Love Of Bad Boy

Love Of Bad Boy
Bab 33 Ingin Mewujudkan mimpi


__ADS_3

Malam ini Ustad Fikri bagai pelaku stand up comedy, kocak, tak habis cara menggoda pasangan calon pengantin untuk berani bicara.


"Zen? Oliv? ini mau pandang-pandangan aja apa gimana? ... kuat gak nih, nunggu sepekan?" tawar sang ustadz.


Zen menimbang. Jika mengikuti nafsu, tentu ingin segera menghalalkan. Namun, ini rasanya kurang adil bagi Olivia. Dia adalah putri tunggal keluarganya, pastilah ingin merayakan syukuran secara lumrah seperti adat sekitar.


Dari pihak keluarganya pun tentu ingin menjamu dan memuliakan besan dengan istimewa. Zen sudah berniat menjadikan momen ini special untuk kenangan perjalanan cinta mereka, mewujudkan pesta pernikahan impian bagi Olivia. Namun, dia butuh mendengar pendapat wanitanya lebih dulu.


"Oliv? kayaknya Zen bau-bau ngikut keinginan kamu deh. Gimana?" desak istri ustadz Fikri, membantu suaminya membujuk pasangan gemes.


"Aku ikut beliau saja," cicit Olivia masih menundukkan pandangan.


"Hore ... akad, akad, akad," ujar para supporter lagi membuat riuh suasana.


"Hush, ini kalian rame sendiri. Yang mau nikahnya masih santuy, kok kalian semangat empat lima," seloroh ustadz Fikri lagi diiringi tawa hadirin.


Merasa harus mengambil keputusan pertama kalinya, Zen angkat bicara.


"Ehm, boleh gak ngobrol dengan Oliv lebih dulu? aku ingin mendengar keinginannya," ujar Zen malu-malu.


"Ciyeeeeeeeeeee...." geger para karib Olivia. Mereka bahkan merangkul, mencolek pipi dan pinggang Olivia kala Zen meminta izin.


Olivia kian salah tingkah, dia makin merasa malu akibat di goda terus menerus.


"Boleh gak nih, Pak Arief?" tanya ustadz lagi.


"Silakan. Boleh," ujar ayah Olivia.


Ustadz Fikri kemudian meminta keluarga Zen untuk berembuk ke salah satu ruang sebelum Olivia masuk bergabung dengan istrinya nanti. Saat di ruangan terpisah.


Pak Ahmed dan Nuril berunding tentang acara syukuran, akad nikah juga jumlah undangan apakah akan disatukan atau masing-masing menggelar pesta.


Zen tak ambil pusing, dia malah tak sabar menanti kedatangan Olivia. Jika Zain tak menahannya, mungkin Zen sudah melongok menunggu di ambang pintu.


Tak lama, istri ustadz Fikri dan Olivia bergabung ke dalam ruangan. Nuril menanyakan keinginan Oliv untuk acara ngunduh mantu nanti.


"Oliv mau syukuran resmi pakai konsep seperti apa, Sayang?" tanya Nuril.


Olivia mengangkat kepalanya, tatapan pun bertemu dengan sosok ayu di hadapan.


"Garden party tapi gak perlu undang banyak tamu sebab temanku sedikit. Yang penting bukan pestanya, kan ya, Zen?" tanya Oliv pada lelaki yang nyatanya tak berkedip sejak tadi.


Zen gelagapan. Sadar dirinya telah berlaku salah, tak menjaga pandangan maka Zen seketika menunduk.


"Ehm, benar. Tapi aku sudah berniat mewujudkan pesta pernikahan impian bagimu," balas Zen.

__ADS_1


"Iya sih. Konsepnya itu, terserah bagaimana wujudnya nanti," sahut Olivia lagi.


"Tapi kan Liv, lebih spesifik lagi boleh?" desak Zen.


Olivia sesaat menatap Zen, lalu senyumnya terbit.


"Impian setiap wanita itu mendapat imam yang saleh sebagai nahkoda bahteranya, dicintai dan mencintai, sama-sama menggapai ridho Nya ... in sya Allah aku manut imamku, sebab pasti selalu memberikan yang terbaik bagiku," balas Olivia malu-malu.


Uhuk. Uhuk. Uhuk.


Pak Ahmed, Nuril mendadak ikut tersedak atas kalimat manis Olivia. Bahkan istri ustadz Fikri tersenyum hingga nampak giginya.


Zen tak dapat lagi menahan rasa bahagia. Dia melompat kegirangan lalu memeluk Zain.


"Ya Allah, Kak! baru gini doang udah sesek nafas ya," kekeh Zen mengelus dadanya yang berdegup kencang berulang kali.


