Love Of Bad Boy

Love Of Bad Boy
Bab 6 Awal Jumpa


__ADS_3

Flashback On


Wanita berhijab hitam dengan renda di bagian tepi, keluar dari salon. Dia celingukan ke kanan kiri, telunjuknya menunjuk ke arah dimana motornya terparkir tadi. Gadis ayu kebingungan sehingga kaki jenjang itu kembali masuk ke dalam gedung ruko semula.


Di dalam ruangan, dia bertanya pada staff frontline apakah melihat sebuah motor matic meninggalkan pelataran parkir, sembari menunjuk ke arah luar.


Wanita berseragam itu, menggeleng pelan. Wajahnya diliputi rasa bersalah sebab tak dapat menjaga aset sementara pelanggan mereka.


Tak ingin menyerah begitu saja, gadis itu lalu berusaha bertanya ke sana sini meski dia tahu, hasilnya tetap nihil.


"Allahu, bagaimana aku menghadap ayah jika seperti ini? motorku hilang," keluh sang gadis, duduk lemas dengan nafas terengah di bangku panjang pedagang pinggir jalan tak jauh dari sana.


Menjelang Maghrib, dia memutuskan pulang menggunakan ojol meski dalam hati berkecamuk memikirkan jawaban untuk sang ayah.


Beberapa menit berlalu.


Zauqi Arief cemas menanti kepulangan anak gadis satu-satunya. Dia sangat posesif terhadap Olivia Zareen sepeninggal sang istri, yang berpulang ke pangkuan ilahi beberapa tahun silam.


Anak gadisnya sangat ayu menuruni garis wajah Alifia. Wajar jika Arief begitu menjaga Olivia layaknya sebongkah emas. Tutur kata lembut, memiliki sifat penurut membuat dia bagai memilki seorang princess di dunia nyata.


"Kemana si Oliv, gak biasanya pulang telat begini," gerutu sang ayah, wajahnya cemas, berkali mengintip lewat gorden jendela di ruang tamu.


Tak lama kemudian. Suara deru knalpot khas motor Fonda Astrea berhenti tepat di muka rumah pengusaha kerupuk kulit ini. Arief mengamati dari dalam, sejak Olivia turun dan membayar ojol hingga memasuki pelataran rumah.


"Assalamualaikum," ucap Oliv, seraya menekan tuas handle ke bawah hingga panel pintu itu terbuka.


Betapa terkejut Olivia kala mendapati Arief tengah menatap tajam padanya. "Motormu mana? kok baru pulang? kenapa gak kabari ayah, kamu kemana dulu?" cecar lelaki paruh baya, tangannya bersedekap di depan dada.


Olivia menunduk, hanya berani menatap jahitan tepi sarung bagian bawah. Ingin rasanya bersimpuh di dekat kaki beliau tapi Arief pasti tetap murka.


"Jawab, Oliv!" ucap sang ayah, kian menajamkan pandangan.


Wajah ayu yang menunduk itu menengadah, gurat cemas tercetak di sana. "Gak tahu, Yah. Motorku hilang saat di salon tadi. Aku potong rambut dulu sebentar sebab gerah. Setelah beberapa menit, saat akan pulang, si putih sudah tidak ada," cicit Olivia. Manik matanya tidak fokus sebab dia menahan takut juga menyiapkan diri manakala sang ayah murka.


"Apa!" sentak Arief, matanya membola, tubuh senja itu seakan oleng mendengar pengakuan Olivia.

__ADS_1


"Ta-tapi aku sudah mencari kemana-mana, Yah. Ampun, ampun, Oliv tahu ini kecerobohan dan siap menerima hukuman," sesal Olivia, menangkupkan kedua telapak tangan, menundukkan badan seraya duduk melantai.


Arief menghela nafas berat nan panjang. Huuft.


"Kamu tahu kan, itu motor peninggalan ibu. Di sana bahkan tertulis nama panggilan kesayangan beliau untukmu ... Holicvia, terpatri huruf timbul pula di casing body samping. Oliv, Oliv," tegur Arief, tak henti menggeleng atas kecerobohan putrinya.


"Lain kali, hati-hati. Mau cari dimana lagi model begitu yang custom? sudah sana, bersih-bersih diri dan salat," titah Arief, meninggalkan Olivia yang masih duduk bersimpuh begitu saja. Marah besar pun tiada guna.


"Maaf, Yah. Maafkan aku, ibu." Tangis gadis ayu pecah, sesal dan sesaknya kian menghujam dada. Dia pun melangkah gontai menuju kamar.


