
"Sangat yakin, karena mereka berdua tidak pernah benar-benar berpisah."
"Kalau kamu yakin Violet dan Baron tidak benar-benar berpisah, mengapa kau masih mempertahankan dia di sisimu, Barra??" Jihan benar-benar tidak mengerti jalan pikiran suami Luna ini, dengan gamblang dan santainya berkata seperti itu.
"Sayang, ku kira kau cerdas." Barra tertawa terbahak sembari mengusap rambut Jihan.
"Apa maksudmu." Jihan menepis tangan Barra.
"Ini yang aku dan ayahmu khawatirkan. Kau terlampau antusias dan tidak bisa mengontrol emosimu." Jihan menggelengkan kepala, ia semakin tidak mengerti dengan penjelasan Barra.
"Luna, sejak awal aku dan ayahmu sudah tahu kebusukan Violet dan suaminya. Termasuk jebakan yang mereka buat, membawamu ke ranjang Baron." Jihan mengerutkan kening mendengar penjelasan Barra.
"Kalau kau dan ayahku tahu itu jebakan mereka, mengapa kalian membiarkan aku semakin gila dengan situasi ini!" Jihan benar-benar kesal. Ia merasa ditipu dan sia-sia bersusah payah membongkar rahasia dan berusaha membuat Barra jatuh cinta kembali pada Luna, ternyata pria ini malah tidak pernah melupakan cintanya pada Luna.
"Kami terpaksa mengikuti sandiwara mereka untuk menyelamatkanmu."
"Termasuk menikahi Violet?" Jihan tidak bisa membayangkan perasaan Luna melihat pria yang dicintainya menikahi wanita lain.
__ADS_1
"Termasuk itu." Wajah Barra terlihat muram.
"Menyelamatkanku?"
"Kau tahu sendiri, bagaimana dendamnya Violet pada keluargamu. Ayahmu sudah tahu siapa dia sejak awal kemunculan Violet bersama Barra di pesta malam itu."
Ingatan Barra melayang ke waktu dua tahun silam, lalu ia mulai menceritakannya pada wanita yang duduk di sebelahnya.
flash back Barra
"Suka sekali, Sayang. Aku tidak menyangka kau sempat membuat pesta kejutan untukku." Luna menggelayut manja pada leher Barra.
Malam ini Barra melamarnya di tengah-tengah makan malam mewah peresmian lahan baru milik Tuan Jose, ayah Luna. Di mata semua undangan yang hadir, Luna resmi menjadi tunangan sekaligus calon istrinya.
"Dobel selamat Tuan Jose." Seorang pria dengan tongkat kayu datang menghampiri ayah Luna. Di sisinya ada seorang wanita muda yang cantik berambut pirang.
"Terima kasih, Tuan Baron lama sudah kita tidak bertemu." Tuan Jose menyalami kenalan lamanya.
__ADS_1
"Ya benar sudah sangat lama sekali. Kenalkan ini istriku, Violet." Tuan Baron memperkenalkan wanita yang di gandengnya.
Sejenak Tuan Jose memperhatikan penampilan Violet. Wanita yang sangat muda seusia Luna putrinya. Jika disandingkan dengan Tuan Baron, tentu akan lebih pantas menjadi putrinya. Seingat Tuan Jose, Emily mantan kekasihnya dulu yang membunuh istrinya menikah dengan Tuan Baron lalu mereka berdua menghilang lama tanpa kabar.
"Emily sudah tidak ada, Jose," ucap Baron seolah tahu apa yang dipikirkan pria di hadapannya itu.
"Maaf, saya ikut berduka cita." Tuan Jose mengulas senyum tipis lalu menyalami Violet, sejenak ia memperhatikan sesuatu di tubuh wanita itu lalu segera memalingkan wajahnya.
"Silahkan nikmati pestanya," ucap Tuan Jose.
"Terima kasih, saya ingin mengucapkan selamat pada sepasang sejoli di sana." Tuan Baron menunjuk Barra dan Luna yang sedang berdansa.
"Silahkan." Tuan Jose memperhatikan dari jauh Baron dan istri barunya berbincang dengan putri dan calon menantunya. Hatinya berdegub kencang, ia merasakan ancaman akan kehadiran Baron dan istri barunya itu setelah sekian lama.
Tuan Jose mengawasi Baron yang tampak intens memperhatikan putrinya. Insting seorang ayahnya mulai bergerak untuk melindungi putrinya.
...❤🤍...
__ADS_1