Love Of Bad Boy

Love Of Bad Boy
Bab 28 Tulang Rusuk


__ADS_3

Dinginnya AC di dalam kamar bungsunya Bu Nuril tak mampu membuat lelaki yang memiliki hidung mancung itu dapat terlelap. Ia masih memikirkan gadis cantik yang selama berapa tahun ini menghuni hatinya.


"Nyesel tadi kenapa ga nanya apakah mereka sudah menikah... eh bodoh Lo Zen, ga mungkin si Farhan itu berani nyentuh Oliv, tuh bidadari juga ga mungkin mau di sentuh yang ga halal... aduh... gini amat rasanya cinta terpendam. Nyesek.... " Gumam Zen yang mengacak rambutnya.


Ia pun keluar dari kamar. Ia merasakan haus, segelas air es dan membuat satu cangkir kopi mungkin bisa membuat ia melupakan sejenak tentang rasa kecewanya. Namun saat di dapur ia melihat Mama nya justru asyik menikmati sebuah mie instan.


"Mama.... sejak kapan suka mie instan?" Tanya Zen histeris. Ia tahu betul jika Mamanya sangat menjaga pola makan. Tapi malam ini dia melihat mamanya justru makan mie instan dengan telur rebus.


"Sejak mama merasa kalau mama harus nikmati hidup.... Mama diet buat jaga papa, tapi papa mu sepertinya tak memuji mama, bulan ini mama naik dua kilo papa mu sepertinya tak protes. Maka mama tidak rindu kebiasaan masa muda dulu. Makan mie instan... " Ucap Bu Nuril yang hidungnya berkeringat karena pedasnya mie.


Zen pun membuat kopi menggunakan air hangat yang berada di dispenser. Seraya mengaduk kopinya, ia pun menarik kursi di sisi mamanya.


Ia ambil satu sendok mimi lalu ia kunyah dengan cepat karena panas. Lidahnya bahkan terasa panas.


"Wuih... super hot ma.... " Ucap Zen yang menggerakkan hidungnya karena kepedasan.


"Kalian bertiga sama semua tidak ada yang menyukai pedas.... " Ucap Bu Nuril yang menarik mangkuk mienya.


Zen pun tertawa dan menggelengkan kepala melihat Bu Nuril bahkan menghabiskan kuah yang ada di mangkuk.

__ADS_1


"Ma... " Panggil Zen.


"Hem... " Jawab Bu Nuril yang baru saja meminum satu gelas air es.


"Mama, gimana cari ngelupain orang yang kita suka tapi udah jadi milik orang lain.... " Ucap Zen serius. Bu Nuril yang baru saja kembali akan minum menaikan alisnya. Ia pun membenarkan posisi duduk hingga berhadapan dengan putranya.


"Zen... Jadi Olif sudah di lamar orang lain?" Tanya Bu Nuril.


"Kayaknya udah menikah ma.... " Lirih Zen seraya memainkan piring cangkir kopi miliknya.


"..... "


Bu Nuril menepuk pundak bungsunya.


"Son, melupakan itu akan sulit jika kamu masih menoleh kebelakang. Mama lihat dari dulu sampai sekarang kamu tidak pernah mengenal perempuan. Bahkan Olif mungkin perempuan pertama yang mama tahu ada dalam hidup kamu selain mama. Kenapa tidak coba mencari jodoh, kamu bilang kamu sudah pantas kan?" Tanya Bu Nuril.


"Tapi males mas... Kebanyakan kayaknya ngelihat Zen itu di posisi sekarang. Kayak ga tulus gitu ma... Males lah punya istri yang kek gitu... " Ucap Zen lagi seraya mengangkat cangkir kopi yang masih panas.


"Gimana kenalan dengan anak teman Papa? Kemarin mama lihat istrinya. Kita sempat ketemu disana. Kalau dilihat dari orang tuanya. Kayaknya buah jatuh ga jauh dari pohonnya." Ucap Bu Nuril.

__ADS_1


"Berarti, Zen dulu begitu juga karena buah jatuh ga jauh dari pohonnya dong ma.... " Ucap Zen.


Seketika ekspresi wajah Bu Nuril memerah. Ia malu untuk mengakui candaan anaknya, dulu saat gadis ia bahkan punya banyak pacar tetapi ia masih bisa menjaga diri. Bu Nuril pun memberikan saran pada Zen untuk berkenalan dulu. Kebetulan tanggal 14 besok keluarga mereka akan ngunduh mantu maka mereka mengajak Zen untuk ikut serta.


"Siapa tahu disana ketemu jodoh Zen.... " Ucap Mamanya.


"Zen ga janji, barengan sama jadwal ngaji. Udah janji ma Ustadznya siap nganterin ke lokasi. Lokasinya jelek ma, kalau ga pakai mobil gardan." Ucap Zen seraya menyeruput kopi hitam manis kesukaannya.


"Kenapa tidak lamar anak Ustad Fikri saja? Kan beliau masih punya anak gadis satu...?" Tanya Bu Nuril.


"Mama... Hafidzoh lo ma... ga berani lah Zen... Ndarus aja masih blekak blekuk... masa' iya punya istri hapal Quran ma... " Ucap Zen tertawa karena ide Bu Nuril yang cukup tinggi karena meminta ia melamar putri ustad Fikri.


Bu Nuril pun memberikan saran pada Zen, intinya cari pengganti Olivia dan langsung menikah jika cocok. Ia khawatir jika putranya terlibat pacaran.


"Dunia tidak selebar daun kelor Son, Zain saja yang tidak pernah jalan dengan perempuan eh tahu-tahu bisa di kasih jodoh... masa bungsu mama yang lebih banyak pergaulan ini bakal jomblo terus, usahanya di kencangin jangan cuma doa.... " Ucap Bu Nuril seraya beranjak ke arah kamar tidurnya.


Zen merenungi apa yang dikatakan Bu Nuril.. Zain termasuk lelaki yang sibuk dengan belajar, kerja dan ibadah. Kini justru mendapatkan jodoh cantik, pintar.


"Apa tanya istrinya Kak Zain ya tentang Oliv. Pasti dia kenal.... Astaghfirullahalazim.... Zen... ngapain nanya bini orang. Udah Zen... move on... Cari tulang rusuk Lo. Pokoknya sekarang fokus ke tulang rusuk bukan Oliv...Hah dimana kamu tulang rusuk ku." Gumam Zen seraya menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


__ADS_2