
Hari berganti pekan hingga memasuki bulan kedua.
Zen memutuskan mundur dari pekerjaan sebagai operator link slot yang sudah satu bulan lebih dia tekuni.
Setiap kali dia menginjakkan kaki di Kampus, mengikuti Olivia diam-diam, mengintimidasi Albert agar tak terlalu dekat dengan si gadis incaran, kian membuat hati Zen gelisah.
Perawakan, penampilan Olivia yang serba rapi dan tertutup membuat diri Zen minder. Tutur kata lembut darinya meski sang gadis kerap menerima perundungan oleh kawan sekitar tapi ketegaran Oliv membuat Zen terbius.
Hari ini, adalah saat terakhir dirinya tergabung dengan anggota Silvester Degraz. Billy bahkan mengancam akan memburunya jika Zen membocorkan aksi mereka.
Aldrich dan Derry nampak betah berada di sana. Zen tak memaksa, toh ini berhubungan dengan hati.
"Aku pamit ya. Upah bulan kemarin dan semua program yang sudah aku bentuk. Takkan ku ambil atau minta lagi. Anggap sebagai kompensasi untuk tuan Degraz sebab aku out dari kalian," ucap Zen, menepuk bahu Al dan Derry. Tak lupa dia menyambangi Billy dan tos dengannya.
"Penuhi janjimu, Bro! Degraz sedang baik sehingga beliau tak meminta timbal balik. Kau beruntung lepas semudah ini dari kami," ujar Billy, seraya mengunyah permen karet di mulutnya.
"Ehm!" Zen mengangguk.
Dia lalu melangkah keluar rumah mewah itu hanya membawa ransel besar berisi semua perlengkapan miliknya. Dia berniat akan mengunjungi mentor saat di lapas dulu. Beliau berjanji akan membantu dirinya membangun usaha setelah bebas, dan Zen akan menagih itu padanya kini.
Sebuah bilik kos-kosan petak dekat kampus dipilihnya kini. Dia harus menghemat pengeluaran. Upah awal bekerja membuat sebuah wall program dan sisa uang pemberian Nuril, masih Zen simpan. Setidaknya, Zen bisa tetap ke kampus dengan berjalan kaki. Dia pun melihat peluang di kawasan ini.
Omar Zen masuk ke kos-kosan setelah tawar menawar alot dengan penjaga kos. Dia meminta keringanan agar membayar satu bulan dahulu sembari mengumpulkan uang dari hasil usahanya nanti.
Tak ingin membuang waktu, Zen meletakkan ranselnya di kamar kos lalu dia menaiki ojol menuju lapas.
Saat tiba di sana, jam kunjungan telah berakhir, akan tetapi Zen memohon pada petugas agar dapat bertemu mentornya dulu. Aturan adalah hal yang haram dilanggar. Namun, agaknya nasib baik tengah berpihak pada Zen. Dia melihat pak Leo muncul dari bagian barat mengendarai motornya menuju gerbang, hendak pulang.
Zen berlari seraya berteriak lantang, berusaha mencegah. "Paaaakk! Pak Leo!" seru Zen, suaranya sudah mirip toa.
Upayanya berhasil, pak Leo menoleh ke sumber suara lalu menghentikan laju motornya. Dia pun membuka kaca helm agar dapat melihat Zen lebih jelas.
"Mas Zen? loh, ngapain di sini?" tanya mentor, masih di atas motornya.
"Ehm, anu, Pak. Open jastip," kekeh Zen, sembari mengusap tengkuknya. "Nyari Bapak lah, masa calon istri, sih," imbuh sang residivis, cengengesan.
__ADS_1
Pak Leo tak kalah keki mendengar jawaban asal Zen. Dia pun tertawa renyah sambil memundurkan motornya kembali dan memarkirkan di area pelataran lapas.
Lelaki paruh baya lalu menghampiri mantan anak didiknya selama di dalam lapas, keduanya pun duduk di separator beton tak jauh dari sana.
"Gimana Mas Zen, ada yang bisa saya banting?" kekeh pak Leo gantian menggoda Zen dengan senyum khas hingga gigi ompongnya terlihat.
"Banting masa depan aja, Pak, biar mudah menjalani hidup," balas Zen konyol. "Ehm, itu, anu, saya mau tanya tentang cara buka usaha bengkel, atau Bapak bisa masukin saya ke tempat kawan Bapak agar saya dapat belajar montir," ujar Zen, malu. Baru kali ini dia memohon bantuan orang lain. Gengsi yang biasa di puja Omar zen kini luntur.
"Oh itu, ada Mas, ada. Tapi, apa Mas Zen gak buka sendiri aja? pihak lapas menyewakan alat dasar loh, selama tiga bulan dalam pantauan kami. Jadi minim modal, sembari nabung di yayasan untuk di belikan alat serupa ... kan mandiri nanti," tutur pak Leo menawarkan pilihan lebih mudah.
