
Omar Zen merasa hidup adalah sebuah pilihan. Apalagi disaat kesempatan datang. Ia telah memikirkan matang-matang apa yang akan ia pilih. Maka keputusan bungsu Pak Ahmed itu, ia memilih tawaran Axel. Toh ia masih bisa membuka usahanya. Maka ia menghubungi Reyhan. Rekan bengkelnya yang lama untuk mengganti posisi nya di BDZ, bengkel Zen.
Pagi sekali ia mengendarai mesin kuda hitam nya. Menuju kediaman Pak Arief. Ia sudah menghubungi Axel. Pagi ini ia akan mengantarkan Axel sekalian ke bandara. Lelaki keturunan india itu akan ke Surabaya. Melalui map di ponsel pintarnya, ia meliuk-liuk di jalanan ibu kota diatas motor gede yang punya semboyan selalu di depan. Hanya 35 menit, Zen tiba di kediaman Pak Arief.
Ia menekan bel di pagar, seorang asisten rumah tangga keluar. Ia pun telah dinanti oleh Axel. Namun Axel masih temannya yang lama. Masih suka santai.
"Lo belum siap-siap?" Tanya Zen penasaran saat melihat Axel dengan celana pendek serta kaos oblong.
"Apa harus pakai baju resmi untuk naik pesawat?" Tanya Axel kesal. Ia melempar.kan bantal sofa ke arah Zen.
"Apakah sesantai ini Lo di rumah calon mertua?" Tanya Zen polos. Namun ucapan Zen di dengar Pak Arief yang sedang ingin keluar untuk mengantar mobil ke bengkel.
"Calon mertua? Axel... jangan bilang kali ini kamu kembali bersekongkol dengan Olivia." Selidik Pak Arief kepada keponakan nya.
Axel mengusap tengkuknya. Ia merasa tertangkap basah. Baik Zen mau pun Pak Arief menanti penjelasan suami Zahrana itu.
"Zen ini sahabat dekat aku Om. Suka becanda kita, iya kan Zen?" tanya Axel seraya memasang wajah semanis mungkin.
__ADS_1
'Sial, gue di prank ma Axel. Balas dendam Lo Ax.' Batin Zen yang merasa tertipu.
"Iya Om, becanda." Ucap Zen. Tiba-tiba seorang asisten yang tadi menyemprot bunga menghampiri Pak Arief. Ia mengatakan ada tamu yang mencari pemilik rumah. Pak Arief pun menemui tamu tersebut. Zen dan Axel kembali melanjutkan perbincangan mereka yag tertunda.
"Jadi gimana, Lo sudah buat keputusan?" Tanya Axel.
"Apa maksud Lo dengan calon suami Olivia?" Tanya Zen kesal.
"Ya die balik nanya. Perkara itu gampang. Lo terima tawaran gue ga?" Tanya Axel balik.
Axel berpindah posisi duduk. Ia mendekati Zen yang duduk di sofa panjang.
"Santai Bro. Gue cuma ngetes Lo doang. Lo beneran naksir Olivia?" Bisik Axel.
Zen tak menjawab pertanyaan Axel. Namun kedatangan Pak Arief membuat dua orang sahabat itu menoleh ke arah Farhan. Pemuda yang beberapa bulan lalu sempat ditemui Zen, untuk membantu skripsinya.
Farha justru tak kalah kaget saat melihat Zen, ia dari awal bisa menebak jika Zen punya hati pada Olivia. Bahkan salah satu keputusan dirinya hari ini menemui Pak Arief karena ia tak mau keduluan lelaki manapun untuk meminang Olivia.
__ADS_1
'Apa Zen kesini melamar Olivia juga.' Batin Farhan.
Farhan menyapa Zen dan bersalaman begitu juga dengan Axel. Ia duduk di satu sofa yang hanya muat untuk satu orang. Pak Arief pun memulai Obrolan.
"Maaf, anda siapa ya? Saya tidak kenal. Atau kita pernah bertemu dimana?" Tanya Pak Arief.
Zen menjelaskan bahwa ia adalah teman semasa sekolah juga kampus Olivia. Axel yang mencium gelagat bahwa Farhan mau bicara serius. Maka ia mengajak Zen segera berangkat. Zen justru penasaran apa yang membuat Farhan terlihat sangat gugup.
"Kita cabut yo Zen. Satu jam lagi nih jadwal penerbangan nya." Ajak Axel.
Zen pun mengangguk. Namun saat menanti Axel mengambil tas. Pak Arief yang tak sabar bertanya perihal tujuan Farhan datang ke kediaman nya.
"Saya kemari ingin melamar Olivia, Pak." Ucap Farhan mantap.
"......." Pak Aried
'Habis sudah harapan mu,Zen.' Batin Zen seraya menunduk lemas mendengar ucapan Farhan.
__ADS_1