Love Of Bad Boy

Love Of Bad Boy
Bab 18 Membuahkan Hasil


__ADS_3

Setiap peluang untuk mereka yang ingin mencoba itu ada, begitu pula dengan Zen. Ia melihat peluang usaha di Jl. Merdeka. Sudah satu minggu ia mengitari jalan itu menggunakan sepeda motor, ia mencatat ada beberapa bengkel dan ia bahkan berhenti sejenak di sekitar bengkel tersebut. Ia amati kelebihan dan kekurangan masing-masing bengkel tersebut. Hal yang biasanya ia terapkan ketika akan balap liar, ia akan mengenali musuhnya. Kelemahan dan kelebihan lawannya akan ia pelajari melalui video rekaman. Sehingga Zen nyaris tak pernah terkalahkan jika lawannya bermain sportif.


Zen pun menatap kertas A3 yang telah penuh sketsa dari bengkel-bengkel yang ia survey.


“Ok, sekarang gue tinggal cari titik strategis. Nah, ini lokasi disini kayaknya cukup menjanjikan. Pesaing sedikit dan juga ramai.” Ucap Zen.


Keesokan harinya, Zen pun menuju area yang ia lingkari untuk mencari ruko atau rumah yang bisa ia jadikan bengkel miliknya sendiri. Ia ingin membuka usaha sendiri dengan skillnya. Ia pun tak ragu kala di beri semangat oleh Pak Leo. Maka tekad Zen telah bulat, ia akan menekuni dunia perbengkelan. Nyatanya beberapa bulan terakhir ini, ia bisa makan, merokok tanpa fasilitas dari Pak Ahmed.


Tiba di sebuah ruko dua tingkat, Zen kaget dengan uang sewanya.


’30 juta satu bulan, gila aja… kayak’nya gue harus cari yang kecil tapi terlihat dari kejauhan.’ Batin Zen, Ia pun memarkirkan sepeda motornya di depan salah satu toko yang terdapat tukang parkir. Ia berjalan kaki mencari tempat yang cocok dikantong dan impiannya. Setelah hampir satu hari ia berputar-putar di sekitar area itu. Ia pun berhenti di satu ruko berukuran 4x4.


“Ya sewanya sebulan 5 juta.” Ucap pemilik bangunan.


Zen duduk di tepi roling dor yang telah tampak berkarat. Ia mengitari pandangannya di dalam ruangan tersebut. Hanya ada satu ruangan dan satu kamar mandi yang hanya berukuran satu 1x1 meter. Zen mengurai rambutnya. Ia cukup keberatan dan ragu dengan uang 5 juta sebulan.


“Bisa kurang ga pak? 3 juta deh buat bulan pertama. 2 jutanya saya buat beli kayu sama triplek. Saya mau buat satu tempat tidur disini.” Tawar Zen kepada pemilik bangunan.


Tampak suami dari pemilik bangunan itu berbisik ke istrinya. Sang istri pun manggut-manggut.


“Maaf, kalau boleh tahu buat usaha apa ya? Ntar kayak kemarin saya jadi ke seret-seret ini bangunan dipakai buat pengedar s a b u.” Ucap pemilik bangunan yang hanya satu lantai dan belum di marmer. Masih lantai semen biasa.

__ADS_1


“Saya rencana buat bengkel. Nah uang saya kurang buat sewa, jadi saya rencana bulan depan tinggal di sini sekalian biar jatah uang kost bisa bayar sewa ruko ini. Gimana bu?” Tanya Zen.


Pemilik bangunan itu pun akhirnya setuju, Zen pun bergegas pulang. Ia membeli barang-barang yang ia butuhkan untuk menyekat satu ruangan untuk tempat ia tidur. Tiba-tiba saat malam hari ia sibuk dengan alat-alat gergajinya, pintu rolling dor rukonya di gedor seorang lelaki, Zen membuka sedikit rolling dor tersebut.


“Nak Zen, cepat banget. Kirain besok mulai. Gercep amat?” Tanya Pak Dien yang tak lain suami dari pemilik bangunan tersebut.


“Oh bapak, masuk pak…” Ucap Zen seraya mendorong rolling dor.


Zen mempersilahkan Pak Dien untuk duduk di satu kursi kecil. Namun saat Zen akan memaku salah satu kayu ke bagian dinding. Pak Dien memberikan saran padanya.


“Loh enaknya kalau mau buat kamar kecil, sebelah sana saja nak Zen.” Sarannya.


“Lah kalau Nak Zen shalat, masa’ ia mau ngadep tempat buang hajat.” Ucapnya.


Zen terpaku sesaat, ucapan shalat dari pak Dien membuat ia merasa malu. Ia bahkan lupa bacaan shalat, mungkin hanya sebatas rakaatnya dan waktu-waktunya. Akhirnya Zen pun mengikuti saran Pak Dien. Bahkan satu ruangan untuk tidur sedikit lebih lebar dari rencana awal atas saran Pak Dien.


