Luna Milik Tuan Muda Barra

Luna Milik Tuan Muda Barra
Emily


__ADS_3

Jihan mencoba berjalan mendekati wanita itu. Wanita itu tampak terlihat menyedihkan sekali, Jihan pun merasa jatuh kasihan melihatnya.


"Nyonya, anda tidak apa-apa?" Wanita itu terus menangis sambil memegang dadanya, "Nyonya." Jihan menyentuh pundak wanita itu, tapi tangannya seperti kabut yang menembus tubuh wanita itu.


Apa aku sudah mati?? Jihan berdiri dan berjalan mundur. Saat ia berjalan tak tentu arah, tanpa sengaja ia menabrak beberapa kerumunan orang di sana. Namun tak satupun yang merasa terganggu. Ia menembus semuanya!


Aku ga mau mati!


J : B!


B : Anda belum mati, Nona. Lihatlah


Jihan menoleh ke arah sebelah kanannya. Sebuah kaca pembatas taman menampilkan bayangan tubuh aslinya.


J : Aahh, aku merindukannya. Jihan memeluk erat dirinya sendiri. Aku dimana B? Aku belum mati 'kan?


B : Lihatlah


Ternyata tanpa sadar tadi Jihan berlari semakin masuk ke dalam tempat acara. Suara dentingan piano semakin keras. Beberapa pasang orang sedang berdansa dengan gaun yang sangat indah.


Mata Jihan tertuju pada sepasang manusia yang paling terlihat menonjol di antara semuanya. Wanita dengan rambut hitamnya yang panjang dan seorang pria bertubuh tegap memandangnya penuh cinta.

__ADS_1


J : Aku mengenali mereka berdua. Orang tua Luna! Lalu siapa wanita yang menangis tadi, B? ... B! Tak ada tanggapan dari suara gaib itu. Ckk, selalu saja menghilang saat dibutuhkan


Ibu Luna sangat cantik dan anggun sekali, dengan gaun putih yang menyapu rumput. Sepertinya ini merupakan hari pernikahan keduanya. Mereka berdua menjadi pusat perhatian semua orang di sana.


Semua orang bersorak senang saat keduanya berciuman. Beda dengan saat pernikahan Luna dan Barra, suasana saat itu seperti menghadiri sebuah pemakaman bukan pernikahan.


Seorang berseragam berjalan mendekat lalu berbisik di telinga ayah Luna. Saat Jihan mendekat ingin ikut mendengar, ayah Luna sudah berjalan mengikuti langkah pengawal diikuti istrinya berjalan ke arah luar taman.


Jihan mengikuti mereka dari belakang. Wanita yang menangis itu masih ada di sana, di jaga oleh beberapa pengawal. Saat melihat ayah Luna mendekat, wanita itu langsung berdiri dan hendak menghambur ke pelukan ayah Luna.


Ayah Luna mundur beberapa langkah sebelum tangan wanita itu berhasil menggapainya. Seorang pengawal juga dengan sigap memegang kedua lengan wanita itu.


"Lepaskan!" Wanita itu berontak ingin melepaskan diri, "Joseee, aku mencintaimuuu, jangan tinggalkan aku." Wanita itu meraung dan memohon.


"Tidak! aku masih ingin denganmu, Jose. Ini anakmu!" Wanita itu menangis sembari memegang perutnya. Jihan baru menyadari jika wanita itu sedang mengandung.


"AKU TAK PERNAH MENYENTUHMU, EMILY!" hardik ayah Luna. Wajahnya yang semula bersahabat tampak memerah menahan emosi.


"Kau menjual diri pada saudagar itu! dan sekarang kau kembali mengatakan itu anakku??"


Ibu Luna tampak berusaha meredam emosi suaminya. Wanita cantik itu mengusap-usap punggung ayah Luna.

__ADS_1


"Perempuan Iblis!" Wanita bernama Emily itu maju dan akan menarik tubuh ibu Luna, tapi ayah Luna segera menghadangnya dengan tubuhnya.


"Jangan pernah kau sakiti istriku," ujarnya tajam.


"Dia hanya seorang anak pelayan, Jose!"


"Amanda jauh lebih baik darimu. Aku mencintainya. Pergilah kembali ke pria itu." Ayah Luna berbalik dan menggiring istrinya meninggalkan Emily yang menjerit kencang.


"JOSEEE!! aku bersumpah, kau dan keluargamu tidak akan pernah hidup tenang!"


...❤...


Jihan mengusap-usap hidungnya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Hatssyiiii!"


"Aah, syukurlah Nona sudah sadar."


...❤❤...


Mampir sini dulu yuk

__ADS_1



__ADS_2