Luna Milik Tuan Muda Barra

Luna Milik Tuan Muda Barra
Villa Pak Abiyasa


__ADS_3

"Terminal terakhiiirrr ... terminal terakhir, bersiaapp!" Kernet bus berteriak kencang sembari mengetukkan uang koin ke badan bus.


Teriakan kernet bus menyadarkan Jihan dari lamunannya, lalu ia segera bersiap untuk turun dan berdesakan dengan para penumpang lainnya.


Jihan memindah beban tas ranselnya ke pundak kanan, lalu berjalan menepi. Ia mengedarkan pandangan ke sekitarnya, baru kali ini ia sampai ke ujung kota bagian selatan.


Suasana sangat tenang masih banyak lahan kosong, selebihnya ladang untuk bertani. Jihan mendekati bapak-bapak berpenampilan seperti tukang ojek yang sedang duduk di atas motor.


"Permisi ... saya mau ke alamat ini. Saya harus naik apa ya?" tanya Jihan pada seorang bapak yang berwajah paling ramah di antara tukang ojek lainnya.


"Agak jauh, Neng. Ini daerah turis kalau mau wisata dekat lereng gunung," ujar tukang ojek yang sudah mulai agak tua itu.


"Berapa lama perjalanan ke sana?" tanya Jihan ragu.


"Ga lama. Naik motor cuman setengah jam, di sini ga ada macet soalnya," ujar tukang ojek itu sembari terkekeh.


"Bapak bisa antar saya?"


"Bisa, Neng saya 'kan memang cari penumpang." Tukang ojek itu menyebutkan tarif dan langsung disetujui oleh Jihan.


"Mau ke rumah saudara ya, Neng?" tanya tukang ojek saat motor bebek bututnya membelah jalan.


"Kenalan aja, Pak," sahut Jihan setengah berteriak mengalahkan deru angin, "Bapak kenal sama yang namanya Pak Abiyasa?" tanya Jihan lagi.


"Ga kenal, Neng. Saya mah orang kecil, kenalannya ya seputar tukang ojek sama sopir bus," ujarnya.


"Bapak bisa aja." Jihan menanggapi dengan terkekeh pelan.


Setelah hampir setengah jam mereka mengendarai motor dan Jihan terlontar-lontar di boncengan belakang karena jalanan desa yang tidak beraspal, akhirnya mereka sampai di alamat yang di tuju.


"Benar ini, Neng?" tanya tukang ojek, "Neng ... neeengg??" tukang ojek itu menggoyangkan motornya agar Jihan sadar dari lamunannya.


"Eh, iya ... sepertinya," ucap Jihan pelan sembari turun dari motor. Matanya tidak berkedip memandang bangunan mewah di hadapannya.


"Syukurlah ga susah cari alamatnya."

__ADS_1


"Terima kasih ya, Pak." Jihan memberi beberapa lembar uang kepada tukang ojek yang mengantarnya, "Paakk ... tunggu Pak," seru Jihan saat tukang ojek itu sudah akan menyalakan motornya kembali.


"Ada apa, Neng?"


"Bapak ada nomer ponsel? kali aja saya butuh tumpangan untuk kembali ke terminal."


"Bapak ga punya ponsel, Neng, tapi teman Bapak punya." Tukang ojek itu menyebutkan beberapa deret angka yang langsung Jihan catat di ponselnya, "Nanti telpon aja ke nomer itu bilang aja cari Pak Dirman," ujarnya. Jihan mengangguk paham. Setidaknya ada orang yang dikenalnya di desa asing ini.


Jihan kembali memusatkan perhatian pada bangunan megah di hadapannya setelah tukang ojek tua itu pergi menjauh. Jihan semakin yakin kalau Pak Abi atau siapapun yang berada di dalam villa mewah itu ada kaitannya dengan masuknya ia ke dalam dunia novel.


Bagaimana bisa mansion Tuan Jose ada di hadapannya sekarang, dengan wujudnya yang sebagai Jihan bukan Luna?


Jihan memantapkan hati untuk masuk ke dalam villa dan mencari tahu sendiri. Soal apa yang akan terjadi biarlah dipikirkan nanti, toh ia sudah pernah melewati sesuatu yang lebih aneh dari pada ini.


