
Beberapa bulan berlalu.
Tidak ada yang berubah signifikan dari aktivitas Omar Zen. Dia hanya terlihat lebih rapi, gagah juga sedikit mempunyai tampang religius. Setiap Jumat pagi, dia menyempatkan diri untuk mengaji atau mengajak bersholawat dengan semua staff sebelum membuka showroom. Zen juga meminta agar para karyawan menerapkan sistem 3S yaitu senyum salam dan sapa pada setiap calon pembeli yang datang.
Zen, bahkan meminta para pekerja wanita tidak berpakaian ketat atau seksi, dan mengganti seragam yang semula rok dan kaos menjadi celana panjang dengan kemeja berlengan tiga perempat sehingga lebih sopan.
"Jemput rezeki itu kewajiban tapi perhatikan juga cara ikhtiarnya. Lempeng, sopan, gak begajulan ... kalian tentu punya keluarga, berilah hak mereka dengan sesuatu yang baik. Mulai dari niat, proses saat menjemputnya lalu menyerahkan untuk diolah dan kemudian dimakan," kata Zen, panjang lebar.
Seketika ucapan panjang barusan mengingatkan dirinya pada Omar Zen yang dulu. Beberapa bulan lalu sebelum ditolong Olivia.
"Siap, Pak Zen. Bismillahirrahmanirrahim." Beberapa staf yang ikut briefing pagi mngamini ucapan sang manager.
Zen mengulas senyum, dirinya juga bukan seorang alim, tapi beberapa buku kerohanian yang dia baca menjelaskan bahwa ikhtiar juga memiliki cara, mulai dari tahapan paling rendah misalnya niat mencari uang hanya untuk makan hingga level tertinggi, sebagai bekal menuju pulang dengan membelanjakan di jalan kebaikan. Tentu hasilnya akan lain.
Takkan pernah rugi jika mengajak Allah berbisnis sebab matematika Allah diluar nalar mahlukNya.
Zen membuktikan itu, ketika dia mencoba bersedekah rutin, kemudahan atau justru ketenangan dan rasa bahagia hadir, kala melihat wajah yang membutuhkan bantuan, tersenyum padanya seraya melantunkan doa, itulah salah satu balasan Allah. Kontan, bagai ijab Qabul, sah!
Zen hanya berdoa semoga Rahmat Allah tetap mengucur deras membasahi qalbunya. Dia kini menatap tampilan showroom dari ruangannya.
Promosi yang Zen luncurkan, untuk pembelian sepeda motor secara tunai akan mendapat hampers perlengkapan ibadah dengan kualitas terbaik, membuat minat calon pembeli melonjak.
Omset bulan lalu pun naik 30%. Axel menanyakan tentang budget tersebut tapi Zen mantap menjawab bahwa semua itu dia sisihkan dari gaji yang si pemilik beri.
Kini, Zen tengah memandangi kalender. Sedikit gelisah membayangi benak. Masa yudisium akan berakhir tanda bahwa perjumpaan dengan Olivia pun akan kian berkurang.
Dia teringat percakapan dengan gadis pujaan beberapa pekan lalu ketika mereka makan siang di cafetaria kampus.
"Semoga wisuda bareng ya, Liv," ujar Zen membuka obrolan dengan Olivia. Mereka duduk satu meja panjang meski tidak berhadapan. Zen si ujung kiri dan Oliv di ujung kanan.
"Aamiin. Semoga tahun ini akhir dari keabadian ya, Zen," balas Olivia seraya menyeruput teh manis yang dia pesan.
Zen terkekeh, ternyata rumor mahasiswa abadi yang di sandangnya terdengar hingga ke telinga Olivia. "Aamiin. Kamu mau lanjut kemana, Liv?" sambungnya.
__ADS_1
Olivia tak serta merta menjawab, dia memilih menyelesaikan kunyahan makanannya dahulu meski sesekali melirik Zen.
"Ehm, Ausie. Sydney, aku ikut test jalur prestasi dari dosenku pekan lalu. Gak tahu juga sih lulus atau enggaknya. Iseng aja sebab incaranku ke Singapura dan sedang melengkapi persyaratan untuk dapat beasiswa," tutur Olivia mantap, sorot matanya pun ikut berbinar, memandang ke depan seakan dia telah melihat gambaran masa depannya.
Degh.
