu," bisik Ahmed pada Nuril.
"Diamlah, Pa, dia gak mungkin mengecewakan aku," balas Nuril lirih seraya tersenyum ke arah Ahmed.
Pembaca acara, perlahan membacakan semua isi pesan dari Zen. "Mas Zen, meminta saya untuk membacakan kalimat indah sebab dia cemas dandanannya akan luntur," seloroh sang MC mengundang kekehan hadirin.
"Aku sangat beruntung memiliki orang tua seperti kalian. Membesarkan tidaklah mudah, dan aku sangat berterima kasih atas semua cinta dan kesabaran tanpa syarat."
"Tidak ada bahasa yang bisa mengungkapkan kekuatan, keindahan dan cinta seorang ibu untuk anak-anaknya. Mama memegang tangan kami sebentar, tapi hati selamanya terpaut. Jika aku tahu apa arti cinta, itu karenamu, Ma."
"Terimakasih Tuhan telah menitipkan ku pada malaikatmu yang kusebut, Mama. Aku tahu tidak cukup sering mengatakannya tapi aku mencintai kalian ... dan ingin kalian tahu bahwa betapa berartinya kalian bagiku. Happy anniversary, Mom, Dad, aku sayang kalian."
__ADS_1
Tepat saat kalimat akhir selesai di bacakan, lampu sorot mengarah ke satu titik. Zen berdiri di depan patung es berbentuk sepasang merpati. Dia memegang balon love berwarna merah marun. Bibirnya melengkung senyuman menawan seraya melempar gerakan ki-ss jauh untuk sang mama.
Riuh sorak hadirin atas aksi manis Zen, membuat Nuril terharu. Dia meneteskan air matanya dan meminta Zen mendekat saat rentangan tangan Nuril terbuka.
Tepuk tangan tamu menyertai langkah Zen, dia naik ke mini podium dan memeluk semua keluarganya. Entah hanya sandiwara atau apapun itu, Zen merasa bahagia.
Setelah aksi manis putra bungsu Ahmed, acara pun dilanjutkan kembali. Zen memilih menyingkir sebab takut aibnya terbongkar dan membuat malu sang mama.
Saat Zen tengah menikmati sajian di private table, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia meraih benda pipih itu dari saku dalam jas, melihat sebuah na terpampang di sana.
"Halo, Rey kenapa?" tanya Zen pada sang sahabat yang kerap membantu di bengkel.
"Zen, ada cewek kemarin siapa itu namanya yang kamu jajanin siomay hasil utang," kekeh Reyhan menyindir Zen.
"Beuh, cari bonyok, lo. Oliv? kenapa dia?" balas Zen, seakan melupakan sesuatu.
"Lah dia lupa. Kan motor Oliv masih di sini, gimana sih, lo. Dia minta kuncinya. Gue cari gak ada, lo yang nyimpen kan?" sambung Reyhan lagi, sudah tujuh kali puteran dia mencari kunci tapi tak kunjung ketemu.
"Jih, iya, ada sama gue. Eh, kan gue di rumah sekarang, gimana ya? lo bisa ke sini gak?" desak Zen, bingung harus bagaimana.
"Kagak bisa. Oliv aja langsung ke situ eh besok dah. Bye!" ucap Reyhan menutup panggilan tanpa menunggu Zen membalas.
"Rey! Rey! lah bocah cari perkara ... duh, gimana ini, jangan sampai dia tahu gue di sini. Bisa berabe," keluh Zen, menggerutu. Kepalanya mendadak pusing memikirkan cara agar identitas aslinya sementara tidak diketahui.
.
.
__ADS_1
_____________________