
Axelo sudah merasa terpancing karena mendengar ucapan Zen. Ia baru ingin keluar. Namun situasi seperti itu membuat Pak Arief lebih memilih untuk keluar.
"Kamu tepikan mobil saja Ax, biar om turun lebih dulu." Ucap Pak Arief.
Namun saat Oliv hendak ikut turun. Pak Arief dari arah kaca spion cepat mengatakan kepada putrinya untuk tidak okut turun.
"Mau kemana? tidak usah turun." Ucap Pak Arief.
Olivia pun patuh. Ia tetap berada didalam menunggu mobil menepi.
Namun saat mobil menepi, Olivia melihat sosok lelaki yang berteriak tadi adalah Zen.
"Zen..... " Gumam Olivia.
"Zen?" Beo Axelo.
Sepupu Olivia itu mengikuti anak mata putri Pak Arief. Ia pun samar-samar mengingat seseorang.
"Sepertinya nama dan perawakannya aku tak asing." Batin Axelo.
Sedangkan Zen. Ia memandang Pak Arief dengan tatapan marah.
"Apa sopir anda tidak bisa pelan ketika di perempatan. Apa sopir anda SIM nya di ambil dengan jalur belakang?" Tuduh Zen.
Pak Arief menundukkan kepalanya. Ia menatap Zen lekat.
"Sabar anak muda, mentang-mentang sudah menyelamatkan bocah tadi bukan berarti anda boleh menuduh orang tanpa bukti dan langsung marah begini." Nasihat Pak Arief.
Zen mendengus kesal. Entah ini kali berapa ia harus berlari terbirit-birit menyelamatkan anak atau kucing di perempatan jalan yang sedikit berbelok. Sehingga bagi mereka yang jarang melintas di jalan itu tak paham bahwa kadang dijadikan sebagian warga dan mahasiswa untuk menyebrang.
"Ah.... terserah, lain kali jangan ngebut lagi kalau lewat sini." Ucap Zen mengibaskan tangannya.
Ia meninggalkan Pak Arief yang sedang masih berbicara padanya. Pak Arief membenarkan kacamata dan menggelengkan kepala. Ia tak percaya lelaki yang baru saja menyelamatkan anak kecil tetapi justru memiliki temperamen buruk.
"Hei tunggu!" Teriak Axelo yang baru saja menepikan mobilnya.
Zen menoleh dengan tatapan kesal. Ia bahkan berkacak pinggang.
"Apalagi? Mau minta maaf? No, sama tuh anak ga usah sama gue?!" Ucap Zen kesal. Ia pun segera berbalik.
Namun satu suara yang memanggil namanya membuat ia berbalik cepat.
"Zen.... " Panggil perempuan itu.
langkah kaki Zen terhenti.
__ADS_1
"O-Liv..... " Ucapnya. Ia cepat berbalik sehingga menghadap ke arah Olivia yang berada di sisi pak Arief.
'Ah.... senang sekali bisa melihat dan bertemu dia.... ' Batin Zen girang.
"Ehm.... Ehm.... " Suara Pak Arief juga Axel membuyarkan lamunan Zen yang merasakan berbunga-bunga bisa bertemu pujaan hati.
"Kayaknya udah ada yang kenalan ni, sampai teman sendiri pun diabaikan." Ucap Axel.
Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Zen menatap Axel. Dan ternyata ia baru mengingat, Axel. Salah satu pembalap liar yang juga luar biasa hebatnya. Bahkan ia di pilih menjadi ketua geng motor, menggantikan Axel saat itu, kala Axel akan menikah.
"Axel.... Axelo Khan?" Ucap Zen.
Bibir Axel tertarik. Ia berjalan ke arah Zen.. Ia rangkul Zen karena lama tak bertemu.
"Wow.... apa yang terjadi dengan Omar Zen? Anak Mama yang sekarang kenapa begitu kotor?" Goda Axelo.
Zen memang sering dipanggil anak Mama saat ia masih berkumpul dengan geng motor. Karena hampir dipastikan jika ponsel Zen berdering maka di layar ponsel tersebut pasti tertera nama 'Mama'. Zen merasa malu, ia cepat meninju lengan Axel.
"Wow.... Baju gue kotor Zen.... " Gerutu Axel.
"Ngomongin baju, hati udah bersih?" Bisik Zen ditelinga Axel. Axel pun memiting kepala Zen. Ganti ia yang berbisik pasa Zen.
"Jangan macam-macam, jalan mu untuk mendapatkan Oliv tidak muda. Aku sudah antri di depan. Bahkan kali ini aku akan melamar nya dengan Pak Arief." Ucap Axel.
'Apa?' Batin Zen kaget. Sebisa mungkin ia menyembunyikan perasaannya.
Dua sahabat itu akhirnya bertemu di bengkel Zen.
"Maaf om untuk yang tadi, saya tidak tahu kalau Om Ayahnya Olivia." Ucap Zen seraya mempersilahkan tamunya minum es dogan yang ia pesan di warung depan bengkelnya.
"Memangnya kalau bukan ayah Olivia, kamu bebas bentak orang? apa yang spesial dari anak saya." Ucap Pak Arief santai. Namun satu pesan dari Axel membuat kedua bola mata Pak Arief terbuka lebar.