'Bakalan jauh terpisah jarak dong, ya,' batin Zen. Dia menunduk malu. Wanita di hadapan sangat jelas menata masa depannya sementara dirinya masih berkutat dengan kepantasan martabat agar diakui Ahmed.
"Kamu, melanjutkan kemana?" tanya Olivia, sekilas melihat ke arah Zen.
Omar Zen mengangkat wajahnya. Dia hanya tersenyum samar, seakan diri paling cool sejagat cafetaria saat itu.
"Ke hatimu, eh," kekehnya konyol.
"Belum tahu, sebab amanah Axel kan belum tuntas, aku terikat dengan itu. Kalaupun melanjutkan studi ya paling di sini sih. Cuma, sekarang, aku sedang menikmati hidupku, Liv," kata Zen, sejenak melihat gadisnya lalu memilih melanjutkan makan lagi.
"Apapun ya Zen, nikmati apa yang masih bisa di nikmati sebab itu adalah karunia. Orang kaya belum tentu menikmati hartanya, bisa jadi malah was-was. Yang penting ingat lima perkara sebelum lima perkara," sahut Olivia.
Asik melamun, membuat Zen tidak mendengar bahwa pintu ruangannya di dorong seseorang.
"Pak Zen. Pak. Pak Zen," sebut Nuni, sekretaris Axel, mengibaskan telapak tangan di depan wajahnya.
"Astaghfirullah!" Zen terkejut, sadar dari lamunan perbincangan dengan Olivia.
"Ya, Mbak Nuni, ada apa?" tanya Zen padanya.
Nuni menyerahkan berkas untuk ditandatangani Zen. Hari itu, sekretarisnya mengabarkan bahwa di depan aula showroom ada pembeli yang ingin memborong lima motor matic dengan cc lumayan tinggi untuk hadiah sebuah acara.
Zen pun melangkah keluar untuk menyapa juga meminta staf menjamu sang pembeli sementara dia menunggu proses dokumen legal pembelian.
Setelah Zuhur, Zen pamit akan menuju kampus untuk memilih jadwal wisuda jika yudisium dinyatakan lolos.
Saat dia tiba di Kampus, Olivia telah datang lebih dulu. Gadis itu riang menunjukkan hasil yudisium miliknya.
__ADS_1
"Zen, aku lolos. Jadwal wisuda pilih yang terdekat ya. Semoga kamu juga, biar bisa bareng," ucap Oliv sambil lalu saat melewati Zen guna menuju kantor administrasi.
"Selamat ya! Aamiin." Zen hanya membalas sebisanya. Hatinya kembali melow, sisa waktu melihat gadis itu semakin sedikit.
Putra Nuril, kini menerima kertas yang sama bagai milik Olivia. Dia gemetar saat akan membukanya.
"Ya Allah, qobul, qobul hajat," gumam Zen seraya memejamkan mata.
Perlahan, celah matanya mengintip, Zen mengulas senyum saat membaca tulisan tebal di tengah kertas. "Alhamdulillah, mamaaaaaaa," lirih Zen, menyebut panggilan ibunya.
Tampang urakan tapi hati Hello Kitty, Zen terus lirih memanggil Nuril meski ibunya tak nampak. Dia memang anak mama. "Maaaaa, Zen lulus, Maa. Zen wisuda tahun ini ... bareng Olivia," ucap Zen pelan.
Dia lalu menekan satu tombol panggilan, langka kaki pun terburu mencari tempat sepi. Saat suara dan wajah ayu muncul di layar gawai, Zen terisak.
"Ya Allah, Zen kenapa, Nak?" sebut Nuril khawatir melihat kesedihan di wajah putranya.
Zen tak dapat bicara, suaranya tercekat di tenggorokan. Dia hanya dapat mengangkat lembaran kertas di tangan agar Nuril menebak.
"Surat apa, Zen? lulus yudisium, Nak?" tanya sang ibu, mulai berkaca-kaca.
Zen mengangguk cepat berkali-kali menanggapi tebakan Nuril. Seketika air mata ibunya pun jatuh.
"Alhamdulillah. Zeen! ya Allah mama happy, Zen," suara Nuril sudah bercampur tangisan bahagia sementara respon Zen tak jauh beda dengan ibunya.
"Paaaaa! papaaaa!" Nuril berteriak memanggil suaminya. Dia menuju ruang kerja Ahmed.
"Olivia, ." Zen menghapus jejak sedih selagi menunggu video call ini tersambung dengan ayahnya.
.
.
___________________
__ADS_1