Love Of Bad Boy

Love Of Bad Boy
Bab 39 Cinta Pertama


__ADS_3

Saat waktu kian terlewati, menit berganti jam. Maka begitu pun dengan status Omar Zen. Kini ia sudah resmi menjadi suami dari Olivia. Gadis berparas cantik dan wajah imut itu membuat Zen terus saja memandang wajah Olivia. Ia tak menghiraukan mata tamu undangan juga beberapa kerabat yang menatap mereka. Bagi Zen ini adalah hari yang paling dinanti-nanti. Ia bisa menggenggam jemari lembut Olivia, ia bisa memandang wajah cantik Olivia dengan halal. Bahkan saat tiba waktu shalat maghrib. Zen menahan tangan Olivia saat istrinya ingin bergegas membuka pintu karena masih ada satu acara lagi malam ini. Mereka masih harus bersabar untuk menikmati waktu berduaan.


"Aku buka pintu dulu, sudah tiga kali di ketuk... " Pinta Olivia.


".... " Zen justru terkesima menatap wajah cantik Olivia.


"Mas.... " Panggil Olivia.


Zen tertawa melihat ekspresi Olivia. Ia masih tak percaya bahwa saat ini dirinya bisa begitu dekat dengan Olivia. Bahkan ia menjadi imam bagi perempuan yang berhasil membuat nya jatuh hati pada pandangan pertama. Zen pun melepaskan tangan Olivia. Sang istri bergegas membuka pintu. Beberapa MUA masuk dan kembali sibuk dengan Olivia. Bukan Zen jika tidak tengil. Ia bahkan menganggu Olivia yang sedari tadi fokus wajahnya di make over oleh MUA.


"Awas ntar ketiduran.... " Goda Zen.


Kru MUA pun tertawa mendengar candaan Zen. Namun ternyata memang Olivia tampaknya tertidur saat wajahnya di rias. Karena posisi bersandar pada kursi membuat Olivia yang beberapa hari ini mengalami insomnia. Maka saat ia lelah, mata yang terpejam membuat ia tak sadar terhanyut dalam alam mimpi. Melihat napas yang teratur, Zen pun meminta waktu 15 menit agar istrinya bisa menikmati istirahat nya.


"Biarin dulu mbak, cuma tinggal ganti baju dan jilbab kan?" Tanya Zen pada salah satu KRU MUA.


Anggukan kepala MUA tersebut membuat Zen mendekat. Ia memotret wajah istrinya. MUA itu bahkan tampak menggelengkan kepala karena cara Zen mengambil gambar Olivia, terbilang tidak biasa. Zen membolongi plastik dan sedikit ia basah kan. Lalu ia arahkan ke kamera nya dan ia mengambil posisi di belakang tripod milik kameramen. Ia memotret Olivia yang masih tertidur.

__ADS_1


"Cantik." Gumam Zen memandangi kameranya.


Lima belas menit berlalu, Olivia pun di bangunkan oleh Zen. Mereka pun berganti pakaian yang di siapkan oleh MUA. Saat semua selesai, sepasang pengantin baru itu pun keluar menemui beberapa tamu yang sudah hadir. Acara malam ini cukup sederhana, hanya pembacaan maulid dan sebuah jamuan, namun khusus undangan keluarga besar. Olivia sebenarnya bersemu wajahnya hampir satu hari itu. Sang suami yang sedang di landa mabuk cinta tak henti-hentinya memandang dirinya. Ia tahu bahwa mata itu mungkin sudah lama merindukan wajahnya sampai halal untuk di nikmati seperti saat ini.


"Sampai kapan akan memandang wajah ku seperti itu?" Ucap Olivia seraya menatap Zen dari pantulan cermin. Ia masih sibuk dengan kapasnya yang telah di berikan cairan pembersih make up.


"Sampai kamu menua... " Ucap Zen dengan tatapan kagum menatap istrinya.


"Walau nanti keriput?" Tanya Olivia.


"Aku akan beli skincare termahal biar istri ku ini tidak keriput." Ucap Zen.


"Jadi kalau keriput tidak cinta lagi?" Tatap Olivia yang khawatir jika suatu saat nanti Zen justru merasa bosan karena menikah adalah satu perjalanan yang cukup panjang.


"Sekalipun kamu keriput, mata ini ga bakal beralih... Karena aku akan berusaha menundukkan pandangan ku. Sehingga mau secantik apapun perempuan nanti saat kamu keriput, maka kamu yang paling cantik di mata ku. Karena ini hanya memandang kekasih halalku... " Ucap Zen seraya membentangkan kedua tangannya.


Olivia menggelengkan kepalanya pelan. Ia menahan senyumnya. Jika selama ini ia menganggumi Zen sebagai lelaki yang bertanggung jawab, mandiri. Kini ia melihat sisi lain suaminya. Sisi manja sang suami. Olivia pun memeluk Zen seraya menggoda sang suami.

__ADS_1


"Jadi suami ku ini ada sisi hello kitty nya juga?" Ucap Olivia setengah terkekeh.


"Sssttt.... cuma kamu yang tahu... spesial do hadapan istri..." Seloroh Zen yang ikut tertawa.


Malam itu menjadi malam yang cukup panjang bagi Zen dan Olivia. Mereka bahkan bercerita satu sama lain bagaimana hari-hari mereka lalui dengan perasaan masing-masing.


"Jadi kamu suka sama aku sejak kapan?" Tanya Zen yang sibuk memuntir ujung rambut Olivia.


"Jujur sejak pertama ketemu, tapi bagaimana pun aku harus menjaga marwah ku... aku tidak ingin terlibat dengan perasaan dan hubungan yang mungkin akan sama-sama merugikan kita." Ucap Olivia jujur.


"Berarti kita sama-sama cinta pertama dong? Tunggu... tunggu... memangnya Farhan... kamu tidak punya hati sama Farhan... kalian kan cukup dekat dulu? " Selidik Zen.


"Dekat bukan berarti menaruh hati. Aku justru lebih nyaman berada di dekat Bang Farhan saat itu. Karena tidak punya rasa. Padahal banyak yang melamar saat selesai kulian. Itu alasan aku lanjut di Australia." Ucap Olivia.


"Banyak??? Terus kenapa tidak diterima?" Tanya Zen semakin penasaran.


"Ga ada rasa suka... kan menikah ibadah seumur hidup... nanti kalau menikah sama orang yang kita ga suka bakal susah. Aku ga yakin bisa menjadi istri yang baik saat hati ini justru terlanjur suka sama lelaki lain... Alhamdulillah... kita justru berjodoh.... " Ucap Olivia.

__ADS_1


Obrolan suami istri itu pun berhenti saat alarm dari ponsel mereka sama-sama berdering.


__ADS_2