
Olivia sedang menunggu jemputan dari ayahnya. Karena motor nya kali ini tak bisa dinyalakan lagi. Maka siang tadi ia berangkat ke tempat kuliah bersama dengan ayahnya. Ia pun menunggu di dekat gerbang kampus tempatnya. Tampak mobil yang dinanti pun terlihat di ujung jalan. Olivia mendekat ke arah trotoar. Mobil putih milik ayahnya pun berhenti tepat di depannya.
Saat Olivia membuka pintu depan, seorang lelaki tersenyum manis kepadanya dengan rambut ikal dan alis tebal miliknya.
"Axel.... " Gumam Olivia.
"Assalamualaikum... ya Olivia.... " Ucap Axel.
Olivia pun tersenyum ke arah lelaki yang sering sekali saat masa putih Abu-Abu membuat ia menjadi sasaran amukan dari para fans nya.
"Walaikumsalam Raja playboy putih Abu-Abu." Ucap Olivia seraya kembali menutup pintu mobil. Ia membuka pintu di bagian belakang. Sang ayah pun tertawa melihat tingkah keponakan dan anaknya.
"Kalian ini... baru bertemu, sudah mau perang dingin lagi?" Tanya Pak Arief seraya menoleh ke arah Axel dan Olivia melalui spion diatasnya.
"Mana berani Yah, secara dia sudah punya pawang sekarang. Otomatis aku tak akan kembali menjadi amukan para perempuan yang mau saja diberikan janji palsu si Axel." Ucap Olivia seraya membuka tasnya dan memasang sabuk pengaman.
Axel terkekeh-kekeh mengenang masa putih abu-abu. Ia begitu risih di dekati banyak perempuan. Maka satu sekolah bersama sepupunya. Ia akan mendekati Olivia hampir setiap hari. Maka orang-orang berpikiran jika Axel menyukai Oliv. Oliv saat itu belum mengenakan hijab. Maka saat itu ia biasa pergi ke sekolah dan pulang bersama Axel. Istri Axel adalah salah satu teman yang membuat Oliv saat baru tamat SMA mengenakan hijab..
"Masih jomblo?" Tanya Axel menoleh ke arah Olivia. Gadis Pak Arief itu melotot ke arah Axel.
"Belum kepikiran nikah. Masih punya tugas negara dari Ayah." Ucap Olivia menepuk pundak sang ayah.
"Calon dulu boleh dong baru ntar bisa diajak ke pelaminan kalau tugas negara telah selesai." Ucap Zen.
Olivia kembali menyipitkan kedua matanya.
"Penasaran, dulu kok Kak Zahrana mau menerima lamaran kakak." Ucap Olivia.
Ya, siapa tidak kenal dengan Axelo Khan. Seorang pria tampan keturunan India. Ia selalu membuat ulah baik di sekolah maupun di komplek perumahan yang berada sama dengan Olivia kala itu.
__ADS_1
Axel menepuk dadanya dan mengurai rambutnya, ia menyombongkan dirinya.
"Perempuan itu tidak butuh masalalu. Yang dibutuhkan kenyamanan dan kepastian. Kita hidup itu masa kini dan esok. Masalalu bukan hambatan buat mendapatkan masa depan yang baik. Contohnya aku... " Ucapnya seraya mengibaskan ibu jarinya di hidung mancung ala Shahrukh Khan.
Olivia menahan tawa melihat gaya Axel yang masih merasa sok tampan walau memang ia paling tampan saat dulu di masa putih abu-abu.
"Iya deh yang sekarang punya masa depan secerah matahari hari ini." Puji Olivia pada sepupunya.
Ia melihat sendiri bagaimana Axel bermetamorfosis menjadi seorang lelaki yang taat beribadah dan juga bertanggungjawab. Ia bahkan tak pernah lagi tawuran. Jika dulu ia sering sekali menjadi ketua geng anak-anak disekolah nya. Kini Axel justru menjadi seorang pengusaha yang bergerak di bidang otomotif. Seketika memori Olivia teringat sosok lelaki yang hampir mirip dengan Axel.
Sepupu Olivia yang sedari SMP sering bersama, melihat mimik wajah Olivia dari kaca spion.
"Ehm.... nyesel Liv? baru nyadar kalau aku ini limited edition?" Goda Axel.
Ganti Olivia yang terkekeh.
"Limited edition karena kalau tidak diselamatkan kak Zahrana sudah dipastikan kamu akan terus berada di dunia yang senangnya hanya sesaat." Ucap Olivia.
"Salam kembali, kemarin aku lihat si story nya lagi ke Obgyn." Tanya Olivia penasaran.
"Hehe.... Kamu mau tau banget atau mau tau aja?" Tanya Axel dengan gaya setengah mengejek.
Olivia mencebikkan bibirnya.
"Sudah hamil lagi Rana?" Tanya Pak Arief.
"Alhamdulilah Om, kami istikomah mencetak generasi-generasi terbaik di zaman sekarang." Ucap Axel yang mengundang tawa Olivia.
"Pabrik kali.... " komentar Olivia.
__ADS_1
"Iya, pabrik uang. Alhamdulillah semenjak punya istri dan anak. Rezeki ngalir kaya air terjun. Jadi inget nasihat Om Dulu. Oy Om, punya kenalan ga yang bisa diajak kerjasama. Aku rencana mau pindah ke Surabaya. Nah usaha yang disini pengennya ada yang urus. Tapi pengen yang ngerti otomotif biar ga di kibulin anak buah juga jujur." Ucap Axel.
"Lah kenapa ga buka loker saja?" Tanya Pak Arief.
"Susah, kalau kita kenal kan lebih enak Om. “ Ucap Axel.
Tiba-tiba Olivia teringat ponselnya yang ia simpan di loker perpustakaan bersama dengan map tugas mata kuliah ekonomi umum.
“Astaghfirullah... Yah, kembali ke kampus. Ponsel ku tertinggal di loker bersama map tugas kuliah.” Ucap Olivia.
Pak Arief menatap anaknya dari balik kacamata tebalnya melalui kaca spion.
“Oliv... Oliv... Kamu selalu tidak fokus.... “ Ucap Pak Arief.
Olivia tertunduk, ia tahu. Dirinya tak bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu.
“Axel, kamu mau menyetir? Om lelah sekali.” Ucap Pak Arief.
Axel pun dengan senang hati. Ia selama ini tak pernah mengemudikan sendiri. Pasti ada sopir yang menemaninya. Maka ini hal yang ia rindukan.
Namun saat sudah dekat di kampus Olivia. Axel yang sudah lama tak mengemudi kaget saat tiba-tiba ada anak kecil menyebrang.
“Ciiiiiitttt.”
“Astaghfirullah..... “ Ucap tiga orang yang berada dalam mobil
Seorang lelaki yang berlari mendorong anak kecil itu pun cepat berjalan ke arah mobil Pak Arief.
__ADS_1
“Woi! Turun Lo! B r e n g s ek!” Teriak lelaki yang baju dan kedua tangannya penuh Oli.