
Farhan melihat ponsel Zen saat di sodorkan padanya. Sebuah objek yang menjadi sumber rasa penasaran Zen ternyata adalah motor matic disamping Olivia.
"Aku gak tahu banyak soal itu, maaf," ujar Farhan kembali mendorong ponsel Zen.
Raut wajah Zen seketika muram. Tentu itu adalah benda kesayangannya. Tapi rasa penasaran kedua pun muncul.
"Apa hubunganmu dengan Olivia? gak mungkin kalian saling sentuh tanpa penghalang jika bukan mahram. Apa kau?" tanya Zen menyelidik.
Farhan menghela nafas. Berterus terang padanya memang seakan membuka ganjalan lama saat dia merasa kecewa dengan kondisi saat itu. Rasa sukanya pada Olivia harus di tebas habis hingga ke akar sebab hubungan mereka takkan dapat dilanjutkan.
"Farhan!" lirih Zen, tak sabar.
Farhan menoleh ke arahnya. Tersenyum samar lalu memperbaiki duduknya sesaat.
"Kami saudara satu ayah."
Dhuar.
"What!" seru Zen, membola, tak mengira kenyataan yang baru saja dia dengar. Dia bagai melambung tinggi ke angkasa.
Farhan mengangguk ucapan Zen. Dia lalu kembali menyesap kopinya sementara menunggu Zen kembali menginjak bumi setelah terpental ke udara.
"Kok bisa, ehm, maaf, bagaimana ceritanya?" tanya Zen ragu. Antara penasaran dan sungkan.
Lelaki tampan dengan vibe Soleh itu kembali membuka suara.
"Dulu, ayah dan ibuku menikah karena terpaksa. Mereka di jodohkan oleh kedua orang tua saat itu. Pernikahan pun di gelar tapi lambat laun rasa cinta yang diharapkan tumbuh tak juga bersemi," ujar Farhan.
"Setelah melalui banyak liku, kesedihan juga gejolak batin keduanya. Mereka memutuskan berpisah," sambungnya lagi.
"Lah terus? rujuk gitu?" desak Zen, menjeda kalimat Farhan.
Tatapan Zen masih tak berkedip pada Farhan. Lelaki itu tak sabar menantikan kelanjutan kisah keduanya.
"Setelah perceraian. Masih dalam masa iddah yang hampir habis, ternyata ibuku mengandung aku. Fakta ini disembunyikan oleh beliau sebab ayah telah menikah dengan ibu Olivia." Ucap Farhan dengan tatapan kosong ke arah cangkir kopinya.
__ADS_1
Zen mengusap wajahnya kasar. Tak mengira jika Farhan sempat disembunyikan ibunya.
Farhan menjeda kalimatnya. Dia membayangkan kondisi psikis sang ibu kala itu. Hamil muda, menjalani iddah dan menanggung semua sendiri karena pasangannya telah memiliki belahan jiwa lain.
"Maaf. A-aku," ucap Zen, merasa bersalah.
"Ehm. Gak apa," balas Farhan. "Mau lanjut gak? atau sudah tahu sampai sini?" tawarnya lagi.
Zen tak enak hati tapi dia penasaran akan kelanjutan kisahnya.
"Lanjut ya, biar tuntas," kata Farhan lagi.
"Ehm, lu gak apa emangnya? kan itu, sakit gak sih?" sambung Zen. Hati hello Kitty nya kembali muncul.
"Gak apalah, biar gak ada lagi misteri," ucap Farhan lagi.
Kopi yang telah kehilangan asap panasnya pun diseruput lagi oleh Farhan sebelum dia melanjutkan kisah.
"Ayah tahu tentang kehamilan ibu suatu hari. Mereka tanpa sengaja berpapasan saat keluar mini market. Ayah sekuat tenaga meminta penjelasan ibu tapi ditepis sebab ibu kasihan saat melihat pada bunda Olivia kala itu."
"Poligami." sambung Zen.
"Nah, itulah. Ibuku gak mau hingga memilih meneruskan kehamilan seorang diri dan sepakat menjalani kehidupan masing-masing." lanjut Farhan.
"Ibuku memilih pindah kota dan menata hidupnya dari awal lagi. Begitupun dengan ayah, intinya saling berjuang masing-masing," ujar Farhan.