{Om, nih anak suka sama Olivia kayaknya. Kita kerjain aja. Oliv juga kayaknya salting, apa jangan-jangan mereka pacaran?}
[Jangan sembarangan kamu! Olivia tidak pernah pacaran]
Axel menahan tawanya melihat ekspresi Pak Arief yang menatap Zen kesal.
"Kenal dimana sama Oliv?" Todong Pak Arif.
'Yes, akhirnya kena lo sekali ini Zen. Puas banget gue... seumur-umur gue baru ini lihat muka lo kayak kepiting rebus, bisa jatuh cinta juga Lo.' Batin Axel senang.
Ia sebenarnya tidak jahat, namun ia merasa kesempatan emas untuk membalas perbuatan Zen yang dahulu selalu membuat usahanya mendekati perempuan gagal karena ia begitu tidak suka jika Axel dekat dengan perempuan-perempuan yang hanya menikmati kartu debit san kredit milik Axel. Sedangkan saat ini, Zen dan Olivia sama-sama khawatir.
Khawatir kalau Zen menceritakan kejadian sebenarnya. Kedua, Zen khawatir jika tidak jujur dosa. Jujur malah hilang kesempatan terlihat baik di hadapan calon mertua.
__ADS_1
"Di.... Ba-" Ucap Zen terputus saat Olivia cepat menjawab.
"Di Perpustakaan Pa, Zen teman satu kampus. Beda Fakultas." Ucap Olivia cepat.
"Jadi kamu mahasiswa?" Tanya Pak Arief lagi.
"Jadi Lo belum selesai juga Bro?" Tanya Axel yang juga tal percaya jika temannya itu belum juga menyelesaikan kuliahnya.
"Lagi nunggu wisudah." Ucap Zen cepat.
Tanpa Zen sadari jika Ia dan Olivia sedang di amati oleh Pak Arief.
'mau di kasih makan apa anak ku kalau sama lelaki ini, Ayolah Olivia. Lelaki ini bukan lelaki yang baik nak, untuk kamu jadikan pendamping hidup mu. Kepada aku saja dia berani membentak apalagi nanti kamu hidup bersama dirinya. Aku harus memilih dan mencari lelaki yang tepat dan baik untuk puteri semata wayang ku.'' Batin Pak Arief.
'Gue ada ide... Kayaknya Om Arief ga terlalu suka nih ma Zen.' batin Axel.
Ia pun berinisiatif memberikan kesempatan untuk mengurus usahanya yang ada di ibukota. Namun Zen menolak.
"Maaf bro, gue ga bisa. Biar ini kecil-kecil tapi ini milik gue walau masih nyewa gedungnya. Gue ngerintis ini dari nol. Jadi berat rasanya kalau harus gue tinggalin. Terus, gue lebih nyaman usaha sendiri daripada ikut orang." Tolak Zen.
"Bro... lo ga harus tutup usaha Lo. Lo cukup bantu gue urus showroom gue. Selama gue ga disini. Nah, selama itu Lo bisa awasi orang yang bakal gue rekrut. Kalo ada yang bisa dipercaya menurut Lo. Boleh deh Lo tinggal kabur usaha gue. Please, gue susah percaya ma orang Bro." Pinta Axel pada Zen.
Entah kenapa Olivia justru penasaran darimana Axel kenal Zen. Semasa Putih abu-abu, Ia tak pernah melihat sosok Zen.
'Apa Axel dulu juga geng motor dan terlibat balap liar.' Kali ini Olivia ikut bermonolog kapan dan dimana Zen dan Sepupunya itu bertemu. Tampaknya mereka begitu akrab.
Zen pun meminta waku pada Axel. Ia akan memikirkan tawaran yang diberikan oleh Axel.
"Gue pikirin dulu deh.... " Ucap Zen. Axel pun memberikan satu kartu nama pada Zen.
"Hubungi gue kalau Lo udah ambil keputusan." Ucap Axel.
Zen menatap kartu nama dari Axel. Ia tersenyum dan menepuk pundak Axel.
"Wow... salut... udah jadi pengusaha rupanya Lo, Ax." Ucap Zen.
"Gue tunggu dalam tiga hari ini bro. Kebetulan gue nginep di rumah Olivia." Ucap Axel seraya menaik turunkan alisnya. Membuat hati Zen semakin merasa ciut.
'Ini saingan berat-berat amat ya. Nasib-nasib, apa bidadari dunia ini cuma buat orang baik-baik, Tuhan?." Ucap Zen dalam hatinya.
Saat Pak Arief dan Olivia berjalan lebih dulu meninggalkan bengkel Zen. Axel membisikkan sesuatu ke telinga Zen.
"Kalau Lo mau menemukan wanita yang sholihah, lupakanlah segala sesuatu tentang wanita Sholihah. Fokuslah untuk menjadi laki-laki yang solih, Bro. Percaya gue. Klo jodoh ga akan kemana.Soalnya gue udah praktek dan hasilnya fix beneran." Bisik Axel.
Zen salah mengartikan kalimat Axel. Selepas kepergian Axel dan Olivia. Zen justru meradang.
__ADS_1
"Kayaknya Axel udah dapat restu. Lah bisa nginap gitu. Katanya kalau bukan mahram ga boleh dekat-dekat perempuan. Lah itu si Axel bisa akrab banget sama Olivia....Tuhaaan... sisakan aku satu wanita sholihah yang mau menerima aku apa adanya." Ucap Zen saat beristirahat di dalam kamarnya.