
Zen terbaring di hospital Bed atau lebih sering di sebut Ranjang rumah sakit. Ia dilarikan ke rumah sakit usai terjatuh di balapan liarnya. Bu Nuril yang mendapatkan telepon dari rumah sakit, segera menuju kerumah sakit. Selama perjalanan menuju rumah sakit, Istri Pak Ahmed itu hanya menangis saja. Ia menyalahkan sang suami.
“Semua karena Papa, coba kalau kemarin pas keluar dari lapas, Zen langsung pulang kerumah. Mungkin semua ini tidak akant terjadi.” Ucap Bu Nuril.
“Lalu kamu yang diam-diam memberikan uang pada Zen? Apakah itu bukan penyebab dia menjadi manja. Aku sengaja biar dia belajar untuk hidup. Tapi kamu selalu hadir seperti malaikatnya. Seolah ia tinggal memanggil perinya maka kemudahan di dapatkan! Itu yang membuat ia manja.” Ucap Pak Zen kesal karena sedari kediamannya, sampai hampir tiba dirumah sakit, Bu Nuril terus menyalahkan dirinya di hadapan supir pribadi nya.
“Papa terlalu kejam dalam mendidik dia, sedari kecil ia selalu dibanding-bandingkan dengan Zain.” Ucap Bu Nuril yang mengenang masa kecil Zen. Ia memang menyayangi lebih Zen, karena sedari kecil bungsunya itu tak terlalu pandai dalam pelajaran.
“Sudah diam! Aku pusing daritadi berdebat masalah Zen, setelah ini kita bawa pulang dia tapi dengan syarat ia harus mengikuti semua peraturan. Tanpa fasilitas apapun.” Ucap Pak Ahmed yang meninggikan suaranya. Ia mengendurkan dasi yang terikat di lehernya.
Tiba di sebuah rumah sakit, Bu Nuril bertanya di bagian pelayanan kamar putranya di rawat. Ia pun bergegas menuju ruangan yang di maksud.
“Ruang Melati no 307 Bu.” Ucap perawat itu pada Bu sepasang suami istri yang tampak cemas.
__ADS_1
“Zen…. Sayang, kamu tidak apa-apa?” Tanya Bu Nuril pada Zen.
Tampak Zen bersandar pada satu bantal. Ia sedang menonton siaran televisi. Ada tatapan tak suka pada Pak Ahmed. Ia tak begitu senang kehadiran ayahnya di tempat itu.
“It’s ok, Mam. I’m fine.” Ucap Zen cepat.
Ia bahkan cepat melerai pelukan sang ibu.
“Cuma luka kecil, Ma.” Kilah Zen.
Walau sebenarnya ia merasakan sakit pada bagian yang diperban. Ada 5 jahitan di dahinya, namun ia tak ingin melihat Bu Nuril kian cemas.
“Untung masih ada nyawa kamu, Papa pikir keluar dari lapas kamu akan berubah. Tampaknya di lapas kamu tak belajar banyak. Bahkan pergi dari rumah kamu masih belum bisa memahami arti hidup. Entah apa salah ku di masalalu, rasanya aku mencari rezeki halal untuk keluargaku.” Suara bariton Pak Ahmed membuat anak dan ibu itu menoleh ke arah pemilik suara yang terlihat cuek menaikkan suhu AC diruangan tersebut.
__ADS_1
“Maaf jadi merepotkan Papa, yang harusnya sekarang sibuk mencari uang. Jadi membuang waktu untuk hal yang tak berguna. Aku tak butuh kunjungan dari Papa atau doa dari Papa.” Ucap Zen kesal.
“Oh, bagus kalau begitu. Baiklah. Kamu dengar sendiri apa yang anak mu katakan? Jika bukan karena tanggungjawab pada anak. Aku tak akan kemari. Buang-buang waktu saja!” Teriak Pak Ahmed yang merasa kesal pada Zen.
“Pa… “ Ingat Bu Nuril pada suaminya.
“Untuk biaya rumah sakit, bayar sendiri!” Ucap Pak Ahmed seraya melangkah keluar ruangan rawat inap tersebut.
“Pa….” Suara Bu Nuril sedikit lebih tinggi dari biasanya. Ia tak percaya bagaimana bisa suaminya membiarkan anak mereka masih harus berjuang disaat sedang sakit.
“Tidak apa-apa Ma… Aku bisa kok. Tenang saja Zen bisa berdiri di kaki sendiri. Zen tidak mau menjadi beban di keluarga ini.” Ucap Zen yang menerima provoakasi Pak Ahmed. Bu Nuril hanya bisa menangis, ia tak mampu berdebat disaat suaminya sedang emosi. Bahkan bujukan untuk pulang kerumah oleh Bu Nuril kembali di tolak oleh Zen. Ia akan membuktikan pada Pak Ahmed jika ia benar-benar bisa mandiri.
“Pulanglah, satu malam saja sayang. Besok Anniversary pernikahan mama dan papa.” Pinta Bu Nuril pada Zen. Zen hanya mengangguk pelan. Ia tak tega melihat Mama nya kecewa.
__ADS_1