Love Of Bad Boy

Love Of Bad Boy
Bab 35 Keraguan Zen


__ADS_3

Dalam gelisah menunggu masa tenggat berakhir, Zen menuju sebuah outlet pembuatan label nama semacam akrilik atau plat aluminium. Dia ingin memesan tulisan Holicvia untuk di semat pada body motor yang tengah dirancang Reyhan.


Setelah proses pemesanan selesai, Zen mencoba menghubungi Olivia.


["Assalamualaikum, Olivia. Sedang apa?"]


Tanya Zen basa basi sambil menyunggingkan senyumnya, ia mengetik kata demi kata di ponselnya.


Zen melihat tanda ceklis dua tapi tidak langsung berubah warna menjadi biru. Hatinya sedikit kecewa tapi dia mencoba sabar.


"Ehm, ayo dong baca, baca," gumam Zen gemas, dengan mengetukkan jari di atas layar ponsel.


Satu menit kemudian.


["Wa 'alaikumsalam, habis beresin kamar. Ada apa ya, Zen?"] Balas Oliv.


["Gak apa. Eh, tapi kalau tanya sesuatu boleh gak? semacam pendapat lah."]


["Boleh aja. Kenapa?"] Tulis Oliv lagi.


Zen meragu, apakah dia harus menganalogikan apa yang akan dia akui nanti demi mendapatkan respon sang pujaan hati. Masih belum meninggalkan lokasi pembuatan nama huruf timbul, Zen bersandar di balik tembok ruko sembari menanti pembayaran pesanannya keluar.


["Apakah jika seseorang mengakui kesalahan di masa lalu dan ingin mengatakan kejujuran agar hatinya tenang dan lega. Kira-kira saat dia meminta maaf itu, di terima enggak ya?"] tanya Zen meragu.


Olivia membaca tulisan panjang Zen. Dia akan menjawab menurut pandangannya.


["Jika yang dia lakukan tidak bertentangan dengan syari'ah ya tentu di maafkan. Bukankah memaafkan itu memang harus ya meski sulit ... tapi, tergantung kesalahannya sih kalau aku. Bila dia melakukan kejahatan ya. Misal dia penipu atau pembohong atau pencuri kayaknya meski alasan dia logis ya bakalan mikir dulu."]


Degh.


Zen diam. Dia mencerna kalimat panjang Olivia, mengulang membaca di kata-kata terakhir.


["Maksudnya gimana ya? kamu gak maafin gitu kalau ada pencuri di rumahmu? atau mencuri barang pribadimu?"]


["Pencuri itu kesalahannya dua. Dia mengambil sesuatu dengan paksa lalu dia juga menipu dirinya sendiri. Apalagi jika uang hasil curian dimakan dan diberikan pada keluarganya. Apa itu hukumnya? jadi fatal sih, menurutku."]

__ADS_1


Jawaban Olivia seketika membuat Zen lunglai. Dia melemas seakan tulang kaki tak mampu lagi menyangga bobot tubuhnya. Panggilan dari tukang pembuat tulisan timbul pun Zen abaikan. Dia mendadak tuli. Otaknya diisi dengan kalimat-kalimat Olivia yang membuatnya seakan tercabut separuh nyawa.


"Bang!"


"Bang!" panggil kang penjaga toko.


Zen terkejut. Kepalanya sontak menoleh cepat ke arah pria tak jauh di hadapan. "Ya? maaf," sahutnya.


Resi pembayaran juga jadwal pengambilan barang telah Zen kantongi. Dia lalu menuju mobilnya.


Bukannya lekas meninggalkan lokasi, Zen malah terkungkung lamunan. Dia menyandarkan kepalanya pada stri mobil, meremat bulatan benda itu hingga buku jarinya memutih. Hentakan kecil dia bubuhkan di sana, berharap dapat menemukan solusi untuk bicara jujur nanti.


Zen galau. Dia pun memilih memutar mobil menuju kediaman. Ingin menekur diri di hamparan mihrab dan mengadu pada Tuhannya.


Hingga menjelang malam, suasana hati Zen masih naik turun. Ajakan Nuril untuk menemui Olivia esok pagi guna fitting baju pengantin, ditolak halus oleh Zen. Dia merasa harus menyiapkan diri menghadapi segala hal yang terjadi nanti.


Keesokan pagi.


Zen kian tak tenang. Setelah briefing pagi, dia bergegas menemui gurunya. Sesampainya di kediaman ustad Fikri, Zen malah hanya diam.


"Zen!" tegur sang guru.


