
"Jalan Asoka belakang Alphajuli 2." Gumam Zen seraya menatap sebuah rumah yang cukup sedap di pandang. Rumah dengan cat dan pernak pernik serba Putih.
Zen pun membuka helmnya, ia membenarkan rambutnya dengan ujung-ujung jari seraya menatap spion motor milik temannya. Ia melangkah ke teras rumah yang terdapat banyak sekali bunga mawar. Zen mengucapkan salam seraya mengetuk pintu. Saat pintu terbuka muncul lah seorang perempuan paruh baya yang mengenakan mukenah. Ia menatap Zen dari bawah sampai ke atas. Bahkan perempuan itu terbata-bata menjawab salam Zen.
Perempuan itu adalah ibu Farhan. Bagaimana dia tidak heran, ini kali pertama ada orang bertamu dengan celana yang sobek-sobek di bagian lutut. Jaket yang di kenakan Zen pun membuat Ibu Farhan tertegun.
'Siapa lelaki ini. Apa dia teman yang kata Farhan tadi akan kemari? Apa dia tidak shalat Jum'at?' Batin perempuan tiga anak itu.
"Cari siapa ya?" Tanya Ibu Farhan setelah menjawab salam dari Zen.
"Betul ini rumah Farhan?" Tanya Zen.
"Betul, anak ini siapa?" Tanya sang ibu.
'apa penampilan gue seseram itu sampe ni ibu kayak ketakutan gitu.' Batin Zen.
Ia pun menjawab pertanyaan ibu Farhan seraya tersenyum, khawatir wajahnya terlihat seram. Karena mimik wajah Ibu itu seperti waspada di balik pintu yang terbuka hanya separuh.
"Saya temannya teman Farhan." Ucap Zen.
"Teman, temannya Farhan?" Beo sang ibu dengan dahi berkerut mencerna ucapan Zen.
"Tunggu sebentar lagi pulang. Dia lagi shalat jum'at." Ucap Ibu Farhan seraya membuka pintu dan berjalan ke arah kursi yang berada di teras.
Ibu Farhan pun mempersilahkan Zen duduk di kursi teras rumah yang menghadap ke kolam kecil yang terdapat di tepi pagar. Zen duduk dengan gaya anak muda dengan kaki yang bergerak-gerak seperti sedang berada di kursi goyang. Ibu Farhan masih heran, dimana anaknya bertemu teman se aneh Zen. Ini pertama kali anaknya memiliki teman dengan tampang gaul.
__ADS_1
"Ibu tinggal ke dalam dulu ya." Ucap ibu Farhan.
Zen mengangguk. Namun tak lama terdengar suara motor. Masuklah dua orang lelaki yang berada diatas satu motor. Zen tiba-tiba merutuki dirinya.
'pantas saja tuh ibu shock banget lihat gue. Gue salah kostum.... Lah celana ma baju gue begini. Nih penghuni rumah dah kayak penghuni surga semua....' sesal Zen dalam hati karena ia baru sadar dan merasakan jika pakaian yang ia kenakan kurang sopan untuk bertandang ke rumah orang yang lebih tua. Terlebih Farhan, lelaki tampil begitu sopan dan terkesan alim. dengan sarung juga baju koko kerah sanghai yang ia kenakan.
"Assalamualaikum." Ucap Farhan dan Ayahnya bersamaan.
"Walaikumsalam." Jawab Zen.
Tatapan ayah Farhan langsung ke arah Farhan.
"Kenalkan yah, Zen." Ucap Farhan.
Farhan pun meminta Zen untuk masuk ke dalam. Setibanya di dalam, Farhan meminta izin untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Ia pun bertanya tentang apa yang bisa ia bantu, Zen mengutarakan apa yang ia maksud.
Farhan melihat satu jilid kertas yang Zen klip menggunakan binder klip.
"Sudah ok, mungkin kamu hanya perlu mempelajari nya saat nanti sidang. Contoh, kenapa kamu mengambil judul ini, metode apa yang kamu gunakan, judul kamu apa, dimana kamu melakukan observasi. Dan terakhir kamu harus buat kesimpulan. Biasanya sih seputar itu." Jelas Farhan.
"Waduh repot ini," ucap Zen.
Farhan pun bersedia membaca skripsi Zen. Mereka beberapa lama terlibat obrolan setelah Zen mulai paham ia pun manggut-manggut.
'ngerti gini gue buat sendiri kemarin.' Batin Zen setelah paham isi skripsi nya yang menggunakan jasa joki.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya, kenal Oliv dimana?" Tanya Farhan.
Zen tampak bingung menjawab, karena ga mungkin jawab jika bertemu di balap liar.
"Di bengkel, waktu itu motornya rusak." Ucap Zen.
"Oh... Soalnya Olivia ga pernah cerita punya teman laki-laki yang dekat." Ucap Farhan.
'Aku pikir dia siapanya Oliv, hidung sama matanya mirip Olivia'. Batin Farhan yang berpikir jika Zen sepupu Olivia.
"Lah, mas Farhan siapa kalau bukan teman?" Selidik Zen.
"Saya teman dari semasa SMA dan sampai sekarang satu pengajian dan beberapa organisasi. Ternyata dia masih Olivia yang sama, sebisa mungkin membantu orang." Ucap Farhan.
Kalimat terakhir Farhan menohok hati Zen. Ia berharap lebih dari perhatian Olivia. Namun nyatanya sang bidadari hati memang memiliki jiwa sosial cukup tinggi.
"Banyak teman yang menaruh hati sama Olivia, tapi dia pandai membawa diri. Sepertinya dia memang menjaga hati nya untuk waktu dan orang yang halal." Ucap Farhan.
"Termasuk mas Farhan?" Tanya Zen.
Dua lelaki itu saling tatap. Zen setengah menunduk tanda permohonan maaf karena keceplosan. Namun ungkapan hati Farhan membuat Zen terpekur.
"Suka iya, tapi tidak lebih ke berharap. Takut kecewa, iya kalau jodoh. Kalau enggak. Kan kasihan kitanya dan pasangan kita ntar. Ya pokoknya sekarang memantaskan diri saja, kalau memang sudah siap menikah baru datang dan temu orang tuanya." Ucapan Farhan membuat bungsu Ahmed terpaku, rasa yang bercampur menjadi satu.
Malu karena berharap cintanya dibalas Olivia, malu karena ia rasanya tidak pantas. Jika dibandingkan dengan Farhan saja, dia sudah bisa dikatakan jauh tidak pantas untuk Olivia. Pulang dari kediaman Farhan, malam harinya Zen sulit memejamkan matanya.
__ADS_1
"Aish.... Kenapa jadi terngiang-ngiang ucapan Farhan tadi ya. Kayaknya saingan gue berat. Gue mau fokus aja deh sama kuliah dan bengkel Gue. Daripada gue patah hati, lo ga selevel dengan Olivia. Dia bidadari dunia Zen, lah Elo.... Hehe... Ok gue bakal fokus sama masa depan gue. Kalau memang jodoh, Olivia juga bakal jadi istri gue. Atau perempuan yang lebih cantik lagi.... " Ucap Zen seraya menutup wajahnya dengan bantal.