Love Of Bad Boy

Love Of Bad Boy
Bab 23 Jalan Kemudahan


__ADS_3

"Zen, mama bangga sama kamu, Nak," isak Nuril di ujung telepon.


Nuril tak mendengar ada sahutan suara, sebab Zen menjauhkan ponsel dari dirinya. Dia sibuk menghalau satu tetes air mata di ujung netra.


"Zen!" panggil Nuril kesekian kali.


Beberapa detik kemudian.


"Ya, aku baik saja, Ma. Terima kasih banyak," ulang Zen lagi masih diliputi suasana haru.


"Kapan yudisium, Nak?" tanya Nuril sebab setelah ini proses panjang akan di lewati sebelum wisuda. Biaya pun takkan keluar sedikit dana, Nuril mulai cemas apakah Zen masih memiliki simpanan uang.


"Dua hari lagi, aku akan mulai mengajukan untuk ikut yudisium, Ma. Doakan semua lancar," ujar Zen lagi.


Percakapan singkat antara anak dan ibu pun berakhir. Zen bergegas menuju bengkel Reyhan guna membagi bahagia. Setelah itu dia akan beristirahat, mengecek saldo juga mempersiapkan revisi beberapa bab skripsinya.


Waktu berlalu bagai kedipan mata. Tak terasa kini hari yang dia tunggu akan di jelang. Zen menantikan hasil kelulusan sidang dua hari lalu. Ketika dosen memanggilnya dan menyerahkan surat keramat itu, nafas Zen berhembus bagai jarak antara Senin Kamis, ada jeda hingga menimbulkan suara ngak ngik nguk.


"Bis-- ... yeeaaa--"


Zen menjeda, mengucek matanya rasa tak percaya.


"Alhamdulilah. Yeeaaaaayyyy!" sorak Zen, melompat kegirangan bagai mendapatkan es krim mixxuer gratis tanpa antri.


Beberapa mahasiswi yang ada di sekitar, dibuat kaget oleh Zen. Tatapan aneh pun tertuju pada mahasiswa dengan tas ransel di pundak.


Wajah Zen seketika cerah, dia bergegas ke bagian administrasi guna menanyakan persyaratan untuk mengajukan yudisium sebab salah satu persyaratannya baru saja dia dapatkan. Zen, lulus sidang skripsi.


Ingatannya pada Olivia terlupakan sejenak. Zen sangat fokus pada hal yang akan dia kerjakan di depan mata.


Namun, saat melihat banyaknya persyaratan juga biaya yang harus di siapkan, nyali Zen seketika menciut meski dia tak membatalkan pengajuannya.

__ADS_1


"Bongkar celengan, ngintip dulu gue punya duit berapa di sana. Gaji dari Axel kan belum terlihat hilalnya," gumam Zen terus melangkah menuju parkiran dimana motornya terparkir.


Kuliah sambil kerja ternyata tak seseram yang Zen bayangkan. Setelah berjibaku dengan urusan kampus, dia kini mengerjakan laporan untuk Axel. Di sela jam luang, Zen memanfaatkan fasik kantor yang dia tempati guna menyusun ulang bab skripsinya.


"Man Jadda wa Jadda! bener ya, Alhamdulillah ada aja jalannya," lirih Zen, saat semua pekerjaan telah selesai.


Sangat asik mengerjakan dan menikmati aktivitas, membuat Zen terlena. Dia hampir lupa waktu.


Omar Zen melihat ke sekeliling, hari ternyata telah sangat gelap. Dia terkejut, kantor telah sepi, hanya ada satpam mulai berkeliling.


"Loh, Pak Zen kok belum pulang? sudah jam sembilan. Saya kira, lepas salat Maghrib tadi pulang," tegur satpam showroom saat melihat Zen keluar ruangan.


"Asik kerjain ini, Pak. Selama bertugas, saya duluan," balas Zen mengangkat map di tangan lalu melenggang pergi.


***


Beberapa hari kemudian.


Saat dia tengah menunggu kang jilid mengambil pesanan miliknya, sebuah suara yang Zen kenal terdengar sangat dekat. Zen, menoleh ke arah kirinya.


"Bang, punya aku ya," seru seorang wanita.


"Olivia?" sebut Zen, sorot matanya langsung berbinar saat melihat gadis incaran.


"Hai, lagi ngambil jilid juga?" tanya Oliv lembut, pada seorang pria di sebelah kanannya.


Zen mengangguk cepat bagai boneka manggut-manggut, yang biasa terpajang pada dashboard mobil. "Iya. Mau yudisium," jawabnya bangga.


Olivia pun terkejut, sorot matanya ikut berbinar. "Wah, maa sya Allah. Aku juga baru selesai skripsi," jawabnya malu.


Keduanya lalu berbincang sesaat sebelum akhirnya berpisah sebab Olivia telah di tunggu seseorang di Kampus.

__ADS_1


Zen meraba dadanya, mengelus cepat berharap detak jantung kembali normal. Dia pun meninggalkan tempat tersebut setelah membayar jasa. Kini langkahnya mantap menuju bagian administrasi guna membayar semua biaya.


Hari berat di lewati, jadwal yudisium tinggal menghitung hari. Dia harus siap siaga, kapok menggunakan jasa joki sehingga akan sekuat tenaga mengerjakan semua sendiri.


Di Surabaya, Axelo menerima laporan Zen juga asisten pribadinya secara kontinyu. Bukan dia tidak percaya, hanya memastikan kondisi aman terkendali di bawah naungan Zen. Jika sahabatnya itu bertanggungjawab maka Axel perlahan akan melepaskan showroom itu murni untuk Zen kelola pribadi.


Hari berganti pekan.


Omar Zen bagai ketiban bulan. Dia kini berada di ruang tunggu yang sama dengan Olivia. Lambaian tangan gadis itu kala melihatnya berdiri di dekat tiang, membuat Zen ingin melompat. "Ya Allah, terima kasih," gumam Zen.


"Oliv juga?" ucap Zen tanpa suara, hanya isyarat bibir saat gadis itu melihatnya lagi. Jemarinya menunjuk ke arah pintu ruangan yang sama.


Olivia mengangguk, mengulas senyum samar. "Iya."


Masa yudisium yang memakan waktu lama membuat Zen dan Olivia kian dekat meski tak sering berjumpa.


"Bye Zen. Sampai jumpa lagi. Semangat ya!" ujar Oliv, tersenyum manis setiap kali mereka berpisah jika bertemu.


"Siap, princess," balas Zen tak kalah sumringah.


"Semoga wisuda bareng. Kabulkan ya Allah, jangan nanggung ya nanti," lirih Zen mengucap doa.


Olivia, terkesan dengan semangat Zen selama beberapa kali temu yudisium. Sifatnya yang kocak, terkadang serius hingga menaikkan kadar ketampanannya, tak jarang ketus dalam memilih kata, membuat Olivia merasa bahwa Zen adalah pribadi easy going.


"Kamu pasti bisa, Zen. Bisa!" gumam Oliv, sekilas melihat ke belakang, sebelum dia menghilang menuju mobil jemputannya berada.


.


.


__________________

__ADS_1


__ADS_2