Love Of Bad Boy

Love Of Bad Boy
Bab 25 Aku berhasil


__ADS_3

Zen menunggu respon dari sang ayah atas berita tentang kelulusan yang baru dia raih. Sangat berharap bahwa Ahmed memberi sebuah penyemangat akhir.


Namun, agaknya angan hanya sebatas di awang-awang. Ahmed tak bersedia menanggapi kabar yang disampaikan oleh Nuril. Omar Zen mendengar perdebatan kecil mereka.


"Syukur kalau lulus. Memang sudah semestinya demikian. Pergilah, aku sibuk," ujar Ahmed pada istrinya saat Nuril menyodorkan ponsel ke hadapan Ahmed.


"Berilah dia semangat, hargai kerja kerasnya selam ini," balas Nuril, memaksa.


"Hmm, oke selamat," sahut Ahmed acuh seperti biasanya.


Di balik tembok perpustakaan kampus, Zen tersenyum getir. Tampilan video call nya hanya tampak langit-langit ruang kerja Ahmed. Sang ayah sama sekali tak menyentuh ponsel yang tergeletak di atas meja.


"Ma!" sebut Ghala, memanggil ibunya.


Tampilan layar ponsel mulai bergoyang kembali tanda Nuril meraih benda tersebut. Tak lama wajah ayu itu pun muncul.


Zen melambaikan tangan sebagai isyarat bahwa dia akan mengakhiri panggilan dengan Nuril. Zen mengatakan bakal memberikan jadwal wisuda agar kedua orang tuanya dapat hadir nanti.


Nuril mengangguk, lalu layar ponselnya gelap dan panggilan pun terputus kini. Wanita ayu, memejamkan mata, mendekap gawai miliknya. Dia melantunkan doa untuk Zen, anak kesayangannya.


Akhirnya, masa yang ditunggu pun tiba.


Zen tampak gagah dalam setelan jas berbalut toga, jubah kebesaran para Mahasiswa.


Nama Omar Zen pun disebut, dia melangkah tegap menaiki podium dan menerima rentetan simbolik pemindahan juntai tanda masa pendidikannya berakhir.


Tatapan Omar Zen hanya tertuju pada Nuril. Ibunya menatap bangga dengan sorot mata berkaca-kaca.


Setelah segala prosesi selesai. Nuril menghambur ke pelukan Zen begitu saja. "Zeeeeeennn!" serunya.


Zen yang sedang berkumpul deng an beberapa kawan, menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


"Mamaaa!" sambut Zen merentang tangan uny memeluk ibunya.


Ahmed hanya berdiri menyaksikan interaksi ibu dan anak. Dia mengamati teman-teman putranya.


Nuril meminta Zen pulang ke rumah sebab janjinya telah dipenuhi. Namun, Zen menolak halus ajakan ibunya, sebab saat dia melihat ke arah Ahmed, tatapan mata sang ayah terkesan tidak menyetujui usulan Nuril sehingga ego dalam diri zen kembali muncul.


"Aku enggak akan pulang sampai tantangan dari Papa terpenuhi, Ma. Doakan aku tanpa putus ya," pinta Zen seraya melepas pelukan.


Ahmed berpura tak melihat pandangan nuril yang menajam padanya. Dia malah melangkah meninggalkan ibu dan anak itu, meminta agar foto bersama sesaat sebelum pulang.


Olivia dan pak Arief menghampiri Zen saat dia tengah melepas segala atribut. Ayay Olivia memberikan selamat pada si pemuda yang belum lama di kenalnya.


Selebrasi hanya sebagai formalitas saja, Zen tak menikmati segalanya sebab ini akan menjadi momen perpisahannya dengan Oliv.


"Bye Liv, sampai jumpa lagi. Jaga diri dimanapun kamu pergi. Semoga selalu dikelilingi orang baik, dimudahkan segala urusan, aamiin," ucap Zen. Dia tahu, beberapa menit ke depan, gadis ini akan menghilang.


