
Masih flash back Barra
Tuan Jose mengawasi Baron yang tampak intens memperhatikan putrinya. Insting seorang ayahnya mulai bergerak untuk melindungi putrinya.
"Apa yang mereka bicarakan dengan kalian berdua?" Tuan Jose berbisik pada Barra saat putrinya pergi berkumpul dengan teman-temannya.
"Siapa?"
"Tuan Baron dan istrinya."
"Ow, tak banyak. Hanya mengucapkan selamat dan menanyakan kapan hubungan kami dilanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi," ujar Barra seraya menyesap minumannya.
"Berhati-hatilah dengan mereka berdua."
"Ada apa? sepertinya serius sekali?" Kali ini Barra lebih memperhatikan calon mertuanya itu.
"Wanita di samping Tuan Baron itu anak dari Emily. Wanita yang sudah memfitnah istriku, Ibu Luna."
"Aah, aku pernah dengar legenda lama itu. Emily, mantan kekasih anda bukan?"
"Itu bukan legenda, Barra! itu masa suram keluargaku."
"Maafkan saya. Apa yang harus saya lakukan?" Barra menyengir tidak enak.
"Entah mengapa saya yakin ada yang sesuatu yang direncanakan dengan kemunculan mereka berdua setelah sekian lama menghilang."
"Anda tidak mengundang mereka?"
"Tuan Baron menghilang setelah menikah dengan Emily. Lalu beberapa tahun kemudian, wanita itu datang kembali saat pernikahanku dengan Amanda. Ia sempat mengacau tapi masih bisa diatasi. Puncaknya saat aku mengadakan pesta ulang tahun Luna yang ke 17tahun, ia datang kembali lalu bunuh diri di tengah-tengah acara." Tuan Jose menghentikan sejenak ceritanya. Ia menarik nafas seolah berat harus mengingat kematian istri tercintanya.
"Namun sayangnya, istriku menjadi korban fitnahnya. Saat itu aku tahu, Emily punya anak gadis seusia Luna. Tanda lahir di pundak wanita itu sama persis dengan yang dimiliki oleh putri Emily." Tuan Jose menunjuk Violet yang sedang asyik berdansa dengan Tuan Baron.
Barra termangu sesaat menatap pasangan yang sedang berdansa itu, lalu ia menoleh ke arah Tuan Jose dengan tatapan ngeri.
"Maksud anda wanita itu putri Emily yang menikah dengan ... ayahnya sendiri??"
"Saya tidak berani bilang seperti itu. Bisa jadi ayah Emily bukan Tuan Baron. Hanya yang ingin aku tekankan padamu, jika suatu saat kau menemukan sesuatu yang ganjil baik tentangku atau putriku, tolong selidiki jangan percaya dengan apa yang kau lihat." Tuan Jose mencengkram lengan Barra. Tampak sekali kekhawatiran di matanya.
"Tuan Jose, saya sangat mencintai Luna anda. Saya berjanji melindungi putri anda meski harus mengorbankan nyawa atau kehormatanku."
Tuan Jose menganggukan kepala dengan puas dan menepuk-nepuk bahu Barra lalu berjalan ke arah koleganya.
__ADS_1
...❤...
"Tuan Barra! gawat Tuaan!" Seorang pelayan menggedor pintu kamar Barra saat hari masih gelap.
Dengan terseok-seok dan pandangan masih terbatas, Barra berusaha menggapai pintu kamarnya.
"Ada apaa?!"
"No-Nona Lunaa." Pelayan itu terlihat ragu dan ketakutan menyampaikan sesuatu.
"Ada apa dengan Luna?" Mata Barra seketika terang.
"Nona Luna dan Tuan Baron ...."
Kening Barra berkerut, ada apa dengan kekasihnya. Baru semalam mereka merayakan pertunangan dan ia terpaksa pulang lebih dulu karena tiba-tiba sakit kepala luar biasa. Sedangkan Luna, masih harus menemani Tuan Jose dalam pesta itu.
"Aaahhh!" Tak sabar menunggu penjelasan pelayan itu, Barra segera masuk kembali ke dalam kamarnya dan segera berganti pakaian.
"Dimana Luna??" Barra bertanya pada para pelayan dan penjaga yang berbaris di depan kamarnya.
"Mari, ikut saya Tuan." Perasaan Barra semakin berkecamuk saat pengawal Tuan Jose ada di mansionnya.
Pengawal Tuan Jose membawanya ke mansion megah yang terletak di atas bukit.
