
Zen mengemudikan kendaraanya menuju Jakarta Timur, ke sebuah daerah yang akan pengajian dan di isi oleh ustad Fikri. Ustad Fikri yang asli dari Jombang maka mau tidak mau beliau menghubungi beberapa jamaah di Jakarta, Zen sebagai salah satu jamaah ngaji Online yang di asuh oleh Ustad Fikri langsung menyanggupi untuk mengantar guru nya ke sebuah daerah. Zen memang sibuk mengembangkan usahanya, namun kesibukan dalam berkarir tak membuat bungsu Pak Ahmed itu memantaskan dirinya untuk tulang rusuknya. Ia tak punya waktu seperti kebanyakan orang yang akan hadir dari majelis ke majelis, jadwalnya begitu padat. Ia hanya punya waktu di malam hari, Di temani seorang Ustad yang juga mengasuh Ngaji Online yaitu Gus Nur Alim putra Kyai Masduki.
Selama perjalanan, Zen hanya fokus pada lubang yang ada di jalan. Ia hati-hati menghindari lubang tersebut bukan karena khawatir mobil mewahnya lecet, tetapi lebih ke adab memberikan kenyamanan kepada seorang guru. Zen duduk seorang diri di kursi depan, Ustad Fikri bersama Gus Alim duduk di kursi belakang. Tampaknya kini Zen semakin merasakan jika ia sudah semakin dekat dengan tulang rusuk kala Ustad Fikri bertanya tentang statusnya.
“Bang Zen sudah menikah?” tanya ustad Fikri seraya memegang pundak Zen dari arah belakang.
Zen melirik ke arah spion dan sedikit menunduk.
“Belum ustad, belum ketemu.” Ucap Zen.
“Belum ketemu apa nyari yang sempurna?” Tanya Gus Alim dengan logat Madura.
“Lah belum ustad, belum ketemu. Kemarin sempat ketemu tapi sepertinya kalah start…” Ucap Zen.
Kedua ustad di belakang Zen pun ikut tertawa mendengar jawaban polos Zen.
“Umur sudah berapa bang?” Tanya Ustad Fikri.
“Hampir 29 Ustad.” Ucap Zen jujur.
Ustad Fikri pun manggut-manggut.
‘Apa sama bang Zen saja ya saya kenalkan murid Umi, kemarin…” Ucap UStad Fikri dalam hati.
__ADS_1
Beberapa hari lalu seorang perempuan memang sedang mencari jodoh. Merasa khawatir karena di pilih karena orang tuanya juga karena kecantikan dan jabatannya. Ia justru ingin melalui jalan taaruf, dimana proses sebelum khitbah. Ia sebenarnya sudah beberapa kali di lamar tetapi karena merasa ia dicintai karena kelebihannya, murid istri Ustad Fikri tersebut ingin di pilih karena harta, pangkat dan kecantikan. Baru akan kembali bertanya UStad Fikri justru harus menahan rasa ingin tahunya, karena Zen menghentikan mobilnya. Mereka telah ditunggu beberapa panitia di tepi jalan. Ustad Fikri pun menuju mimbar yang telah di siapkan. Sedangkan Zen dipersilahkan ikut duduk tepat diantara ulama dan para sesepuh di daerah tersebut. Zen justru merasa malu, ia hanya duduk dan minder. Jika orang-orang akan sibuk Berselfie ria ketika bisa duduk dekat ulama yang dikenal banyak orang, berbeda dengan Zen. BAginya cukuplah ia yang tahu bisa dekat dan melayani apa yang bisa ia bantu kepada mereka yang disebut ulama tanpa dunia tahu jika ia dekat dengan ulama tersebut. Zen terus belajar banyak termasuk menata hati.
Zen hanya menunduk seraya mendengarkan apa yang disampaikan Ustad Fikri. BAhkan ketika acara jamuan untuk ustad Fikri Zen juga ikut di barisan ustad Fikri.
