Love Of Bad Boy

Love Of Bad Boy
Bab 27 Patah Hati


__ADS_3

Pembawa Acara pun memulai acara potret bersama keluarga. Zen pun berdiri di sisi Zain, tentu dengan Pak Ahmed dan Bu Nuril yang mengapit pengantin baru dan bungsu. Namun anak mata Zen tak lepas dari tapi mengamati jantung hati yang selama ini bersemayam dalam hatinya. Ia mengikuti kemana langkah kaki gadis itu bergerak, juga memotret senyum, gesture dari Olivia yang mengenakan pakaian seragam bersama Bridesmaid. Maka Zen hatinya sedikit berbunga.


'Jika dia menjadi Bridesmaid di acara ini, sudah pasti kakak ipar ku mengenal Oliv. Ya Allah... berarti dia masih gadis dong kalau dia Bridesmaid kakak ipar.' celoteh Zen dalam hatinya seraya tersenyum manis dengan memamerkan gigi putih nan tersusun rapi.


Tanpa Zen sadari, Pak Ahmed juga Bu Nuril sedari tadi mengikuti kemana arah netra anak bungsu mereka memandang. Zen jarang terlihat berwajah manis di saat untuk berfoto.


'Gadis yang mana yang Zen amati dari tadi.' Batin Pak Ahmed.


Sedangkan Bu Nuril, ia sudah dari tadi mengunci wajah perempuan yang mampu membuat bungsunya menjadi lelaki berhati hello Kitty karena memiliki rasa terpendam. Tiba saat para Bridesmaid berfoto bersama. Zen pura-pura mengambil foto Zain bersama Bridesmaid dari pihak pengantin perempuan. Namun ternyata Zen hanya memotret Olivia seorang diri.


'Cantik.... Apakah sudah ada yang punya....' Hati Zen kembali meragu akan gadis pujaan hatinya. Karena saat foto para Bridesmaid membuat satu simbol love. Ada satu cincin tersemat di jari manis Olivia.


Zen bahkan mencubit layar ponselnya untuk memastikan apakah itu cincin tunangan atau bukan. Tiba-tiba satu tepukan di pundak Zen membuat ia tersentak.


"Selagi belum tanda tangan di buku nikah, masih bisa di perjuangkan...." Ucap Bu Nuril.


Zen menarik sudut bibirnya dan menyimpan ponselnya di dalam kantung jas yang ia kenakan.


"Dulu dia perna di lamar orang ma, katanya seorang lelaki tak boleh melamar perempuan yang sudah di lamar." Ucap Zen.


Namun tiba-tiba Pak Ahmed menarik kursi di sisi Zen. Ia menatap ke arah Zain dan istrinya yang tampak menerima ucapan selamat dari teman-teman mereka.


"Papa sempat bertemu sahabat lama. Kemarin beliau sempat bercanda, soal iya punya anak gadis. Mau kenalan dengan anak teman Papa?" Tanya Pak Ahmed.

__ADS_1


"Pa....." Ucap Bu Nuril seraya melebarkan kedua pupil matanya. Tanda ia ta setuju, karena ia tahu Zen sudah jatuh hati pada perempuan yang dari tadi selalu ia amati.


"Ada apa? Papa hanya ingin yang terbaik untuk Zen." Ucap Pak Ahmed.


"Terbaik bagi papa belum tentu baik buat Zen." Ingat Bu Nuril.


"Ah, Mama selalu saja membela Zen. Jangan selalu menganggap aku ini tidak tahu apa-apa untuk anak ku..." Gerutu Pak Ahmed yang nampak kesal. Ia tampak membuka satu kancing jas nya karena kesal.


"Tapi Pa, Pa-." Ucapan Bu Nuril terhenti karena satu sentuhan di punggung tangannya.


"Ma... Sudah, nanti saja. Ini hari bahagia Kak Zain. Kenapa harus berdebat karena aku." Bisik Zen lirih.


Ia kini lebih banyak mengalah dengan Pak Ahmed. Jika dulu ia akan langsung menjawab setiap apa pendapat Pak Ahmed yang tak ia sukai. Sekarang Omar Zen lebih banyak mencoba bersabar. Ia tahu untuk mendapatkan jodoh yang baik, ia juga harus menjadi pribadi yang baik. Tidak hanya hubungan pada yang Maha Pencipta tetapi juga pada mereka yang telah melahirkan, menafkahi dirinya. Bu Nuril tampak menghela napasnya pelan.


