Luna Milik Tuan Muda Barra

Luna Milik Tuan Muda Barra
De ja vu


__ADS_3

"Bukan! a-aku tidak membunuhnya, kalian salah." Luna berjalan mundur menjauh dari tudingan para pelayan dan pengawal Barra.


"Cepat beri tahu Tuan Barra. Tutup semua gerbang, jangan biarkan Nyonya Luna keluar dari mansion ini." Seorang pengawal senior memberi perintah pada pengawal dan pelayan di sana.


"Bukan aku! dia minum sendiri, aku ga tahuu!" Luna semakin histeris saat beberapa pengawal menariknya tubuhnya dengan paksa.


Jihan merasa melihat siaran ulang saat Amanda, Ibu dari Luna dituduh membunuh Emily, Ibu dari Violet.


Apakah di dunia novel ini tidak ada detektif? periksa sidik jari di tube dan gelas itu! Jihan merasa gemas melihat situasi yang seharusnya tidak terjadi.


"Lepas!" Luna berontak, menendang dan memukul para pengawal yang memegangnya. Beda dengan ibunya yang dulu hanya pasrah dan menangis ketakutan. Luna lebih tangguh membela dirinya sendiri.


Saat semua perhatian tertuju pada Luna yang berusaha melarikan diri, seorang wanita berpakaian pelayan mendekati tubuh Violet lalu memasukan cairan di dalam mulutnya yang terbuka.


Apa itu? Jihan berjalan mendekat, dan memperhatikan apa yang dilakukan wanita berbaju pelayan itu.


Setelah memastikan semua cairan masuk ke dalam mulut Violet, wanita itu langsung berdiri dan menjauh dari keramaian. Jihan terkejut saat melihat kulit wajah Violet yang tadinya menghitam karena racun, berangsur-angsur kembali ke warna asal.


Penawar racun. Violet tidak benar-benar bunuh diri, ia menjebak Luna. Mereka ternyata sudah mempersiapkan ini semua. Jadi hanya sebatas Luna meracuni Violet yang tertulis di dalam novel.


Jihan teringat cerita Lidia yang menghujat Luna, istri kedua Barra atas percobaannya meracuni Violet istri pertama sekaligus peran utama di dalam novel. Percobaan pembunuhan itu gagal karena diketahui oleh pengawal Barra. Nasib Luna di cerita, berakhir dengan tragis di dalam penjara.


Apa semua cerita novel ada sisi gelapnya? sungguh mengerikan! Jihan bergidik ngeri.


"Ada apa??" Barra berlari dari arah depan dengan wajah panik.


"Nyonya Violet meninggal di racun oleh Nyonya Luna, Tuan," lapor salah satu pelayan.


"Kamu tidak mungkin percaya, kan Barra? Aku mana mungkin membunuh Violet!" Luna berteriak histeris, ia berusaha mendekati Barra tapi pengawal menahan langkahnya.


"Ibu anda juga pembunuh, bisa jadi rasa iri dan tega anda juga menurun darinya, benar tidak?" Wanita berseragam pelayan yang memasukan penawar racun ke mulut Violet, mengeluarkan pendapat yang memprovokasi.


"Iya, benar."


"Ow, jadi dia anak pembunuh ibu Nyonya Violet?"


"Tega sekali."

__ADS_1


"Mengerikan."


Berbagai macam suara berbisik mulai terdengar menghujat Luna, persis dengan situasi orang tua mereka. Jihan memperhatikan reaksi Barra, pria itu tampak frustasi memandang Luna. Tidak ada sorot kemarahan, yang terlihat hanyalah kesedihan. Namun bukan untuk Violet yang terkapar tapi tatapan itu untuk Luna.


"Polisi sudah datang, bawa dia pergi dari sini." Seorang pengawal senior memberi perintah.


"Tunggu! jangan bawa dia." Barra menghadang langkah para pengawal yang akan membawa Luna.


"Maaf Tuan, peraturan di negara ini jika ada yang melindungi dan menyembunyikan penjahat, anda dan seluruh keluarga anda akan dihukum yang sama." Pengawal itu berjalan melewati Barra begitu saja.


Tidak ... tidak! jangan terulang lagi! Jihan berlari mengejar Luna, tapi baru beberapa langkah tubuhnya seakan ditarik masuk ke dalam arus pusaran.


"Aaaahhhh!" Jihan terbangun dengan peluh membasahi tubuhnya.