"Keduanya sama saling menanyakan diri hingga kami berdua tumbuh dengan limpahan kasih sayang, ilmu juga lainnya. Ibu menemukan jodoh ayah sambung ku dan Olivia menjadi gadis santun berkat didikan ibunya," sambung kakak Olivia ini.
Zen manggut-manggut. Dia teringat perjalanan menuju titik balik itu. Benar kata kedua gurunya. Jika niat teguh dalam hati ingin berubah menjadi lebih baik maka semua langkah pun seakan di permudah.
Jika sesama manusia ketika saling memberi tentu mengucapkan banyak terima kasih dan mendapat jawaban, sama-sama. Maka tidak begitu dengan Allah.
Jika kita memanjatkan syukur, terima kasih ya Allah, maka Allah takkan membalas kita dengan ucapan sama-sama. Melainkan dengan, kamu mau apalagi? dalam arti, nikmat itu akan selalu di tambah.
Bersyukurlah maka akan aku tambah nikmatmu. Bagai ibu Farhan, menerima kondisi ikhlas dan sabar membesarkan putranya. Allah temukan dengan pasangan yang tak kalah saleh dengan ayah biologisnya dulu.
__ADS_1
"Apa jadinya ya, kalau ibumu meminta kembali. Tentu Farhan dan Olivia tidak menjadi sosok alim, tegar dan ikhlas seperti ini," ucap Zen, kagum akan ketulusan keluarga Farhan.
"Sudah tergambar dan tertata demikian sebab kata Allah ini yang terbaik. Aku juga kaget saat mengetahui hal ini, ketika ayah tanya siapa aku barulah semua terbongkar ... tapi Alhamdulillah, nasab menjadi jelas sehingga kami lolos dari zina," pungkas Farhan tersenyum sekilas ke arah Zen.
"Akhirnya berdamai ya, Farhan," sahut Zen. "Meski awalnya pasti sulit," imbuhnya.
"Harus. Sumber ketenangan itu adalah saat belajar menerima dan berhenti berharap ... healing terbaik adalah mengakui dan jujur pada diri sendiri. Kata Allah kan, aku telah menciptakan solusi untuk semua masalahmu, tinggal kitanya mau atau enggak," ucap Farhan lagi.
Zen ikut menghela nafas. Dia pun sama, banyak belajar ikhlas yang tak pernah habis masanya. Ilmu tertinggi yang mesti praktek setiap hari.
Jodoh takkan kemana, rezeki gak bakal nyasar memang bagian dari takdir. Bagai ucapan imam Ghazali, apa yang akan menjadi milikmu akan sampai padamu meski jaraknya sejauh dua gunung. Dan takkan jadi milikmu meski jarak itu sangat dekat, hanya dua bibir.
Obrolan keduanya berakhir saat Reyhan memberi kode pada Zen. Farhan pun pamit pulang setelah menjelaskan kedudukannya.
"Ada apa?" tanya Zen.
"Dapat. Bakal di kerjakan tapi mepet waktu. Dan yang susah, tulisan timbul ini loh, Zen," jelas Reyhan memperbesar tampilan foto objek motor Olivia.
"Kesayangan dan peninggalan ibunya kayak ya ini. Ada tulisan timbul Holicvia," kata Reyhan lagi.
"Jadi gimana?" Zen tak dapat berpikir.
"Bisa lah. Cuman ya itu, mepet waktu," ucap Reyhan.
Zen menimbang, jemarinya mengelus dagu seakan tengah berpikir.
"Ah, gue tahu dimana bikin ginian. Lu kerjain aja bodynya. Gue bayar berapapun itu. Sisanya biar bagian gue. H-3 selesai gak?" tantang Zen lagi.
Reyhan hanya tersenyum seraya mengangguk samar. Zen tahu arti tatapan sahabatnya itu. Dia pun membalas senyum Reyhan dengan tepukan di lengan.
"Thanks Buddy!" ujar Zen, sembari melenggang pergi.
Bayangan terberat muncul dalam benak.
'Apakah kejujurannya nanti berbuah manis jelang saat kritis?' Zen menghela nafas berat.
__ADS_1