Love Of Bad Boy

Love Of Bad Boy
Bab 8 Pengagum Rahasia


__ADS_3

Zen kembali ke kos-an Al setelah mengetahui informasi dasar tentang Olivia. Entah apa yang mendorong dia melakukan hal itu. Nuraninya hanya menuntun agar dia mendekati Olivia.


Sore menjelang, kedua pria telah ada di satu tempat tongkrongan, Al mengajak Zen bertemu Derry, anggota baru yang punya kemampuan sepertinya. Ketiganya pun berbincang tentang rencana mereka untuk membangun sebuah usaha dengan penghasilan yang menggiurkan. Billy mengatakan pada Zen saat bertemu di lapas beberapa waktu lalu, bahwa dia akan kembali meminta akses ke Silvester Degraz, bosnya terdahulu sebagai penyokong dana awal.


"Kita butuh buat beli alat penunjang guys, kurang dana sekitar 10 juta rupiah. Kalian ada ide gak?" tanya Zen pada Al dan Derry.


Aldrich termenung seraya menopang dagu sementara Derry memejamkan mata sambil menengadahkan kepala.


Tiba-tiba. "Hoy!" Derry menggebrak meja, membuat kedua kawannya melonjak kaget.


"Apaan sih, lo!" kesal Al, menepuk kepala si bocah tengik yang duduk disampingnya.


"Ngagetin aja!" oceh Zen, mengelus dada bidangnya.


"Gue ada ide guys. Gimana kalau ... gitu," ucap Derry dengan wajah sumringah.


Zen tak mengira jika isi otak Derry sama dengannya. Al menyerah, dia mengibaskan tangan di udara tak setuju dengan rencana Derry yang di dukung Zen.


"Tapi emang iya, cepet dapat uang. Apalagi di preteli, gak bakalan ketahuan. Tugas lo, cuma bawa Derry kabur secepat yang lo bisa!" ujar Zen, menegaskan tugas masing-masing dengan sorot mata berbinar.


Ketiganya sepakat akan mengeksekusi dua unit kali ini. Derry merekomendasikan kawasan baru yang mulai ramai di huni tapi keamanan sekitar belum mumpuni.


"Nih, Griya Gondol Indah. Perumahan baru jadi belum banyak yang di pagar. Kalau siang atau saat Maghrib itu sepi banget. Nah, rata-rata keluarga muda masih repot sama anak jadi lalai," tutur sang pemuda. Kedua tangannya bahkan ikut memperagakan jalur masuk dan keluar secara aman setelah melakukan aksi.


Eksekusi langsung dilakukan malam ini, Zen bertugas membawa hasil rampasan menuju bengkel tempat barang gelap mendarat. Billy akan bebas beberapa hari lagi, semua harus siap saat lelaki itu keluar nanti agar rencana mereka lekas beroperasi.


Zen kembali ke kawasan kumuh, mengambil beberapa barang miliknya di kos-an awal sembari menunggu kedua kawan membawa hasil.

__ADS_1


Menjelang tengah malam, keduanya bergabung di titik temu yang di sepakati. Zen lalu mulai melepas identitas asli motor yang telah mereka curi. Dengan bantuan Derry, dia membawa menuju tempat transaksi baru, sementara Al membawa semua perlengkapan milik Zen ke kos-annya.


Senyum kedua pria, puas saat fajar mulai menyingsing. Mereka tertawa lepas sepanjang perjalanan menuju kontrakan Al, seban melihat hasil yang lumayan banyak kali ini.


Beberapa menit berikutnya.


Zen memutuskan mandi dan bersih-bersih sebab dia berniat ke Kampus pagi ini. Meski mata sedikit mengantuk, dia rela menahan kantuk demi bertemu wanita yang menganggu hatinya.


"Kemana, lo?" tanya Al, menguap lebar bak kudanil sambil bergelung dengan guling, sementara Derry sudah mendengkur.


"Kampus, lah. Sidang skripsi gue mau mulai. Paling gak, gue nanti jadi bad boy berijazah politik bertitel S. IP," kekeh Zen, mematut diri di depan cermin, mengagumi wajah rupawan miliknya jika dalam kondisi normal tak urakan.


