Love Of Bad Boy

Love Of Bad Boy
Bab 15 Simpati Olivia


__ADS_3

Zen mendadak bingung, dia mendengar bisikan ibunya tapi sulit menjawab. Ingin mengklaim sebagai kekasih tapi merasa diri tak pantas. Namun, dia enggan jika Oliv menjadi milik orang lain.


"Enggg, ehmm, ka mu, sama siapa?" tanya Zen, wajahnya bingung. Dia lalu meminta Olivia keluar ruangan dengan mengibaskan tangannya.


Sesaat Olivia celingukan, dia melihat ke arah Nuril dan membungkukkan sedikit badannya, sebelum berbalik arah dan keluar ruangan sesuai permintaan Zen.


Nuril melihat sekilas ke arah Ahmed dan Zain yang baru saja tiba di meja makan. Dia lalu memilih mengintip Zen yang sedang bicara di teras dengan gadis bernama Olivia.


Pembicaraan samar terdengar membuat Nuril pegal menempelkan telinga di balik pintu. Dia lalu mengabaikan keduanya sebab percaya bahwa Zen takkan berulah macam-macam dengan wanita.


"Bengkel? kunci motor? masa Zen sekarang nyuri, sih? ah, gak mungkin. Palingan nolongin itu anak terus nanyain ke bengkel mana dia kudu ngambil," gumam Nuril sambil lalu meninggalkan mereka.


Sementara di balik pintu.


Pembicaraan serius tengah Olivia layangkan untuk sosok yang terasa akrab akhir-akhir ini. Oliv berusaha mengingat dimana dia pernah melihat wajah Zen.


Kilasan memori itu melintas, dia samar akan hal ini dan tak ingin mengutarakan kecurigaan bahwa dialah si penguntit sakaligus montir di bengkel tempo hari. Olivia, tidak mau ucapannya menjadi tuduhan atau bahkan fitnah tanpa bukti.


Dia memilih membuka percakapan dengan Zen mengenai kunci motornya sesuai arahan Reyhan.


"Maaf, aku ke sini sebab ingin mengambil kunci motor. Semua telah di selesaikan oleh rekanmu di sana. Aku juga sudah membayar biaya penggantian sparepart," kata Olivia, sembari menunduk tak ingin menatap sosok di hadapan.


Zen mengangguk, dia lalu merogoh benda di maksud dari dalam tas ranselnya. Menyerahkan kunci motor lengkap dengan gantungan bebek berwarna kuning, ke atas meja. Zen bingung ingin berkata apa.


"Ehm, maaf lama," kata Zen, duduk di kursi yang menempel di ujung tembok.

__ADS_1


Olivia lalu meraih kunci di atas meja dan menarik kursi agar tak terlalu berdekatan dengan pria itu. Dia pun duduk di sana sejenak sembari melepas lelah setelah berjalan dari pos satpam tadi untuk menuju rumah ini.


Dia menghela nafas. "Maaf, aku tadi mendengar perdebatan kalian. A pa kau masih kuliah? dan belum wisuda?" tanya Oliv hati-hati khawatir menyinggung Zen.


Zen menoleh ke arah Olivia. Dia mengangguk pelan. "Namaku, kau pasti tahu lah, kan tadi katanya denger," ucap Zen, tersenyum simpul melirik pada Olivia.


Senyum manis Olivia tersembunyi saat kepala yang tertutup hijab itu menunduk. Dia mengangguk tak kalah pelan dari Zen.


"Ehm, gini aja, Zen. Kalau kamu mau, aku punya teman laki-laki. Dia cerdas dan mungkin bisa jadi teman untuk kamu diskusi dalam menghadapi sidang nanti atau jika kamu baru akan menyusun skripsi, dia juga dapat membantu," kata Oliv, panjang menjelaskan tentang sahabatnya.


Zen merasa mendapat lampu hijau, Olivia sedikit menaruh simpati padanya. Mungkin ini jalan agar dapat lebih dekat mengenal semua sifat dan karakter gadis yang duduk disampingnya.


Tawaran Oliv langsung diterima oleh Zen. Dia antusias menanyakan alamat rumah dimana sang pria pintar itu tinggal.


