
Zen turun dari lantai dua menuju ruang makan. Bu Nuril justru terpaku menatap penampilan bungsunya. Zen tampil dengan sarung celana bermotif batik, sebuah kemeja dengan kerah sanghai. Ia sudah seperti seorang artis yang sering memerankan film relegi.
“Zen? Kamu mau bertemu gadis atau mau pengajian?” Tanya Bu Nuril yang menahan senyumnya.
Pak Ahmed pun menyematkan senyum simpul melihat penampilan putranya.
“Ma, ini sekalian menghadiri pengajian di kediamannya Ustad Fikri. Masa' iya Zen kesana pakai jeans... “ Jawab Zen cepat. Ia pun menikmati sarapan bersama kedua orang tuanya. Ia diantar sopir menuju bandara. Disana ia sudah di nanti Gus Alim.
Zen memang berangkat berdua dengan ustad yang kekinian, di era digital, Gus Alim lebih sering tampil di tiktok, IG dan face book walau followers nya belum terlalu banyak. Tetapi sasarannya adalah anak muda seperti Zen. Maka tak heran jika kajian online nya vya meet Zoom akan banyak anak ABG yang berstatus dari berbagai macam profesi, dari mahasiswa, penjual online, bahkan ada yang Cuma pengamen.
Hampir 30 menit mereka berada di dalam pesawat, hingga tiba di tempat lokasi. Mereka disambut oleh santri Ustad Fikri.
“Sudah ditunggu ustad dari tadi Gus... “ Sapa salah satu lelaku yang mengenakan sarung serta jas berwarna hijau.
Zen dan Gus Alim mengikuti langkah lelaki tersebut ke suatu ruangan. Acara masih akan di mulai sekitar satu jam setengah. Zen sengaja datang lebih awal karena sesuai permintaan dari Ustad Fikri. Tiba di ruangan tersebut, mereka di jamu oleh beberapa santri Ustad Fikri. Tak berapa lama Ustad Fikri muncul dengan satu map di tangannya.
“Bang Zen, ini biodata gadis yang kemarin saya ceritakan. Di baca dulu, nanti kalau bang Zen cocok. Baru ketemuan setelah acara ini.” Ucap Ustad Fikri pada Zen.
Zen mengambil map yang disodorkan ustad Fikri. Sebelum ia buka map itu, ia pun bermunajat dalam hatinya.
‘Ya Allah terserah deh... Kalau memang ini perempuan baik buat saya, buat keluarga saya... Saya terima walau mungkin dia ga sesempurna Olivia.... ‘ Batin Zen masih terselip nama Olivia.
Zen pun membuka map tersebut, kedua netranya justru tertuju pada sebuah pas foto. Gadis cantik dengan layar belakang foto berwarna biru.
“Disana bang Zen baca dulu, dia orangnya seperti apa. Karakternya seperti apa.” Ucap Ustad Fikri.
Zen tersenyum membaca biodata tersebut. Bahkan sebuah keterangan jika Olivia tidak bisa memasak juga tidak bekerja hanya sebagai pelayan membuat Zen tersenyum lebar.
“Sepertinya langsung klik ini Tadz... “ Goda Gus Alim.
Zen menutup map tersebut. Dengan mata yang berbinar, senyum yang mengembang di bibirnya. Ia pun mengungkapkan isi hatinya.
‘Baik, gue bakalan balikin jodoh kita ke takdir Allah. Gua ga bakal maksa Lo buat nerima gue Liv.... ‘ Batin Zen penuh rasa semangat.
“Insyaallah saya ga perlu kenalan Gus, Tadz. Saya mau langsung lamar dia kalau dianya mau di lamar saya.” Ucap Zen.
Dahi ustad Fikri tampak berkerut dan menatap Gus Alim lalu berpindah ke Zen.
“Maksudnya?” Tanya ustad Fikri bingung.
__ADS_1
“Saya ga bakal ketemu sama Olivia. Tapi tolog ustad sampaikan kalau saya menerima dia dengan segala kekurangan nya. Tapi bilang sama dia, saya Cuma pengangguran... “ Kini balik Zen menutupi jati dirinya. Tak adil memang bagi Olivia. Tetapi bagi Zen, ia tak ingin diterima oleh Olivia karena mengenal dirinya.
Ia merasa selama ini jika Allah menanti dirinya pantas untuk Olivia.
‘Jika memang kamu mencari yang baik bagi Allah buat kamu. Kita lihat apakah aku baik buat kamu Liv.... ‘ batin Zen.
“Jadi maksud bang Zen, jika gadis ini tidak keberatan. Bang Zen akan langsung melamar? Tetapi dia belum melihat foto bang Zen?” Tanya Ustad Fikri.
“Jika dia berani menyembunyikan jati dirinya buat saya, agar orang menerima dirinya bukan karena semua kelebihannya. Maka saya pun ingin jika kami berjodoh itu bukan karena suka kami satu sama lain... Tapi lebih ke memang Allah yang menggerakkan hati kami untuk bersama.” Ucap Zen.
“Bang Zen jadi sudah kenal Olivia?” Tanya istri Ustad Fikri sedari tadi.
Zen mengangguk. Hatinya terasa berbunga-bunga bahkan banyak pertanyaan dalam kepalanya tak ia hiraukan. Dari bagaimana bisa hubungan Olivia dengan Farhan begitu dekat, sedang ia paham kalau Olivia begitu menjaga hubungan dengan lawan jenis. Lalu bagaimana Olivia ada di rumah Farhan kalau dia bukan mempelai perempuan dari Farhan.