Olivia hanya tersenyum melihat tingkah konyol calon suaminya itu. Tak lama, keputusan telah di tetapkan. Zen lalu memberanikan diri meminta izin untuk menyimpan nomer ponsel Olivia dengan alasan untuk fitting baju pernikahan juga lainnya.


Ahmed mengajukan hasil rembukan keluarganya pada Arief. Kedua pihak pun sepakat akan menggelar walimah Jum'at pekan ini, lima hari mendatang.


Tak lama, rombongan keluarga Zen pun pamit undur diri. Tampak kedua calon mempelai masih saling pandang dari kejauhan hingga Zen masuk ke dalam mobil lalu menjauh dari kediaman Olivia.


Saat di dalam mobil, Zen duduk di depan bersama supir, dia lalu membuka aplikasi pesan di ponselnya.


[Wa 'alaikumsalam. Fii amanillah.] Balas Olivia.


Zen senyam senyum membaca pesan singkat, matanya memejam, akhirnya bisa berkirim pesan dengan Olivia setelah sekian lama. Zen lalu penasaran melihat foto profil milik Olivia.


Dia lalu memperbesar tampilan, merasa sangat mengenali salah satu objek di dalam foto profil Olivia. Tiba-tiba.


"Alamak, innalilahi! Gusti!" pekik Zen langsung dilanda panik.


"Kenapa, Zen?" tanya Nuril dari bangku belakang.


"Ehm, anu, enggak Ma. Gak apa," sahut Zen gelagapan. Dia tak mungkin menjelaskan praduganya.


"Jangan aneh-aneh. Kamu mau jadi suami lima hari lagi!" ujar Pak Ahmed.


"Enggak, Pa. Kaget aja, Olivia cantik banget di foto profilnya," elak Zen.


"Ciyee, jangan chat terlalu sering, Zen. Ingat pesan ustadz Fikri," kata Nuril mengingatkan putranya.


"Ehm."


Seketika otaknya berpikir. Harus mencari tahu kemana lagi kebenaran yang dia sangka ini. Satu nama muncul di ingatan Zen.

__ADS_1


"Rayhan. Farhan," gumamnya sembari menggenggam ponsel erat.


Dia berniat akan menemui keduanya esok pagi. Jika dugaan ini benar, maka Zen harus menyelesaikan dan meminta maaf sebelum akad nikahnya di gelar. Dia tak ingin meninggalkan jejak noda masa lalu.


"Allah. Ada aja ujianmu," batin Zen.


Dia sekaligus ingin mengkonfirmasi sesuatu dengan sosok pria bayangan di sekitar Olivia itu.


Keesokan pagi.


Zen telah rapi saat turun ke lantai dasar. Dia akan menuju kantornya lebih dulu sebelum mengunjungi Reyhan.


"Hati-hati. jangan Ngebut, Zen!" ucap sang mama kala melepas putranya pergi.


"Enggak Ma, ada calon makmum nungguin Abang di rumahnya," kekeh Zen sebelum masuk ke mobil dan meninggalkan hunian.


Menjelang Dzuhur, dia kini telah ada di bengkel miliknya dulu. Menunggu Reyhan mengenali apa yang menjadi kecurigaannya.


"Lah iya, Zen. Ini kan ... gimana dong? apa custom aja? tapi keburu gak ya?" ujar Reyhan ikutan panik.


Zen gusar, dia meremas rambut yang masih tertata rapi. Jika custom, maka harus mencari semua printilan itu hari ini juga. Reyhan lalu memutuskan mengutus mantan anak buahnya untuk mewujudkan keinginan sang karib.


"Tenang. Pasti selesai, aku akan berjuang untukmu kali ini, Zen," ujar Reyhan, menenangkan Zen dengan menepuk lengannya.


"Berjuang apa nih?" tanya sebuah suara yang datang bergabung dengan mereka.


"Eh, Han. Biasalah, Reyhan suka lebay. Kita ngobrol dimana? sini atau warkop?" tanya Zen saat menyalami Farhan yang baru tiba.


"Bebas deh. Mana aja," jawab Farhan.


Keduanya lalu menuju warkop terdekat guna menghindari suara bising.


"Apa yang mau lo pastikan, Zen?" kata Farhan membuka percakapan.


"Siapa lo? status dengan Oliv, sebagai apa?" ucap Zen tanpa basa basi. "Dan ini, kau tahu sesuatu tentang itu?" imbuhnya menunjukkan foto.


Farhan tersenyum lebar, dia menyesap kopinya lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan Zen.


.


.


_______________________


Kita otewe flashback sekejap ya mak.

__ADS_1


__ADS_2