Begitu sadar semua yang ia lihat tadi hanyalah mimpi, Jihan mengamati tubuhnya. Ia mendesah antara lega dan kesal saat ia menyadari masih berada di dalam tubuh Luna.


"Mimpi buruk, Nona?" Hampir Jihan berteriak lagi karena mendengar suara berat pria di dalam kamarnya.


"Kenapa kamu ada di kamarku, Adam?" Jihan membetulkan baju di bagian dadanya yang sedikit terbuka.


"Maaf lancang, Nona. Saya hanya sedang menjaga anda."


"Dari dulu tidak ada yang boleh masuk ke dalam kamar Nona tanpa seijin Tuan, dan saat ini saya yang diijinkan Tuan Jose," ujar Adam ringan.


"Terima kasih," cicit Jihan pelan.


"Bagaimana keadaan anda, Nona?"


"Saya baik-baik saja. Bagaimana saya bisa pulang?" Jihan merasa heran, karena hal terakhir yang diingatnya adalah panas dan perihnya tamparan Baron.


Saat itu ia merasa hidupnya akan berakhir di tangan salah satu karakter antagonis dalam sebuah novel. Sungguh menyedihkan.


"Saya temukan anda di dalam mobil yang menabrak pembatas tepi sungai."


"Ow, baiklah. Kamu boleh keluar dari sini." Jihan merasa lega tidak ada yang tahu perbuatannya.


"Nona saya peringati sekali lagi. Jangan bertindak gegabah."

__ADS_1


"Apa maksudmu, Adam? aku hanya mengantuk saat menyetir, sampaikan maafku pada ayah."


"Maafkan saya harus sampaikan sekali lagi. Saya sudah pernah bilang pada anda, belum saatnya anda bertemu dengan Tuan Baron. Jadi jangan pergi tanpa sepengetahuan Tuan Jose," ucap Adam sebelum keluar dari kamar.


"Adam ... dari mana kamu tahu saya menemui Baron?"


" ... saya hanya menduganya karena anda sangat ingin menemui orang itu, permisi." Adam segera keluar dari kamar sebelum Jihan menanyakan sesuatu lagi.


Jihan mencoba mengingat-ingat kembali mimpi atau penglihatannya tadi.


Yang kulihat tadi sepertinya puncak cerita dalam novel, karakter Luna dituduh meracuni Violet. Kalau aku tidak berhasil menyelamatkan Luna, maka aku terjebak selamanya di dunia ini. Atau yang lebih parah lagi, aku mati di dunia ini dengan dikenal sebagai Luna. Tak seorang pun mengenal diriku.


"Aku harus kembali ke mansion Barra." Jihan segera bergegas merapikan barangnya dan berganti pakaian. Meskipun kepala dan wajahnya masih terasa nyeri ia tetap memaksakan untuk berdiri.


"Mau kemana, Nona?" suara datar Adam menghentikan langkahnya saat ia baru saja keluar dari kamar.


"Mau pulang," sahut Jihan tak acuh dan terus berjalan ke arah ruang kerja ayah Luna.


"Rumah anda di sini." Jihan menghentikan langkahnya saat Adam mengatakan hal itu seolah pria itu berhak mengendalikan hidup Luna.


Perlahan ia membalikan tubuhnya menghadap Adam yang berada di belakang tubuhnya dan sedang mengikuti langkahnya.


"Terima kasih sudah diingatkan, tapi ini rumah ayah saya. Rumah saya adalah bersama dengan suami saya."


"Maaf." Adam membungkukkan badannya, "Saya hanya ingin mengingatkan agar anda tidak ... melebihi kapasitas anda selama berada di sisi Tuan Barra."


"Maksudmu apa sih?!" Jihan merasa jengah dengan pengawal kepercayaan ayah Luna ini. Ia merasa jika Adam terlalu jauh mencampuri urusan kehidupan Luna. Apakah Adam menyimpan hati pada Nona mudanya?


"Maaf Nona jika saya sudah lancang."


"Iya, kamu terlalu berlebihan!" sergah Jihan lalu pergi melanjutkan langkahnya.


"Mau kemana kau Luna?" Pertanyaan yang sama dilontarkan ayah Luna.


"Pulang Ayah, aku sudah terlalu lama di sini."


"Kau masih sakit, biar saja nanti pengawal Ayah yang membawa kabar ke suamimu."

__ADS_1


Merepotkan, kenapa sih ga kenal ponsel di sini? kan enak tinggal kirim pesan.


...❤🤍...


__ADS_2