
Suasana di kediaman Pak Ahmed cukup tenang, beberapa art sibuk membersihkan dapur dan taman. Sedang semua dekorasi sudah dirapikan semalam. Zen masih lah putra Ahmed yang akan sulit bangun pagi. Pukul 9 pagi, putra bungsu keluarga Ahmed masih terlelap di bawah selimut tebalnya. Bu Nuril bahkan mengetuk pintu kamar putranya namun tak ada jawaban.
Tok. Tok. Tok.
"Zen.... bangun sayang. Mama sudah masak kesukaan kamu. Sudah hampir jam 10." Panggil Bu Nuril pada putranya.
Zen tak mendengar suara sang Mama. Ia begitu lelah, belum lagi kasur empuk, selimut tebal dan pendingin ruangan yang membuat ia begitu merindukan suasana di kamarnya. Bu Nuril yang merasa tak ada jawaban. ia pun membuka pintu kamar Zen yang tidak di kunci. Ia melihat putranya membenamkan tubuhnya di balik selimut tebal. Istri Ahmed itu membuka tirai kamar putranya. Zen yang terkena sinar matahari, ia pun reflek menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bu Nuril justru tertawa seraya menarik selimutnya.
"Ayo Zen... sarapan dulu. Kamu bilang siang ini kamu ada janji dengan dosen mu." Ucap Bu Nuril. Zen pun bangkit dan duduk seraya memeluk gulingnya. Ia bahkan tampak beberapa kali menguap. Usapan lembut pada pipinya membuat Zen menahan tangan Bu Nuril.
"Please Mom, aku sudah dewasa.... Jangan perlakukan putra mama ini seperti anak SD." Ucap Zen seraya tersenyum. Ia pun mendaratkan satu kecupan di pipi Bu Nuril seraya berjalan ke arah kamar mandi.
"Ok. Anak SD bahkan bangun lebih awal sayang.... " Ucap Bu Nuril seraya merapikan bantal dan selimut putranya.
Dalam hati, ia memang mengakui memiliki dua anak lelaki dengan karakter yang sangat jauh bersebrangan. Dari hal-hal kecil saja, Zen bahkan jauh dibawah Zain. Namun Bu Nuril tak pernah menyudutkan apalagi membandingkan putranya. Karena bagi Bu Nuril, Zen lebih dekat secara emosi dengan dirinya. Zain lebih banyak diam. Tidak seperti Zen. Maka bagi Bu Nuril, Zen punya kelebihan sendiri. Kadang rasa ingin tahu dan banyak bicara sedari kecil, membuat Pak Ahmed sering melabeli putra bungsunya sebagai anak nakal. Padahal ia hanya meluapkan rasa ingin tahunya, dan ia termasuk anak periang. Namun seiring waktu, Zen lebih jarang bicara jika ada Pak Ahmed. Ia hanya akan terlihat ceria jika dihadapan Bu Nuril.
"Ok, Mama tunggu di meja makan ya Zen." Ucap Bu Nuril.
Tak ada jawaban karena putranya sedang menikmati guyuran shower dengan air hangat. Hal yang tak ada di kediamannya yang sekarang. Tak bisa dibohongi beberapa bulan tak tinggal di kediaman nya. Tubuh Zen merindukan kemewahan dan kelengkapan fasilitas di kediamannya. Namun tetap tinggal dirumah itu sebelum sukses dan wisuda, merupakan hal yang menjatuhkan gengsinya pada Pak Ahmed.
__ADS_1
Zen pun telah mengganti pakaian nya. Ia mengenakan slim fit jeans di padukan dengan kaos polos berwarna putih. Ia tampak tampan. Saat baru akan duduk di meja makan, ia sudah kehilangan selera makan. Pak Ahmed tampak duduk dan membaca majalah bisnis. Zen ingin menghindari kepala keluarga itu. Namun ia begitu rindu masakan khas Mamanya.
Zen menarik satu kursi. Ia duduk di seberang Pak Ahmed.
"Mau makan yang mana Son?" Tanya Bu Nuril.
"Zen ambil sendiri saja, Ma." Ucap Zen meraih centong nasi di tangan Bu Nuril.
Ia membubuhkan sedikit nasi. Ia pun menikmati steak yang di masak oleh Bu Nuril. Ia bahkan menikmati lebih dari tiga iris daging steak tersebut. Saat selesai makan, ia baru akan mengambil satu buah anggur. Namun suara bariton Pak Ahmed membuat pergerakan tangannya terhenti.
"Jangan lama-lama kalau mau pergi. Kamu bilang cuma menginap satu malam. Jangan bawa apa pun dan jangan terima apapun yang diberikan oleh Mama mu." Ucap Pak Ahmed datar. Pandangannya bahkan tak bergeser dari majalah.
Zen mengeraskan gigi gerahamnya. Bagaimana bisa ia memiliki ayah yang begitu tak berhati nurani. Luka di dahinya bahkan belum terlalu kering. Ia sudah diminta pergi, tidak ada rasa khawatir yang ditunjukkan Pak Ahmed pada Zen. Bungsu Bu Nuril itu langsung berdiri.
Ia bahkan mendorong kursinya dengan kakinya. Ia pergi ke lantai atas, tempat kamarnya berada.
"Zen... Tunggu Nak." Panggil Bu Nuril.
Istri Pak Ahmed itu menatap tajam suaminya.
__ADS_1
"Papa keterlaluan. Dia belum sehat betul Pa!" Teriak Bu Nuril.
Ia pun bergegas mengejar Zen ke kamar.
"Zen, jangan dengar ucapan papa Mu." Cegah Bu Nuril.
Zen menatap Mama nya.
"Mama tenang lah, Zen akan buktikan pada Papa. Zen bisa sukses tanpa ada dirumah ini dan semua fasilitas Papa." Ucap Zen pada Bu Nuril.
Saat berada di anak tangga. Pak Ahmed berdiri di lantai satu. Ia pun mengatakan sesuatu yang membuat Zen kembali emosi.
"Kalau belum wisudah dan sukses. Jangan pernah pulang. Satu lagi, kalau kamu tertangkap pol PP dan masuk rumah sakit. Mama mu tak akan Papa izinkan membesuk kamu. Jadi kalau kamu sayang mama nu, buktikan jangan hanya tobat cabe." Ucap Pak Ahmed menatap anak bungsunya dengan tatapan mengejek.
"Saya tidak akan menginjakkan kaki saya dirumah ini kalau bukan Papa sendiri yang meminta saya untuk pulang!" Teriak Zen. Ia pun segera ingin meninggalkan rumah itu.
Namun saat akan menaiki anak tangga, langkah kaki Zen terhenti saat ia melihat seorang perempuan yang ia kenali. Perempuan itu berdiri dibelakang asisten rumah tangga.
"Den, ada ta-mu." Ucap Asisten tersebut terbata-bata karena melihat majikannya sedang adu mulut dengan anaknya. Sedangkan sang tamu tanpa sengaja ikut mendengar dan melihat peristiwa itu. Karena anak tangga berada di ruangan paling depan.
__ADS_1
"O-Li-via." Ucap Zen terbata-bata. Ia kaget karena perempuan itu ada di kediaman nya dengan kondisi ia sedang berdebat dengan Pak Ahmed.
"Cantik. Siapa dia Son? Pacar?" Bisik Bu Nuril di telinga Zen.