Love Of Bad Boy

Love Of Bad Boy
Bab 26 Jantung Hati


__ADS_3

Hari berganti pekan hingga bulan. Zen masih belum bersedia untuk pulang ke kediaman keluarga besar sebelum sang ayah yang memintanya secara langsung. Sesuai janji juga tantangan masing-masing kala itu.


Tanpa terasa waktu berputar semakin cepat, hingga tua tahun kemudian.


Omar Zen saat ini bukanlah sosok nan sama dengan beberapa tahun silam. Dia kini telah memiliki mobil mewahnya sendiri. Axel bahkan meminta dia mengawasi show room miliknya yang lain, membuat Zen kian sibuk hari demi hari.


Banyak gadis cantik mulai mendekat tapi dia tidak menggubris sama sekali. Rumor tentang penyuka sesama jenis pun tersemat padanya.


Bukan Zen menutup diri akan tetapi bayangan gadis shalihah bagai Olivia tak pernah dapat dia tepis. Beberapa kawan istri Axel bahkan menjodohkannya dengan banyak gadis ayu, seperti kriteria yang pernah dia utarakan. Namun, Zen tetap meluruskan pandangan berharap sosok yang dia nanti muncul di hadapan.


Omar Zen sesekali stalking medsos milik Olivia yang dia ketahui, hanya postingan quote motivasi yang kerap melintas. Tapi, itu cukup menjadi penawar kerinduan pada si gadis ayu. Dia tak berani menyapa, takut hatinya goyah dan tujuannya pudar.


Berkat bantuan Reyhan juga dua anak buahnya, kini penghasilan dari bengkel BDZ miliknya telah mampu membeli sepetak tanah di samping ruko yang dia sewa dulu. Meski mencicil tapi paling tidak, laba dari bengkel bisa untuk membayar aset miliknya itu.


Kini, Zen tengah memandang senja dari balkon kamar, ke arah jalan raya yang mulai ramai di akhir pekan.


"Malam Minggu, kapan enggak kelabu?" gumam Zen. Dia kini pindah kost ke tempat yang lebih nyaman. Menikmati hasil kerja keras selama ini.


Saat asik menyesap secangkir kopi hangat, ponselnya berdering. Sebuah nama terpampang di layar.


"Ya Kak?" sapa Zen. Dia mendengar seksama penuturan Zain di seberang sana.


Sedetik kemudian.


"Oh, gitu. Oke, selamat ya, Kak," ucap Zen lagi.


"Jangan lupa hadir, ya. Semua sudah aku siapkan, kamu gak usah repot. Doakan dua bulan lagi hajatku lancar," sambung Zain.


Omar Zen mengangguk meski Zain tak melihatnya. Bibir itu mengulas senyum serta memberikan banyak doa bagi kelangsungan acara penting dalam hidup Zain nanti.


Panggilan terputus setelah keduanya saling mengucap salam.


"Sudah mau nikah aja, lo, Zain. Kamu memang mapan sejak dini sih ya. Juga wanita itu sesuai dengan kriteria kamu dan papa," gumam Zen, melempar ponselnya ke arah ranjang kemudian melanjutkan menikmati kopi yang tak lagi panas.


Sebagai anak baik dan penurut, Zen akan mampir menyambangi ibunya di kediaman mewah mereka. Sejenak tidur siang atau hanya menikmati cemilan buatan Nuril kala akhir pekan tiba.


Kriing.!


Ponselnya kembali berbunyi.

__ADS_1


Senyum Zen merekah, manakala melihat sebuah nama muncul di layar.


"Assalamualaikum, Ma," ujar Zen.


"Wa 'alaikumsalam. Temani mama, Zen. Kakakmu sudah cerita bukan? pulanglah dulu ya," pinta ibunya lembut.


"Oke, otewe." Tanpa bantahan, Zen pun masuk ke kamarnya. Menutup pintu balkon lalu bersiap meluncur memenuhi panggilan Nuril.


Tak lupa, cangkir kopi sekalian dia bawa agar ART tak susah payah mencari gelasnya yang berkurang akibat anak kost bandel yang malas meletakkan peralatan kotor di dapur.


Omar Zen berjibaku dengan para muda mudi yang hendak menghabiskan malam panjang, dia terjebak macet hingga tiba di kediaman setelah azan Maghrib.


