Love Of Bad Boy

Love Of Bad Boy
Bab 36 Kejujuran Omar Zen


__ADS_3

Zen nyaris tak bisa memejamkan mata semalam suntuk, dia sangat gelisah. Entah sudah berapa stel baju koko yang dia ganti karena basah oleh air wudhu. Zen begitu ketakutan bila Olivia meminta memundurkan tanggal pernikahan.


Tak lama, fajar pun menyingsing. Zen baru memejam sekitar satu jam saat azan subuh berkumandang. Kelopak mata itu kian berat manakala kepalanya terasa sedikit berdenyut akibat terlalu keras berpikir.


Sebelum beranjak, Zen meraih ponsel dari atas meja samping tempat tidurnya.


["Assalamualaikum. Sobahul kheir, Liv. Aku ke rumah in sya Allah jam sepuluh ya. Setelah meeting pagi di kantor. Ganggu acara kamu dan ayah tidak?"] Tulis Zen, dia lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Kali ini tak menunggu balasan dari seseorang yang beberapa waktu lalu sangat dia damba.


Hatinya tengah nelangsa.


Kaki panjang itu terjulur menapak lantai guna melanjutkan ibadah pembuka hari. Zen melangkah gontai menuju bathroom. Mentari perlahan meninggi. Zen turun ke lantai dasar dengan setelan kerja seperti biasanya. Yang membedakan hanyalah pancaran sinar dari wajah tampan nan terlihat tak bersemangat.


"Kenapa sih? akhir-akhir ini kok murung sekali. Zen, kamu mau nikah dua hari lagi, loh," ujar Nuril saat melihat putranya terduduk lemas di meja makan.


"Ehm. Semoga jadi," balas Zen, lirih.


Ahmed dan Nuril saling pandang. Tak salah dengarkah mereka atas penuturan putranya.


"Jangan bercanda! apa maksudnya, Zen?" tanya sang ayah, menatap tajam Zen yang hanya memainkan nasi goreng kesukaan dalam piring.


"Ada yang harus aku klarifikasi hari ini, Yah. Doakan saja anakmu lancar bicara siang nanti," imbuhnya lagi.


"Apapun itu, semoga lancar. Persiapan sudah 90% loh, Zen. Olivia cantik banget waktu fitting baju kemarin. Nih," ujar Nuril. Menyodorkan ponsel agar Zen melihat foto calon istrinya.


Zen menerima sodoran benda tersebut. Dia melihat wajah ayu dalam balutan gaun serba putih. Sangat cantik hingga membuat hatinya sesak jika gagal memiliki Olivia.


Zen menghela nafas. 'Mudahkan dan lapangkan,'batinnya, memejam seraya menggenggam kuat ponsel sang mama sebelum dia kembalikan.


Sarapan tak menggugah selera akhirnya berakhir. Zen kemudian pamit untuk mengunjungi showroom mobil sejenak sebelum menuju ke kediaman Olivia.


Sudah setengah jam, Zen berada di dalam mobil depan kediaman Arief. Dia meragu. Keberanian itu kembali ciut.


Memang nasib harus segera menyelesaikan urusan. Tiba-tiba kaca mobil nya di ketuk oleh si pemilik hunian.


Tuk. Tuk.


Zen terkesiap. Dia buru-buru menurunkan kaca mobil saat menyadari siapa yang mengetuknya.


"Loh, Zen. Ayo, masuk. Kenapa menunggu di sini?" tegur pak Arief. Dirinya baru pulang dari mushola yang tak jauh dari rumah.


"Eh, i-iya. Ini mau ke dalam, Om," jawab Zen kikuk.

__ADS_1


Pak Arief tersenyum, lalu dia menunggu calon menantunya turun untuk bersama masuk ke dalam pelataran rumahnya.


Saat baru menyentuh teras, teriakan sang mertua membuat jantung Zen hampir lepas.


"Oliv, ada tamu. Minta mbak siapkan suguhan," ujar Arief sembari membuka pintu dan menyilakan Zen masuk.


'Hampir saja. Jangan Oliv yang nyuguhin. Vibe nya berasa dilayani istri nanti,' batin Zen. Dia mengusap dadanya yang mulai berdegup kencang.


Zen masih belum membuka suara, sebab asisten rumah tangga Arief masih menata suguhan di atas meja. Setelah kepergiannya, dia mulai memberanikan diri.


"Ehm, Om. Sebelumnya aku minta maaf. Apa yang akan aku akui ini berkaitan dengan kejadian masa lalu saat aku masih kotor, hidup di jalanan dan juga berlumur dosa," tutur Zen, perlahan. Tangannya mulai terasa dingin.


"Maksudnya? Zen mau bikin pengakuan, begitu?" tanya Arief terus terang membuat Zen makin kalut.


Zen menengadah, mengangguk cepat sebagai jawaban sehingga dia tak perlu banyak berkata-kata.


