
Al tak punya pilihan. Sirine mobil satpol PP masih menghantui mereka berdua. Dia terpaksa menyetujui ajakan si gadis tadi.
Kang ojol memanggil kawan seprofesi yang melintas di sana. Zen pun di naikkan ke salah satu moda angkutan itu. Meski kondisinya setengah sadar, Zen masih tetap dapat menjaga keseimbangan di atas motor.
Al menyarankan agar tubuh sang kawan diikat menggunakan tali rapia ke body kang ojol untuk menghindari oleng saat di tengah jalan nanti.
Iringan kendaraan itu kemudian perlahan meninggalkan lokasi menuju klinik 24 jam tak jauh dari sana.
Olivia memberi kabar pada sang ayah dengan mengirimkan lokasi terkini dirinya berada, setelah beberapa saat mereka tiba.
Zen sedang di tangani oleh dokter di ruang tindakan bertepatan dengan dering ponsel Oliv yang berbunyi.
"Ya ayah. Bentar lagi Oliv pulang, kok. Tadi Gmaps-nya kacau jadi abang ojolnya ikut nyasar ke kawasan rawan preman. Untung di tolong sama dia, tapi orang itu malah luka-luka jadi Oliv bawa ke Klinik," ungkap Olivia dengan kalimat panjang tanpa jeda.
"Ya sudah. Langsung bayar saja dan kamu lekas pulang. Hampir jam sembilan malam," ucap sang ayah, seraya menutup panggilan.
Aldrich mendengar semua percakapan gadis berhijab yang menolong Zen. Dia mengingat nama wanita itu, dan mengambil fotonya secara candid saat dia membayar tagihan biaya pengobatan Zen. Beberapa saat berlalu. Olivia memutuskan pulang ke rumah setelah urusannya selesai. Dia tak memungkinkan pamit pada pria yang masih di ruang tindakan, melainkan hanya menyapa kawan lelaki itu.
"Aku pulang ya. Tolong jaga temanmu, aku berterima kasih pada kalian berdua," ucap Olivia seraya membungkukkan setengah badan.
Aldrich hanya mengangguk. Dia bingung harus menjawab apa pada ukhti muslimah di hadapan. Al, menghindari tatapan langsung padanya bukan karena dia menjaga pandangan, melainkan hanya tak suka jika wajahnya di kenali dalam cahaya terang seperti ruangan itu.
Zen telah di pindah ke kamar perawatan. Dokter bilang, kepalanya mendapat benturan keras sehingga mengalami pusing hebat. Zen harus menginap satu hari untuk observasi. Aldrich, terpaksa menemani di klinik demi rasa solidaritas sesama kawan.
Keesokan pagi.
Omar zen sudah jauh lebih baik setelah tidur bagai gedebok pisang semalam suntuk. Dia kini tengah menikmati sarapan bubur hangat yang di sediakan pihak klinik meski rasanya hambar.
"Habis ini kita ngapain? temanmu jelang bebas kan, dana dan anggota belum siap," ujar Aldrich, matanya menatap lapar saat Zen menikmati sarapan, jakun pun ikut turun naik menelan saliva, lambung mendadak perih akibat menghirup bau sedap meski Al tak yakin akan rasanya.
__ADS_1
"Siapa gadis yang nolong kita semalam?" jawab Zen, mengindahkan ucapan Al. Bibirnya mengerucut meniup kepulan asap pada sendok buburnya.
"Namanya Oliv, anak mama sepertinya. Gue semalam sempet candid doi sih, nih," ujar Al, meraih gawai dari saku celana lalu memperlihatkan foto sang gadis.
Degh.
"Cantik," batin Zen kala pertama kali melihat foto penolongnya.
"Siapa tadi? Oliv?" ulang Zen lagi, masih tak beralih memandang foto Olivia.
Al hanya mengangguk. Dia lalu mengirimkan foto Olivia ke ponsel Zen, agar kawannya itu tak lagi bertanya padanya sebab dia pun tidak tahu apa-apa.
Dia setia menemani Zen hingga pria itu tertidur lagi setelah minum obat. Dokter belum membolehkan mereka pulang sebab Zen dalam masa observasi. Jika tiada lagi pening hebat dan mual mendera sore nanti, kemungkinan izin keluar dari bangsal Klinik akan mereka kantongi.
Melihat sang kawan terlelap, Al mencari makanan keluar Klinik untuk mengganjal perut yang keroncongan. Dia pun menuju salah satu angkringan bubur pinggir jalan. Sedang asik menikmati aneka sate tusuk, tiba-tiba bahunya di tepuk seseorang.
