Love Of Bad Boy

Love Of Bad Boy
Bab 22 Berhasil


__ADS_3

Zen mendengar samar pernyataan Farhan di dalam ruang tamu yang baru saja dia tinggalkan. Axel menjadi sangat tak enak hati, dia melihat wajah Zen seketika murung, kepalanya langsung menunduk.


Axel berusaha mengalihkan perhatian saat perjalanan menuju Bandara, akan tetapi Zen tetap pada ekspresi semula, tak bersemangat seperti awal jumpa tadi.


Akhirnya Zen melepas Axel di depan gate kedatangan. Dia juga menerima sebuah buku panduan berisi daftar kontak penting para staf yang bekerja di showroom milik Axelo khan.


"Masa uji coba selama tiga bulan, meski gue ada di Jakarta tapi showroom itu tetap kamu yang kelola. Jangan lupa tanda tangani perjanjian kerja yang sekretaris gue ajukan nanti, kamu simpan salinannya. Semoga berhasil, Zen," ujar Axel menepuk lengan Zen dan melenggang pergi menuju tunnel boarding.


"Ehm. Thanks," balas Zen singkat, sambil menggenggam buku bersampul hitam yang baru dia terima.


Zen tak banyak cakap, hanya melambaikan tangan lalu memilih segera meninggalkan Bandara. Dia akan ke bengkel hari ini guna menitipkan BDZ pada Reyhan sementara dirinya menjalankan amanah dari Axel.


Dalam perjalanan menuju bengkel miliknya. Ucapan Farhan terngiang-ngiang. Hati Zen merasakan sesak. Merasa tak dapat melanjutkan laju kendaraan sebab pikirannya kalut, dia menepikan motornya sesaat.


Zen membuka helm yang menutup wajah tampannya, lalu menghembus nafas kasar.


"Ah, belum juga mulai battle, udah kalah sosor duluan. Farhan emang menang secara penampilan jadi lebih mudah di terima kali ya," keluh Zen, menatap kerikil yang dibawa oleh semut merah meski mereka tak berbaris di dinding.


"Mungkin emang belum waktunya gue mikirin itu kali ya jadi sama Tuhan di cegat dulu jalannya. Perboden, Zen, puter balik. Oke lah, fokus kuliah saja."


Zen kembali menarik nafas panjang dan memakai helmnya lagi. Saat akan menarik tuas gas, dia melantunkan satu bait lagu.


"Jodoh pasti berteeeeemuuuuuu..."


Dalam bayang Zen, keluarga Olivia pasti tengah bersuka cita. Farhan sosok yang cocok bagi putri pak Arief.


Tak lama, deru mesin khas motor milik Zen tiba di bengkel. Reyhan baru saja selesai menggarap kendaraan milik mahasiswa dan akan menyelesaikan satu lagi. Zen menunggu dengan sabar seraya duduk menopang dagu di balik etalase kaca. Dia membiarkan Reyhan menangani semua seorang diri.


Satu jam kemudian.


Reyhan tersenyum riang, sejak pagi bengkelnya selalu ramai. Bukan bersyukur orang lain kena apes akan tetapi lebih pada merasa senang dapat membantu mereka dalam kesulitan.


"Zen, Alhamdulillah, hasilnya mulai lumayan ya," girang Reyhan duduk di sebelah Zen sambil menyesap kopi yang sudah dingin.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Rey, gue mau ngobrol serius tentang bengkel ini," ujar Zen, menoleh sekilas dengan ekor matanya ke arah Reyhan.


"Ehm, ngomong aja, gue dengerin kok," balas Reyhan, kini pandangannya menerawang jauh ke arah jalan raya.


Zen menghela nafas. Berat rasanya meninggalkan tempat yang dia rintis sejak lama, tapi ini mungkin sebuah jalan menuju perubahan nasib dan prestige.


"Kamu kelola bengkel ini dengan baik seperti biasa. Laporan mingguan atau harian bebas, upahmu jangan lupa di ambil segera sebelum keringatmu kering. Aku gak mau menunda hak kamu," ujar Zen, menundukkan kepala.


Reyhan terkejut, dia cemas bahwa Zen akan kembali ke jalan kegelapan seperti sebelumnya. "M-mau kemana, lo?" tanya Reyhan takut.


"Menjalankan amanah dari seorang kawan lama, mengawasi usaha showroom motor gede dan scooter matic kek biasanya itu," ungkap Zen, masih terlihat galau.