"Silakan. Om mendengarkan," balas Arief.


Zen pun mulai mengisahkan awal mula yang membuatnya melalui banyak kisah menyedihkan. Kadang suara yang dia berikan terdengar tegas, tapi tak jarang mulai melemah dan sedikit serak tanda hatinya sakit juga menahan malu.


Arief terkejut, mimik wajahnya berubah-ubah membuat Zen ketar-ketir. Arief sungguh tak menduga lelaki di hadapan yaitu calon menantunya memiliki masa lalu seperti itu. Dan parahnya lagi, dia pelaku pencurian motor kesayangan peninggalan istrinya.


"Jadi Zen sudah mengincar Oliv, begitu kan?" tuduh Arief setelah mendengar kisahnya.


"Enggak eh iya eh gimana maksudnya, Om?" Zen bingung. Isi otaknya mendadak kosong.


"Kamu. Mendekati Olivia pasti ada maksud kan? sengaja mengincar!" tegas Arief kali ini membuat Zen menciut.


"Kalau Om menuduhku mendekati Olivia untuk keburukan, itu salah. Kami sekilas bertemu lalu sama menghilang. Aku memutus harapan padanya tapi malah di pertemukan dengan cara seperti ini. Om, aku minta maaf sebab masa laluku," cicit Zen menatap pada pria bersahaja di hadapan.


Arief menimbang. Dia memiliki pemikiran sendiri. Dia juga tahu, Olivia pasti mendengarkan semua penuturan calon imamnya ini.


"Pernikahan kalian, kita tunda saja!" ujar Arief kemudian.


Dhuaaaarrrrrr.


Zen membola, suaranya tercekat di pangkal tenggorokan. Dia tak dapat berkata apapun lagi.


"A-appa?" ucap Zen, terbata dan lemas.


"Oliv juga pasti berpikir ulang. Kamu pulang saja, kami akan mengabarkan kembali dalam waktu dekat," sambung Arief, bangkit menuju ke dalam hunian.

__ADS_1


Zen menyandarkan punggungnya ke sofa, dia meraup wajah kasar. Kepala pun mulai berdenyut kembali.


"Zen!" sebut Olivia berdiri di ambang pintu.


Zen membuka matanya, menetapkan posisi duduk lagi. Dia siap mendengar kalimat sang pujaan hati.


"Maaf ya!" ucap Olivia. Dia lalu berbalik badan hendak meninggalkan Zen.


"Eh, Liv. Jadi?" tanya Zen lirih.


Olivia hanya menoleh ke arahnya, lalu menunduk dan kembali masuk tanpa berkata apa-apa lagi.


Seketika Zen melemah. Dia bangkit dan melangkah gontai menuju mobilnya lagi. CR-Z sport itu lalu perlahan melaju meninggalkan kediaman calon mertua.


Tak berapa lama, Zen menepikan mobilnya di jalanan sepi. Dia lalu merebahkan kepalanya di atas stir.


Bahunya bergetar.


"Ya Allah. Bukan aku tidak ikhlas atas takdirmu. Bukan pula menyesal mengakui segala kesalahan terhadap sesama mahluk. Engkau Maha pemurah. Ternyata aku masih lemah dalam menerima alur nasib, maafkan hamba-Mu ini ya Robb," lirih Zen. Butir beningnya turun membasahi wajah tampan.


"In sya Allah, aku akan belajar lagi arti sabar dalam menerima ketetapanMu."


Zen membiarkan kelemahan hatinya menguasai sejenak. Dia tak ingin merasakan lagi sakit hingga menyalahkan Tuhannya.


***


Sementara di kediaman Arief.


Olivia mengetuk pintu kamar sang ayah, berharap hatinya luluh. Dia terlanjur menyayangi Zen. Jika lelakinya berjuang, maka dia pun ingin melakukan hal yang sama. Berjuang agar dapat bersama.


"Ayah!" sebut Olivia.


"Ayah! aku mau bicara, tolong dengarkan dulu," pinta Olivia masih berdiri di depan pintu. Suara handle terbuka pun terdengar. Arief menatap lekat Olivia. Putrinya telah berkaca-kaca.


"Ayah, dia sudah jujur. Butuh keberanian untuk mengakui semua itu di depan Ayah. Aku yakin dia menyesal dan semua itu membawanya ke titik yang sekarang. Oliv mohon," ucap Olivia, mulai serak. Air matanya telah turun. Dia seketika teringat jawabannya tempo hari saat Zen mengatakan hal itu.


"Liv..."


"Ehm. Oliv terlanjur sayang," cicit Oliv, menunduk hingga tetesan air matanya membasahi lantai.


Arief hanya tersenyum melihat sikap putrinya. Dia pun menghela nafas lega. Arief, mengusap kepala Olivia lalu memeluknya. Pelukan terakhir sebagai seorang ayah.

__ADS_1


__ADS_2