"Mansion Tuan Baron."
"Aku mencari Luna, bukan Baron!"
"Nona Luna ada di mansion Tuan Baron. Tuan Jose sendiri yang meminta saya membawa anda kemari, Tuan." Jantung Barra semakin berdegub, ia teringat perkataan Tuan Jose semalam.
Barra mempersiapkan diri akan sesuatu hal yang bisa saja terjadi setelah ini.
"Silahkan, Tuan." Seorang pengawal membukakan pintu mobil saat mereka sudah sampai di depan pintu mansion yang besar.
Barra melangkahkan kakinya mengikuti pengawal yang menuntunnya masuk ke dalam mansion. Sampai di ruang tengah sudah banyak orang duduk menunggunya.
Tampak Tuan Jose duduk sambil memeluk Luna yang sedang menangis kencang. Di sebelahnya Violet juga menangis dan meraung. Berkali-kali Tuan Baron ingin meraih dan memeluknya, wanita itu menepis dan menghardiknya.
"Ada apa ini? bisakah seseorang menjelaskan padaku?"
Luna menoleh pada Barra yang baru saja datang dan segera menghambur ke pelukannya.
__ADS_1
"Barraaa ... Barraaa tolong aku. Kamu harus percayaaa, aku tidak berbuat seperti itu!"
"Ada apa, Sayang??"
Barra mengarahkan pandangan ke arah Tuan Jose meminta penjelasan. Pria tua itu semakin terlihat renta dalam semalam.
"Maafkan saya, Barra. Saya juga tidak tahu bagaimana bisa terjadi." Tuan Baron berdiri hendak menghampiri Barra.
"Apa maksudnya??!" Barra semakin frustasi dengan situasi yang membingungkan.
"Kekasihmu datang ke mansion menggoda suamiku!!" Violet berseru dengan kencang. Jari telunjuknya mengarah ke wajah Luna.
"Jelaskan padaku, Luna apa yang terjadi!"
"A-aku tidak tahu Barra. Tiba-tiba a-aku sudah di sini." Luna kembalu meraung ketakutan.
"Pembohong! kau datang kemari dan merayu suamiku! pelayanku melihat kau memberi minuman pada suamiku dan kau mengajaknya naik ke atas ranjang saat ia mabuk berat!" Violet menarik seorang pelayan yang terlihat ketakutan. Pelayan itu menganggukan kepala berulang kali untuk menguatkan cerita Violet.
"Maksudmu ...." Barra tak sanggup meneruskan kalimatnya.
"Iya! mereka berdua sudah berselingkuh Barra! kita berdua sudah dikhianati!" Violet berteriak semakin histeris.
"Maafkan aku, Sayang. Semua terjadi begitu saja." Tuan Baron mencoba membujuk Violet.
"Kamu tidak percaya 'kan, Sayang??" Luna menatapnya dengan pandangan memohon, "Barra! katakan padaku kau tidak percaya semua ituu!" Luna semakin histeris.
Barra semakin bingung, pandangannya beralih-alih dari Luna, Violet Tuan Baron dan Tuan Jose bergantian. Tuan Jose hanya duduk terdiam, sekilas ia mengangkat kepalanya memandang lurus ke arah Barra.
Sejenak kedua mata mereka bertemu tanpa berkata apapun. Jika saja Tuan Jose tidak berpesan padanya semalam, tentu pagi ini Luna akan ditamparnya berulang kali.
Tatapan mata Tuan Jose seolah mengatakan banyak hal. Barra sudah paham apa yang harus dilakukan. Ia sementara ini harus mengikuti sandiwara yang diciptakan oleh Violet dan Tuan Baron. Ia ingin tahu apa sebenarnya yang diinginkan kedua orang itu.
"Lepaskan, Luna! aku tidan sudi kau sentuh dengan tangan kotormu itu!" Barra mendorong tubuh Luna menjauh.
Kekasihnya itu memandangnya tak percaya. Ingin rasanya ia menarik tubuh Luna dan memeluknya dengan erat sembari berkata, jangan takut aku percaya padamu.
Hubungan keduanya yang lama dan erat membuat Barra tahu jika kekasihnya itu berkata benar.
"Ba-Barraa ...."
"Kalian berdua pengkhianat! aku dan Barra tidak sudi melihat kalian lagi!" seru Violet. Dari perkataan Violet, Barra semakin yakin jika kejadian ini sudah dirancang oleh mereka berdua.
__ADS_1
...❤🤍...