Reyhan mengelus dadanya meski tak berbentuk bidang. "Alhamdulillah, gue kira balik ke masa lalu," sahut Reyhan lega.


"Masa lalu, biarlah masa laluuuuuuuu, jangan kau ungkit jangan pula kau rinduuuuuu...." Zen malah menyanyikan lagu ratu ngebor.


Reyhan geleng-geleng kepala. Dia menyentuh dahi Zen. "Agak anget kayaknya kamu ya, Zen," tawanya diikuti Zen.


Penjelasan lain Zen tuturkan pada Reyhan sebelum menyerahkan segala sesuatu pada sahabatnya. Bisnis adalah bisnis, dia tak ingin sama-sama khilaf atau malah persahabatan menjadi rusak.


Kedua pria, menyepakati perjanjian yang di tulis tangan masing-masing lalu di tanda tangani dan bertukar salinan untuk di simpan oleh mereka satu per satu.


Zen lalu meminta izin pulang, ingin ke warnet guna mempelajari SOP (standar operasional prosedur) milik Axel yang di simpan dalam flashdisk, satu bundel dengan buku catatan tadi.


Menjelang Asar, semua pekerjaannya telah selesai. Dia akan bersiap menghadapi sidang skripsi tiga hari lagi.


Keesokan pagi, Zen menuju lokasi showroom, berkenalan dengan beberapa staf dan melihat keseluruhan bangunan juga ruangan. Di dampingi oleh sekretaris cantik, Zen memulai room tour.


Pakaian formal, rambut tertata rapi, sepatu mengkilap juga pembawaan khas anak Borju, kian menegaskan ketampanan yang djmiliki sosok Omar Zen. Takkan ada yang menduga bahwa dia adalah mantan anak jalanan.


Hari berlalu sangat cepat, Zen mulai terbiasa dengan kondisi tempat kerjanya yang baru. Axel masih membimbing Zen kala dia menemui kesulitan dan gengsi bertanya pada sekretarisnya.


Tibalah waktu sidang.

__ADS_1


Omar Zen, tak tenang duduk di ruang tunggu. Dia berjalan mondar mandir sambil sesekali menyentuh rambut yang telah tertata rapi. Kondisi ini kian di perparah kala salah satu mahasiswi menangis saat keluar ruangan bagai hidup dan mati itu.


"Omar Zen!" seru panitera sidang memanggil masuk.


"Siap grak. Aku!" jawab Zen lantang.


Langkah kaki mahasiswa abadi pun tegap meski hati merasa sebaliknya. Zen berdiri di depan infocus dan siap menjelaskan metode yang dia pakai dalam menyusun skripsinya.


Sungguh Zen terbayang penjelasan Farhan saat dosen mencecar dengan pertanyaan serupa. Jawaban Zen rata-rata datar sehingga kurang meyakinkan para penilai di depan sana.


"Perbaiki beberapa bab. Butuh penegasan di poin yang kami tandai. Serahkan hasil revisi dalam satu pekan. Itu saja," kata salah satu dosen, yang mengenakan lipstik berwarna merah menyala serta kacamata kotak berbingkai putih.


Brak. Buku tebal itu di letakkan di atas meja.


Zen menghampiri meja dosen dan menyalami semuanya sebelum meraih bundel skripsi miliknya.


"Terima kasih banyak," kata Zen mengulas senyum menawan berharap agar dia di luluskan.


Dia membuka handle pintu ruangan menggunakan sisa tenaga sebab kaki dan jariya tremor. Beginilah akibat menggunakan jasa jokey dan tak mempelajari dengan benar isi makalah yang dia susun membuat Zen kelimpungan.


Tepat saat dia duduk sejenak di kursi tunggu. Ponselnya berdering.


"Zen, bagaimana? lulus?" suara Nuril diujung sana. Dia diberitahu oleh Zen sebelum berangkat ke kampus tadi.


"Belum tahu, Moms, doakan lulus tapi aku diminta untuk revisi sedikit lagi. Ma, Zen ... Zen, Maa," kata Zen, terbata. Dia merasa terharu akhirnya tiba di momen ini tanpa bantuan sang ayah. Air matanya lolos manakala sang ibu pun terdengar terisak di ujung sana.


"My Zen," lirih Nuril.


.


.


______________________

__ADS_1


__ADS_2