"Boleh duduk bersama?" Tanya Zen pada Olivia saat sang gadis baru saja duduk.


Olivia memberikan senyuman nya seraya mengangguk pelan. Tiba-tiba sosok lelaki yang dulu pernah membuat Zen patah hati dan menjauh dali Olivia, kini hadir dan mencari keberadaan Olivia.


"Liv, Aku sempat bingung tadi mencari kamu. Kerudung dan pakaian yang sama membuat aku khawatir salah orang." Ucap Farhan.


Zen duduk tepat di depan Farhan. Tampak lelaki itu mengerutkan dahinya kala bertemu tatap dengan Zen.


"Sepertinya kita pernah bertemu... " Sapa Farhan pada Zen.

__ADS_1


Bibir Zen keluh untuk menjawab pertanyaan Farhan. Sepertinya ia betul-betul harus patah hati untuk kedua kali nya.


'Tega bener ya Allah.... kenapa harus ketemu kalau sudah ga halal di pinang.... ' batin Zen ciut. Karena Farhan tampak santai duduk di sisi Olivia. Beberapa detik Zen menarik napas dalam. Ia butuh tenaga ekstra untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya sepele, namun hati nya tampak sesak untuk memerintah otaknya menggerakkan saraf bibirnya agar pita suaranya memberi jawaban kepada Farhan. Lelaki tinggi, sholeh dan tampan. Zen tak kalah tampan, namun ia merasa kalah start dari Farhan baik itu kepribadian ataupun pemahaman tentang ilmu agama.


Akhirnya dengan sedikit menggaruk dahinya yang tak gatal, Zen berhasil menjawab pertanyaan Farhan.


"Gue Zen, yang dulu sempat minta bantuan Lo pas mau nyusun skripsi." Jawab Zen lesu.


"Oh.... iya... iya... saya ingat. Wah tak menyangka bisa jumpa disini. Apa kabarnya Zen?" Tanya Farhan seraya mengambil satu irisan nanas di piring Olivia menggunakan garpu yang ada di meja Olivia. Namun satu interaksi di depan Zen membuat ia bagai obat nyamuk di tengah orang pacaran. Olivia menepuk punggung tangan Farhan.


"Ih... apaan sih... kebiasaan." Ucap Olivia sedikit protes karena garpu nya diambil serta makanan yang ada di piringnya di ambil oleh Farhan. Tampak Farhan tergelak melihat ekspresi kesal Olivia. Zen menunduk seraya menyuapkan satu sendok nasi bersama satu iris daging yang telah ia potong menggunakan sendoknya.


'Nasib.... gini amat.... ditungu-tunggu... di doain, eh.... sekali ketemu udah milik orang. Masa' iya harus membujang karena pujaan hati udah jadi milik orang....' batin Zen meratapi dirinya. Ia yang merasa tak tahan karena Farhan tampaknya sengaja melakukan itu pada dirinya. Farhan bahkan mendorong dahi Olivia dengan satu telunjuknya.


"Maaf saya permisi dulu, khawatir orang tua saya mencari.... " Pamit Zen seraya meniggalkan piring yang masih tersisa makanan.


Zen tampak tak menghiraukan ketika Farhan bertanya kenapa tak dihabiskan nasi yang ada di piringnya.


'Lo pikir gue ga tahu apa, Lo mau manas-manasin Gue. Katanya alim, tapi depan umum pamer kemesraan... cih... Astaghfirullah.... kok jadi jengkel gini ma Farhan... Ah.... sakit bener rasanya... Kenapa mesti gini sih rasanya. Ah.... hhhhhhh.... " Berkali-kali Zen membuang napasnya kesal.


Ia merasa patah hati dua kali, dulu saat Olivia di lamar.


"Tapi klo udah nikah, kok jadi Bridesmaid. Klo belum nikah kok Farhan berani nyolek-nyolek Oliv.... Aaaaa.... " Gumam Zen seraya memukul-mukul dahinya berkali-kali.

__ADS_1


"O... jadi namanya Olif... Siapa yang berani nyolek jantung hati Mama?" Tanya Bu Nuril yang mendengar gumaman Zen.


__ADS_2