
Jihan tersenyum nakal saat ide itu terlintas di dalam kepalanya. Dosen idolanya itu tampak garang di kampus, satupun mahasiswa tidak ada yang berani bersenda gurau dengannya.
Usia yang masih tergolong muda untuk ukuran seorang dosen senior, perawakannya yang membuat orang tidak percaya jika beliau adalah dosen sastra kuno membuat Jihan dan beberapa gadis lainnya berebut mengambil mata kuliah sastra kuno meski sangat membosankan.
Sleeeepp! Bagaikan angin kepala Pak Abiyasa menoleh ke arahnya setelah Jihan berhasil menyentuh sedikit bahu dosen itu.
Apa itu tadi? kenapa aku bisa merasakan tubuhnya? harusnya aku tembus seperti udara.
Jihan terpaku dengan tangan masih terjulur ke depan. Ia menyangka keadaanya sama dengan penglihantannya saat pernikahan Amanda dan Tuan Jose. Para tamu undangan berjalan menembus dirinya. Namun yang barusan terjadi telapak tangan Jihan menyentuh bagian padat tubuh Pak Abiyasa dan dosen itu seperti merasakan kehadirannnya.
Jihan gemetar saat Pak Abiyasa memandang lurus ke arahnya. Ia masih meraba-raba apakah dosen itu benar sedang melihat kearahnya atau tidak.
Sejenak keduanya seakan saling bertatapan. Jihan masih membeku di tempatnya berdiri, ia sama sekali tidak mampu berkedip apalagi bergerak. Beberapa detik kemudian Pak Abiyasa melanjutkan langkahnya.
Jihan mengerjap-kerjapkan matanya. Apa iya dosen itu tersenyum tadi?
Perhatiannya beralih pada teman-temannya dan juga dirinya yang masih duduk di sudut pojok bawah tangga. Kawan-kawannya itu masih menggodanya meski Pak Abiyasa sudah berlalu dari sana.
Teman-temannya tidak ada yang tahu tentang perasaan kagumnya pada Pak Abiyasa, yang mereka tahu adalah dosen mereka itu sangat cocok jika disandingkan dengan Jihan yang kutu buku.
Jihan merasakan badannya menggigil kedinginan. Udara dingin berhembus kencang menusuk tulangnya. Perlahan-lahan semua menggelap.
Hhhh ... ternyata aku hanya bermimpi. Jihan terbangun saat hari masih gelap. Rupanya angin dingin masuk dari jendela kamar yang terbuka lebar.
Jihan berdiri dari ranjang dan berjalan ke arah jendela hendak menutup daun jendela yang menghentak-hentak tertiup angin.
Saat akan kembali ke ranjangnya, Jihan berhenti sebentar di depan cermin. Dipandangnya tubuh Luna yang digunakannya saat ini.
Sampai kapan aku harus menjadi dirimu? Kau wanita yang sangat cantik tapi sayang kehidupanmu sangat tidak beruntung. Aku yakin, Barra masih sangat mencintaimu.
__ADS_1
Jihan memutuskan keluar dari kamar untuk mencari udara segar. Langit di luar juga sudah mulai sedikit terang. Ia memilih bersantai di pinggir kolam renang menikmati matahari yang mulai terbit.
Para pelayan dan penjaga masih belum terlihat hilir mudik sepagi ini. Jihan menyesap teh hangatnya, sembari mengingat mimpinya semalam.
Rasa rindu menjadi diri sendiri dan berkumpul bersama teman-temannya semakin menyesakkan dadanya.
Apa kabar diriku di sana? Bersabarlah sedikit lagi, mari kita sama-sama berjuang.
"Sudah merasa nyaman hhmm?" Suara Violet dari arah belakang kursi sedikit mengejutkannya.
"Pagi, Vio," sapa Jihan enggan. Violet pun tidak membalas sapaannya, wanita itu tersenyum sinis dan duduk di kursi kolam renang di sebelah Jihan.
Matahari sudah sedikit mulai meninggi, tapi suhu udara masih tetap dingin. Jihan merapatkan baju tidurnya. Ia menyesal nekat keluar dengan pakaian tidur yang tipis bukan menggunakan pakaian yang lebih hangat.
"Kau kira kau sudah menang, Luna?" tanya Violet dengan nada memancing pertikaian.
