
Deg.
Deg.
Deg. Zen memegang dada kiri dengan tangannya. Dia masih merasa tak percaya dengan apa yang baru saja terucap.
"Ya Allah...."
"O-olivia ... a-aku," lirih Zen, menundukkan kepala seraya menyebut nama sang pujaan hati. Satu tetes butir beningnya lolos tak tertahan, bahu Zen terguncang pelan. Hatinya mendadak sesak akibat dihujani Rahmat, kemudahan serta jawaban dari segala lantunan harapan.
Mungkin inilah makna sesungguhnya dari sebuah ikhtiar. Bilamana ibadah di isi dengan hanya niat untuk mempertegas keinginan, mungkin Zen takkan menemukan arti rasa. Rasa nikmat menjalani dengan ikhlas apa yang telah Allah atur.
Zen teringat sebuah kutipan tausiah ustadzah kondang suatu hari saat terjebak kemacetan. "Kalau ibadah nyelipin nafsu ya apa jadinya? bukan lillah. Fokuslah meminta petunjuk, tapi jangan memaksa Allah mengabulkan."
"Bener ternyata ya Allah ... menikah karena saling mencintai itu anugerah tapi mencintai seseorang yang kita nikahi adalah kewajiban. Baru saja aku ikhlas manut caraMu untuk mencoba opsi kedua tapi Engkau malah memberikan aku anugerah secara kontan," gumamnya lagi.
Putra Nuril lalu menyeka jejak kesedihan di sana. Dia memilih pamit pada kedua guru dan langsung pulang ke rumah guna menyampaikan niatan untuk mengkhitbah gadis tambatan hati.
Senyum mengembang sempurna menyertai perjalanan Zen. Sesampainya di rumah dia langsung menghambur berlari ke dalam mencari sang ibu.
"Maaaaa, Maamamaa!" seru Zen.
Nuril yang baru saja masuk ke rumah setelah dari taman belakang, terkejut melihat anaknya berlari hendak memeluk.
"Zen!" pekik Nuril ketika Zen menabrakkan diri memeluknya erat.
"Ada apa ini, Zen?" tanya Nuril saat mendengar lirih Zen seakan tengah menangis.
"Aku sudah memutuskan dan memilih tulang rusukku. Dia telah ku temukan, Ma," bisik Zen masih menelusupkan kepala di bahu ibunya.
Nuril berkaca-kaca. "Yang benar? jangan bercanda!" ujarnya memastikan.
Zen mengurai pelukan, kedua lengannya memegang bahu Nuril. Anggukan tegas pun dilayangkan Zen.
"Alhamdulillah," ucap Nuril tanpa terasa meneteskan air matanya.
"Siapa?" tanya Pak Ahmed yang baru saja keluar dari kamar.
"Pa!" sebut Nuril, menegur sang suami agar tak lagi menghakimi putranya.
Zen menoleh, membiarkan ayahnya menatap lama. "Olivia zereen." Zen menyebut sebuah nama dengan mantap dan tegas di depan Ahmed.
__ADS_1
Nuril membola, dia menutup mulut dengan kedua tangan seakan tak percaya dengan ucapan Zen.
"Olivia? Z-zen, Oliv yang itu kan? O-olivia?" tanya Nuril terbata, masih shock.
Zen sekali lagi mengangguk cepat seraya tersenyum. "Yes. Olivia."
Pak Ahmed masih berdiri di depan kamar, perlahan melangkah menuju dimana putra dan istrinya berdiri.
"Alhamdulillah. Se-selamat ya, Nak. You did it! Papa bangga sama kamu, Zen!" ucap pak Ahmed menepuk bahu putranya.
Zen terpaku. "Pa!"
Tiada lagi percakapan. Ahmed menyerah, dia melunturkan ego. Ahmed memeluk putra bungsunya, yang selama ini tersisih.
"Maafkan papa," ucap Ahmed. Ketiganya lalu saling memeluk, meleburkan segala rasa kerinduan.
"Makasih ya Allah. Makasih. Maafin aku selama ini telah banyak menoreh luka di hati kedua orang tuaku. Aku tahu doa dari mereka tak pernah putus untukku," batin Zen kian gerimis.
Hari yang ditunggu pun tiba. Zen memilih mengenakan setelan seperti biasanya saat dia akan mengikuti kajian. Bedanya kali ini, dia menambahkan jubah sebagai outer. Detak jantungnya sudah tak lagi teratur manakala kediaman Oliv kian dekat. Bukan hantaran yang dia pikirkan tapi wajah terkejut sang gadis saat melihatnya nanti.
