
Olivia menumpahkan segala kegelisahan hatinya di pelukan sang ayah. Baru kali ini dia merasakan getaran cinta terhadap lawan jenis dan itu adalah calon imamnya. Oliv, tak ingin kesempatan ini pupus hanya karena sebuah opini keegoisan mahluk. Cukup lama keduanya berdiri di ambang pintu kamar si kepala keluarga. Arief lalu mengurai pelukan.
Tiada kata terucap dari bibir lelaki paruh baya, hanya senyuman manis tak surut di wajah yang mulai mengeriput.
"Sudah. Sana salat dulu, tenangkan diri. Jodoh pasti bertemu," ujarnya memberikan sebuah suntikan semangat.
Olivia bergeming. Dia enggan menjauh manakala tatapan teduh itu masih memandangnya lekat.
"Sana. Salat, ngaji, dzikir biar tenang. Jangan merayu ayah, rayu Allah saja," pesan Arief lagi, hendak menutup pintu.
Olivia mengikuti perintah sang ayah, dia pun perlahan beranjak dari sana seiring pintu kamar yang kembali menutup.
Arief menggelengkan kepalanya pelan. Dia menuju sisi ranjang guna mengabarkan sesuatu pada calon besan.
"Liv, Liv. Baru segitu doang kok sudah galau, kamu ternyata diam-diam menaruh suka juga sama Zen sejak lama, ya. Terimakasih, Nak. Telah menjaga dengan baik marwah sebagai seorang wanita," gumam Arief.
Tepat saat panggilannya tersambung, Arief membeberkan keinginan terbarunya perihal hubungan anak mereka. Di ujung sana, Ahmed rupanya menyetujui diam-diam rencana si calon besan.
Menjelang petang.
Reyhan kembali menghubungi Zen guna menanyakan kabar huruf timbul sebab motor custom untuk Olivia telah terpoles kinclong dan akan diantar ke kediaman sang wanita sesuai keinginan Zen sebelumnya.
Tuut. Tuut.
"Zen, gimana?" tanya Reyhan setelah panggilan tersambung.
"Ehm. Langsung antar ke rumahnya. Bilang minta maaf, besok aja sebab huruf timbul itu jadi besok pagi. Aku udah jujur, Rey," ucap Zen melemah untuk kalimat akhir.
"Oke. Terus? gagal nikah?" sambung Reyhan penasaran, tak memikirkan perasaan sahabatnya.
"Ya gitu. Di tunda entah sampai kapan. Paling penting sih, Oliv masih ada dalam genggaman," sahut Zen lagi, terkekeh getir disertai nada sumbang.
Reyhan mengangguk meski Zen tak melihatnya. "Oke deh. Semoga kisah cinta lo gak kek sinetron hidayah atau adzab," ucap Reyhan sambil tertawa lepas mengakhiri panggilan.
Suasana kian galau manakala Nuril mengetuk pintu kamar putranya sembari membawa ponsel.
"Zen! buka," ujar sang mama dibalik pintu.
"Ada apa sih, Ma?" tanya Zen.
"Oliv sakit, hari ini kan harusnya pengajian di rumah, tapi di tunda. Ada apa sih? dia keknya mau nangis deh. Nih," sambung Nuril seraya menyerahkan ponselnya pada Zen.
Omar Zen mengubah panggilan yang masih berlangsung dengan loudspeaker.
"Assalamualaikum."
__ADS_1
Hening beberapa detik.
"Wa 'alaikumsalam. Zen," balas Olivia lirih.
"Liv, maaf ya."
Tak ada suara sahutan di sana. Namun, perlahan isakan itu muncul dan menegas.
"Ssstt, jangan nangis. Kita rayu Allah saja. Masih ada waktu dua hari lagi," lirih Zen, sambil menatap sekilas ibunya yang masih berdiri di ambang pintu.
"Kuatkan aku, Olivia. Sudah ya, aku gak sanggup denger kamu begini. Jaga kesehatan, Assalamualaikum," pungkas Zen, menutup panggilan sepihak lalu menyerahkan ponsel kembali pada Nuril.
Bila biasanya Nuril banyak bertanya, kali ini kebiasaan itu luput. Nuril hanya melayangkan senyum, menepuk lengan putranya lalu menutup pintu kamar Zen kembali.
Dua insan yang saling berhubungan hanya melalui doa, tengah sama memohon agar kembali di satukan oleh garis nasib.
Baik Olivia maupun Zen, harus belajar lagi makna sabar dan ikhlas dalam menjalani hubungan demi menggapai ridho Allah.
"Andai gue bisa bilang ... Toktok, do your magic," kekeh Zen getir, teringat doa kaum netizen jika di pertemukan oleh medsos.
Malam pun kian terasa panjang manakala melewati perputaran waktu hanya dengan bermunajat.