Aldrich terkekeh, dia juga membayar orang untuk mengerjakan semua skripsi bahkan rela merogoh MuA untuk membuat wajah si joky mirip dengannya.


Zen baru mengetahui aksi nekad Aldrich, dia pun tertawa lepas. Pemuda dengan segudang fasilitas seperti mereka yang memiliki jiwa bebas tak jarang melakukan ini, semua karena keterpaksaan dari orang tua.


Pria tampan putra Nuril, menunggu di gerbang kampus saat satu per satu penghuni gedung megah itu memasuki pelataran. Dia ingin melihat Olivia sejak awal pagi.


Kesabarannya berbuah hasil. Gadis dengan balutan hijab toska turun dari ojol dan mulai berjalan memasuki halaman Kampus. Zen, mulai mengikuti meski masih menjaga jarak. Sesungguhnya bertemu dosen pembimbing hanyalah selayang pandang, alias sekejap mata beberapa menit. Sisa waktu yang dia punya akan digunakan untuk membuntuti Olivia sehingga Zen mendapat perhatian sang gadis.


Rencana hari pertama mulus. Olivia belum menyadari keberadaannya di sekitar gadis itu. Kondisi ini, Zen lakukan berulang hingga satu pekan lamanya.


Di awal pekan selanjutnya, sang gadis sengaja menunggu sosok penguntit yang kerap berseliweran di sekitar. Jika bukan Sandrina yang melaporkan pada Olivia tentang fans pria selain Albert, mungkin Oliv takkan pernah sadar akan wujud Zen.


"Mana? dia gak ada di manapun, San," ujar Oliv. Dia sesungguhnya libur ngampus sebab sebagian dosen matkul rapat kali ini. Kesempatan untuk mencari tahu identitas si pria.


"Lah, dia ilang. Kata temanku sih, dia itu mahasiswa abadi. Lagi kelarin skripsi. Nah, namanya gak ada yang tahu, tampang cowok itu aja jarang muncul. Tampan tapi malas, dih," cibir Sandrina pada sosok Zen.

__ADS_1


Kedua gadis memilih duduk sejenak di cafetaria setelah mencari tahu ke semua kelas, bahkan melihat jadwal bimbingan khusus hari ini. Namun, tetap saja hasilnya nol, tak menemukan tersangka penguntitan.


***


Di tempat lainnya, saat yang sama. Omar Zen tengah menjemput Billy yang baru keluar dari lapas tepat pukul sepuluh pagi. Mereka menggunakan moda jasa angkutan ojol car agar leluasa membawa ke tempat pertemuan dimana bisnis akan dilaksanakan.


Perbincangan ringan pun kian akrab manakala keempat pemuda ternyata hampir seumuran. Pengalaman Billy tak dapat di remehkan, dia mumpuni untuk bidang seperti ini.


"Nah ini, rumah lama nyokap gue. Kawasan elit seperti ini adalah paling aman. Takkan ada yang berani masuk sebab stigma 'pekerjaan' ini tiada mungkin dilakukan kaum Borju bukan?" kekeh Billy, membuka pintu gerbang rumah kosong yang lama tak di huni.


"Kita jadi babu nih? bersih-bersih?" tanya Derry.


Billy tak suka di perintah, dia mendekati Derry dengan tatapan tajam.


"Lo ngoceh lagi, aut sana!" ucapnya seraya menekan dada pemuda itu dengan telunjuknya.


Glek. Derry menelan ludah susah payah, nyangkut di pangkal tenggorokan.


Asisten rumah tangga, tak lama muncul dan membantu mereka menyiapkan tempat sebelum Silvester Degraz datang.


Zen tak banyak cakap, dia sudah melihat bagaimana watak Billy sehingga cari aman. Posisinya sementara tak menguntungkan untuk melawan sang sahabat.


'Sabar Zen. Kamu gak akan lama di sini. Sekedar cari modal untuk buka usaha lebih baik. Kamu sudah tahu kan siapa Olivia, jika ingin gadis itu melihatmu. Maka berubahlah menjadi pria dengan kepribadian baik,' batin Zen, kala membersihkan kamar bagiannya.


.


.

__ADS_1


__________________


__ADS_2