Love Of Bad Boy

Love Of Bad Boy
Bab 40 Bukan Nasab Yang Menentukan Nasib mu


__ADS_3

Tidak melalui hubungan seperti layaknya anak muda zaman sekarang, pacaran. Membuat Zen ingin meneguk indahnya bersama sang istri dengan caranya. Latar belakang yang sempat terpatri sebagai seorang bad boy membuat Zen tepat di hari ketujuh ia sebagai sepasang suami istri, ia mengajak Olivia untuk naik ke puncak sekedar menghabiskan waktu bersama. Sebelum mereka kembali sibuk bekerja. Dan yang membuat sepasang suami istri itu sempat berdebat, Zen ingin menggunakan Moge-nya.


"Mas... Serem ih... " tolak Olivia seraya menatap motor moge yang telah terparkir di halaman rumah. Sebuah hadiah pernikahan dari Zain yang membelinya khusus untuk kado pernikahan Zen dan Olivia.


"Ya ampun sayang... ini rugi kalau tidak di coba. Sekali aja kita naik ini... hitung-hitung menebus masa-masa kemarin yang cuma bisa membayangkan kamu ada di belakang aku sambil peluk aku... hehe... " ucap Zen ceplas ceplos.


Olivia melebarkan kedua netranya, ia hanya ragu-ragu. Ini pengalaman pertamanya naik motor seperti itu, apalagi untuk perjalanan jauh. Akhirnya dengan bujuk rayuan Zen, Olivia pun mengamini permintaan Zen. Sepasang suami istri yang sedang dilanda asmara itu pun meninggalkan kediaman Zen menuju puncak. Jika orang-orang kesana ketika libur. Mereka justru pergi tepat di hari Senin dan bukan libur sekolah. Sehingga jalanan cukup sepi dan lengang.


Olivia tampak malu-malu ketika tiba di puncak, mereka menikmati pemandangan yang cukup memanjakan mata.


"Kenapa tidak menunjukkan tanda-tanda sih Dek waktu dulu kalau punya rasa sama aku?" Tanya Zen.


"Cinta itu rasa dan mau tidak mau minta untuk di salurkan pada tempatnya dan harus halal. Aku perempuan dimana tidak mungkin menyatakan perasaan aku disaat aku sendiri belum selesai dengan diri ku sendiri. Salah satunya kuliah atau menuntut ilmu dan buat aku cinta itu proses. Sebuah proses yang di lalui dengan jalan yang benar insyaallah akan mendatangkan keridhoan Allah dalam hubungan itu. Mas sendiri kok bisa-bisanya mikir aku menikah dengan mas Farhan tanpa tabayun." Ucap Olivia.


Zen tampak terkekeh.


"Cinta itu harus disampaikan, masalah diterima atau tidaknya perkara nanti. Untung kita berjodoh kalau tidak... kan susah menata hati karena menikah tapi hati terlanjur berlabuh sama orang lain..." Cicit Olivia.


"Lah takut di tolak Dek... Aku di besarkan selalu dengan cara direndahkan oleh papa dulu. Jadi membuat aku itu setiap ingin melakukan sesuatu udah takut duluan dengan hasil nya jelek. Alhamdulillah karena lewat belajar banyak di majelis, aku jadi jauh berubah menghadapi kehidupan." Kenang Zen.

__ADS_1


Zen memang sering merasa kesepian, merasa tak ada artinya selama ini menjalani kehidupan karena ayahnya yang hanya menuntut ia seperti kakaknya, belum lagi lingkungan teman yang tak membuat ia lebih berpikir positif justru membawa nya menjadi seorang bad boy. Namun semua memang butuh proses, sehingga Zen berproses menjadi baik ketika dalam keadaan tidak nyaman atau keluar dari rumah dan tak mendapatkan privilege dari orang tuanya. Ternyata harus menempuh hidup susah dulu baru mampu membuat seorang Omar Zen bermetamorfosis menjadi seorang lelaki yang baik akhlaknya.


Olivia dan Zen sedang menikmati waktu berdua di Puncak sebagai suami istri. Mereka menikmati pemandangan yang indah dan kesepian yang menyenangkan di pegunungan. Mereka duduk bersama di atas bukit kecil dan menikmati momen yang tenang.


Saat menikmati momen tersebut, mereka membicarakan tentang masa depan dan mimpi-mimpi mereka.


"Besok kalau sudah dapat titipan nya Allah, ga usah KB ya?" Ucap Zen seraya menyeruput kopi hangat khas pegunungan.


Mereka berbicara tentang impian mereka untuk memiliki banyak anak dan membangun keluarga yang bahagia dan harmonis. Olivia merona mendengar permintaan sang suami. Olivia dan Zen merasa bahwa memiliki banyak anak adalah impian mereka sejak lama. Mereka ingin memberikan kasih sayang dan perhatian yang lebih kepada anak-anak mereka, serta melihat mereka tumbuh dan berkembang menjadi individu yang mandiri dan sukses. Terlahir dari keluarga kecil membuat mereka menginginkan punya banyak keturunan.