Zen tak masuk kantor mulai hari ini. Fokusnya hanya satu. Berdiam diri di rumah, sesekali ke masjid untuk ikut kajian sore lalu kembali mengurung diri, dia bahkan memilih berpuasa.
Kabar dari Reyhan membuat dirinya kian lega, tak ada lagi ganjalan masa lalu. Urusan hasil terserah bagaimana Allah saja, toh usahanya sudah maksimal.
Omar Zen begitu fokus memohon ampun dan memanjatkan doa agar Arief melembut sehingga pernikahannya tetap berjalan sesuai kesepakatan semula. Samar suara gaduh di lantai dasar tak dia pedulikan sebab mungkin itu hanyalah ulah maid yang ceroboh mengerjakan tugas.
Menjelang Maghrib, Zen turun untuk berbuka puasa.
Kediaman Ahmed telah rapi seperti sedia kala. Zen sempat heran dengan beberapa tenda yang terpajang di halaman depan tapi sang ibu mengatakan itu untuk antisipasi saja. Zen pun kembali abai dan naik ke lantai dua sembari membawa pinggan makanannya.
Karena fisik yang lelah. Bayangan wajah Olivia juga suara Isak tangis gadis pujaan, membuat Zen penat. Dia pun tertidur setelah dua hari jam biologisnya kacau.
Tanpa terasa, fajar pun menyingsing. Jumat pagi yang sibuk terlihat jelas di kediaman Ahmed.
Nuril dan Ahmed telah siap dengan busana pengiring pengantin, saat mengetuk pintu kamar putranya.
"Zen! Zen!" panggil sang ibu Ahmed tak sabar, dia menerobos masuk begitu saja.
"Zen! bangun. Mau kawin gak kamu?" kata Ahmed, menepuk lengan Zen yang tertutup selimut.
"Lima menit lagi, Pa. Belum azan subuh kan?" ucap Zen dengan suara khas menahan kantuk.
"Jangan salahkan papa jika pak penghulu ngambek sebab pengantin lelakinya gak on time. Siapa yang mau nikahin kamu nanti?" tutur Ahmed masih berusaha menarik selimut Zen yang di cekal anaknya.
__ADS_1
Hening.
"Zen!" sebut Nuril.
Omar Zen tergagap. Dia bangkit dan celingukan melihat ke arah ayah dan ibunya yang telah rapi.
"Ini pada mau kemana?" tanya Zen bingung, menunjuk bergantian ke arah keduanya.
"Ke nikahan kamu, lah. Kemana lagi? niat kawin gak sih? akad nikah di majukan pukul tujuh. Buru siap-siap," ucap Nuril meraih handuk lalu mengalungkan ke leher putranya.
"Ma-maksudnya?"
"Surpriseeeeeeeeeee!" seru mereka, bersorak di depan Zen yang masih terlihat lusuh akibat muka bantalnya.
"Jangan bercanda!" ujar Zen, tersenyum remeh.
"Nih, rumah Olivia saat ini. Tuh, motor dia lagi di hias buat pawai saat ke hotel nanti. Kalian pake motor itu, iiiiihhhh gemes deh!" pekik Nuril menunjukkan tampilan layar ponselnya. Dia lalu meraih wajah Zen lalu menciuminya gemas.
"Buru mandi atau papa cancel nih?" ancam Ahmed melihat Zen bebal.
Zen pun gelagapan, karena otaknya belum sepenuhnya mencerna. Dia bahkan terburu turun dari atas ranjang padahal selimut masih membelit kakinya.
Gubrak. Bruk!
Zen jatuh tersungkur. Seakan tak kenal rasa sakit, dia langsung bangkit. Namun, nahas, lagi-lagi dia jatuh akibat banyaknya baju yang berserakan di lantai.
Gubrak!
"Zen!" seru Nuril, tergopoh membantu putranya bangkit sementara Ahmed tertawa lepas melihat kekonyolan Zen.
"Gak apa. Aman. Aman."
"Benjol loh, ckck, masa putra mama mau ijab qobul kok benjol gini," kata Nuril, cemas saat melihat dahi Zen sedikit memar.
"Tetep ganteng kok, tenang aja. A-aku mandi, Ma," ujar Zen berlari secepat kilat masuk ke dalam kamar mandi.
Nuril hanya menggeleng pelan, dia pun merapikan kamar sang putra lalu meletakkan setelan busana pengantin di sana.
Sementara di dalam kamar mandi. Zen menyalakan shower.
Air mata pun jatuh tersamarkan akibat derasnya guyuran air yang membasahi tubuh. Bahu tegap itu bergetar halus, bibir tak henti mengucap syukur bahwa Allah mengabulkan doanya.
"Olivia, tunggu aku ya, Sayang."
.
__ADS_1
.
_________________