"Al!" sapa si pemuda, duduk disamping Aldrich.
"Heh! semalam gue cari lo di sana. Gak ketemu, malah kita bonyok di hajar. Kemana aja, lo?" sergah Al, ganti menepuk lengan teman balap liarnya itu.
"Gue tau kalau mau ada operasi sapu lidi semalam, makanya gak nongol. Ngapain cari gue?" ujar Derry, gantian menatap pada Aldrich.
Keduanya lalu saling membagi cerita. Aldrich menyampaikan keinginan Zen dan rencana mereka ke depan pada Derry. Sesuai dengan prediksi, pemuda putus sekolah itu menyetujui dan bersedia bergabung.
Keputusan ini membuat Al lega, setidaknya satu tugas terpenuhi. Sekarang tinggal bagaimana mencari dana tambahan. Keahlian mereka hanya balap liar, sesekali ikut turnamen ecek-ecek sekedar mencari ketenaran agar tak diremehkan lawan.
Mereka pun berpisah sementara sambil menunggu Zen sadar dan sedikit lebih baik. Bada isya, Zen di perbolehkan pulang oleh dokter. Namun, dia kini bingung jika harus kembali ke kawasan kumuh sebab tiada yang peduli padanya. Zen meminta bantuan Al lagi, tinggal di kos-an sang kawan.
Tiada pilihan, Aldrich mengiyakan keinginan Zen. Mereka pun kembali pulang menuju kos-an pemuda tampan.
__ADS_1
Wajah Olivia terbayang dalam benak Zen. Dia bertekad akan mencari keberadaannya. Saat baru merebahkan diri di lantai beralas karpet tebal, ponsel Zen berbunyi. Dia diminta ke Kampus untuk menandatangani sebuah dokumen agar berkas yang berkaitan dengan identitas kemahasiswaan itu selesai.
Zen memejam, dia akan ke sana esok pagi agar satu per satu bebannya lepas. Menyandang gelar titel akademik meski hanya kamuflase, ternyata dia butuhkan juga.
Waktu bergulir tiada jeda.
Pukul sembilan pagi, Zen telah rapi menggunakan baju milik Al untuk pergi ke Kampus. Sahabatnya itu masih terlelap, mungkin lelah setelah menunggui dirinya dua hari kemarin. Putra Ahmed Zen mengendarai motor Al ke sana, agar irit waktu dan ongkos. Lagipula pemuda itu tak banyak bacot layaknya Zaki.
Hampir tiga puluh menit dia habiskan di jalanan, kini Zen telah berada di bagian sekretariat Kampus, mengisi formulir di bangku panjang. Kala wajahnya menengadah memikirkan biaya akhir, netra Zen tak sengaja menangkap siluet gadis dalam foto.
Lelaki itu bangkit, mengerjap beberapa kali ingin memastikan bahwa penglihatannya tak keliru.
"Oliv!" serunya berkali. Namun, karena jarak terbentang cukup lebar, kerumunan Mahasiswa lain pun memecah suara, Olivia tak mendengar panggilan Zen.
"Oliv! Oliv!" Zen mengulang sebutannya lagi.
"Gak akan di gubris. Dia cewek songong, sombong, sok alim dan ngerasa paling pinter!" umpat seorang gadis dengan poni menutup dahi, di sebelah Zen.
"Eh? kenal?" tanya Zen heran, menoleh ke sampingnya.
"Siapa yang gak kenal Olivia Zareen. Mahasiswi tingkat dua yang paling aktif dan cerdas di sini. Dia juga cantik, incaran para bad guy Kampus terutama si Albert. Cuma ya itu tadi, sombong selangit, sok ukhti-ukhti gitu lah, belagak cewek rumahan anak mama, ish nyebelin," beber gadis berambut panjang.
"Siap-siap di cuekin, patah hati aja. Buang waktu lah, cewek lain yang lebih dari Oliv, banyak," racau mereka sebelum bangkit meninggalkan Zen.
Omar Zen tak menduga, gadis penolongnya adalah adik angkatan satu Kampus. Dia juga populer. Senyum manis milik putra bungsu Nuril, mengembang sempurna. Dia punya rencana untuk Olivia. Tanpa disadari hal itu membuat dirinya menjadi semangat untuk sering pergi ke kampus dengan dalih menanti dosen pembimbing skripsi.
.
.
__ADS_1
____________________