"Aku tidak merasakan apapun, kita tidak sedang bertanding, Vio."
"Barra tidak kembali padaku, karena aku tidak pernah pergi dari hatinya," sahut Jihan santai. Ia menyesap tehnya yang sudah mulai terasa dingin. Tatapannya hanya lurus ke arah bukit yang berada di seberang mansion Barra.
"Hahahaha! kau sama dengan Ibumu, terlalu percaya diri," Violet tertawa kencang. Jihan melirik ke arah wanita di sebelahnya, ia merasa ada yang aneh dari Violet pagi ini.
"Kau minum, Vio? Ini masih pagi." Jihan baru sadar, wajah Violet memerah karena dalam keadaan yang sangat mabuk.
"Aku tidak minum di pagi hari Luna, aku minum semalam," sahut Violet sembari menyesap gelas tingginya.
"Kau dari semalam minum? kau tidak tidur semalaman? di mana Barra?" Jihan menoleh ke arah belakang mencari sosok pria pemilik mansion ini. Barangkali keduanya melewatkan malam dengan minum bersama.
"Barra? aku tidak tahu, semalam ia tidak bersamaku." Jihan menatap Violet dengan pandangan iba. Kasihan dengan keadaan Violet yang ternyata jauh lebih menyedihkan ketimbang Luna.
__ADS_1
"Masuklah, Vio kau butuh istirahat." Jihan menarik tangan Violet dan menuntunnya agar masuk ke dalam mansion.
Walaupun ada rasa tidak suka pada Violet, ia masih punya hati dan tidak berselera jika harus berdebat dalam kondisi Violet yang tidak sepenuhnya sadar. Tiba-tiba Violet mendorong tubuh Jihan menjauh.
"Munafik! kau pikir aku akan luluh dengan sikap baikmu? Kau sama dengan ibumu, merampas yang bukan miliknya!" Violet menujuk-nunjuk wajah Jihan.
"Kau mabuk, Vio." Jihan berusaha menarik tangan Violet agar lebih mendekat.
"Dari dulu ibumu dan sekarang kau anaknya, selalu membayangi kehidupanku. Kau tahu Luna? aku dan Baron, sudah merancang semuanya sejak lama dan kau tiba-tiba datang dengan sifat yang berubah. Kau pikir bisa menggagalkan semuanya, heh!" Violet semakin berteriak dengan kecang.
Jihan akhirnya membiarkan Violet berteriak dan mengoceh sepuasnya. Bahkan ia berharap Barra atau setidaknya pengawal dan pelayan muncul lalu ikut mendengarkan semua kejujuran dari mulut Violet.
"Kau tidak akan bisa, Luna. Kehidupan Barra dan ayahmu sudah dalam genggaman kami." Violet memperlihatkan kepalan tangannya, "Dan kalian akan berakhir seperti ini." Violet semakin mengeratkan kepalan tangannya, memperlihatkan remasan tangannya yang semakin keras.
"Kau tahu ini berasal dari mana, Luna?" Violet mengusap perutnya. Jihan yang sudah tahu jika itu anak dari Baron hanya tersenyum sinis sembari melipat kedua tangannya di dada.
"Buah cintaku dengan pria yang kusayangi Ba ... ron," ucap Violet pelan dengan mimik wajah memuja.
"Kau penipu, Vio!" Jihan sudah mulai jengah dan kesal melihat tingkah Violet.
"Lalu kamu mau apa heh?" Violet maju menedekati Jihan. Aroma busuk minuman keras dari mulut Violet menyeruak masuk ke dalam hidung Jihan.
"Dasar wanita iblis kau Vio! kau sudah menjebak kami semua. Apa mau mu sebenarnya?" Jihan berjalan mundur menghindari Violet yang maju terus menekannya hingga ke pinggir kolam renang.
"Kau sudah tahu, Luna. Aku ... mau ... semua ... yang ... ada ... pada ... dirimu." Violet berbisik tepat di depan wajah Luna.
Jihan mengerutkan keningnya. Ia merasa tidak asing dengan situasi dan percakapan mereka.
Mereka hanya berdua di taman belakang ini dan ada gelas di tangan Violet.
__ADS_1
Ini yang aku lihat di dalam mimpi!
...❤🤍...