“Jadi tambahin setengah meter Mas Zen, lah kalau masu shalat ini ga perlu lipat kasur. Terus itu tempat shalat ga di injek-injek. TErjaga kebersihan dan kesuciannya.” Ucap Pak Dien seraya menggunakan meteran dan mengukur berapa meter triplek akan di gergaji. Maka malam itu, kamar untuk tidur Zen pun telah di buat dan di cat bersama dengan pak Dien. Bahkan Pak Dien pulang hampir dini hari. Zen tertidur diatas karpet tanpa bantal dan selimut.


Keesokan pagi, Zen juga telah membawa barang-barangnya ke bengkel. Ia pun membuka bengkel seraya menanti sidang skripsinya yang masih menunggu jadwal keluar dari kampus. Zen bahkan melakukan saran Pak Dien untuk memberikan promosi, untuk isi angin ban motor, gratis di bengkelnya. Hari demi hari bengkel Zen mulai dikenal banyak mahasiswa dan masayrakat sekitar, terlebih mereka yang hampir setiap mengisi angin ban motor pasti ke bengkel ‘BDZ Gemilang’. Sebuah nama yang Zen pilih untuk bengkelnya. Tak terasa tiga bulan bengkel itu di buka, ia pun kewalahan karena banyaknya langganan yang akan datang servis motor atau ingin memperbaiki motor.


“Cari asisten Mas Zen. Dua sekalian.” Usul Pak Dien yang hampir setiap hari akan duduk di depan bengkel Zen, ia sekalian jualan bakso dengan gerobak di sisi bengkel Zen.

__ADS_1


“Ga sanggup bayarnya Pak, ini lagi ngumpulin uang buat biaya wisuda.” Ucap Zen seraya memutar kunci ring untuk membuka ban motor yang akan ia ganti velg nya.


“Lah cari yang butuh kerjaan. Misal tukang buka baut, sekalian cari tukang cuci motor. Disini belum ada itu…” Komentar Pak Dien yang memang setiap hari mencuci motor di belakang bengkel Zen menggunakan selang, sabun dan juga tempat biasa Zen mencuci motornya.


Zen akhirnya termenung, ia pun baru kepikiran ide brilian.


“Ide bagus, gue bakal kasih promosi cuci motor gratis untuk pelanggan pertama setiap pagi. Dan gue yang akan cuci motor itu. Kan buku Oliv waktu itu pernah aku baca kalau sedekah itu membuka jalan rezeki. Lah gue belum mampu sedekah uang. Gue sedekah tenaga sama sabun dan air aja dulu kali ya.” Gumam Zen.


Ia pun keesokan harinya menemui Pak Leo, ia ingin rekomendasi orang yang bisa membantunya di bengkel. Maka sejak hari itu, Zen memiliki dua orang yang membantunya di bengkel. Walau yang memperbaiki motor tetap Zen. Namun Zen tak pelit ilmu, ia tetap mengajari dua asistennya. Ia bahkan saat bertemu satu masalah baru dengan motor, dan ia menemui solusinya. Maka ia akan memanggil dua asistennya.


“Bang, gue udah dua kali ikut orang. Baru abang punya ilmu tapi di bagi-bagi. Ga takut bang, ntar besok gue buka bengkel terus nyaingin abang?” Tanya Bimo anak putus sekolah karena mencuri motor.


Zen yang sekarang banyak membaca buku tentang bagaiamana seorang muslim seharusnya bersikap dan bermasyarakat.


“Sampaikanlah ilmu walau satu ayat, dan yang saya dapat dari baca buku itu.” Tunjuk Zen pada Buku yang bertengger di mejanya sudah berapa hari ini.


“Allah murka pada mereka yang menyembunyikan ilmu. Kalau memang kamu lebih sukses dari aku, berarti itu sudah rezeki Elo, Bim. Dan yang jelas saat ntar Lo bisa nafkahi anak istri Lo pakai uang halal dari hasil Lo belajar ngebengkel sama Gue, itu bisa menjadikan ilmu yang gue berikan ke Elo, bermanfaat. Klo gue simpen, gue mati. Udah selesai tuh ilmu, manfaatnya pas gue idup doang.” Ucap Zen.


Seorang lelaki yang motornya sedang di perbaiki mengirim rekaman video percakapan Zen dan dua anak buahnya ke lelaki yang memberikan upah pada tim nya untuk terus memantau perkembangan sang anak.


“Papa bangga pada mu, Zen. Ini yang papa mau…” Ucap Pak Ahmed saat melihat kiriman video dari tim pencari informasi yang ia sewa selama hampir satu tahun. Itu ia lakukan, karena ia tak ingin anaknya kembali terjerumus ke jalan yang salah.

__ADS_1


__ADS_2