"Ada masalah?" tanya ustadz Fikri menebak kegelisahan Zen.


Zen mengangguk samar, hatinya ragu tapi dia harus menanyakan tentang hal ini. Zen pun mulai bercerita.


Ustadz Fikri berkali memandang wajah pria di hadapan, lalu menunduk, manggut-manggut dan tak jarang terlihat heran. Harapan Zen muncul kala sang guru mulai menampilkan senyuman samar di wajah yang semula tegang.


"Antum itu terlalu berspekulasi, Zen. Datang saja dulu, cerita dulu. Namanya juga jaman jahiliah," saran ustadz Fikri seraya tersenyum.


Zen masih bingung.


"Wajib bagi kita mendengarkan alibi lawan bicara jika menyangkut masalah aib atau sesuatu yang telah dilakukan di masa lalu. Tabayyun namanya."


"Zen ... Ibnu Mas'ud meriwayatkan dari Rosulullah bahwa kejujuran akan membawa pada kebaikan dan kebaikan itu bakal menuju surga," jelasnya.

__ADS_1


"Dampak kamu tidak berani jujur itu bakalan gak tenang, stres, hilang kepercayaan diri bahkan rentan di sisipi oleh setan. Bisa jadi malah prasangkamu yang membawa pada kegagalan untuk melangkah meninggalkan masa lalu," terang ustadz Fikri lagi.


Zen masih terdiam, kepalanya kian menunduk. Ternyata jejak masa lalu itu akan terus menjadi ganjalan jika tidak keluar dari sana dengan mengakui secara gamblang.


"Kalau Oliv malu punya suami mantan napi, bagaimana?" racau Zen masih menunduk.


"Yang dilihat itu masa kini, masa lalu membentuk pribadi yang sekarang. Gak akan bisa lepas tapi kita di jaman itu adalah cermin, ibroh, pelajaran ... memutus tali keburukan agar keturunan selanjutnya Allah curahkan Rahmat. Sudah, banyak minta ampun. Jika masih gak tenang, salat awwabin saja," saran ustadz Fikri memutus percakapan panjang keduanya siang itu.


Zen pun pamit, hatinya sedikit tenang setelah sebagian beban di keluarkan. Sebelum mobilnya dipacu kembali berjibaku dengan kepadatan jalan raya, Zen memejamkan matanya.


"Mudahkan ya Allah. Semua ini tentu atas izinmu kan? pasti ada sesuatu pelajaran bagiku nanti."


"Maaf ya Olivia. Mungkin ini bagian dari takdir. Gara-gara motor aku ketemu kamu, masuk bui, dan banyak hal lainnya hingga di pertemukan lagi di titik ini, astaghfirullah la haula wa la quwwata Illa billah," gumam Zen, lirih sembari menarik tuas rem ke atas dan menekan pedal gas meninggalkan kediaman sang guru.


Malam hari.


Zen tak bernafsu keluar kamar hingga Nuril merasa heran. Apakah syndrom kawin tengah melanda putranya. Dia pun mengetuk kamar Zen, tapi tak jua ditimpali jawaban.


Zen berkali salat taubat sejak bada Maghrib tadi. Kini dia menjeda sebab Reyhan melakukan panggilan padanya.


"Ya?"


"Zen, rampung. Besok bisa kamu lihat dulu di bengkel. In sya Allah persis." Suara Reyhan nampak senang di ujung sana.


Zen menghela nafas. "Oke. Makasih banyak, Rey," balas Zen seraya menutup panggilan. Kini jemarinya menekan barisan kalimat di tombol ponsel.


["Assalamualaikum, Liv. Besok luang gak? bisa bicara dengan ayah dan kamu, di rumah? ada hal yang ingin aku sampaikan."] Tulis Zen untuk Olivia.


Satu menit kemudian.


["Wa 'alaikumsalam. Oke. Kabari saja jika ingin ke rumah."]


Zen membaca pesan itu. Hatinya bagai ditabuh, bergemuruh merasakan debaran jantung yang mulai abnormal.


"Bisa ya Allah. Bisa. Nawaitu!" tekad Zen.

__ADS_1


Putra Nuril, lalu mengulangi wudhu dan melanjutkan salatnya. Dia betul-betul ingin Allah melirik usahanya untuk bertaubat. Namun di tempat lain, Olivia justru bertanya-tanya ada gerangan apa Zen ingin bertemu dengan dirinya dan ayahnya.


"Semoga bukan sesuatu yang buruk.... " Gumam Olivia mengakhiri kegiatan di sepertiga malamnya.


__ADS_2