Makan malam sunyi menyertai keluarga Ahmed sebab kehadiran Zen di sana. Sang ayah tidak lagi menampik sosok Zen meski mulutnya masih tersemat gembok, sulit membangun komunikasi dengannya.


Zen tak ambil peduli. Dia tetap menganggap beliau orang tua yang berjasa untuknya. Suasana sedikit menghangat saat Zain membuka suara.


"Zen, besok temani fitting ya. Aku sesekali ingin di supirin adik sendiri. Pengen nyobain duduk di CR-Z sport custom milikmu itu, gimana rasanya ya?" ucap Zain.


Zen menanggapi dengan wajah datar seperti biasanya. "Ya gak tahu rasanya, Kak sebab aku belum jilat tuh mobil," jawab Zen asal membuat Nuril tertawa renyah.


"Yee, manager kok bloon ya," timpal Zain.


Hiburan receh bagi Nuril jika si bungsu ada di rumah meski Ahmed akan tetap menjaga jarak.


Hubungan Zen antar keluarga kini semakin baik berkat acara pernikahan Zain. Ahmed sesekali mengajaknya bicara meski terlihat terpaksa dan sebatas obrolan dengan jawaban iya dan tidak.


Pagi yang dinanti pun tiba.


Iringan mobil pengantin pria mulai melaju menuju kediaman sang mempelai wanita. Zen menghias mobilnya sebab akan digunakan untuk membawa Zain.


Beberapa saat kemudian, mereka tiba di lokasi hajat. EO pun kembali menata rombongan barisan pengantin pria saat akan memasuki tenda pernikahan.


Zen berdiri gagah, melangkah pelan sesuai arahan hingga keluarga Ahmed duduk di private table.


Kiranya nasib baik menyertai Omar Zen hari itu. Dia merasa seakan tengah di tatap seseorang dari arah berlawanan. Inginnya tak menggubris isyarat perasaan akan tetapi otak memerintah bahwa dia harus mengikuti instingnya.


Zen menoleh ke sumber arah pemicu rasa penasaran. Nihil. Tiada apapun di sana. Dia kembali memperhatikan runutan acara.


Sejurus kemudian, perasaan itu hadir kembali, tepat saat kakaknya mengucap lafal ijab qobul, Zen mengedarkan pandangannya lagi.

__ADS_1


Para saksi mengatakan, "SAH!"


Seiring itulah, tatapan mata Zen terkunci pada sosok ayu yang juga tengah melihatnya.


Gadis itu mengenakan gaun Bridesmaids dan duduk manis di seberang sana.


"O-oliv?" ucap Zen terbata. Sorot matanya berbinar cerah meski bibir tak mengeluarkan suara.


Gadis itu mengangguk samar, dia tersenyum manis lalu mengalihkan pandangan sejenak.


"Hai!" sapa Olivia, hanya membuka bibir sedikit di sertai lambaian tangan yang terpaku di atas tas tangan dalam pangkuan.


Seketika jantung Zen terasa akan lepas dari tempatnya. Mendadak dia celingukan membutuhkan seteguk air sebab kerongkongan seakan kering akibat terlalu bahagia, hingga dia lupa cara menarik nafas dengan benar.


"Zen, kenapa?" bisik Nuril cemas melihat anaknya gelisah.


"Serangan jantung, Ma. Jantung hatiku datang menyapa," jawab Zen asal sambil cengengesan.


Nuril melihat arah pandang Zen sejak tadi, dia kini mengerti mengapa sikap putranya demikian.


"Dia gadis itu kan? yang dulu nyari kamu ke rumah? kapan mau melamar, Zen?" bisik sang ibu membuat Zen tersedak.


"Uhuk. Uhuk."


Tingkah lucu Zen tak luput dari Olivia yang mencuri pandang. Gadis itu ikut tersenyum simpul.


Kala tatapan mata mereka bertemu. Zen berkata.


"Awas ya kamu, ngetawain aku," lirihnya.


Olivia kian bersemu merona, dia pun merasakan bahagia menyergap raga.


'Sepertinya kamu sudah cukup dewasa, Zen' Cicit sang Ibu dalam hati seraya mengamati gadis cantik yang sedari tadi membuat bungsunya tak tenang.


.


.


_______________

__ADS_1


__ADS_2