
Zen mematut diri di depan cermin, dia merapikan vest jasnya setelah menata rambut dengan sedikit pomade. Lagi, helaan nafas panjang dia hembus ke udara.
Netranya memejam, merasakan getar syahdu tak kasat mata bahwa hari ini semesta mendukungnya.
"Bismillahirrahmanirrahim, otewe jadi suami," lirih Zen, membuka mata dan tersenyum menatap pantulan diri di depan cermin.
"Allahu, gemetaran gini," imbuh Zen lagi seraya meraih kopiah dan jasnya lalu keluar kamar.
Calon pengantin tampak terkejut saat menapaki tangga satu per satu. Rumahnya terlihat indah dengan banyak dekorasi bunga juga hamparan karpet. Telah hadir di sana ustadz Fikri juga kawan seperjuangan dulu. Bahkan Al dan lainnya turut hadir. Betul-betul membuat hati hello Kitty nya baper.
Zen menyalami para sahabatnya dengan sukacita, sesekali candaan terselip di sana, seakan nostalgia saat menjadi anak jalanan.
Nuril, menatap haru putra bungsunya yang bertransformasi menjadi seperti ini. Dambaan setiap orang tua. Air mata bahagia pun kembali turun.
Zen lalu beralih pandang ke orang tuanya yang masih duduk di atas karpet merah bermotif ukiran abstrak.
"Ma!" sebut Zen saat menapaki karpet untuk sembah sungkem pada sang ibu.
Nuril merentang tangan, ingin memeluk putranya.
"Doakan rumah tanggaku nanti ya, aku tidak bisa lagi langsung memutuskan secara sepihak. Ada Olivia di sisiku nanti, meskipun kendali tetap padaku," tutur Zen, menatap wajah ibunya.
Nuril mengangguk. "Mama paham. Semoga bahagia hingga ke surga, ya, Zen. Kami takkan menuntut macam-macam apalagi mencampuri urusan kalian," jawab Nuril, meraih wajah Zen untuk di kecupnya.
Zen menunduk, mengangguk dalam diam. Akhirnya dirinya tiba di titik ini. Zen lalu memeluk kedua orang tuanya bergantian.
Ustadz Fikri lalu memimpin doa sebelum rombongan pengantin keluar hunian. Zain berkoordinasi dengan EO untuk menata letak jajaran mobil serta penumpangnya.
Tak lama, iringan pun perlahan meninggalkan pelataran hunian Ahmed menuju lokasi acara. Waktu terasa melambat, hampir empat puluh menit dihabiskan mereka hingga iringan perlahan menghampiri tenda bernuansa emas dan broken white di halaman rumah Arief.
"Alhamdulillah, sampai. Ku kira rumah Oliv bergeser lebih jauh sebab gak sampai-sampai," kekeh Zen dihadiahi tawa ustadz Fikri.
"Antum gak sabar, seakan menantang waktu ya," jawab sang guru diangguki oleh Zen dengan senyum terkembang.
Iringan pun kemudian di tata ulang oleh EO sebelum memasuki tenda. Di ujung sana, terlihat Arief siap menyambut sang calon menantu dengan memegang untaian melati.
Maulid mengalun manakala langkah Zen kian mendekati venue. Hatinya kini ikut trenyuh hingga membuat kepalanya terus menunduk.
"Tenang, Zen. Tenang, semoga Allah loloskan takdirmu," batin Zen.
Acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Alquran, khutbah nikah dan lainnya hingga tiba saat verifikasi data.
"Bener ya, Mas Zen, nama calon istrinya Olivia zareen. Ini silakan di lihat fotonya, gak ketuker kan?" ujar penghulu.
Zen tersenyum, dia hanya mampu mengangguk. Suaranya sedang di siapkan untuk kalimat sakral.
"Manten lakinya puasa, guys. Ngan mesem tok," imbuh penghulu. "Kayaknya gak cocok ini dari zodiaknya. Mau mikir lagi atau maju lima langkah?" ucapnya lagi.
"Maju dong, gak pake langkah, langsung terbang aja kalau bisa," jawab ustadz Fikri, mewakili Zen dengan menepuk lengannya.
__ADS_1
Lagi-lagi Zen hanya tersenyum.
"Gak tahu apa ya, gue dah grogi setengah hidup begini," batin Zen.
Akhirnya tibalah saat inti. Atas arahan penghulu, kedua tangan wali nasab Olivia dan Zen kini bertaut.
Saat menegangkan pun tiba. "Mas Zen, ini tangannya ada vibrator nya ya? kok meja sampai geter begini," ucap penghulu masih menggoda Zen yang setia menutup rapat mulutnya.
Hadirin pun kembali tertawa renyah melihat sikap Zen yang menjaga adab sebelum ijab qobul.
"Dah, dah. Kasian Mas Zen Popeye udah gak sabar halalin Neng Oliv," kekeh beliau lagi.
Deg.
Deg.
Deg.