Keesokan pagi.


Olivia tak berani menatap sang ayah. Dia masih segan atas peristiwa semalam. Arief lalu menyodorkan uang saku tambahan bagi putrinya, agar Olivia leluasa pulang menggunakan ojol car daripada motor sebab cuaca masih tak tentu.


"Hati-hati saat pulang nanti. Jadi kerja kelompoknya? kabari ayah jika susah mendapat ojol, ya," pesan Arief memandang Oliv yang setia menunduk saat dia akan bangkit dan pergi ke pabrik.


"Iya Ayah, oke. Makasih," ucap Olivia ikut bangkit, meminta salim sebelum sepuhnya berangkat.


Gadis ayu itu tak lama menyusul kepergian Arief. Melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Ke kampus dan diskusi tentang event tahunan dengan organisasi kemahasiswaan yang dia ikuti.


Sementara di tempat lain, saat yang sama.


Pemikiran Al yang sistematis sinkron dengan otak Zen si eksekutor. Pemuda itu menyarankan merekrut satu orang pebalap liar dari trek-trekan semalam. Al tahu betul siapa yang akan dia ambil. Keduanya memutuskan akan menuju lokasi lain untuk mewujudkan niat.


Saat yang ditunggu pun tiba. Zen mengamati aksi balap liar sejak petang menjelang. Sementara Al, menyisir lokasi berharap orang yang dia cari muncul.


Kerumunan di ujung gang sana, menyita perhatian Zen dan Al, awalnya mereka abai akan sekitar. Namun, teriakan suara seorang gadis, mengusik naluri Zen sebagai pria. Sikap boleh urakan tapi pantang baginya menyakiti wanita apalagi memanfaatkan kesempatan guna melakukan kejahatan.


Omar Zen, berlari sementara Aldrich mengumpat kesal. Ini bukan urusan mereka, dia pun terpaksa mengikuti langkah sang kawan.


"Hoy! lepas!" teriak Zen, pada sekumpulan pemuda yang menjegal laju ojol dengan penumpang wanita.


"Bukan urusan lo, Bang! enyah!" seru salah seorang pemuda, mencegah Zen mendekat.


"Jangan main kasar lah, dia cuma lewat doang," ucap Zen, membujuk kawanan preman gang kampret.

__ADS_1


Aldrich yang baru tiba, setuju dengan Zen. Memang ini bukan kawasan balap liar elit seperti lingkungan Al kemarin jadi wajar saja bila semua akan mereka gasak.


Kawanan preman tak mengindahkan omelan Zen dan Aldrich. Justru penyamaran mereka terbongkar hingga adu jotos pun tak terelakkan.


"Pergi!" teriak Zen pada ojol.


"Kuncinya di sita, Bang!" balas pria yang mengenakan helm hijau khas ojek itu.


Al, melempar kunci motor milik ojol setelah berhasil merampas dari salah satu pemuda. Ojol itu pergi dengan si penumpang, menyelamatkan diri.


"Ugh!" suara Al, dipukul tepat pada lambung hingga dia tersungkur sebab lengah saat melempar kunci tadi.


Zen panik, melihat kawannya tumbang, dia pun mulai membabi buta. Pukulan Zen tak lagi fokus sebab dia di keroyok.


Buk. Buk. Buk.


Putra Omar Zen, jatuh membungkuk melindungi kepalanya dari antukan sepatu para preman. Bila saja peluit panjang satpol PP tak datang, mungkin nasibnya akan nahas.


Prriiiittttt.


Sontak saja, kerumunan pun langsung kocar kacir menyelamatkan diri. Tak terkecuali Al dan Zen. Keduanya tertatih bangkit menuju motor mereka dan kabur dari sana.


Setelah beberapa meter menyelinap kabur.


"Blo-on! kenapa di dorong sih! bukannya di nyalain," ucap Zen, menepuk sadel jok motor Yinja milik Al.


Keduanya terbahak di ujung gang sepi yang jauh dari kejaran satpol PP. Namun sayang, setelah itu, Zen tumbang, tubuhnya mendadak oleng dan terjatuh.


"Zen!" pekik Al, motor rubuh pun tak dia pedulikan, bergegas memeriksa Zen yang tersungkur.


Saat dia dalam panik, seseorang menghampiri mereka.


"Bawa ke rumah sakit saja. A-aku yang tadi kalian selamatkan.," Ucap Olivia seraya menunjuk ojol yang dia tumpangi.


.

__ADS_1


.


_________________


__ADS_2