‘Ya Allah gini rasanya deket ma orang yang dimuliakan di dunia, apalagi dekat sama orang yang dimuliakan di akhirat nanti… apa ga bidadari aja bakal berebut ngerumbungi Gue… AStagfirullah… Zen… ini otak kenapa mikir yang manis-manis mulu… Ya Allah… jodoh ya Allah….biar otak kagak traveling mulu…’ batin Zen meradang kala kembali memikirkan perihal jodoh. Akhir akhir ini ia sering menyangkutkan apapun itu dengan jodoh. Mungkin itu yang dinamakan ketenangan, Zen belum memiliki ketenangan karena belum berumah tangga. Tampak Ustad Fikri dan Gus Alim berbincang cukup serius. Tiba saat pulang, Zen langsung mengarahkan kendaraannya ke Bandara lagi. Saat masih di perjalanan, Ustad Fikri memecah kebisuan. Dan membuat hati Zen bersorak riang gembira.
“Bang Zen, Kemarin istri minta dicarikan pemuda yang mapan, tampan dan juga baik. Saya rasa untuk kriteria terakhir, bang Zen punya.” Ucap Ustad Fikri.
Ustad Fikri sudah bertanya tentang kepribadian Zen kepada Gus Alim. Maka tak ada keraguan lagi untuk mengenalkan Zen dengan murid istrinya yang juga sedang risau perkara jodoh.
‘Ya Kariiiimm…. Cepat amat Ya Allah ngabulin doa Gue…’ Sorak hati Zen bahagia.
“Zen.. Zen…” PAnggil Gus Alim.
“I-iya Gus..” Jawab Zen gelagapan.
“Gimana mau ta’aruf sama murid nya Umi Nai?” Tanya Gus Alim langsung.
Zen terpaku sejenak, lalu ia pun memberanikan diri untuk terus terang.
“Wah, saya merasa tidak pantas Ustad, Gus….” Jawab Zen lirih, namun pandangannya masih menatap jalanan yang sesekali ada lubang.
“Loh kenapa bisa bilang tidak pantas, kan belum kenal?” Tanya Ustad Fikri keberatan.
__ADS_1
“Lah saya mantan Bad Boy, masa iya sama muridnya Ustad….” Jawab Zen kembali dengan napas berat.
Ustad Fikri dan Gus Alim justru tertawa mendengar jawaban Zen.
“Mantan kan…. Yang penting kenal dulu, yang jadi masalah ini… si perempuan ini orang ga punya. Dia juga ga cantik, bukan siapa-siapa. Kira-kira ini kamu mau ga sama dia dengan segala kekurangannya. Nah, mending ketemu dulu saja. Minggu depan di rumah ada acara pengajian. Kamu datang ya, saya kenalkan dengan gadis itu.” Ucap Ustad Fikri.
“Sudah Zen, ntar bareng saya ke sananya.” Ucap Gus Alim membujuk Zen yang tampak ragu.
“Taaruf aja dulu, kalau tidak cocok ya tidak apa-apa.” Ucap Ustad Fikri.
“Baiklah Tadz, Gus. Saya mau… “ Ucap Zen.
‘Ya Allah… beneran cepet sih dikabulkan doa, tapi kok ati masih ngarep Oliv ya…’ Batin Zen.
Tiba-tiba saat setelah mengantar Gus Alim ke kediamannya selepas pulang dari bandara, Ibu Nuril menghubungi Zen.
“Zen, jemput mama dan Papa. Zain tadi langsung ke rumah mertuanya. Sekalian kamu kenalan sama anak temen papa…” titah sang mama.
“Tapi Ma, Ze-“
“Tidak ada tapi-tapi, pokoknya sekarang kemari, tadi katanya kamu baru pulang nganter Gus Alim. Sudah mama tunggu. Mama kirim Sherlock.” Ucap Bu Nuril cepat dan menutup panggilan.
“Ya Rabbi…. Sekalinya datang kok ya bertubi-tubi… kan galau jadinya mau milih yang mana…” Gumam Zen khawatir karena terlanjur sudah akan berkenalan dengan murid istri Ustad Fikri dan kini ia juga akan berkenalan dengan anak teman papa nya.
__ADS_1