"Bismillahirrahmanirrahim. Ya Omar zen bin Oswald Ahmed, uzawwijuka ‘ala ma amara allahu bihi min imsakun bi ma’rufin aw tasrihun bi ihsan.”
"Aku nikahkan dan aku kawinkan engkau dengan putri kandungku, Olivia zareen bintu Zauqi Arief dengan maskawin seribu dolar US dibayar tunai," ucap Arief, disertai sentakan halus.
"Aku terima nikah dan kawinnya Olivia Zareen bintu Zauqi Arief dengan maskawin tersebut, tunai," jawab Zen sekali ucap tanpa tarikan nafas kentara. Sangat halus dan lembut menandakan dirinya diliputi ketenangan.
Ustadz Fikri yang bertindak sebagai saksi dari pihak Zen, mengangguk.
"Alhamdulillah." Suara riuh hadirin lega.
Lantunan doa mengudara, panjang nan khidmah hingga Zen kembali diliputi haru.
Setelah penandatanganan berkas untuk pihak mempelai pria, petugas catatan sipil meminta Arief agar membawa salinan dokumen agar di tanda tangani oleh Olivia.
"Ayo, Zen. Temui istrimu dulu," kata Arief, mengajak Zen agar ikut ke dalam hunian dimana Olivia menunggu.
"Eh. Sekarang?" tanya Zen tergagap.
"Ya masa tahun depan, tahan emangnya?" goda ustadz Fikri. "Orang kalau terlampau bahagia itu kadang anu, memang," kekehnya lagi.
Zen hanya nyengir, bangkit mengikuti mertuanya ke dalam.
"Tolong hadirin tertib, tolong ya, jangan main grudukan. Yang mau lihat manten wanita cuma Mas Zen loh ya, cuma Mas Zen, haloooooo," ujar pak penghulu, meraih mic memperingatkan para hadirin agar tetap di tempatnya.
Suara tawa memecah kebahagiaan pagi itu. Mereka terlalu antusias menyaksikan keuwuan pasangan yang saling diam memendam cinta hingga di satukan hari ini.
Zen melangkah masuk ke dalam ruang tamu dimana Olivia menunggunya. Dia tertegun berdiri di ambang pintu saat melihat wanita ayu bergaun putih menunduk seraya memegang buket bunga.
"Ayo!" ajak Arief mendekat pada putrinya.
Olivia dibantu berdiri oleh istri ustadz Fikri juga sahabat lainnya.
__ADS_1
"Bacakan doa kebaikan, Zen," pinta Arief lagi.
Zen masih belum menapak bumi, jiwanya melayang hampir menyentuh awan melihat istri pujaan sangat ayu.
"Ehm. Eh, gimana ini?" ujar Zen, dirinya canggung saat akan menjulurkan jemari.
Arief menggeleng pelan, tersenyum ke arah menantunya. Lalu dia menuntun tangan Zen yang mulai terangkat ke udara.
"Eh bentar. Aku," kata Zen, menarik lagi jemarinya. Dia malah berbalik badan, mengelus dada sejenak.
Para gadis cekikikan melihat tingkah konyol Zen, bahkan Olivia tertawa kecil saat mencuri pandang pada sang suami.
Zen berbalik badan, dia memejamkan mata sebelum jemari kanan menyentuh kepala Olivia. Lantunan doa dari Zen sangat lirih hingga Olivia berkaca-kaca. Para gadis pun ikut hanyut dalam suasana syahdu yang Zen ciptakan.
"Aamiin."
Kini tiba giliran Olivia yang gemetar saat Arief memintanya untuk menyambut uluran tangan Zen untuk diciumnya.
"Oliv, sambut suamimu, Nak," pinta sang ayah.
Oliv pun menjulurkan tangan perlahan-lahan, dia menarik ulur ragu saat akan seinci lagi menyentuh kulit Zen.
"Allah!" kata Zen, gemas melihat istrinya malu-malu.
"Ya sabar. Aku kan malu," cicit Oliv.
"Bismillahirrahmanirrahim." Zen malah tak dapat menahan diri, dia meraih kepala Olivia lalu membubuhkan kecupan di sana.
"Jiaaaaaah! gak sabar amat!" seru para gadis bersorak.
Keduanya lalu sama menunduk, tersipu satu sama lain dengan saling menyenggol lengan. Arief hanya menggeleng pelan atas tingkah keduanya.
Pemberkasan pun selesai, kini tiba bagi pasangan pengantin membaur dengan para tamu di depan.
Zen, menautkan jemari diam-diam kala mereka diminta keluar ruangan.
"Alhamdulillah halal ya, Sayang," bisik Zen, bibirnya melengkung senyum sementara Olivia menunduk.
"Alhamdulillah, Mas Zen."
Zen menoleh ke sampingnya. Rasanya dia mendadak lemas mendengar Oliv menyebutnya dengan bubuhan kata Mas.
"Meleleh Abang, Dek." Zen tak henti mengelus dada hingga mengundang senyum manis mengukir wajah putih Olivia.
.
.
___________________
__ADS_1