"Mau, mau, mau, dimana dia? gue sambangin tempatnya nanti," balas Zen antusias, dia menganggukkan kepala cepat dengan senyum terkembang di wajah. Tanpa di sadari oleh Zen, dia juga telah mencondongkan tubuhnya.


Zen menyadari sikapnya. Dia pun kembali menahan diri. "Eh, maaaf."


Olivia mengangguk, dia lalu mengeluarkan buku catatan kecil dari dalam tasnya, lalu menulis di sana.


Secarik kertas berwarna biru muda dan beraroma wangi, dia serahkan ke atas meja. Zen pun meraih lembaran itu setelah memastikan jari Oliv menyingkir dari sana.


Tulisan tangan rapi, garis tegas juga goresan di setiap huruf, sedikit banyak menguak kepribadian Oliv di mata Zen. Dia membaca pelan sebuah alamat di sana.


"Farhan, jalan Asoka belakang Alphajuli dua, Jakarta timur," kata Zen, membaca alamat sekaligus meng-capture dan menyimpan kontak Farhan.

__ADS_1


"Aku chat dia dulu kali ya sebelum ke sana. Biar dia gak kaget gitu, masa tampilan kek gue tiba-tiba datang," kekeh Zen, melipat kertas bertuliskan goresan tangan Oliv sebagai kenangan. Obat rindu lah.


Olivia mengangguk. "Bilang saja tahu dari aku," jawabnya seraya bangkit. Dia sudah terlalu lama di sana.


Zen tak dapat menahan langkah Olivia, dia pun melihat kepergian gadis itu dengan nelangsa.


"Gak apa sekarang kamu belum melihatku, tapi aku pastikan bahwa Zen pantas untuk Olivia," gumam Zen, mengepalkan tangan di depan dada.


Dari kejauhan Zen melihat Oliv telah pergi dengan menumpang ojol. Dia pun tak lama menyusul. Melangkah menuju gerbang sembari memesan ojek online.


Saat dia tiba di kos-an. Zen meletakkan beberapa barang kesayangan yang dia bawa dari rumah, kepalanya masih sedikit berdenyut sehingga memaksa tubuh untuk beristirahat di kasur busa nan tipis. Dia pun menyalakan kipas angin bawaan kamar kos, meski bunyinya bagai kodok ngorek tapi masih lumayan dapat menghantar angin agar ruangan tak panas.


Zen meraih ponsel dari saku celananya, dia membuka aplikasi pesan dan melihat foto profil Farhan. Penampilan bagai Olivia, lelaki itu memakai kopiah dengan baju koko berwarna marun, nampak tengah mengisi sebuah acara sebab dia berdiri di belakang podium.


"Ya iyalah, Zen. Lingkungan Oliv pasti beginian semua. Kalaupun dia mau kenal dekat sama kamu ya karena niatnya nolong doang. Mahluk beginian itu isi hatinya kek iklan sabun cuci piring, bersih bersinar, Moonlight," seloroh Zen terkekeh atas kalimatnya sendiri.


Omar Zen, menatap langit-langit kamar kos yang usang. Dia menerawang. Otaknya berputar mengingat ucapan Ahmed dan tekadnya.


"Farhan, please bantu aku. Dia pasang tarif gak ya? kalau iya, gue bayar pake apa ya? penghasilan bengkel kan baru segitu, buat bayar kos dan makan ala kenyangnya Alhamdulillah ketutup tapi untuk hal lain, aduh!" Zen menepuk jidatnya, kepala pun mendadak sangat pening dan nyeri. Dia lupa, bahwa ada jejak luka yang masih belum mengering di sana.


"Gimana nanti aja, Zen. Jangan nanti gimana, okeh okeh," ucapnya sambil memiringkan badan dan tak lama dia memejam.


Omar Zen tak tahu, bahwa sosok Farhan adalah seseorang yang telah menaruh hati pada Olivia sejak lama. Namun, semua masih mengambang di udara sehingga Zen memiliki sebuah peluang. Saat ini, dia hanya harus mulus melalui ujian sidang untuk wisuda secepatnya.


.

__ADS_1


.


_________________


__ADS_2