"Kena kamu, Liv," kekeh Zen membayangkan wajah cantik Olivia. Dia menyembunyikan senyum malu-malu.
"Kamu gak anget kan Zen? dari tadi mesem mesem melulu," tegur Ahmed melihat putranya bagai sosok yang sering wara wiri di lampu merah.
Ahmed terkekeh melihat Zen. Kadang gelisah hingga duduk tak tenang, tak jarang tersenyum mengembang tanpa sebab.
Lantunan shalawat menyambut iringan keluarga besar Zen. Kedua orang tua Zen berdiri tepat di belakang sang guru putranya. Meski ustad Fikri meminta pak Ahmed dan Nuril berjalan lebih dulu, akan tetapi Zen menolaknya. Dia ingin tetap memuliakan gurunya.
Zen diapit oleh Zain setelah orang tua mereka. Perlahan, rombongan pun duduk di dalam ruangan megah kediaman Olivia.
"Bismillahirrahmanirrahim. Sebelum dimulai ... Manten laki, mau nadzor dulu gak nih? ya kali calonnya ketuker," seloroh ustad Fikri membuka kata.
Riuh suara tawa hadirin mengudara. Mereka menanti saat mendebarkan terjadi sebab keduanya tak saling melihat sebelum acara ini digelar. Zen tak dapat menjawab. Dia menunduk malu, apalagi di tatap intens oleh Farhan yang juga ikut tersenyum padanya.
"Setdah, gini amat ya. Gue kek lagi di ospek mau ngelamar," batin Zen. "Farhan, Farhan, ngapain ngikut senyam senyum. Lo siapa sih sebenarnya," imbuhnya lagi.
"Ya sudah. Manten laki malu-malu. Yang wanita bagaimana? pasrah atau mau 3D dulu? ... Diintip, diintip, diintip," goda ustad Fikri lagi.
"Jangan lama-lama ya ustadz. Aku gemetaran ini," batin Zen, lagi-lagi tak sabar.
Acara kemudian dilanjutkan ke inti. Dan tibalah saat yang ditunggu. Olivia di ajak istri ustad Fikri menuju ruangan utama. Wanita dalam balutan gamis coklat tua juga hijab panjang yang menjulur membuat Zen terpaku, meski wajahnya menunduk.
__ADS_1
Deg.
Deg.
Deg.
Olivia duduk tepat disamping pak Arief juga diapit oleh gurunya. Jika biasanya kebiasaan nadzor atau melihat calon kandidat dilakukan sebelum khitbah, berbeda dengan gaya Zen dan Olivia.
"Silakan, nadzor," ucap ustad Fikri yang menjadi perantara pertemuan mereka.
Olivia perlahan mengangkat kepalanya, pandangan pun langsung tertuju pada sosok pria di hadapan.
Satu detik.
Dua detik.
"Zen!" lirih Olivia menyebut nama seseorang yang dia kenal.
Suasana ruangan hening. Seakan ikut merasakan kebahagiaan keduanya. Zen mengangguk samar, senyum pun terlukis meski dadanya bergemuruh.
"Olivia!" sebut Zen kali ini lugas.
Olivia melihat ke arah pak Arief. Matanya berkaca-kaca, senyum pun tersungging meski disertai tatapan meminta jawaban. Pak Arief mengangguk, usapan lembut di punggung membuat Olivia terharu.
"Ikhlas. Aku memilih sami'na wa atho'na sebab tak punya alasan menolak kala guruku mengajukan lelaki asing yang berniat melamar. Hanya pada Allah ku meminta petunjuk atas ucapan beliau saat mengatakan calonku sosok pembelajar, manut guru dan tanggung jawab. Itu kau? Zen?" batin Olivia, dia menunduk menyembunyikan isakan halusnya.
"Allah. Beginikah cara-Mu?" batin Olivia tak urung bersholawat.
"Gimana? mau lanjut akad langsung atau nunda lagi. Sepekan kuat gak nih?" suara ustadz Fikri kembali menggoda membuat suasana haru berubah menjadi sorakan bahagia.
"Akad akad akad!" ucap para wanita di belakang Olivia mulai riuh.
"Supporternya gak main-main. Manten malah mesam mesem melulu ... Zen? Olivia?" desak sang guru.
Zen dan Olivia kembali saling mengangkat kepala. Dan lagi, kali ini hanya senyum yang terlukis di wajah keduanya membuat hadirin kian gemas oleh tingkah malu-malu mereka.
Dalam benak Zen, dia masih memiliki satu ganjalan. Tentang seorang pria yang hadir di sana. "Siapakah kamu sebenarnya?"
.
.
__ADS_1
_____________________