‘Ah terserah... Pokonya sekarang kita lihat jodoh sama Olivia apa ga.... Semua bakal kejawab Zen klo lo diterima ma Olivia.’ Batin Zen kembali bersorak gembira.
Bahkan saat acara tersebut berlangsung, Zen bersembunyi dari pandangan Olivia yang juga hadir disana. Olivia tak tahu jika ia sedang di amati oleh sepasang mata yang bertambah besar rasa cintanya. Saat selesai acara, Zen mendapatkan jawaban dari ustad Fikri.
“Bang, alhamdulillah... Sepertinya Allah sedang ingin betul-betul kalian bertemu jodoh yang betul-betul niat mencari ridho Allah.” Ucap Ustad Fikri dari seberang.
Ternyata Olivia meminta waktu untuk istikharah. Zen pun diminta untuk istikharah.
“Bang, Ane ga paham nih... Baru kali ini Ane lihat dua orang cari jodoh kagak ada yang mau ketemu. Nah ini jawaban dari Olivia justru ke abangnya... “ ucap Ustad Fikri.
Ternyata Olivia memberikan jawaban pada istri ustad Fikri.
“Saya kembalikan ke muridnya ustad Fikri. Jika menurutnya saya layak, cocok buat jadi istrinya. Siap bimbing saya jadi istri sholehah. Saya siap dilamar bulan depan.”
Apa yang di amanahkan oleh Olivia sudah disampaikan pada Zen. Giliran Zen yang bingung, walau sebenarnya ia bisa saja langsung menjawab ‘ya'. Tapi Zen diingatkan oleh Ustad Fikri.
“Jangan langsung di jawab Bang,istikharah dulu. Walau sebenarnya istikharah di pihak bang Zen ribet. Karena bang Zen sudah ada rasa suka. Beda sama Olivia yang memang hasil istikharah nya tanpa rasa suka sama bang Zen, wajah ga tahu, orangnya kek gimana ga tahu... Udah deh pokoknya istikharah. Ntar lihat petunjuknya apa.
Tujug hari Zen bersungguh-sungguh. Setiap malam sebelum tidur, ia melakukan shalat istikharah. Ia memohon petunjuk. Namun ia hampir menyerah karena belum menerima petunjuk. Saat hari yang di janjikan hampir dekat. Ustad Fikri bertanya pada Zen.
“Gimana Bang? Ini besok saya harus kasih jawaban anaknya sama orang tuanya.” Kata Ustad Fikri.
“Ga tahu Tadz. Saya malah 3 malam ini mimpi di kejer pocong... Serem.... “ Ucap Zen bergidik.
“Alhamdulillah.... Lah itu jawabannya Bang.... Kok malah seram... “ Ucap ustad Fikri.
__ADS_1
Zen bingung.
“Lah, kok Alhamdulillah tadz. Dikejer pocong Tadz... Bukan dikejar Olivia.... “ Ucap Zen bingung.
Namun ustad Fikri dan Gus Alim tertawa. Zen semakin heran.
‘Ini apanya yang lucu, ya Allah.... ‘ batin Zen semakin bingung.
“Pocong warna nya apa?” Tanya Gus Alim.
“Putih tadz... Masa' iya pink... “ ucap Zen lagi.
Seketika Zen teringat sesuatu saat ia mengucapkan kata Pink.
Saat dimana ia diajarkan doa oleh ustad Fikri saat akan shalat istikharah.
“Emang ga boleh digantiin warna pink apa abu-abu gitu tadz?” Tanya Zen.
“Bang Zen... Yang pink itu ntar daster bini boleh deh ganti warna pink.... “ Jawab Ustad Fikri kala itu.
Zen memang ketika shalat meminta petunjuk.
“Ya Allah aku tidak tahu mana yang terbaik buat ku. Termasuk jodoh, apakah Olivia adalah perempuan yang baik untuk aku dinikahi atau bukan. Beri hamba petunjuk ya Allah... Kasih kemudahan kalau memang jodoh. Dan jangan kasih aku kemudahan kalau memang aku bukan yang baik bagi Olivia begitu pun sebaliknya.... “
“Bang Zen... “ panggil ustad Fikri pada Zen.
“I-iya tadz.” Jawab Zen kaget.
“Lah putih itu lambang kesucian bang.... Apalagi udah 3 kali di kejar pocong. Itu berarti petunjuk itu...” Ucap Ustad Fikri.
“Lah tapi bukan Olivia tadz... Pocong.... “ Jawab Zen.
“Jangan fokus sama pocong nya... Sama warnanya bang.... Pocong mana ada yang pink atau merah atau hitam... Iya kan?” Tanya Ustad Fikri.
Zen tersenyum kikuk. Ia memang tidak paham simbol-simbol. Bodohnya ia malah menyimpulkan sesuatu dari sudut pandang nya saja.
‘Ini ni yang kata Gus Alim kudu ada yang bimbing. Ga bisa menyimpulkan apa-apa sendiri.... Hampir gue nolak Olivia Cuma karena mimpi pocong.... Ah siapa tahu emang Oliv ya pocong kemarin kan mukanya ketutupan kapas.... ‘ batin Zen lagi dan menjawab mantap pada Gus Alim juga ustad Fikri.
“Bismillah tadz. Saya bersedia melamar Olivia tiga hari lagi. Insyaallah saya akan ajak orang tua.” Ucap Zen mantap.
__ADS_1
“Alhamdulilah..... “ ucap dua orang guru Zen yang dari penampilan terlihat seperti orang biasa jika dalam keseharian.