"Semoga ketemu lagi di lain waktu, ya, Zen. Semoga manfaat," balas Oliv menyerahkan kotak kecil untuk sang kawan.


Di bawah pohon bunga kemuning, Olivia dan Zen sesaat berdiri berhadapan. Ada rasa berat meninggalkan tempat mereka berpijak satu sama lain.


Sedetik kemudian, Oliv mempercepat langkah lalu masuk ke dalam mobil dan pulang bersama ayahnya.


Zen memejam, menggenggam kotak hadiah pemberian Olivia. Hatinya sesak, wajah tampan pun menunduk, dengan jemari mengepal kuat. Zen tengah menahan rasa sakit.


Beberapa bulan kemudian.


Axel sangat puas atas kinerja sang sahabat. Dia mulai melepas perlahan showroom miliknya untuk di kelola penuh oleh Zen.


Komunikasi antara Nuril dan dirinya masih terjalin sangat baik hingga suatu saat Ahmed mengunjungi showroom tempat Zen bekerja. Lelaki itu menyamar bersama salah seorang anak buahnya, berpura memilih sebuah sepeda motor matic keluaran terbaru.


Ahmed melihat Zen tampak sibuk saat showroomnya kedatangan stock motor dari pabrik utama. Dia menandatangani banyak faktur dan mengajak beberapa orang masuk ke kantornya.

__ADS_1


Ayah Zen, mengamati sekitar. Dia lalu berkeliling melihat interior juga semua staff yang bertugas di sana. Ahmed menganggukkan kepala samar kemudian dia memilih keluar dari sana tak membeli apapun.


Misi Ahmed hanya untuk melihat perkembangan anaknya setelah beberapa bulan Zen wisuda. Dia ingin membuktikan bahwa laporan anak buahnya benar adanya.


Jika akhir pekan tiba, Zen terbiasa membantu Reyhan di bengkel BDZ yang kini telah berkembang. Pemilik ruko setuju melebarkan area bengkel sebab masih ada tanah kosong ke arah samping dan belakang.


Etalase sparepart mulai di penuhi semua perlengkapan penunjang motor-motor yang sering servis di sana.


Lagi-lagi Ahmed mendatangi tempat tersebut, kali ini dia datang mengawasi dengan Nuril dari kejauhan. Baju Zen belepotan oli, jejak kusam dan keringat menempel di tubuh putranya tergambar jelas di mata Ahmed.


"Anakmu, Pa, lihatlah dia!" ucap Nuril, terharu dengan perubahan Zen. Ahmed hanya berdehem tak menanggapi, dia khusyu menatap Zen. Senyum samar tersungging di bibir Ahmed.


"Oke Zen, papa akui kamu berhasil, Nak. Terima kasih banyak telah teguh memegang ego untuk terus maju," gumam Ahmed.


Tak lama, mobil mewah itu perlahan melaju meninggalkan lokasi. Senyum bahagia terlukis di wajah kedua orang tua Zen.


"Mungkin kini saatnya menarik Zen pulang, Pa," pinta Nuril.


Ahmed hanya diam tapi memikirkan bagaimana cara membujuk anak itu. Apakah dirinya yang harus mengalah.


"Hem, nanti ku pikirkan," balas Ahmed.


***


Zen merasa bagai ada seseorang yang mengawasi dari kejauhan. Namun, ketika mata berkeliling melihat sekitar, dia tak menemukan kejanggalan.


Tak lama adzan Dzuhur berkumandang. Zen memutuskan membersihkan diri dan langsung bersiap melaksanakan salat. Tasbih kayu cendana berwarna coklat yang merupakan pemberian Olivia, selalu mengingatkannya agar melaksanakan ibadah di awal waktu.


"Apa kabar dengan pemilikmu di sana?"


.

__ADS_1


.


_____________________


__ADS_2