Jihan melintasi halaman luas villa itu dan melangkah ke pintu utama. Halaman villa itu tidak mempunyai pagar sehingga ia bisa leluasa masuk ke dalam. Ini sedikit berbeda dengan mansion ayah Luna yang berpagar tinggi dan dijaga oleh banyak pengawal.


Mata Jihan menyapu pemandangan kebun dan halaman villa. Semua sama persis, bahkan tanamannya pun sama sungguh luar biasa. Jihan masih ingat saat ia menjadi Luna dan salju pertama turun, ia bermain-main salju di taman itu dan Adam datang menyampirkan jacket tebal pada pundaknya.


Adam! Jihan langsung teringat pada sosok berwajah datar dengan sorot mata tak asing itu. Ia segera mempercepat langkahnya menuju pintu utama.


Suara musik indah terdengar dari dalam saat ia menekan bel pintu villa.


"Cari siapa?" Jihan terjingkat saat terdengar suara wanita dari intercom.


"Mmm ... apa benar ini rumahnya ... Pak Abiyasa?" tanya Jihan pelan di depan intercom yang menyala. Suara di seberang sana tidak menjawab hanya terdengar suara mesin intercom dimatikan.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah yang mendekat lalu pintu besar itu terbuka.


"Millie???" seru Jihan takjub. Jihan tidak menyangka bertemu pelayan setia Luna di sini. Hampir saja ia menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya saat menyadari gadis di hadapannya memandangnya dengan aneh.


"Cari siapa?" tanyanya lagi masih dengan pandangan anehnya ke Jihan.


"Maaf ... saya cari Pak Abiyasa. Apa benar ini rumahnya?" tanya Jihan menahan malu sembari mundur satu langkah. Gadis yang berwajah sangat mirip dengan Millie itu memandangnya lekat dari atas hingga ke bawah.


"Tunggu sebentar," ujarnya sembari berbalik lalu melangkah masuk. Jihan masih berdiri di luar, takut melangkahkan kaki masuk ke dalam villa sebelum dipersilahkan masuk.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, akhirnya tujuan Jihan jauh-jauh datang ke pinggiran kota selatan itu turun dari tangga melingkar. Pak Abi berjalan mendekati Jihan dengan seringaian aneh.


Pak Abi menggunakan kaos lengan panjang dengan leher yang tinggi di padu dengan celana kain berwana coklat muda. Penampilan yang cukup formal saat di dalam rumah, sesuai dengan ciri khasnya sebagai dosen yang kaku.


"Selamat siang, Pak Abi. Maaf mengganggu," ucap Jihan sembari membungkukan badan.


"Susah datang kemari, Jihan?" tanya Pak Abi.


"Tidak, Pak." Jihan merasa sedikit aneh, mengapa ia merasa Pak Abi seolah menunggu kedatangannya.


"Tentu saja, tidak ada yang susah untukmu," sahutnya sembari mengulum senyuman.


Jihan terdiam masih menunggu kelanjutan kalimat Pak Abi, sedangkan dosen sastra kuno itu juga hanya menatapnya lurus tanpa mempersilahkan ia masuk ke dalam villa.


...❤️🤍...


Aku bawa cerita bagus lagi untuk teman-teman



TELL LAURA I LOVE HER


Burlb : laura seorang designer yang baru saja ditinggal mati calon suaminya 3 minggu sebelum pernikahan mereka. Tommy sang tunangan meninggal di arena balap mobil


Sepeninggal Tommy, Laura menyibukkan diri memimpin panti asuhab balita milik bibinya di Cimahi.


August seorang pilot yang baru saja salah langkah, dia main api sehingga pertunangannya dengan Julia harus putus menjelang 5 bulan pernikahan mereka. August bahkan sempat menikah dengan perempuan selingkuhannya namun tak bertahan 24 jam!


Akankah Julia kembali menerima August?


Atau August bisa mendapatkan Laura?


Bagaimana dengan Bastian, CEO yang mencintai Julia dan juga dokter Syahrul serta dokter Ilyas yang mengejar cinta Laura?


Ikuti cerita serunya di TELL LAURA I LOVE HER yaa

__ADS_1


__ADS_2