Zen merasa belum percaya diri jika langsung memulai membuka usaha mandiri. Dia juga masih meraba situasi, tapi tawaran pak Leo tak dia lewatkan begitu saja.
Keduanya membicarakan hal tersebut panjang lebar hingga menjelang waktu Maghrib tiba. Pak Leo meminta Zen, menemuinya esok pagi untuk di kenalkan ke mitra usaha yang bekerjasama dengan lapas. Mereka rata-rata mantan napi yang ulet hingga akhirnya mandiri dan hidup lebih baik di masyarakat.
Putra bungsu Ahmed mengangguk cepat, antusias terhadap tawaran pak Leo. Pagi hingga sore, dia akan bekerja di bengkel orang lain. Malamnya membuka usaha sendiri di sekitar kawasan kampus agar mudah mobilisasi peralatan selama belum mendapat tempat sewa.
Harapan hidup lebih baik, terbayang di pelupuk mata. Ini adalah langkah awal untuk mendekati Olivia. Zen pulang ke kos-an dengan hati ringan, senyum pun tak surut dari wajah tampan.
***
Arief tak bisa lagi mentolerir putrinya menggunakan angkutan umum. Olivia hari ini kecopetan, meski hanya dompet berisi recehan tanpa dokumen berharga tapi tetap saja, dia khawatir anak semata wayang menjadi korban penodongan di dalam angkot.
"Ayah belikan motor tapi seken, ya, Liv," ujar Arief saat Olivia menangis sebab dirinya masih ketakutan.
"Maafin Oliv, Yah. Berkali membuat ayah cemas dan selalu menyusahkan," cicit Olivia masih menundukkan wajah sembari menyeka air matanya.
"Hem. Jaga baik-baik kali ini. Ayah bisa saja antar jemput kamu tapi kadang ada pelanggan datang dan justru takut ayah jadi sumber penghambat kamu dalam beraktivitas. Belajar yang benar, cepat lulus dan bantu ayah," tutur Arief, mengusap kepala putrinya lembut sebelum dia masuk ke kamar.
Satu pekan kemudian.
Awal pekan yang padat bagi Olivia, dia sedikit terengah menjalani hari sebab sedang melaksanakan shaum sunnah.
Saat akan pulang ke rumah, Olivia terheran, motornya mogok, tak mau menyala. Beberapa kawan pria sukarela membantu gadis ayu akan tetapi semuanya gagal.
"Liv, ke bengkel aja. Ada yang dekat kok, kalau masalah busi, pasti bisa. Tuh, ke arah sana," ujar sang kawan pria terakhir, menunjuk ke arah Utara dari kampus mereka.
__ADS_1
Olivia bingung tapi langsung mengiyakan. "Oh, oke oke, makasih," jawab Olivia. Dia celingukan mencari kawan yang dapat membantu mendorong motornya.
Gerbang Kampus akan di tutup, sebab sudah pukul lima sore. Olivia tak punya pilihan banyak. Dia terpaksa mendorong motor dengan tenaga tersisa menuju bengkel yang di anjurkan sang kawan tadi.
Tak lama kemudian. Olivia tiba di bengkel, dengan nafas terengah. Dia tidak memperhatikan sosok pria yang sedang duduk menanti pelanggan di sebelah mesin kompresor.
"Bang ... to long, i ni mogok. Gak ta hu ke napa," ujar Oliv dengan nada tersenggal seraya menepuk jok motornya. Dia lalu duduk di tepi trotoar, menunduk sambil memegang kepala.
"O-oke." Zen mengerjap beberapa kali. Tak salahkah pandangannya kini?.
Degh.
Degh.
Degh.
"Dia Olivia."
Omar langsung mendorong motor Olivia naik ke bagian atas dimana peralatannya berada. Dia mulai mencoba menyalakan starter, tapi tak berfungsi. Zen, lalu menurunkan tungkai penahan agar posisi motor tegak lalu mulai mencoba menekan starter kaki secara manual.
"Ini businya kena kayaknya, Mbak. Saya cek dulu ya, buka kap mesinnya," ujar Zen, tak melihat ke arah Olivia.
"Bebas, yang penting dia nyala. Mau Maghrib pula. Gak ada warung ya? aku butuh air mineral buat batalkan puasa," jawab Oliv masih menunduk, dia sangat haus.
"Ada minum punya saya tapi, Mbak. Gak di tenggak kok, di tuang ke gelas. Kalau mau, silakan ambil sendiri di sana," tunjuk Zen ke arah sudut bilik kayu.
Olivia mendongak, tiga menit lagi azan. Jalan ke warung pun terlalu jauh.
"Ehm, aku...."
.
.
___________________
__ADS_1