Love Of Bad Boy

Love Of Bad Boy
Bab 30 Pemilik Hati


__ADS_3

Zen sudah masuk area perumahan yang tak asing bagi bungsu putra Ahmed itu. Bahkan ia kembali melihat ponselnya. Suara perempuan khas google map itu pun mengucapkan jika Zen sudah tiba di alamat yang di tuju.


"Anda sudah sampai."


"What?! Serius? Ini rumah Farhan?? " Gumam Zen terkejut.


Ia menghubungi Bu Nuril vya pesan.


{Mom, aku sudah di depan tenda}


Tring!


(Kenapa tidak masuk Zen. Mama lagi mengobrol dengan Olif)


Seketika Zen terpaku.


Melihat janur kuning di depan rumah Farhan. Dan ini acara ngunduh mantu. Mama nya juga bilang acara ngunduh mantu.


{Udah deh ma... Ga usah bahas Olivia. Minggu depan Zen kenalin sama calon mantu. Zen udah janjian sama ustad Fikri dan Gus Alim. Mau ta'aruf}


Tring!


(Yakin Zen?)

__ADS_1


{Yakin Ma, insyaallah deh. Lagian masa depan itu di depan bukan di belakang. }


Tring!


(Ya sudah, mama otw keluar)


{Ok. Mom.}


"Ya Allah... seberapa berharap, berjuang tapi kalau ga jodoh ya ga jodoh. Tapi memang Farhan ma Olivia cocok. " Ucap Zen seraya fokus untuk memundurkan mobilnya.


Bu Nuril tampak telah mendekati mobil Zen bersama Pak Ahmed. Sepasang suami istri itu masuk ke dalam mobil.


"Zen.... Beneran kamu bilang tadi?" Tanya Bu Nuril penasaran.


"Beneran ma. Muridnya istri dari Ustad Fikri lagi cari jodoh. Tapi kata Ustad Fikri. Orangnya bukan dari kalangan orang mampu." Ucap Zen.


"Tapi apa tidak aneh... " komentar Pak Ahmed.


"Aneh gimana sih Pa?" Tanya Bu Nuril keberatan.


Istri Pak Ahmed itu langsung menoleh ke arah sang suami. Zen bahkan bisa melihat ekspresi tidak suka sang mama dari spion mobil.


"Ya aneh saja, Ustad Fikri itu kenal Zen, aku.... kenapa justru menjodohkan seorang perempuan dengan latar belakang ekonomi yang pas pasan? Rasanya cukup tak masuk akal." Ucap Pak Ahmed.

__ADS_1


"Mungkin karena Ustad percaya keluarga kita bukan orang yang menilai seseorang dari harta... " Bela Bu Nuril.


Zen hanya membisu, ia tak tahu harus mengomentari apa. Ada rasa sedikit perih di hatinya. Harus menerima kenyataan ternyata Olivia berjodoh dengan Farhan. Maka kali ini mungkin melalui ta'aruf, dirinya bisa bertemu tulang rusuknya.


'Siapa aja deh Ya Allah yang penting bisa bikin lupa ma Olivia. Tapi untung belum pernah bilang sama Olivia kalau gue suka dia. Klo ga kan malu dan sakitnya dua kali... Tapi kok gue ga diundang sih sama Olivia pas dia nikah.... ' Batin Zen meradang karena menerima kenyataan jika sang gadis pujaan hati tak berjodoh.


Tiba di kediaman mereka Zen langsung masuk kedalam kamarnya. Bu Nuril dan Pak Ahmed justru berdebat perkara ucapan sang suami yang menyinggung perihal keberatan tentang rencana Zen yang akan mengenal perempuan lewat perantara Ustad Fikri.


"Papa ini keterlaluan. Itu Zen baru mau buka hati buat perempuan. Sudah di potong aja... " Ucap Bu Nuril seraya membersihkan sisa-sisa make up di wajahnya.


"Mama ini, justru Papa harus mengingatkan Zen. Karena aneh saja kalau kenalan lewat jodoh dan tidak ada rasa suka." Bantah Pak Ahmed.


Bu Nuril segera membuang kapas ke arah tempat sampah. Ia duduk dan menghadap suaminya dengan membuka stoking kakinya.


"Tadi mama sudah menawarkan untuk ketemu Olivia. Anak dari teman papa. Tapi Zen sudah menutup pintu hatinya, dia sepertinya lebih semangat menerima perjodohan sama muridnya Ustad Fikri. Please Pa, seperti apa pilihan Zen nanti. Papa tidak harus menolaknya... " Ucap Bu Nuril karena khawatir sang suami tak cocok dengan pilihan bungsunya.


"Semoga bukan perempuan yang ga bener... Minimal ya seperti istrinya Zain lah. Dokter kek, apa manager, pengusaha... jangan yang tidak terpandang... " Ucap Pak Ahmed.


Kedua netra Bu Nuril justru terbuka sempurna.


"Jadi maksud Papa kalau tidak kerja bukan orang terpandang!?" Todong Bu Nuril yang merasa tersinggung pada ucapan suaminya.


"Ya Ampun... kapan sih kita ini tidak ribut perkara Zen.... " ucap Pak Ahmed seraya menghilang dari balik pintu.

__ADS_1


Di dalam kamar Zen justru menggenggam erat sebuah tasbih kayu yang sudah cukup lama menemani dirinya.


"Mungkin kamu satu-satunya yang akan aku jadikan teman dalam hidup ku. Pemilik mu sudah melabuhkan hati pada lain hati... Semoga aku bisa menerima perempuan nanti yang akan menjadi istri ku... Semoga nama Olivia bisa berganti menjadi nama orang lain... Aamiin... " Gumam Zen seraya memejamkan kedua matanya dengan tangan menggenggam tasbih milik Olivia.


__ADS_2