"Terserah Allah mau kasih berapa... kita cuma bisa berikhtiar dan berdoa." Jawab Olivia ketika di tanya oleh Zen tentang berapa jumlah jagoan dan putri yang ia inginkan.


"Tidak mudah mendidik anak, tapi dari masalalu ku, aku akan banyak belajar menjadi orang baik agar keturunan ku baik. Mas khawatir untuk keturunan kita nanti, semoga tidak ada yang ikut jejak ayahnya di masalalu.” Ucap Zen pada Olivia.


Sang istri menyandarkan kepalanya pada lengan kekar Zen. Setiap hari selalu rutin berolahraga membuat Omar Zen memiliki otot dan tubuh yang atletis.


“Bismillah, aku akan belajar untuk menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita. Agar lahir generasi yang lebih baik dari kita.” Ucap Olivia memantapkan rasa khawatir suaminya.


Namun, mereka juga tahu bahwa memiliki banyak anak akan menjadi tantangan tersendiri. Mereka harus mempersiapkan diri secara finansial, fisik, dan emosional untuk menghadapi tantangan tersebut. Namun, mereka yakin bahwa dengan cinta dan dukungan satu sama lain, mereka bisa mengatasi tantangan tersebut dan membangun keluarga yang bahagia dan harmonis.

__ADS_1


Setelah berbicara tentang impian mereka, Olivia dan Zen merasa semakin dekat dan saling memahami satu sama lain. Mereka merasa bahwa mereka memiliki visi dan tujuan yang sama dalam hidup dan siap untuk menghadapi masa depan bersama-sama.


Mereka berdua meninggalkan Puncak dengan hati yang bahagia dan penuh harapan untuk masa depan mereka yang cerah dan penuh cinta. Sebuah cinta yang memiliki kekuatan yang cukup kokoh karena bertemu setelah membekali diri dengan ilmu. Ilmu yang membuat mereka agar sama-sama pantas untuk jodoh mereka masing-masing. Sekuat apapun Omar Zen mengejar Olivia tak akan di pertemukan dalam indahnya mahligai pernikahan jika Allah belum bekehendak. Kini Omar Zen mendapatkan kebahagian setelah jalan terjal untuk bangkit, tanpa mengejar cintanya, tapi Omar Zen lebih sibuk memantaskan diri dan mengejar Cinta Allah. Saat diatas motor, kedua tangan Olivia melingkar di pinggang Omar Zen, kepalanya ia sandarkan di Pundak suaminya.


“Apa yang membuat mas bisa mengola rasa suka pada ku saat kita belum bertemu dalam pernikahan?” Tanya Olivia setengah berteriak di telinga sauminya.


Tangan kanan Omar Zen mengendurkan tarikan gas sepeda motornya. Ia sedikit menoleh kea rah kiri tepat di dekat wajah Olivia.


“Aku yakin, setiap yang ada di dunia ini pemiliknya Allah. Sekalipun kamu menjauh, atau aku seorang diri… Aku tidak akan putus asa walau mungkin kecewa ketika sempat ditunda pernikahan kita, tapi kekuatan aku Cuma satu, biarin deh kalau memang aku tidak Bersama kamu… Asal Allah sama aku.. sekarang ni, mas mana bisa tidak tambah taat dan patuh. Kamu Amanah dari Allah yang harus aku sayangi dan aku muliakan. Pokoknya mulai hari ini, kita akan melakukan apapun, apapun kondisinya, ikhlas asal kita tidak jauh dan melupakan Allah.” Ucap Zen seraya menggenggam tangan istrinya erat dengan satu tangan.


‘Kamu adalah perhiasan yang paling berharga di dunia ini Olivia… Aku akan menjadi imam yang baik buat kamu dan anak-anak kita, insyaallah mulai hari ini aku akan melakukan sesuatu dengan ikhlas… aku banyak belajar melalui perjalanan cinta kita.’ Batin Zen menatap ke depan, jalan berkelok dan sesekali ia bertemu lubang karena ia melewati jalan pintas bukan jalan tol.


Seperti itu juga sebuah rumah tangga, rumah tangga Omar Zen dan Olivia tak semulus jalan tol karena pernikahan adalah sesuatu yang dijalani penuh kerjsama untuk melewati rintangan yang ada. Hingga waktu terus berlalu, Omar Zen dan Olivia dikaruniai seorang putri cantik bernama Aqila Humaira yang mereka panggil Qila.


Inilah kisah dari seorang bad boy yang berakhir indah karena ia terus berjuang untuk berubah.


...THE END...


...“Bukan nasab yang menentukan nasib mu, bukan nasab yang menjadikan mu muliah. Tetapi mengajilah agar nasab mu menjadi mulia.” (Ning Sheila Hasina)...

__ADS_1


__ADS_2